Wu Xuan mahasiswa elite jurusan bisnis, hukum dan manajemen tanpa sadar memasuki dunia novel kultivasi yang baru saja dibacanya, bukan sebagai mc, bukan juga villain, tapi menjadi karakter pendukung yang akan mati pada arc awal. Dengan bantuan sistem, Wu Xuan berusaha mengubah cerita.
Ia masuk ke tubuh patriark tua, namun karena sistem membantunya menerobos, tubuh tuanya berubah menjadi muda dan tampan.
Dia melamar wanita (Villain) yang harusnya menjadi menantunya, karena pembatalan pertunangan sepihak yang dilakukan oleh anaknya.
Demi menghindari masalah di masa depan, ini adalah jalan yang harus di ambil oleh Wu Xuan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Invasi Wilayah Utara Great Yan 3
Di saat Tembok Utara Kekaisaran berada di ambang kehancuran mutlak, sang Archduke seolah memberikan harapan, dia mulai melangkah masuk menuju bayang-bayang dimensi teleportasi untuk memainkan peran sebagai dewa penyelamat yang penuh belas kasih.
Empat matahari wilayah timur muncul menciptakan, Fajar keemasan yang baru saja menyingsing di ufuk timur, berusaha menembus lapisan salju yang membekukan darah di perbatasan Wilayah Utara. Namun, cahaya matahari pagi itu tidak membawa kehangatan, melainkan hanya memperjelas skala pembantaian yang sedang terjadi. Tembok pertahanan yang megah kini dipenuhi retakan, diwarnai oleh lautan merah dari darah prajurit kultivator manusia dan bangkai jutaan binatang buas yang bertumpuk menjadi bukit-bukit daging.
Di atas menara komando tertinggi, ruang teleportasi darurat yang terhubung dengan cermin artefak Xu Mei mendadak bergetar hebat. Udara di sekitarnya melengkung, beresonansi dengan frekuensi dimensi yang melampaui batas hukum fana.
BZZZTT... KRAAAK!
Celah dimensi robek terbuka. Dari dalam kehampaan kosmik itu, seekor monster buas setinggi tiga meter melangkah keluar. Mandou. Singa putih bersayap griffin perak dengan tiga kepala yang memancarkan aura purba Ranah Kuno tahap akhir. Ketiga kepalanya mengaum serempak, sebuah raungan yang langsung menghentikan detak jantung beberapa monster terbang yang kebetulan lewat di dekat menara.
Namun, bukan binatang surgawi itu yang membuat seluruh prajurit di menara komando menahan napas hingga nyaris mati lemas.
Di atas punggung Mandou, duduklah Archduke Xuan.
Berbeda dengan jubah kebesarannya yang biasa ia kenakan, Wu Xuan kini berada dalam mode tempurnya. Efek pasif dari Tubuh Domain Kuno miliknya merespons niat bertarungnya, memanifestasikan zirah perang otomatis yang belum pernah dilihat oleh dunia ini. Sebuah zirah emas murni yang memancarkan cahaya keilahian, dihiasi oleh jubah dan kain putih bersih yang berkibar anggun di tengah hujan salju. Zirah ini bukan sekadar logam; ini adalah proyeksi dari dinding tata surya mikro di dalam dantiannya. Tak tertembus, absolut, dan luar biasa elegan.
Di belakang punggungnya, Dao Halo biru, emas suci dan hijau zamrud muncul lalu berputar lambat, menekan seluruh fluktuasi elemen es di wilayah tersebut.
Hanya dengan kehadirannya, moral para prajurit Utara yang tadinya sudah berada di dasar jurang keputusasaan, mendadak meroket hingga menembus langit. Mereka tidak tahu siapa pria berzirah emas ini, tetapi insting mereka menjeritkan satu hal: Dewa Perang telah turun ke bumi.
Xu Mei, yang wajahnya mulai sekusut benang kusut akibat stres dan kelelahan, menatap Wu Xuan dengan mulut setengah terbuka. Kakinya terasa lemas melihat wibawa tiran yang begitu mempesona sekaligus menakutkan itu.
"Yang Mulia Archduke..." Xu Mei melangkah maju, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Anda... Anda benar-benar datang."
"Aku adalah pria yang memegang kata-kataku, Nyonya Xu Mei," jawab Wu Xuan dengan senyum tenang nan mematikan yang tidak pernah luntur dari wajahnya. "Jelaskan situasinya dalam sepuluh detik."
Xu Mei menelan ludah dan menunjuk ke arah medan perang di bawah. "Gelombang Beast Tide telah berlangsung selama empat hari. Jutaan monster Ranah Jiwa dan Ranah Roh terus menyerang. Tapi yang paling kritis... setengah jam yang lalu, empat monster purba dari Ranah Kuno tahap akhir akhirnya muncul dari kedalaman hutan. Mereka sedang menghancurkan formasi pertahanan utama kita di gerbang bawah!"
