NovelToon NovelToon
Target

Target

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:189
Nilai: 5
Nama Author: Rick Tur

Fred Tucker, mahasiswa kedokteran diparis, penampilan biasa, agak gempal dan bukan pusat perhatian. satu kali menjadi dirinya menjadi target pembunuh bayaran. Dia harus melarikan diri tanpa tahu penyebabnya. bukan miliarder, bukan siapa-siapa, orang tua biasa saja namun menjadi target mati. hidupnya hancur, orang tua nya mati. Untuk mengetahui apa yang terjadi hidupnya maka Fred harus menjadi pembunuh bayaran. berlatih dan menjadi kuat Dia harus ke berbagai negara sebagai Assassin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lima Nama Agen

Pagi itu belum benar-benar pagi ketika Fred membuka pintu kamar.

Udara dingin menyapu wajahnya, dan langit masih gelap kebiruan—warna yang membuat ladang di luar rumah Mercer tampak seperti lautan beku. Di halaman, Maëlle sudah berdiri dengan pakaian olahraga, tubuhnya lentur seperti sudah memanaskan mesin sejak beberapa menit lalu.

Fred, dengan singlet dan celana pendek, melangkah keluar dengan tekad yang ia paksa tetap utuh.

Maëlle menoleh sekilas. Matanya turun cepat, menilai Fred dari ujung rambut sampai ujung kaki—bukan menilai penampilan, tapi menilai kesiapan. Lalu tanpa kata, ia berbalik dan mulai lari.

Maëlle benar-benar mengabaikannya.

Fred menatap punggungnya, lalu mengejar.

Langkah pertamanya berat. Langkah keduanya lebih berat. Tapi ia terus bergerak, memaksa paru-parunya yang terbiasa ruang kuliah dan koridor rumah sakit menelan udara dingin yang seperti pisau tipis.

“Maëlle!” panggil Fred.

Maëlle tidak melambat.

Fred mempercepat, jarak menipis sedikit. “Aku… aku ikut!”

Maëlle akhirnya menjawab tanpa menoleh. “Kalau kamu jatuh pingsan di jalan, aku tidak akan mengangkatmu.”

“Bagus,” Fred terengah. “Aku… nggak minta diangkat.”

Maëlle tidak merespons. Ia terus berlari, ritmenya stabil, seolah ia punya metronom di dada.

Fred mengejar beberapa puluh meter sampai dada terasa seperti dipukul dari dalam. Ia memaksa bicara sebelum napasnya habis.

“Aku ingin mencari pembunuh orang tuaku…” Fred menelan ludah, kata-kata itu masih terasa aneh. “…maksudku orang tua yang memeliharaku sampai seperti ini. Dan juga… aku ingin tahu siapa yang ingin membunuhku.”

Maëlle tetap berlari, tapi kali ini ia menurunkan kecepatan setengah tingkat—cukup agar Fred bisa bertahan beberapa menit lagi.

“Untuk mencari pembunuh orang tua tirimu,” kata Maëlle, suaranya datar, “kafe itu punya lima agen.”

Fred berusaha fokus pada kata-katanya meski darah berdengung di telinga. “Lima agen?”

“Anggap saja A, B, C, D, E,” lanjut Maëlle. “Salah satu dari agen itu punya kontrak. Mereka tidak langsung menghubungi pembunuh. Mereka memakai kafe sebagai tempat perantara. Baru kafe menelpon aku.”

Fred mengernyit, sambil berlari. “Jadi jawabannya ada di salah satu agen itu.”

Maëlle mengangguk sekali, tetap tidak menoleh. “Ya.”

Fred mencoba mengatur napas. Ia ingin bertanya banyak hal, tapi kata-katanya harus dipilih, karena setiap kata terasa seperti mencuri oksigen.

Maëlle menambahkan, seperti melempar batu ke danau yang sudah gelap:

“Kalau untuk motif… ada kemungkinan kamu bukan anak dari orang tuamu itu.”

Fred tersandung hampir setengah langkah, tapi ia menahan diri. “Aku sudah… tahu kemungkinan itu,” katanya, suara patah.

Maëlle terus. “Mungkin orang tua aslimu orang penting.”

Fred menelan ludah. “Seperti siapa?”

Maëlle menjawab cepat, seolah memberi contoh yang paling mudah dicerna. “Anggap saja seorang raja. Dan kamu anak haram raja.”

Fred nyaris tertawa karena absurditas, tapi yang keluar cuma napas terengah. “Itu… seperti sinetron.”

“Dunia nyata sering lebih murahan daripada sinetron,” jawab Maëlle. “Kalau ada harta, ada kekuasaan, ada nama keluarga—maka ada orang yang tidak ingin berbagi. Cara tercepat: buat anak itu menghilang.”

Fred memaksa pikirannya tetap logis. “Tapi… aku hidup normal. Aku kuliah kedokteran.”

“Karena kamu disembunyikan,” kata Maëlle, tenang. “Atau karena kamu tidak dianggap ancaman… sampai seseorang memutuskan kamu akan jadi sebuah ancaman.”

