Kata orang, cinta itu buta. Buat Kara Anindita, cinta itu bukan cuma buta, tapi juga bikin miskin mendadak.
Demi menikah dengan Rio Pratama—cowok biasa yang dia pikir tulus mencintainya apa adanya—Kara rela melakukan "prank" terbesar dalam hidupnya. Dia menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal Anindita Group, raksasa properti nomor satu di negeri ini. Kara menukar kartu kredit unlimited-nya dengan uang belanja recehan, menukar penthouse mewahnya dengan kontrakan petak yang atapnya bocor, dan menukar gaun desainernya dengan daster diskonan di pasar kaget.
Kara pikir, hidup sederhana asal penuh cinta itu indah.
Tapi ternyata, "tulus" itu ada masa kedaluwarsanya.
Tiga tahun menikah, setelah karier Rio menanjak (yang Rio nggak tahu, itu berkat koneksi "orang dalam" Kara), sikap suaminya berubah 180 derajat. Rio mulai sombong, gila hormat, dan menganggap pengorbanan Kara sebagai kewajiban istri yang tidak berpenghasilan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3: Bukan Istri, Cuma Kurir Nyasar
Kaki Kara rasanya seperti ditanam di lantai marmer yang dingin itu. Dia ingin lari, ingin menghilang, tapi tubuhnya menolak diperintah.
Hinaannya masih terngiang di telinga. Pemulung.
Kara menyeka sisa air matanya kasar dengan punggung tangan. "Oke, Kara. Cukup. Kamu nggak boleh cengeng. Kamu kuat," bisiknya menyemangati diri sendiri, meski hatinya sudah retak seribu.
Dia baru saja hendak melangkah menuju pintu keluar kaca otomatis yang berputar itu, ketika dia mendengar suara tawa yang sangat dia kenal.
Suara tawa Rio.
Bukan tawa meremehkan yang biasa Kara dengar di rumah kontrakan. Ini tawa renyah. Tawa laki-laki yang sedang tebar pesona. Tawa yang dulu membuat Kara jatuh cinta setengah mati.
Langkah Kara terhenti. Dia refleks memundurkan tubuhnya ke balik pilar besar berlapis kayu di dekat resepsionis. Jantungnya berdegup kencang, kali ini karena firasat buruk.
Di dekat lift—tempat Rio tadi meninggalkannya—suaminya itu tidak sendirian.
Ada seorang wanita berdiri di sana. Cantik. Sangat cantik. Rambutnya di-blow sempurna, mengenakan blazer warna cream yang pas badan, rok pensil yang menampilkan kaki jenjang, dan sepatu hak tinggi Charles & Keith yang mengkilap.
Wanita itu tertawa kecil sambil memukul pelan lengan Rio. Dan Rio? Rio tersenyum lebar. Matanya berbinar menatap wanita itu. Tatapan memuja. Tatapan yang sudah tiga tahun ini hilang dari mata Rio saat melihat Kara.
"Itu Siska..." batin Kara tercekat.
Kara tahu nama itu. Rio sering menceritakannya di rumah. "Siska itu pinter banget, Ra. Dia baru masuk setahun tapi udah dipromosiin. Udah gitu wangi, rapi, enak dipandang. Nggak kayak ibu-ibu kompleks kita."
Jadi ini wujud aslinya.
"Mas Rio bisa aja deh candanya," suara Siska terdengar manja, menggema di lobi yang luas. "Eh tapi Mas, tadi aku liat Mas Rio ngobrol sama cewek di deket sini. Siapa Mas? Kayaknya... mm... agak kumal ya? Maaf."
Siska menutup mulutnya dengan gaya sok imut, matanya melirik ke arah pilar tempat Kara bersembunyi tadi.
Darah Kara berdesir hebat. Dia menahan napas. Apa yang akan Rio katakan?
Apakah Rio akan jujur? "Oh, itu istriku. Memang lagi nggak dandan aja."
Atau setidaknya berbohong demi kebaikan? "Itu saudara jauh dari kampung."
Kara menunggu. Detik-detik terasa seperti jam.
Rio tertawa canggung, lalu mengibaskan tangannya di udara dengan gestur meremehkan. Gestur membuang sampah.
"Oh, perempuan gembel tadi?" Rio mendengus pelan, suaranya terdengar jelas di telinga Kara yang bersembunyi hanya berjarak lima meter. "Bukan siapa-siapa, Sis. Itu cuma kurir online nyasar. Salah alamat, ngotot minta ongkir, padahal aku nggak pesen apa-apa. Ganggu banget emang."
