NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Musuh!!

Menikah Dengan Musuh!!

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: NaNa/ji-eun

not allowed to copy , cerita ini 100% hasil dari pikiran ku sendiri, jadi jangan copy cerita ini,

cerita ini berjudul *menikah dengan musuh!! *
pemeran perempuan dalam cerita ini sangat membenci seorang lelaki yang sangat nakal dan sering bolos waktu sma, dan nama nya adalah ALRESCHA dan kerap di panggil al/reska

ayana/ pemeran utama dari cerita ini sangat membenci al,namun al menyukai nya dari zaman sma hingga kuliah, namun al sama sekali tidak pernah mengungkapkan cinta nya kepada ayana, dan sekarang dia di pertemukan lagi, dan di paksa oleh kedua orang tua mereka untuk menikah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaNa/ji-eun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 17

"Halo, Na? Gue barusan liat postingan gila itu. Lo nggak apa-apa?" suara Zean terdengar sangat khawatir.

Ayana menghela napas panjang, matanya melirik ke arah Reva yang sedang asyik bermain di sampingnya sementara ia mendengarkan dosen di earphone. "Gue bingung, Ze. Bang Rezky muter balikin fakta banget. Dia bilang gue sama Al sengaja nyembunyiin Reva biar dia nggak bisa ketemu anaknya."

"Gila emang! Padahal gue saksinya, Na. Gue tahu banget selama ini lo kuliah via online sambil jagain Reva setiap hari tanpa henti karena mamanya nggak ada kabar setahun lebih. Lo tuh ibu terbaik buat Reva, bukan penculik!" seru Zean geram.

Zean melanjutkan dengan nada serius, "Na, lo jangan diem aja. Orang-orang di grup angkatan kita mulai kemakan omongan Rezky. Gue punya banyak bukti rekaman video tiap kali kita video call atau ngerjain tugas bareng, lo selalu lagi nyuapin Reva atau nemenin dia main. Itu bukti kuat kalau lo yang bener-bener ngerawat dia."

"Gue harus gimana, Ze? Al juga lagi usaha cari jalan keluar lewat jalur hukum," tanya Ayana bimbang.

"Gue bakal bantu lo klarifikasi lewat medsos gue. Gue bakal posting bukti-bukti kedekatan lo sama Reva selama setahun terakhir ini. Biar semua orang tahu siapa yang beneran ada buat Reva saat orang tua aslinya ngilang," tegas Zean.

Ayana merasa sedikit lega. Dukungan Zean membuatnya sadar bahwa meskipun ia kuliah dari rumah, dedikasinya merawat Reva selama ini terekam jelas di mata para sahabatnya. Al yang baru masuk ke kamar melihat Ayana sedang menelepon, ia mendekat dan mengusap bahu istrinya lembut, memberikan kekuatan di tengah badai fitnah ini.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Pagi harinya, suasana di salah satu ruangan pertemuan yang disiapkan Zean sudah dipenuhi beberapa perwakilan media kampus dan jurnalis lokal. Zean benar-benar menepati janjinya; ia mengatur semuanya agar Ayana dan Al bisa bicara dengan tenang tanpa tekanan.

Ayana tampak rapi namun sederhana, ia terus menggenggam tangan Al di bawah meja. Reva duduk tenang di pangkuan Ayana, sibuk dengan buku mewarnainya, tidak menyadari bahwa ia adalah pusat dari pembicaraan ini.

"Selamat pagi rekan-rekan. Terima kasih sudah datang," buka Zean dengan nada profesional. "Kami di sini ingin meluruskan fitnah yang beredar di media sosial mengenai sahabat saya, Ayana, dan suaminya, Al."

Al kemudian mengambil mikrofon, suaranya terdengar sangat tenang dan berwibawa. "Tuduhan bahwa kami mengeksploitasi atau menyandera Reva adalah bohong besar. Selama setahun lebih, kami yang merawat Reva saat orang tua kandungnya tidak memberikan kabar sama sekali. Kami memiliki bukti riwayat medis, biaya hidup, hingga log aktivitas kuliah online Ayana yang setiap harinya didampingi oleh Reva." Alat Bukti Elektronik di Pengadilan

Ayana memberanikan diri untuk bicara. "Saya kuliah via online agar bisa tetap menjaga Reva. Setiap hari saya yang memandikan, menyuapi, dan mengajarinya bicara. Foto-foto dan video yang disebarkan pihak lawan adalah potongan yang dimanipulasi. Kami tidak pernah menghalangi mereka bertemu, namun kenyataannya Reva sendirilah yang merasa asing karena mereka menelantarkannya terlalu lama." Sanksi Penelantaran Anak

Zean kemudian menampilkan sebuah video di layar besar—rekaman saat mereka sedang kerja kelompok via Zoom beberapa bulan lalu, di mana Ayana dengan sabar memangku Reva yang sedang tertidur sambil tetap fokus mendengarkan dosen.

"Lihat sendiri, Ayana melakukan tugasnya sebagai ibu sekaligus mahasiswa dengan sangat luar biasa. Jadi, tolong hentikan penghakiman sepihak ini," tegas Zean.

Konferensi pers itu berjalan sukses. Publik yang tadinya menghujat mulai berbalik mendukung Ayana dan Al setelah melihat bukti-bukti nyata yang selama ini tersembunyi di balik layar laptop Ayana.

...****************...

Prahara ini akhirnya mencapai titik jenuh bagi Alya. Melihat adiknya, Ayana, harus duduk di depan kamera konferensi pers demi membela diri dari fitnah suaminya sendiri, hati Alya benar-benar hancur. Ia sadar bahwa ambisi Rezky sudah melampaui batas kemanusiaan.

