Karya terbaru Gurania Zee yang menceritakan tentang gadis tidak peka dan cinta segitiga antara Aluna, Arsen dan Prasha Arzelio.
memiliki kisah yang sedikit rumit perihal rahasia misteri kematian ayahnya dan adanya permainan bisnis yang menjadikannya sebuah kunci utama dari misteri tersebut. dan Cinta yang mulai tumbuh perlahan. Aluna seorang gadis yang polos tanpa sadar menjadi pusat permainan dalam dunia bisnis mendiang ayahnya. yang jauh lebih besar dari semua intriks itu bahkan paling tidak menyadari akan hal yang paling sederhana yaitu, perasaannya sendiri. karena terkadang misteri dalam hidup, bukanlah rahasia dari kisah masa lalu melainkan hati yang terlambat menyadari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Pagi yang begitu cerah, pemandangan yang asri diluar sana terlihat dari lantai atas. Bagaimana sawah berhektar membentang luas dengan penghijauannya.
Masih dirumah bernuansa Catur yang sampai kini nampak semakin hidup seperti biasanya. Suara sendok garpu yang sedang beradu dengan piring terdengar dari area ruang makan.
Aroma kopi robusta, wangi pisang goreng dan beberapa gorengan lain yang masih sedang proses berenang di area penggorengan begitu harumnya sudah menggugah selera.
Arsen yang baru turun dari anak tangga langsung berhenti di anak tangga terakhir saat itu. "Woy lah pagi pagi apa apaan ini masih pagi yaelah Luh bro astagah, Tante,..Kakek kalian tidak geli lihatnya apa?." cebik kesal Arsen melihat kebucinan bosnya yang tak lain Prasha yang begitu kelewat random and bucinnya level alay kabina bina.
Keduanya hanya tersenyum saja sambil menyendok santapan pagi mereka yang sudah terhidang berjejer rapi di atas meja marmer berwarna black and white itu. Dan memakannya dengan begitu lahap.
Arden Sanjaya saja hanya mengendikkan bahu, seraya menarik nafas panjang melihat kelakuan Prasha yang sampai saat ini hanya menatap Aluna yang sedang memakan roti berlapis selai coklat favoritnya.
Duduknya saja kelewat dekat, seolah ingin terus merekat bagai lem yang menempel pada perangko. Aluna hanya makan roti saja Prasha hanya menatapnya dengan tatapan,..Aneh sih jadinya keliatannya. Hehe..
"Gue baru bangun ini Sen, tapi udah langsung kena diabetes sama kelakuan mereka tau nggak?." ucap Arden Sanjaya.
Arsen pun mendekat sambil membawa kopinya yang baru saja dibuatkan oleh art dirumah itu. "Ngopi dulu lah Den, tadi lanjut kenapa sampai kena diabetes kok bisa?."
"Noh liat aja sendiri, bucin banget gue punya bos random banget anjir."
Arsen sampai tak bisa menahan tawanya ia tertawa keras, namun tak lama ia meneguk kopi. Dan hanya beroh ria saja sambil tertawa, dan sedikit mendengus kesal setelahnya. "Pantes." ucap Arsen yang langsung menyeruput kopinya lagi. "Kopi dulu Den."
"Udah tadi, noh masih ada sedikit lagi." namun ada sedikit berbeda saat arden terlintas sesuatu yang ia pikirkan dan yang ia dengar semalam tadi. Kedua netranya mencari sosok itu, namun tak juga menemukannya. Ia mengernyit heran.
"Lun liat si Lola nggak?, tumben enggak nongol dia, udah sarapan belum tuh anak."
"Eh iya loh, kemana ya Luna juga belum liat tuh mas, sebentar Luna cari ke kamar ya." Arden hanya mengangguk pelan.
""Sen,..elo udah dapet info?." tanya Arden yang sampai sekarang masih kepikiran perihal masalah Lola.
"Belumlah masih gue cari bro?."
"Kenapa emang si Lola?." tanya Prasha.
"Biasa bro kayaknya tuh anak lagi punya masalah." jelas Arden.
"Tuh anak keliatannya aja nyablak ceplas-ceplos, tapi tertutup wey." jelas Arden lagi, Arsen dan Prasha hanya mengangguk.
"Kalian bantulah dia jangan sampai dia menanggung beban sendirian, dirumah ini kalian saudara oke?." ucap kakek Prasha memberikan petuahnya.
"Iya Kek, terimakasih masukannya, ini Arden juga lagi ngajak Arsen buat nyari tau dulu, soalnya anaknya ditanya enggak mau jawab."
"Bagus itu, kalau ada kesulitan kabari Kakek, insya Allah kakek akan bantu semampu kakek bisa ya, kalau gitu kakek mau pergi dulu ya, masih banyak urusan yang harus kakek selesaikan bersama Ratna, ayo Rat, ikut Ayah."
Keduanya pun pergi setelah pamit dari anak anak penghuni rumah catur tersebut. "Mas, Lola enggak ada dikamarnya."
"Masa sih?."
"Yaudah gue mau keluar dulu deh, siapa tau dia ada diluar, sambil nyari udara seger."
"Beuh udara seger kali tuh, nyari Lola elu mah Den." ucap Arsen.