Wu Xuan melirik ke arah bawah. Di sana, empat siluet raksasa seukuran bukit sedang mengamuk. Seekor Mammoth Es Bercula Enam, Ular Piton Badai Salju, Beruang Kristal Berlengan Empat, dan Kera Beku Mata Merah. Keempatnya memancarkan aura Ranah Kuno tahap akhir, menghancurkan balista dan menelan ratusan prajurit dalam sekali telan.
Batin sifat asli di dalam tubuh Wu Xuan terkekeh pelan. 'Ah, lihatlah keempat bos monster itu. Mereka pasti datang karena mencium aroma darah Mandou yang paling pekat. Yah, anggap saja mereka sebagai material gratis untuk pedang baruku.'
"Tetap di sini dan nikmati pertunjukannya, Nyonya Xu Mei," ucap Wu Xuan santai.
Ia menepuk leher Mandou. Singa tiga kepala itu mengepakkan sayap griffinnya, menciptakan pusaran angin badai yang melempar salju ke segala arah, lalu melesat terjun langsung ke tengah medan pertempuran layaknya meteor emas yang jatuh dari langit.
Kemunculan Mandou dan Wu Xuan langsung menarik perhatian keempat monster Ranah Kuno tersebut. Mereka menghentikan amukan mereka, menatap Wu Xuan dengan mata merah yang dipenuhi insting membunuh yang liar.
Wu Xuan tidak membuang waktu. Ia berdiri di atas punggung Mandou yang sedang melayang di udara. Tangan kanannya terulur ke samping, dan ruang di sekitarnya retak.
Pedang Pelahap Dunia bermanifestasi di tangannya. Bilah hitam pekat yang menyerap cahaya matahari pagi itu mendengung penuh kegembiraan.
"Waktunya makan siang, Armis," bisik Wu Xuan.
Ia mengayunkan pedang tingkat Primordial itu secara horizontal, mengaktifkan Teknik Pedang Pembelah Langit. Sebuah busur energi hitam yang panjangnya mencapai ribuan meter melesat keluar, membelah udara, badai salju, dan bahkan memotong ruang spasial di atas langit menjadi dua bagian yang sempurna.
Ruanh Spasial itu menghisap udara secara brutal sebelum tertutup kembali.
Keempat monster Ranah Kuno itu mencoba memanggil perisai es absolut mereka, namun di hadapan teknik pedang Primordial, perisai itu tidak lebih dari selembar kertas basah.
SLAAASH!
Tanpa ada perlawanan yang berarti, busur energi hitam itu menebas leher keempat monster raksasa tersebut secara bersamaan. Empat kepala seukuran rumah menggelinding jatuh ke padang salju, menyemburkan pilar darah setinggi puluhan meter. Mereka mati dalam satu kedipan mata, tertebas layaknya memotong tahu yang lembut.
Namun, eksekusi itu barulah permulaan.
Dari dalam bilah Pedang Pelahap Dunia, bayangan hitam legam meledak keluar. Bayangan itu membesar, menutupi langit pagi, dan bermanifestasi menjadi wujud aslinya.
Armis.
Seekor naga ras Abyss Hitam dengan wujud naga Eropa klasik; tubuh reptil raksasa yang dilapisi sisik sehitam malam, sayap kelelawar raksasa yang merentang menutupi matahari, dan sepasang tanduk melengkung yang memancarkan aura kematian. Tingginya mencapai 120 meter, sebuah eksistensi monster purba puncak Ranah Kuno yang jauh lebih mengerikan dari apa pun yang pernah dilihat oleh para prajurit Utara.
Armis mengangkat leher panjangnya dan melepaskan sebuah raungan.
ROAAAAAARRRRR!!!
Raungan naga Abyss itu bukan sekadar suara; itu adalah serangan gelombang sonik berfrekuensi sangat tinggi yang membawa tekanan mental dari dasar jurang kegelapan. Gelombang suara itu menghantam jutaan monster rendahan di bawah sana, memecahkan gendang telinga mereka, dan yang paling penting... menyentak akal sehat mereka yang tadinya hangus oleh feromon darah Mandou.
Di saat yang bersamaan, ketika jutaan monster itu terdiam karena syok sonik, mata keemasan Wu Xuan berkilat. Akar Spiritual Samudra Terdalam di dalam tubuhnya bekerja dengan kecepatan komputasi kuantum dewa.
