NovelToon NovelToon
GUGURNYA SAYAP DI PANGKUAN PREGIWA

GUGURNYA SAYAP DI PANGKUAN PREGIWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:362
Nilai: 5
Nama Author: syakhira ahyarul husna

Gatotkaca dikenal sebagai ksatria otot kawat tulang besi, sang penjaga langit Pringgandani yang tak kenal ampun di medan laga. Tidak ada panah yang mampu menggores kulitnya, dan tidak ada musuh yang tak gemetar mendengar raungannya. Ia diciptakan murni untuk perang dan pengorbanan.

Namun, segala keperkasaan itu luluh lantak seketika di batas Hutan Wanamarta, saat ia menatap sepasang mata teduh milik Dewi Pregiwa.

Di tengah bayang-bayang kelam intrik Astina dan ancaman perang besar Baratayuda yang semakin memanas, cinta yang canggung namun tulus tumbuh di antara mereka. Gatotkaca sang manusia baja harus belajar merengkuh kelembutan, sementara Pregiwa harus menghadapi kenyataan pahit: pria yang mencintainya telah ditakdirkan oleh para dewa menjadi perisai hidup bagi Pandawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syakhira ahyarul husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14

Badai salju yang mengamuk sepanjang malam di dataran tinggi itu akhirnya mereda perlahan menjelang fajar, seolah alam pun telah kehabisan tenaga setelah menyaksikan tragedi air mata di dalam kereta kencana pualam tersebut. Hembusan angin yang sebelumnya melolong buas layaknya ribuan serigala kelaparan, kini menyusut menjadi desiran pelan yang menyapu tumpukan salju segar di atas atap-atap tenda prajurit Amarta.

Cahaya pagi merayap naik dari ufuk timur. Tidak ada kehangatan yang dibawa oleh matahari pagi ini. Sinarnya yang pucat pasi hanya memantul menyilaukan pada hamparan padang tundra yang kini telah berubah menjadi lautan putih yang membeku, menyilaukan mata namun mematikan bagi siapa pun yang tak memiliki perlindungan.

Di dalam kabin kereta kencana yang sempit itu, kehangatan magis yang memancar dari tubuh Gatotkaca masih membungkus udara dengan sempurna.

Sang senopati separuh raksasa itu masih duduk bersandar pada dinding kayu jati berlapis emas, dengan Dewi Pregiwa yang terlelap pulas di atas dadanya. Sepanjang malam, Gatotkaca tidak memejamkan mata sedetik pun. Ia menghabiskan sisa-sisa jam kebebasan itu untuk menghafal setiap lekuk wajah wanita di pelukannya. Ia menghitung setiap tarikan napas Pregiwa, merekam aroma melati yang menguar dari rambutnya yang kusut masai, dan membiarkan detak jantung mereka berdua berdetak dalam harmoni yang tak akan pernah bisa diulang kembali di kehidupan ini.

Namun, saat bias cahaya pagi menembus celah tirai sutra jendela kereta, Gatotkaca tahu bahwa waktu pinjaman dari para dewa telah habis.

Malam keajaiban ini harus segera dikubur dalam-dalam, diubah menjadi sebuah rahasia bisu yang hanya akan ia bawa hingga ke liang lahat kelak di Tegal Kurusetra. Jika ia masih berada di dalam kereta ini saat terompet pasukan dibunyikan, kehormatan Dewi Pregiwa—alasan utama mengapa ia rela menahan segala siksaan ini—akan hancur lebur di hadapan ribuan prajurit pengawal.

Dengan hati yang terasa seperti digorok oleh sembilu berkarat, Gatotkaca perlahan mengurai pelukannya.

Pergerakan sekecil apa pun dari lengan baja itu rupanya cukup untuk membangunkan Pregiwa. Sang putri mengerjapkan matanya, bulu matanya yang lentik bergetar pelan saat kesadarannya merayap kembali. Ia mendongak, menatap langsung ke rahang tegas Gatotkaca yang berada sangat dekat dengan wajahnya. Ada seulas senyum tipis, murni, dan penuh damba yang terbentuk di bibir Pregiwa selama sepersekian detik, sebelum realitas pagi hari menghantam ingatannya layaknya palu godam.