Kata-kata itu menggantung seperti kabut dingin.

Mereka melewati jalan kecil yang memanjang di antara ladang. Matahari belum muncul, tapi garis terang mulai merayap di ufuk.

Fred merasa dunia ini seperti arena yang ia masuk tanpa memilih.

Maëlle melanjutkan, lebih pelan, seperti memberi pilihan yang tidak enak.

“Jadi pilihanmu sekarang sederhana.” Ia akhirnya menoleh sedikit, hanya sedikit. “Kamu mau mencari pembunuh orang tua tirimu, membalas yang mereka lakukan. Atau kamu mau mencari orang tua aslimu dan alasan kenapa kamu jadi target.”

Fred mencoba bicara, tapi dadanya mendesak, napasnya terbakar. Ia memaksa satu pertanyaan keluar.

“Lantas… bagaimana caranya mencari orang tuaku yang asli?”

Maëlle memandang ke depan lagi, seperti sudah menyiapkan jawaban ini.

“Sewa detektif swasta,” katanya. “Yang benar, bukan yang murah.”

Fred mengerjap. “Detektif…?”

Maëlle mengangguk. “Kamu butuh orang yang bisa menelusuri identitas, adopsi, catatan rumah sakit, catatan kelahiran, jalur uang. Kamu dokter—kamu paham catatan bisa bicara kalau kamu tahu cara membacanya.”

Fred ingin bertanya lagi, tapi Maëlle menambahkan cepat:

“Tapi aku tidak akan mulai dari situ dulu.”

“Kenapa?”

Karena itu membuat ritme Maëlle berubah sedikit. Suara Maëlle menjadi lebih tajam.

“Aku akan mencari agen yang mengontrak dulu.” Maëlle menekankan kata-katanya seperti menekan luka. “Itu yang menyebabkan aku hampir mati. Itu pengkhianatan. Dan sekarang aku diburu karena seseorang memilih membuat kontrakmu jadi ‘boleh diambil siapa saja’.”

Fred menelan ludah. Ia bisa merasakan emosi Maëlle yang jarang terlihat: bukan sedih, bukan takut—lebih seperti harga diri yang diinjak.

Maëlle berkata pelan, seperti bicara pada dirinya sendiri, “Aku harus pikir… di antara A, B, C, D, atau E… siapa yang mengontrak.”

Fred sudah tidak sanggup.

Langkahnya mulai berantakan. Paru-parunya terasa terlalu kecil. Kaki-kakinya seperti diisi pasir.

Maëlle mempercepat lagi tanpa menoleh. Fred mencoba bertahan beberapa detik, lalu berhenti, membungkuk, tangan di lutut, napasnya tersengal-sengal.

Maëlle tidak berhenti.

Ia menghilang di tikungan seperti biasanya—meninggalkan Fred dengan udara dingin dan kesadaran pahit bahwa tekad saja tidak cukup untuk mengejar orang yang hidupnya dibentuk oleh bahaya.

Fred berdiri pelan setelah satu menit, menatap jalan yang kosong.

“Aku… akan menyusul,” gumamnya, meski tahu itu terdengar bodoh.

Siang berlalu lambat. Mercer pulang menjelang sore, tidak banyak bicara, hanya memastikan Fred makan dan tidak melakukan hal bodoh. Maëlle muncul lagi tanpa suara, mandi cepat, lalu hilang ke kamarnya. Rumah terasa seperti tempat transit bagi dua orang yang selalu bergerak—dan Fred adalah satu-satunya yang masih memikirkan apa arti “rumah.”

Malam datang, dingin menempel di jendela.

Setelah makan malam—hanya sup hangat dan roti—Maëlle berdiri di ambang ruang tamu dan memanggil Fred dengan satu kalimat:

“Ke kamarku.”

Fred menegakkan badan, refleks takut. “Apa?”

Maëlle menatapnya datar. “Aku mau kamu lihat sesuatu.”

Fred mengikuti Maëlle menaiki tangga. Mercer tidak ikut. Mercer tetap di bawah, seolah ini urusan yang sengaja dibiarkan.

Di kamar Maëlle, lampu kecil menyala. Kamar itu tetap kosong seperti biasa—meja kosong, ranjang rapi, lemari dengan sedikit pakaian.

Maëlle berjalan ke tengah kamar.

Karpet.

Fred langsung menegang. Ia teringat lipatan kecil yang ia lihat pagi tadi.

Maëlle menunduk, meraih ujung karpet, dan kali ini ia mengangkatnya tanpa ragu—seolah itu bukan rahasia besar, hanya pintu biasa yang selama ini menunggu dibuka pada waktu yang tepat.

Di bawahnya, panel kayu kecil muncul.

Maëlle mengeluarkan kunci dari saku. Kunci itu tidak besar. Tidak dramatis. Tapi bunyi klik saat kunci diputar membuat bulu kuduk Fred berdiri.

Panel terbuka.

Udara dingin naik dari bawah—bau logam, karet, dan sesuatu yang mengingatkan Fred pada ruang penyimpanan rumah sakit: steril tapi berat.

