Setelah kecelakaan tragis empat tahun lalu, Lyodra Taylor terbangun dari koma panjang di Chicago dalam keadaan amnesia total. Keluarganya, yang menyimpan dendam dan mengira kecelakaan itu adalah sabotase bisnis, memilih memalsukan kematian Lyodra dan menghapus seluruh masa lalunya—termasuk rahasia bahwa ia sempat hamil dan keguguran saat kecelakaan terjadi.
Di sisi lain, Archello Dominic, sang kekasih yang hancur karena mengira Lyodra telah tiada, berubah menjadi pria yang dingin dan menutup diri. Di bawah tekanan ibunya, Archello terpaksa bertunangan dengan Oliver Bernardo, seorang gadis baik hati yang tidak tahu apa-apa tentang konspirasi besar di balik perjodohan mereka.
Tanpa mereka sadari, kecelakaan itu sebenarnya adalah skenario manipulatif kakek Oliver demi ambisi bisnis keluarga. Di tengah bayang-bayang masa lalu yang membeku dan kebohongan yang rapi tersusun, Archello mulai berjuang antara kesetiaannya pada memori Lyodra atau membuka hati bagi ketulusan Oliver.
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#23
Malam di Mansion Dominic biasanya diselimuti keheningan yang elegan, namun di dalam kamar utama yang luas, atmosfer terasa jauh lebih tipis dari biasanya. Archello baru saja meletakkan tablet kerjanya setelah membaca laporan singkat dari orang kepercayaannya mengenai situasi di Mansion Cavanaugh.
Laporan itu singkat namun mengerikan: Oliver dikurung, mengalami malnutrisi akibat diet paksa yang ekstrem, dan Silas Cavanaugh sedang menyiapkan "penjualan" cucunya kepada seorang pengusaha tua di Eropa untuk menutup kerugian skandal sebelumnya.
Sebagai pria yang pernah hampir menikahi Oliver—meski tanpa cinta—nurani Archello terusik. Ia tidak mencintai Oliver, tapi ia tidak bisa membiarkan seorang wanita dihancurkan secara sistematis seperti itu.
Namun, ada satu masalah besar. Dan masalah itu sedang duduk di sofa dekat jendela, membelakanginya, sambil menatap taman dengan punggung yang tampak sangat kaku. Lyodra.
"Ay..." panggil Archello lembut.
Tidak ada jawaban. Lyodra hanya menggeser posisi duduknya sedikit, mempertegas jarak di antara mereka. Ia telah mendengar gumaman Archello saat menelepon asistennya tadi. Ia mendengar nama "Oliver" disebut berkali-kali dengan nada cemas.
Archello menghela napas panjang. Ia tahu ia sedang menginjak ranjau darat. Ia bangkit dari tempat tidur dan melangkah perlahan menuju sofa. Begitu ia duduk di samping Lyodra, istrinya itu langsung bangkit dan hendak berjalan menuju kamar mandi.
"Lyodra, tunggu," Archello menyambar pergelangan tangan Lyodra, menariknya pelan hingga gadis itu terduduk kembali, meski matanya tetap menolak untuk menatap Archello.
"Kenapa tidak meneleponnya saja langsung, Ello? Atau datangi saja mansionnya sekarang. Bukankah kau sangat khawatir padanya?" suara Lyodra bergetar, bukan karena sedih, tapi karena api cemburu yang mulai membakar.
"Ini bukan soal perasaan, Ay. Ini soal kemanusiaan. Silas gila, dia menyiksa Oliver secara fisik dan mental," Archello mencoba menjelaskan dengan nada logis.
"Kemanusiaan?" Lyodra tertawa getir, akhirnya menoleh dan menatap Archello dengan mata yang berkaca-kaca. "Lalu bagaimana dengan kemanusiaanku? Empat tahun aku dianggap mati, Ello. Dan saat aku kembali, aku harus melihatmu berciuman dengannya. Sekarang, saat kita baru saja menikah, kau ingin menjadi pahlawan untuknya? Kau ingin menyelamatkan wanita yang hampir saja merenggut posisiku?"
Archello tertegun. Ia menyadari bahwa logika tidak akan pernah menang melawan luka yang belum sepenuhnya kering. Ia melihat Lyodra yang gemetar, ketakutan akan kehilangan dirinya lagi.
Archello menyadari bahwa penjelasan panjang lebar hanya akan memperburuk keadaan. Ia harus mengganti taktik. Ia harus mati-matian mendapatkan kembali maaf dari istrinya sebelum malam ini berakhir dengan punggung yang saling membelakangi.
Archello berlutut di lantai, tepat di depan kaki Lyodra. Sebuah posisi yang tidak pernah ia lakukan di depan siapa pun, kecuali Lyodra.