Senyum itu pudar seketika, digantikan oleh raut kepanikan dan duka yang kembali menggenang di pelupuk matanya.

"Pagi telah tiba, Tuan Putri," bisik Gatotkaca parau. Suaranya diatur sedatar dan sedingin mungkin, sebuah upaya putus asa untuk membangun kembali tembok kasta yang semalam telah runtuh berserakan di lantai kereta. "Badai telah usai. Kuda-kuda akan segera disiapkan. Hari ini... kita akan tiba di Swantipura."

Mendengar kata "Swantipura", Pregiwa memejamkan matanya rapat-rapat. Ia meremas ujung jubah beludru merah Gatotkaca, enggan melepaskan sisa-sisa kehangatan yang menyelamatkan nyawanya semalam.

"Bisakah kita menghentikan waktu sebentar saja, Kanda?" isak Pregiwa lirih, suaranya nyaris tak terdengar, tenggelam dalam derit kayu kereta yang bergeser. "Hanya untuk satu tarikan napas lagi... sebelum Kanda kembali menjadi senopati, dan aku kembali menjadi barang dagangan."

Gatotkaca menelan ludah. Tenggorokannya terasa seperti disumpal pecahan kaca. Ia mengangkat tangan kanannya yang masih telanjang tanpa sarung tangan, ragu-ragu di udara sesaat, sebelum akhirnya memberanikan diri menyelipkan anak rambut yang menutupi wajah cantik sang putri ke belakang telinganya. Sentuhan itu berlangsung tidak lebih dari detak sebuah jantung, namun terasa seperti keabadian bagi mereka berdua.

"Bahkan jika hamba sanggup menghentikan matahari agar tidak terbit, Tuan Putri," jawab Gatotkaca dengan kepedihan yang meluap-luap dari kedalaman jiwanya. "Takdir yang mengikat leher kita berdua tidak akan pernah putus. Bertahanlah. Jadilah ratu yang agung bagi negerimu. Dan biarkan hamba... biarkan hamba menyelesaikan tugas terakhir hamba malam ini."

Gatotkaca menarik tangannya mundur. Ia melepaskan sisa pelukannya, menggeser tubuh besarnya mundur hingga membentur pintu kereta. Ia memungut kembali sarung tangan bajanya yang semalam ia lemparkan ke sudut kabin, memakainya dengan gerakan kaku, seolah ia sedang mengenakan kembali belenggu kutukannya.

Kedua emban di sudut kereta yang sedari tadi pura-pura terlelap, kini membuka mata mereka dan menunduk dalam-dalam, tidak berani bersuara melihat sang dewa perang bersiap untuk pergi.

Gatotkaca menatap Pregiwa untuk terakhir kalinya dalam jarak sedekat itu. Sang putri duduk meringkuk di atas dipan, air mata mengalir deras dalam diam membasahi pipinya yang kembali memucat karena hilangnya sumber kehangatan.

Tanpa mengucapkan kata perpisahan—karena kata-kata itu akan benar-benar menghancurkan sisa akal sehatnya—Gatotkaca mendorong pintu kayu jati kereta. Ia melangkah keluar dari kabin yang hangat itu, langsung disambut oleh tamparan angin beku pagi hari yang menusuk wajah dan menyelimuti zirah emasnya. Sang senopati menyambut rasa dingin yang ekstrem itu dengan dada terbuka. Ia membutuhkan rasa sakit fisik itu untuk mengalihkan perhatian dari rasa sakit yang jauh lebih mematikan di dalam dadanya.

Ia melesat ke udara, membumbung tinggi menembus langit kelabu, kembali mengambil posisinya sebagai sang pengintai, sang pelindung tak tersentuh. Malaikat maut dari Pringgandani telah kembali.

Dua jam kemudian, setelah pasukan Amarta berhasil membongkar tenda yang tertimbun salju dan menenangkan kuda-kuda yang kedinginan, iring-iringan itu kembali bergerak maju.