Maëlle menatap Fred. “Turun.”

Fred ragu satu detik. Lalu ia menuruni tangga kecil itu, merunduk. Maëlle turun setelahnya dan menutup panel dari dalam. Suara di atas seolah hilang. Dunia menjadi ruang sempit dengan udara yang lebih padat.

Lampu bawah tanah menyala—bukan lampu hangat rumah, melainkan lampu putih yang terang, seperti lampu ruang latihan.

Fred terpaku.

Ruang bawah tanah itu bukan ruang penyimpanan. Bukan ruang rahasia kecil.

Itu… markas.

Di satu sisi ada saksang untuk latihan tinju, digantung kokoh. Di sisi lain, ada alat-alat olahraga berat—barbel, bench press, tali latihan—semuanya tersusun rapi, seperti disiplin, bukan hobi.

Di dinding, Fred melihat sesuatu yang membuat napasnya tertahan: deretan senjata api dipasang rapi di papan, masing-masing di tempatnya, seperti koleksi yang bukan untuk dipamerkan, melainkan untuk dipakai. Ada pula beberapa kotak kecil, alat pembersih, dan perlengkapan yang tidak Fred sentuh—benda-benda yang mengingatkan bahwa ada dunia yang ia tidak pernah belajar di universitas.

Fred menelan ludah, memaksa dirinya tidak terlalu lama menatap senjata itu.

Tapi yang paling membuatnya diam adalah dinding di ujung ruangan.

Dinding itu penuh foto.

Foto orang-orang. Foto tempat. Foto plat nomor. Foto kamera CCTV. Potongan berita. Catatan kecil. Garis-garis yang menghubungkan satu wajah ke wajah lain seperti jaring.

Di tengah, lima nama tertulis besar—bukan nama manusia, melainkan seperti nama panggilan:

FOX

UMBRELLA

COOL

SCORE

PARTY

Fred menatap lima nama itu lama.

Nama-nama ini… tidak terdengar mengerikan. Tidak terdengar seperti organisasi kriminal. Terdengar seperti nama tim sepak bola, nama game, nama proyek startup.

Fred menoleh ke Maëlle, kaget.

Maëlle berdiri dengan tangan menyilang, wajah tetap dingin.

“Ini…” Fred berbisik, “ini apa?”

Maëlle menatap lima nama itu, lalu menatap Fred.

“Ini lima agen yang tadi aku sebut sebagai A, B, C, D, dan E,” katanya.

Fred merasa seperti seseorang baru saja membuka pintu yang seharusnya tidak ia masuki.

“Kamu… sudah punya semuanya?” suara Fred bergetar. “Kamu bilang kamu harus berpikir siapa yang mengontrak… tapi kamu sudah punya dinding penuh foto.”

Maëlle menatapnya, datar. “Berpikir bukan berarti mulai dari nol.”

Fred menelan ludah, menatap lagi dinding itu. “Kenapa namanya seperti itu?”

Maëlle menunjuk satu per satu, tanpa panjang lebar, seperti memberi label pada ancaman.

“Fox bergerak cepat dan licik. Umbrella punya jaringan perlindungan—mereka sembunyi di balik ‘legal.’ Cool suka membuat semuanya terlihat normal. Score main angka—uang, statistik, risiko. Party…” Maëlle berhenti sejenak. “…Party suka keramaian. Mereka menaruh pembunuh di tempat yang paling tidak kamu curigai.”

Fred menatap nama PARTY dan teringat kampus. Teringat Léa. Teringat senyum palsu.

Perutnya mual.

“Jadi salah satu dari mereka yang memesan kontrakku?” tanya Fred pelan.

Maëlle mengangguk. “Salah satu dari mereka, atau seseorang yang memakai mereka sebagai tangan.”

Fred menatap Maëlle lagi. “Dan kamu mau mulai dari sini.”

Maëlle mendekat ke dinding, menunjuk satu foto kecil—foto wanita gemuk di kafe, diambil dari sudut yang jelas bukan kamera publik.

“Dia bukan cuma pemilik kafe,” kata Maëlle. “Dia penjaga pintu.”

Fred menelan ludah. “Kamu… punya foto dia.”

Maëlle menatap Fred, nada suaranya tidak berubah, tapi kata-katanya menekan:

“Fred. Ini dunia assassin. Kamu tidak menang dengan marah. Kamu menang dengan informasi.”

Fred memandang dinding itu lagi, lalu menelan rasa ngeri yang naik.

Nama-nama itu tidak terdengar mengerikan, tapi justru itu yang membuatnya menakutkan.

Karena pembunuhan dalam dunia ini bukan dilakukan oleh monster berwajah jahat.

Melainkan oleh orang-orang dengan nama yang terdengar ringan… dan tangan yang berat.

Fred berdiri di ruang bawah tanah itu, merasa tubuhnya kecil dibanding jaring yang terbentang di depan matanya.

Dan di tengah semua itu, ia sadar: Maëlle bukan hanya “melindungi” dia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!