Dalam diam dan tanpa gerakan tubuh sedikit pun, Wu Xuan memanipulasi kelembapan dan partikel air di udara pada tingkat sub-atomik. Ia mengikat sisa-sisa molekul darah Mandou yang menjadi pemicu Beast Tide ini, membekukannya menjadi debu es mikroskopis, lalu menghancurkannya hingga hilang tak berbekas ke lapisan stratosfer. Bau manis yang memancing jutaan monster itu lenyap seketika, disapu bersih seolah tidak pernah ada.
Para prajurit Utara di atas tembok hanya melihat Wu Xuan diam dengan pedang terhunus, tidak menyadari manipulasi elemen tingkat tinggi yang baru saja menyelamatkan wilayah mereka.
Di bawah sana, jutaan monster yang akal sehatnya telah kembali mulai mengendus udara. Feromon surgawi yang mereka kejar telah hilang. Alih-alih bau manis, kini mereka mencium bau kematian dari empat bos Ranah Kuno mereka yang terpenggal, dan mereka melihat seekor Naga Abyss setinggi 120 meter serta Manusia Primordial Suci berzirah emas yang mengendarai Mandou di atas mereka.
Insting bertahan hidup purba langsung mengambil alih. Panik massal meledak.
Jutaan monster itu memutar arah dengan panik, saling injak, saling gigit, berusaha melarikan diri menjauhi Tembok Utara kembali ke kedalaman Hutan Glasial kuno. Gelombang mematikan itu telah berbalik arah.
Tapi Wu Xuan bukanlah dewa yang pemaaf.
"Makanlah secukupnya, Armis. Pedang ini butuh nutrisi," titah Wu Xuan dingin.
Naga Abyss raksasa itu mengaum girang. Armis menukik turun layaknya elang hitam yang menyambar kawanan semut. Ia membuka rahang raksasanya, menyemburkan api hitam Abyss yang membakar ribuan monster dalam sekali tarikan napas. Ia melahap puluhan ribu monster yang melarikan diri, menyerap esensi jiwa dan daging mereka untuk ditransfer kembali menjadi stack kekuatan di dalam Pedang Pelahap Dunia.
Pedang hitam di tangan Wu Xuan mulai memancarkan pendaran merah darah yang sangat kelam, menandakan bahwa ketajamannya sedang berevolusi karena memakan jiwa para beast.
Di atas menara pertahanan dan di sepanjang ratusan mil tembok es, para jenderal, komandan, dan prajurit Wilayah Utara menjatuhkan senjata mereka. Lutut mereka lemas. Rahang mereka nyaris lepas dari engselnya.
"I-Ini... inikah kekuatan Primordial Suci yang sebenarnya?!" bisik seorang jenderal veteran dengan air mata mengalir di pipinya. "Empat monster puncak Kuno dipenggal dalam satu ayunan?! Naga raksasa itu... apakah itu roh pedang?! Archduke Xuan ini... dia bukan lagi manusia!"
"Dewa Perang! Dia adalah Dewa Perang yang turun untuk menyelamatkan kita!" teriak prajurit lain, jatuh berlutut dan bersujud ke arah langit tempat Wu Xuan melayang.
Dalam hitungan menit, seluruh tembok perbatasan dipenuhi oleh prajurit yang berlutut, bersujud dan meneriakkan pujian kepada sang Archduke.
Batin pemuda Bumi di dalam tubuh Wu Xuan terkekeh geli melihat pemandangan itu.
'Pemasaran yang sangat sukses,' monolog Wu Xuan sambil tersenyum elegan ke arah para prajurit. 'Aku menyebar racunnya, aku memicu bencananya, lalu aku datang membawa obatnya. Sekarang jutaan orang menganggapku sebagai pahlawan dan malaikat penyelamat. Di duniaku, ini disebut sebagai manipulasi krisis pasar korporat. Di alam kultivasi, ini disebut sebagai "Kebaikan Hati Dewa". Kapitalisme memang selalu menang, di mana pun semestanya berada.'
Setelah memastikan Gerbang pertama aman dan Armis telah kenyang menelan puluhan ribu jiwa beast, naga hitam itu kembali menjadi kabut dan masuk ke dalam pedang. Wu Xuan menyarungkan pedangnya dan memacu Mandou.
Ia tidak berhenti di sana. Wilayah Utara memiliki dua puluh kota perbatasan yang membentuk garis pertahanan. Dengan kecepatan kilat, Wu Xuan berpindah dari satu kota ke kota lain. Di setiap benteng, ia mengulangi proses yang sama: Menebas monster pemimpin dengan Teknik Pedang Pembelah Langit, membersihkan aroma darah secara diam-diam dengan elemen airnya, melepaskan Armis untuk melahap ribuan monster pelarian, lalu pergi dengan elegan.