Perjalanan di hari terakhir ini terasa bagai sebuah prosesi menuju tiang gantungan. Roda-roda kereta berderit membelah ketebalan salju, diiringi tabuhan pelan genderang prajurit yang suaranya teredam oleh luasnya dataran putih.

Menjelang tengah hari, saat kabut tebal perlahan terangkat oleh angin, apa yang menanti mereka di ujung cakrawala akhirnya menampakkan wujud aslinya.

Di depan mereka, membelah dua bukit batu yang menjulang tinggi hingga menyentuh awan, berdirilah benteng pertahanan utama Kerajaan Swantipura. Tidak ada kemegahan pualam dan emas seperti di Amarta. Swantipura adalah manifestasi dari kekuatan maut dan militer absolut. Dinding-dinding bentengnya terbuat dari balok-balok batu granit hitam sebesar rumah, disusun berlapis-lapis tanpa celah. Menara-menara pengawasnya menjulang runcing menyerupai taring serigala raksasa yang menantang langit. Panji-panji kebesaran Swantipura yang berwarna hitam pekat dengan lambang elang perak berkibar liar ditiup angin pegunungan.

Namun, bukan benteng raksasa itu yang membuat nyali seribu prajurit Amarta menciut. Melainkan apa yang telah menunggu mereka di hamparan padang salju tepat di depan gerbang utama.

Sepuluh ribu pasukan kavaleri elit Swantipura telah berbaris rapi dalam formasi tempur yang sempurna, membentuk lorong penyambutan yang memanjang sejauh mata memandang. Kuda-kuda perang mereka—jenis kuda pegunungan berbadan besar yang kebal terhadap hawa dingin—dilapisi oleh zirah perak yang menutupi kepala hingga ke dada. Para penunggangnya mengenakan zirah pelat baja berat yang dicat hitam, memegang tombak panjang berujung perak yang berkilauan mengerikan di bawah cahaya matahari pucat. Mereka berdiri diam, tak bergerak sedikit pun, menampilkan disiplin militer yang luar biasa.

Itulah harga yang diminta oleh Prabu Dirgantara. Itulah kekuatan yang sanggup mengubah jalannya Perang Baratayuda. Kekuatan yang telah dibeli dengan air mata seorang Dewi Pregiwa.

Gatotkaca, yang melayang tinggi di atas iring-iringan Amarta, menatap puluhan ribu pasukan itu dengan mata menyipit. Sebagai seorang panglima perang, ia harus mengakui bahwa kavaleri Swantipura adalah senjata yang sangat mematikan. Mereka sangat pantas menjadi sekutu Pandawa. Namun sebagai seorang pria yang hatinya berdarah, ia ingin sekali menukik turun dan menghancurkan barisan sempurna itu saat itu juga. Ia ingin membuktikan bahwa seluruh armada elang perak ini tidak sebanding dengan seujung kuku wanita yang berada di dalam keretanya.

Terompet kerang dari pihak Amarta ditiupkan, dibalas oleh tiupan terompet tanduk hewan yang berat dan panjang dari pihak Swantipura. Suara sambung-menyambung itu bergema di lereng pegunungan, menandakan bahwa prosesi serah-terima akan segera dimulai.

Iring-iringan kereta kencana perlahan memasuki lorong yang dibentuk oleh barisan sepuluh ribu kavaleri itu. Setiap kali roda kereta melintas, para penunggang kuda Swantipura serentak menghentakkan gagang tombak mereka ke perisai, menciptakan suara dentuman ritmis yang menggetarkan bumi, sebuah penghormatan militer tertinggi bagi calon ratu mereka.

Kereta akhirnya berhenti perlahan tepat di pelataran utama di depan gerbang benteng yang terbuka lebar.

1
Siska Dianti
fresh ceritnta seru banget ngangkat sejarah perwayangan
MUHAMMAD AQIEL ELYAS
terimakasih dukunganya kak
Siskadianti @gmail.com
sedih
Siskadianti @gmail.com
keren sejarah begini tapi di buat novel
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!