Aurora menyeringai, "Kakak maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakiti mu. Selama ini kami saling mencintai. Karena kamu memaksa, akhirnya Jake menikahi mu. Jadi aku mengambil yang sudah menjadi hak ku."
"Apa maksud mu? Jake suami ku," ucap Caroline dengan nada menekan. Air matanya sudah mengalir, entah semenjak kapan. Ia tidak tau. Sakitnya seperti tercabik-cabik.
Tommy tertawa dan melangkah ke arah Caroline. "Jake suami mu." Sekali lagi ia mengulang ucapan Caroline. Ia mendekatkan mulutnya ke telinga Caroline. "Apa selama ini kau menikmati pelayanan ku?"
.....
Demi balas dendam untuk kekasihnya. Jake Willowind dan Tommy Willowind menggunakan sandiwara. Mereka bergantian tidur dengan Caroline. Seolah Caroline adalah barang. Sehingga suatu hari, Caroline mengetahui semuanya bahwa Jake memiliki saudara kembar dan sering kali berperan sebagai suaminya. Bahkan suaminya diam-diam masih bersama dengan adik tirinya Aurora.
"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sayonk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab sembilan
Jake mengepalkan kedua tangannya. Baru pertama kalinya ia melihat seorang istri menyodorkan suaminya pada wanita lain. Ia merasa dirinya bagaikan barang.
"Caroline aku bukan barang yang seenaknya saja kau berikan pada siapa pun."
Jake menatap tajam pada Caroline. Seharusnya Caroline merasa senang karena di perhatikan olehnya yang sebagai suaminya.
"Dan aku bukan tempat sampah yang menerima sampah dari bekas orang lain Jake." Caroline menekan ucapannya dengan dingin.
Kedua netranya melirik Aurora. "Aku tidak menerima bekas Aurora. Dia kan cinta pertama mu. Pasti kau sudah menyentuhnya."
Jake tidak terima di katakan sampah. Selama ini ia tidak pernah menyentuh Aurora sedikit pun. "Aku tidak pernah menyentuhnya."
Tommy melebarkan mulutnya. Kedua netranya hampir keluar saking terkejutnya dengan ucapan Jake. Begitu pun Aurora, ia merasa malu karena Jake berterus terang tidak pernah menyentuhnya.
"Lalu kapan kau akan menyentuhnya sampai Aurora hamil? Kau masih menunggu waktu yang tepat. Oh aku tau kau menunggu bercerai. Aku sudah menandatanganinya dengan cantik Jake."
"Perceraian itu tidak sah. Tommy yang melakukannya bukan aku."
"Terserah, yang jelas aku sudah bercerai dengan mu."
Jake menghela nafasnya yang terasa lelah. Pertengkaran tadi menguras seluruh energi dalam tubuhnya. "Tommy seharusnya kau tidak ikut campur masalah ini."
Drt
Jake mengangkat panggilan dari kakeknya. "Jake usir wanita itu. Kalau tidak, aku tidak akan memaafkan mu." Tegas kakek Jakson. Dia menutup ponselnya tanpa menunggu jawaban Jake.
"Kau lihat Tommy, semuanya tambah rumit."
Aurora tidak ingin membuat Jake jauh darinya. "Jake lebih baik aku pergi saja. Aku tidak ingin merusak rumah tangga mu."
Jake menaikkan sebelah alisnya. "Apa kau yakin? Bagaimana kalau Tommy menemani mu? Aurora aku tidak ingin kakek dan nenek menyakiti mu." Ia berpikir Aurora pasti akan di sakiti oleh kakek dan neneknya karena mereka begitu menyayangi Caroline.
Mulut Aurora membentuk huruf O. Ia tidak bisa menelan air ludahnya. Jake bahkan mengusirnya dengan alasan yang tidak masuk akal.
"Kau mengusir ku?"
"Aku bukan mengusir mu. Tetapi aku khawatir pada mu. Kau akan di sakiti oleh kakek dan nenek."
Tommy mengakui pikiran Jake ada benarnya. "Aurora sebaiknya kau pergi dulu. Aku akan menemani mu. Alangkah baiknya kau mengikuti saran kakak."
Aurora mengangguk, ia berusaha menahan amarahnya. "Baiklah."
Jake menyusul Caroline. Ia menanyakan keberadaan Caroline pada beberapa pelayan dan mengatakan bahwa Caroline berada di halaman belakang.
"Caroline." Jake menyapa dan duduk di samping Caroline. "Masalah tadi aku minta maaf pada mu."
Caroline menoleh, seorang Jake minta maaf padanya. Bahkan di masa lalu pria itu tidak pernah minta maaf padanya. Jangankan mint maaf, membuka mulutnya saja dengan mengucapkan satu kata padany tidak pernah dia lakukan.
Caroline kembali menatap lurus ke depan. Perkataan Jake ia anggap angin lalu pasti ujung-ujungnya Jake akan memarahinya lagi.