"Ay, tatap aku," bisik Archello.
Lyodra mencoba memalingkan wajah, namun Archello menangkup wajahnya dengan kedua tangan, memaksa mata mereka bertemu. Archello memberikan tatapan yang paling lembut, tatapan yang hanya ia simpan untuk Lyodra—tatapan yang sanggup melelehkan gunung es mana pun.
"Aku bersumpah demi nyawaku, tidak ada satu inci pun di hatiku yang tersisa untuknya. Bagiku, Oliver hanyalah orang asing yang pernah terjebak dalam skandal denganku. Tapi aku tidak bisa membiarkan seorang manusia disiksa, Ly. Itu akan membuatku sama jahatnya dengan kakeknya," Archello mencium telapak tangan Lyodra dengan khidmat.
Lyodra masih diam, namun pertahanannya mulai goyah saat Archello mulai mengusap ibu jarinya di bibir Lyodra.
"Kau cemburu, hm?" Archello mulai menggoda dengan senyum miring yang nakal. "Istriku yang cantik ini ternyata sangat posesif."
"Aku tidak cemburu!" bantah Lyodra, meski wajahnya mulai memerah.
"Oh ya? Lalu kenapa bibir ini ditekuk seperti ini?" Archello mengecup bibir Lyodra sekilas, sangat cepat hingga Lyodra belum sempat memprotes. "Dan kenapa matamu menatapku seolah ingin memakanku hidup-hidup?"
Archello mulai bergerak lebih berani. Ia mengangkat Lyodra dari sofa, membawanya kembali ke atas tempat tidur besar mereka. Ia tidak membiarkan Lyodra menjauh. Ia mengunci tubuh kecil istrinya itu di bawah kungkungannya.
"Ello, lepaskan! Aku masih marah padamu," seru Lyodra, mencoba mendorong dada bidang Archello, namun tangannya justru berakhir meremas kemeja suaminya.
"Kau tidak akan bisa marah lama-lama padaku, Nyonya Dominic," Archello berbisik tepat di telinga Lyodra, suaranya rendah dan serak, membuat bulu kuduk Lyodra berdiri. Ia mulai memberikan kecupan-kecupan panas di sepanjang rahang Lyodra, menuju leher yang masih sensitif dari malam sebelumnya.
"Aku akan melakukan apa pun agar kau memaafkanku. Apa kau ingin aku membuang ponselku? Ingin aku memecat asistenku yang memberi laporan itu? Atau... kau ingin aku membuktikan padamu malam ini juga, siapa satu-satunya wanita yang menguasai seluruh pikiran dan tubuhku?"
Archello mulai membuka kancing kemejanya satu per satu sambil terus menatap mata Lyodra dengan intensitas yang membara. Lyodra menelan ludah, kemarahannya mendadak menguap digantikan oleh debar jantung yang menggila.
"Kau curang, Archello. Kau selalu menggunakan cara ini," bisik Lyodra menyerah, tangannya kini melingkar di leher Archello.
"Karena aku tahu ini satu-satunya cara untuk membungkam bibir manismu yang suka memprotes itu," Archello menyeringai sebelum membungkam bibir Lyodra dengan ciuman yang dalam dan penuh tuntutan.
Beberapa jam kemudian, saat mereka berdua berbaring dalam keheningan yang nyaman, berselimutkan cahaya bulan yang pucat, Archello memeluk Lyodra dari belakang. Dagunya bersandar di bahu Lyodra yang polos.
"Ly," panggilnya lembut.
"Hmm?"
"Aku tetap akan membantu Oliver, tapi bukan aku yang akan turun tangan langsung. Aku akan mengirim pengacara dan tim medis secara anonim melalui ayahku. Aku tidak akan menemuinya, aku tidak akan berbicara dengannya. Apakah itu cukup adil bagimu?"
Lyodra terdiam sejenak, lalu ia berbalik dalam pelukan Archello, menatap mata suaminya. Ia melihat kejujuran di sana. Ia menyadari bahwa ia mencintai pria yang memiliki hati nurani, bukan pria yang buta pada penderitaan orang lain.
"Asal kau berjanji, jangan pernah membohongiku tentang apa pun lagi," ucap Lyodra pelan.
"Aku janji, sayang. Hanya kau. Selamanya hanya kau," Archello mencium kening Lyodra dengan penuh janji.
Malam itu, kemarahan Lyodra akhirnya benar-benar padam, digantikan oleh rasa aman yang mendalam. Namun di balik kedamaian itu, Archello tahu bahwa keputusannya membantu Oliver secara anonim akan memicu amarah Silas Cavanaugh yang lebih besar.
Perang antar keluarga belum berakhir, dan ia harus memastikan bahwa perlindungannya terhadap Lyodra tetap menjadi prioritas utama di atas segalanya.