Kemudian Arden langsung berlari, dan meraih kunci mobilnya. Ia merasa ada yang aneh dengan Lola sejak kemarin.
Namun berkali ia menanyakan Lola hanya terdiam dan masih menyembunyikan sesuatu darinya sampai pada tadi malam, ia mendengar suara Lola yang seolah mendapatkan tekanan dari ayahnya saat itu.
"Gila masih SMA loh, parah banget bapaknya si Lola." gerutu Arden didalam mobil sambil memukul setir mobilnya secara reflek saking kesalnya.
"La, gue enggak akan biarin elo nyimpen beban sendirian, elo harus balik ke rumah Catur La." ucap Arden berbicara sendiri didalam mobil sambil matanya tak berhenti menyapu ke seluruh sudut jalan, sampai ia berhenti di tempat pemberhentian bis saat itu. Melihat Lola dari kejauhan dengan tatapan kosong sembari menunggu bis arah rumahnya.
Terlintas tadi malam saat di balik pintu di luar kamar Lola ia mendengar suara Lola yang sedang menangis. Dan sedikit mendengar pembicaraanmya dengan ayahnya lewat telpon.
Halte yang terletak di pinggiran jalan itu tidaklah besar, melainkan kecil memiliki fasilitas kursi kursi yang berjejer terbatas. Sedangkan Lola berada diujung bangku sedang menatap kosong ke arah jalanan.
Sesekali kedua netranya melihat ke arah ponsel yang sepertinya bergetar namun ia sengaja tak menjawabnya ia masukkan kembali ke dalam tas selempangnya yang berada dipangkuannya sedangkan tangannya saling bertaut.
Saat itu Ayah Lola telpon lagi hingga beberapa kali. Lola menghela nafas panjang. kemudian sengaja ia hanya melihatnya sebentar dan ia taruh lagi ke dalam tas, dan sesekali ia menyeka airmatanya yang hampir terjatuh di sudut matanya.
"Elo tuh kalo kelamaan duduk disitu, ntar malah jadi patuh La."
"Eh mas Arden?, kok kesini sih mas ngapain?, "
"Gue kebetulan lihat elo disini jadi gue kesini deh?."
"Mas, kayaknya Lola enggak bisa balik ke rumah catur lagi." ucap Lola sambil menundukkan wajahnya.
"Kenapa La?, elo kudu balik, elo udah jadi bagian dari rumah itu La."
"Enggak bisa mas, Lola juga punya kehidupan sendiri.'
"Elo ada masalah bilang La, enggak kayak gini kabur gitu aja tanpa pamit, semua pada khawatir nyari elo tau nggak."
"Maafin Lola mas, Lola harus pulang."
"Yaudah naik mobil gue."
"Makasih mas tapi enggak perlu, Lola enggak mau repotin mas."
"Enggak ngerepotin kok La, udah elo naik gue anter sampai rumah."
"Mas Arden baik banget, makasih ya mas."
"Sudah biasa La, inget kita keluarga diruang catur itu jadi jangan anggap gue orang lain lagi."
"Gue tau, elo ada masalah La."
"Kok Mas bisa tau?."
"Gue denger semuanya tadi malam La, sebenarnya ada masalah apa sampai bapak Lo sampe segitunya sama kamu La." tanya Arsen penasaran ingin mendengar langsung dari Lola. Lola hanya tertunduk lalu perlahan menoleh ke arah Arden.
"Mas enggak usah pengen tau, karena ini privasi keluarga Lola."
"Terlepas dari itu Lola, gue cuma pengen ringanin beban elo, jangan ngerasa kalo elu itu sendirian Lola."
"Enggak usah mas terimakasih atas kebaikan mas Arden."
"Elo tuh ya kalo di bilangin keras kepala." kesal Arden pada Lola yang masih tidak mau bicara.
Pukul 11 siang mobil Arden sudah sampai dirumah Lola yang jarak tempuhnya lumayan jauh. Mobil Arden berhenti disebuah rumah sederhana, yang cat temboknya pun sudah mulai kusam. di depannya ada beberapa kandang ayam dan burung merpati juga beberapa tanaman yang nampak tidak terurus.
Hanya ada kursi plastik diarea teras dan satu meja dengan segelas kopi sisa.
"Sudah sampai mas berhenti stop disini saja." ucap Lola.
"Ini rumah kamu La?."
"Iya mas, maaf ya kayak ginilah kondisi rumah Lola, maaf kalo mas Arden enggak nyaman enggak serapi rumah mas Arden dan mas Prasha."
"Hush ngomong apasi elo La, enggak usah insecure gitu, santai aja sih, gue enggak liat kayak gitu tapi hati elo tuh tulus."
"Thanks mas, maaf ya mas, Lola belum berani ajak masuk hehe enggak apa apa kan?."
"Santai aja gue cuma anter elo doang kok yaudah Sono masuk gue juga mau balik." Lola pun langsung berjalan ke arah sang ayah yang sudah membuka pintunya setengah dan satu tangannya sudah berada dipinggang menatap Lola tak ada lembutnya.
"Pulang juga kamu!, Masuk!."
"Iya pak, Lola masuk."