"Jake kau tidak perlu minta maaf karena pada akhirnya kau akan tetap menyalahkan aku. Jadi simpan kata maaf mu itu."
"Kenapa? Apa kau tidak suka?"
"Tentu, Aurora pasti akan mencari celah agar aku di benci oleh mu. Kejadian hari ini pasti Aurora tidak akan menerimanya."
"Tidak mungkin begitu. Aurora wanita yang lembut. Dia pengertian. Aku yakin dia tidak seperti yang kamu pikirkan Caroline." Jake sangat yakin Aurora bukanlah wanita yang licik.
Percuma saja ia menjelaskan pada Jake. Pria itu sama sekali tidak mempan dengan ucapannya. "Sudah aku duga akan seperti ini. Sudahlah aku tidak akan mengatakan apa pun lagi dan aku tidak perlu kau percayai."
Caroline berdiri, ia masuk dan berpapasan dengan Aurora.
Aurora melipatkan kedua tangannya dan menghadang Caroline. Ia tersenyum licik pada wanita di hadapannya yang tidak mampu menyayanginya.
"Kakak." Suara Aurora begitu lembut. Wanita itu tidak pernah mau di panggil kakak olehnya. "Kau pasti sakit hati atau iri pada ku. Karena aku yakin kau tidak mampu menyaingi ku. Jake telah membuang mu. Tommy juga dan mereka sama sekali tidak mengharapkan kehadiran mu."
"Kau dan ibu mu sama-sama tidak di harapkan."
Plak
Caroline langsung menampar pipi Aurora. Ia benci di panggil kakak karena masih mengingat dengan jelas bagaimana ibu Aurora menyiksa batin ibunya hingga membuat ibunya gila.
Aurora melihat kedatangan Jake. Dia meraba pipinya sambil menangis. "Kakak aku tau kau membenci ku. Aku minta maaf pada mu."
Jake menatap Caroline seolah dia meminta penjelasan. "Apa yang kamu lakukan Caroline? Kamu menampar Aurora?"
"Jake jangan salahkan Kakak. Aku saja yang bersalah karena membuat kakak kesal."
Aurora menggenggam tangan Jake. Tommy pun datang, dia melihat Aurora yang menangis.
"Aurora kau baik-baik saja." Tommy menatap dingin ke arah Caroline.
"Apa lihat-lihat, aku tidak perlu menjelaskannya. Aku tidak suka ada orang yang menghina ibu ku."
Aurora menggelengkan kepalanya. "Siapa yang menghina? Apa kakak mau menuduh ku?"
Jake memejamkan kedua matanya. "Caroline kau tidak boleh kasae seperti ini. Jika aku yang membuat mu kesal. Kau bisa lampiaskan pada ku."
Caroline memencet sebuah tombol di ponselnya. Tadi ia merekam perkataan Aurora.
Aurora tercengang, ia menggelengkan kepalanya. "Tidak, itu bukan suara ku." Dia mengambil ponsel Caroline dan melemparkannya.
"Kenapa? Takut haaa. Jake tadi kau ingin menggantikan Aurora kan?" Caroline mengingatkan kembali ucapan Aurora. Secepat kilat ia langsung menampar Jake.
Jake tercengang, Tommy menutup mulutnya saking terkejutnya.
"Aku tidak suka banyak bicara, tapi aku suka bermain tangan." Caroline mengusap tangannya.
Dia melewati Jake, Tommy dan Aurora.
Aurora mencoba berbicara dengan Jake dan Tommy bahwa semuanya tidak benar.
"Jake aku tidak mungkin berbicara seperti itu. Pasti bukan aku."
Jake merasa terhina, ia pikir Aurora tidak mungkin melakukannya, tapi wanita ini malah menghinanya. "Kau pikir aku bodoh Aurora."
Aurora menelan ludahnya dengan susah payah. "Tolong peecaya pada ku. Kakak hanya ingin aku dan kamu berjauhan."
Tommy menggertakkan giginya. Sungguh ia tidak percaya. Aurora yang ia kenal sangat lembut.
"Kau pikir kami bodoh. Rekaman itu jelas suara mu. Aurora apa selama ini kau memang membodohi kami? Apa jangan-jangan yang menolong ku bukan kamu?"
Aurora menyangkal, jelas ia yang menolong Tommy. "Bukan, aku yang memang menolong mu. Aku tidak mungkin berbohong. Tommy kau kenal aku sudah lama."
"Justru ini yang aku takutkan. Aku mengenal mu di luarnya saja, tapi tidak hati mu. Aurora jika benar kau membodohi ku. Aku tidak akan memaafkan mu."
Tommy melangkah lebar. Dia ingin sendiri. Rasanya sangat kecewa. Membela seseorang yang ia anggap lembut, tapi perkataannya kasar. "Aku akan menyelidki Aurora."
Tommy tidak suka jika ia melihat sesuatu yang salah maka ia harus mencari sampai ke akar-akarnya.