Hanya dalam waktu 50 menit, bencana yang seharusnya meruntuhkan Benua Utara itu berhasil dihentikan secara total. Jutaan rakyat dan prajurit dari dua puluh kota perbatasan keluar dari rumah dan bunker mereka, meneriakkan nama Archduke Xuan. Mereka bahkan berniat mendirikan altar dadakan di tengah jalan es, memuji namanya setinggi langit, sama sekali melupakan Kaisar di ibukota yang tidak memperdulikan mereka.
Saat Wu Xuan sedang terbang santai kembali menuju menara komando istana Xu Mei, sebuah layar holografik keemasan muncul di depan retinanya.
[Ding!]
[Mendeteksi manipulasi opini publik dan penyelesaian bencana skala besar dengan tingkat manipulasi 100%!]
[Selamat! Host mendapatkan hadiah: Teknik Kutukan Pengunci Jiwa (Locking Curse Soul Technique).]
[Deskripsi: Mampu memanipulasi hukum jiwa untuk mengunci jiwa beast/monster dan menjadikannya budak absolut. Tanda kutukan akan tertanam di inti jiwa target. Syarat mutlak: Kekuatan jiwa beast yang dikontrak TIDAK BOLEH melebihi batas jiwa Host, atau Host akan mengalami serangan balik (backlash) yang merusak jiwa.]
Mata Wu Xuan berbinar membaca deskripsi sistem tersebut. Zirah emasnya berdenting pelan seiring dengan bahunya yang bergetar karena tawa tertahan.
'Wah, wah, wah. Pokeball versi Xianxia?' batinnya bersorak humoris. 'Sistem ini benar-benar tahu apa yang kubutuhkan. Dengan Tubuh Domain Kuno yang ukurannya sebesar tata surya di dalam selku, aku punya kandang tak terbatas. Dan dengan teknik ini, aku bisa menculik monster purba dari seluruh wilayah untuk membuat pasukan beast militer pribadiku.'
"Saat ini, menghadapi Kekaisaran Great Yan bukan lagi hal yang sulit."
Wu Xuan tiba kembali di atas menara komando Istana Es perbatasan. Ia menonaktifkan zirah emas otomatisnya, membiarkannya menghilang menjadi partikel cahaya, kembali mengenakan jubah hitam patriark miliknya yang elegan.
Ia memandang ke arah sisa-sisa komandan Utara yang sedang bersujud di balkon.
"Kalian yang masih memiliki kedua tangan dan kaki yang berfungsi," titah Wu Xuan dengan nada seorang kaisar sejati. "Turunlah. Bersihkan sisa-sisa monster rendahan yang bersembunyi di sekitar pondasi benteng, beberapa sisanya bersihkan darah yang tersisa. Jangan buat aku melakukan pekerjaan kotor seperti menyapu halaman rumah kalian."
"Sesuai perintah, Yang Mulia Archduke Agung!" teriak para jenderal itu serempak, bangkit dengan semangat membara yang tak pernah mereka rasakan sebelumnya. Mereka segera memobilisasi prajurit yang masih bugar untuk menyapu sisa medan perang.
Wu Xuan membiarkan Mandou berbaring menjaga pintu luar balkon, sementara ia sendiri melangkah masuk ke dalam ruang kerja komando.
Di dalam ruangan itu, Xu Mei dan beberapa jenderal intinya masih berdiri mematung. Wajah mereka masih merekam sisa-sisa syok, ketidakpercayaan, dan kekaguman absolut atas kekuatan Ranah Primordial Suci yang baru saja mereka saksikan dari layar pemantau spiritual.
Pintu giok tertutup pelan di belakang punggung Wu Xuan.
Sang Archduke melangkah maju, memecah keheningan ruangan dengan senyuman tenang nan mematikan andalannya. Ia menatap lurus ke dalam mata Xu Mei, yang kini memandangnya bukan lagi sebagai seorang tetangga dari Selatan, melainkan sebagai seorang penakluk yang baru saja membeli wilayahnya.
"Nah, Nyonya Xu Mei," ucap Wu Xuan, nadanya lembut namun penuh dengan tuntutan seorang lintah darat yang datang menagih hutang. "Tembokmu aman. Rakyatmu bernapas. Dan monster-monster itu sudah kembali menjadi pupuk es."
Wu Xuan berjalan mendekati meja kerja, menyentuh permukaannya dengan satu jari yang dihiasi cincin giok emas.
"Sekarang," bisik Wu Xuan, matanya mengunci mata Xu Mei yang gemetar. "Mari kita bicarakan tentang tambang kristal es, jalur perdagangan perbatasan utara, dan... beberapa hal yang kau janjikan padaku."
Bersambung...