DEG.
Jantung Kara tidak lagi diremas. Kali ini rasanya seperti diledakkan.
Kurir online nyasar?
Ganggu?
Kara menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangan, menahan jeritan yang sudah sampai di tenggorokan. Kakinya lemas seketika.
Tiga tahun dia memasak, mencuci celana dalam pria itu, merawatnya saat demam tinggi, bahkan meninggalkan kemewahan yang dia punya (tanpa sepengetahuan Rio) ...
Dan sekarang, di hadapan wanita lain, statusnya dihapus begitu saja. Dia bukan istri. Dia bukan manusia. Dia cuma "gangguan".
"Ya ampun, kasian banget ya Mas," sahut Siska dengan nada simpati palsu. "Security sini emang kadang nggak becus nyaring orang masuk. Takutnya orang gila atau pengemis."
"Makanya. Udah yuk, lunch bareng? Aku traktir deh sebagai permintaan maaf karena kamu harus liat pemandangan nggak enak tadi," ajak Rio semangat.
"Boleh banget! Yuk, Mas."
Mereka berdua berjalan beriringan menuju pintu keluar, melewati pilar tempat Kara bersembunyi.
Aroma parfum Rio bercampur dengan parfum mahal Siska (wangi Jo Malone—Kara tahu persis wanginya karena itu parfum favoritnya dulu) menusuk hidung Kara saat mereka lewat. Wangi kesuksesan. Wangi kebahagiaan.
Dan Kara? Dia hanya berbau keringat, debu jalanan, dan bau masakan dapur yang menempel di baju kampanye lusuhnya.
Setelah bayangan Rio dan Siska menghilang di balik pintu kaca, Kara merosot. Dia jatuh terduduk di lantai lobi yang dingin. Kakinya benar-benar tidak bisa menopang tubuhnya lagi.
Seorang satpam lobi mendekatinya dengan wajah curiga. "Mbak? Mbak ngapain duduk di situ? Sakit? Kalau mau ngemis jangan di sini ya, Mbak."
Kara mendongak. Matanya kosong. Air matanya sudah kering. Rasa sakitnya sudah melampaui batas air mata.
Dia tersenyum tipis. Senyum yang mengerikan. Senyum seseorang yang baru saja kehilangan jiwanya.
"Nggak, Pak," jawab Kara pelan, suaranya dingin dan datar. "Saya bukan pengemis. Saya cuma baru sadar... kalau saya sudah membuang berlian demi memungut sampah."
Kara berdiri perlahan. Dia menepuk debu di celana kulotnya dengan gerakan anggun—sebuah gestur alami seorang putri konglomerat yang sempat terlupakan. Punggungnya tegak. Dagunya terangkat sedikit.
Dia berjalan keluar dari gedung itu.
Di luar, langit Jakarta mendadak gelap. Guntur menggelegar, disusul hujan deras yang turun seolah ingin mencuci semua kotoran di bumi.
Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh. Tapi Kara terus berjalan menembus hujan. Dia membiarkan air hujan membasahi tubuhnya, menyamarkan air mata yang mungkin keluar lagi, atau mungkin tidak.
Dia merogoh saku celananya. Mengeluarkan HP mahalnya.
Layar menyala di tengah guyuran hujan. Dia menekan satu nomor yang sudah tiga tahun tidak dia hubungi.
Nada sambung terdengar dua kali.
Lalu, suara bariton tua yang berwibawa terdengar di ujung sana. Suara yang dulu selalu Kara hindari karena egonya.
"Halo? Siapa ini? Nomor tidak dikenal..."
Kara menarik napas panjang, menghirup aroma hujan dan aspal basah. Suaranya bergetar, tapi kali ini bukan karena sedih. Tapi karena tekad.
"Pa... Ini Kara."
Hening sejenak di ujung telepon. Lalu suara itu berubah panik dan rindu. "Kara?! Anakku?! Di mana kamu, Nak? Papa cari kamu ke mana-mana..."
"Kara mau pulang, Pa," potong Kara cepat. Dia menatap gedung tinggi kantor Rio untuk terakhir kalinya. Tatapan yang penuh dengan janji pembalasan.
"Jemput Kara sekarang. Dan tolong... siapkan pengacara terbaik kita. Kara mau mengurus 'sampah' yang harus dibuang."
...****************...
...Bersambung......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share ❣️...
...****************...
kanjooot..
terus kemaren2 sblm kara pergi, ibunya tinggal dimana?
nanya lho thor, bkn menghujad.. 🤭🙏