NovelToon NovelToon
Bayangkan Di Rumah Sendiri

Bayangkan Di Rumah Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Cerrys_Aram

Di balik kemewahan mansion Omerly, Zerya Clarissa Omerly hidup dalam dunia yang tak pernah memberinya hangat. Prestasi dihitung sebagai kewajiban, senyum dihargai sebagai topeng, dan setiap kata bisa menjadi kesalahan.
Hingga suatu malam di sebuah kafe, Zerya bertemu seorang pria yang bertolak belakang dengan dunianya—Javian Arka Talandra, CEO yang dingin namun misterius. Satu pertemuan itu membuat Javian merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan di rumahnya yang hangat: rasa ingin tahu… dan rasa ingin melindungi.
Saat kedua keluarga bertemu dalam pertemuan bisnis, topeng Zerya mulai retak. Perlahan, Javian menyadari bahwa di balik penampilan sempurna, ada rahasia dan luka yang selama ini tersembunyi. Kini, di tengah intrik keluarga, ambisi, dan ekspektasi yang menekan, Zerya harus menemukan keberanian untuk menjadi dirinya sendiri—atau terus tersesat di bayangan rumahnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerrys_Aram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: Protokol Pelumat Dunia

Suara hujan yang menghantam jendela ruang rapat Mawar terdengar seperti rentetan peluru. Zerya masih duduk di kursi yang sama, menatap pintu yang baru saja tertutup di belakang Silas Vane. Di tangannya, ponsel itu terasa panas—sebuah benda kecil yang menyimpan nomor "The Last Resort".

Ia menekan tombol panggil.

Hening. Tidak ada nada sambung. Hanya suara statis yang berderak selama sepuluh detik, sebelum sebuah suara wanita yang dalam, dengan aksen Slavia yang kental, menjawab tanpa menyapa.

"Javian bilang kau hanya akan menelepon jika Talandra sudah menjadi abu," ucap suara itu. Dingin. Seperti es yang bergeser di kutub.

"Talandra belum jadi abu," jawab Zerya, suaranya parau tapi stabil. "Tapi pelakunya sedang berjalan keluar dari lobi saya. Namanya Silas Vane."

Terdengar suara tawa singkat yang kering di seberang sana. "Vanguard. Anak-anak kecil yang bermain dengan asuransi maritim. Kau ingin mereka berhenti?"

"Aku ingin mereka lumpuh. Total."

"Harganya tidak murah, Nona Omerly. Javian menjanjikan satu hal jika protokol ini diaktifkan. Dia menjanjikan 'kematian' Talandra sebagai entitas legal. Kau siap menghancurkan apa yang baru saja kau menangkan?"

Zerya terdiam. Matanya menatap logo Talandra di atas meja. Jika ia mengaktifkan ini, Talandra mungkin selamat dari Silas, tapi Talandra akan menjadi buronan finansial dunia.

"Lakukan," bisik Zerya. "Hancurkan dompet mereka."

"Diterima. Protokol Chernobog aktif. Selamat datang di neraka, CEO."

Sementara itu, di sebuah Safehouse Kepolisian, Bogor.

Javian duduk di sebuah ruangan tanpa jendela. Di depannya ada seorang perwira tinggi Polri, Jenderal Baskoro, yang menatapnya dengan cemas.

"Kau aman di sini, Javian. Kesaksianmu besok akan meruntuhkan jaringan Hendrick," ucap Baskoro.

Javian tidak mendengarkan. Matanya terpaku pada jam dinding. Pukul 17.05. Tiba-tiba, tablet milik Baskoro di atas meja bergetar hebat. Ratusan notifikasi masuk secara bersamaan.

"Apa yang terjadi?" Baskoro meraih tabletnya.

"Pasar komoditas Singapura... lumpuh? Sistem kliring pelabuhan Manila... crash total?"

Javian menyandarkan punggungnya, memejamkan mata. Sebuah senyum pahit muncul di wajahnya. "Dia melakukannya. Zerya memilih untuk membakar dunia."

"Apa maksudmu?"

"Zerya baru saja mengaktifkan Chernobog," Javian membuka matanya, dan untuk pertama kalinya, ada kilatan ketakutan sekaligus kebanggaan di sana. "Itu adalah virus finansial yang saya desain bersama mantan intelijen Rusia di Praha. Virus itu tidak mencuri uang. Virus itu menghapus data kepemilikan. Dalam satu jam ke depan, Vanguard tidak akan bisa membuktikan bahwa mereka memiliki satu liter minyak pun di lautan. Tapi harganya... Talandra juga akan kehilangan identitasnya."

Javian berdiri. "Baskoro, kau harus mengeluarkanku dari sini sekarang. Silas Vane tidak akan diam. Jika uang mereka hilang, mereka akan beralih ke cara-cara yang tidak melibatkan dokumen hukum. Mereka akan datang untuk kepala Zerya."

Lobi Talandra Group.

Silas Vane baru saja akan masuk ke mobilnya saat langkahnya terhenti. Ponsel di sakunya bergetar tanpa henti. Ia melihat layarnya, dan untuk pertama kalinya, mata abu-abunya yang tenang membelalak.

"Tuan," asistennya berbisik dengan wajah pucat. "Seluruh kontrak asuransi kita di Lloyd's... terhapus dari sistem. Kita tidak bisa mengklaim kepemilikan jalur energi. Pihak otoritas pelabuhan menahan semua kapal kita karena status 'kepemilikan tidak terverifikasi'."

Silas menoleh ke atas, menatap jendela lantai tertinggi gedung Talandra. Keanggunannya hilang. Wajah simetrisnya kini berubah menjadi topeng kemarahan yang murni.

"Dia berani main kotor," desis Silas. Ia tidak masuk ke mobil. Ia justru berbalik kembali ke arah lobi. "Jangan panggil pengacara. Panggil tim pembersihan. Aku ingin gedung ini kosong dalam tiga puluh menit. Dan bawa Nona Omerly kepadaku. Hidup atau mati."

Iring-iringan mobil hitam yang tadinya tenang kini mulai bergerak liar. Pintu-pintu terbuka, dan pria-pria dengan wajah tanpa ekspresi mulai merogoh sesuatu dari balik jas mereka.

Di lantai atas, Zerya mendengar suara alarm gedung berbunyi. Bukan alarm kebakaran. Itu alarm Lockdown total. Ia melihat melalui CCTV, Silas Vane berjalan kembali masuk dengan langkah cepat, dikelilingi oleh pria-pria yang kini memegang senjata otomatis.

Zerya meraih pistol kecil yang Javian tinggalkan di laci rahasia meja CEO.

"Kau ingin perang, Silas?" Zerya mengisi peluru ke dalam chamber. "Mari kita lihat siapa yang lebih cepat terbakar."

1
Iqlima Al Jazira
next thor, kopi & vote untukmu👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!