Sore itu, tak lama setelah konferensi pers selesai, Alya datang ke rumah Al tanpa didampingi pengacara atau Rezky. Ia tampak sangat kuyu, matanya sembab karena terlalu banyak menangis.

"Al, Ayana... Kakak menyerah," ucap Alya pelan saat mereka duduk di ruang tamu.

Ayana terdiam, menatap kakaknya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Maksud Kakak?"

"Kakak akan mencabut semua tuntutan hak asuh itu. Kakak juga sudah bicara dengan pengacara Mas Rezky untuk menghentikan semua fitnah di media sosial," rintih Alya sambil tertunduk. "Kakak sadar, memaksa Reva ikut dalam keadaan Mas Rezky seperti itu hanya akan menghancurkan masa depan anak Kakak sendiri."

Alya meraih tangan Ayana, menggenggamnya dengan gemetar. "Terima kasih, Na. Kamu sudah membuktikan kalau kamu jauh lebih layak jadi Ibu buat Reva daripada aku. Tolong... terus sayangi Reva. Kakak nggak akan ganggu kehidupan kalian lagi sampai Reva sendiri yang siap buat kenal Kakak." Pencabutan Gugatan Perdata

Al menghela napas panjang, kemarahan yang selama ini ia pendam perlahan luruh melihat ketulusan kakaknya. "Lalu bagaimana dengan Bang Rezky, Kak?"

"Biarkan dia mempertanggungjawabkan perbuatannya di polisi atas Percobaan Penculikan dan Pencemaran Nama Baik itu. Aku sudah lelah membelanya," tegas Alya.

Mendengar itu, Ayana langsung memeluk Alya erat. Isak tangis kedua bersaudara itu pecah di ruang tamu. Tidak ada lagi perebutan, yang ada hanyalah keikhlasan seorang ibu demi kebahagiaan anaknya. Reva yang melihat mereka menangis, langsung mendekat dan ikut memeluk kaki kedua "Mama"-nya itu.

"Mama... jangan nangis... Leva di sini," bisik Reva polos.

Kemenangan ini terasa sangat melegakan bagi Ayana dan Al. Akhirnya, status Reva di rumah itu menjadi tenang, dan mereka bisa kembali fokus membangun keluarga kecil mereka tanpa bayang-bayang ancaman lagi.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Beberapa bulan pun berlalu dengan tenang. Badai yang dibawa Rezky dan Alya telah mereda sepenuhnya. Rezky harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di balik jeruji besi, sementara Alya memilih untuk menata ulang hidupnya di luar kota sambil tetap rutin mengirimkan kado dan menanyakan kabar Reva via telepon—kali ini tanpa paksaan.

Suasana di rumah Al kini jauh lebih hangat. Sore itu, Ayana sedang duduk di meja belajarnya, baru saja menyelesaikan sesi kuliah online-nya. Namun, ada yang berbeda; wajahnya tampak sedikit pucat dan ia berkali-kali memijat tengkuknya.

"Ma... main yuk!" panggil Reva yang kini sudah semakin lincah dan bicaranya pun semakin jelas.

"Sebentar ya, Sayang... Mama lagi agak pusing," sahut Ayana pelan.

Al yang baru saja pulang dari kampus langsung menghampiri Ayana. Ia meletakkan punggung tangannya di dahi Ayana. "Kamu sakit? Wajah kamu pucat banget, Na."

Ayana hanya menggeleng kecil, lalu ia merogoh sesuatu dari dalam laci mejanya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menyerahkan sebuah benda kecil panjang kepada Al.

Al tertegun. Di sana terlihat dua garis merah yang sangat jelas. Tanda-tanda Awal Kehamilan.

"Na... ini?" suara Al mendadak serak karena haru.

Ayana mengangguk sambil meneteskan air mata bahagia. "Iya, Al. Reva bakal punya adek. Kita... kita bener-bener bakal jadi orang tua seutuhnya."

Al langsung mendekap Ayana erat, lalu mencium keningnya lama sekali. "Terima kasih, Na. Terima kasih sudah mau berjuang bareng saya."

Reva yang melihat mereka berpelukan langsung ikut memanjat ke pangkuan Al.

 "Papa! Mama! Leva mau ikut peyuk!"

Al tertawa kecil lalu menggendong Reva, mendekapkannya ke arah perut Ayana yang masih rata. "Reva, di dalam sini ada adek bayi. Nanti Reva jadi Kakak yang hebat ya?"

"Adek? Leva punya adek?" mata Reva berbinar bahagia. Ia mengusap perut Ayana dengan tangan mungilnya. "Halo adek... jangan lama-lama ya, nanti main baleng Kakak Leva!" Mempersiapkan Kakak Menyambut Adik Baru.

Malam itu, kebahagiaan mereka terasa sempurna. Di tengah perjuangan panjang mereka menjaga Reva, Tuhan memberikan kado terindah yang semakin menguatkan ikatan pernikahan mereka. Tidak ada lagi keraguan, hanya ada cinta dan masa depan cerah yang menanti keluarga kecil ini.

Malam itu juga, Ayana dan Al memutuskan untuk memberikan kabar bahagia ini kepada Mama Al. Mereka menghampiri Oma yang sedang asyik menonton televisi di ruang tengah bersama Papa Al.

Ayana berjalan perlahan, lalu duduk di samping mertuanya. "Oma... ada sesuatu buat Oma," ucap Ayana sambil menyerahkan sebuah kotak kecil berpita.

Mama Al mengernyitkan dahi, tertawa kecil. "Loh, ada apa nih? Kan bukan hari ulang tahun Oma?"

Namun, saat kotak itu dibuka dan Mama Al melihat test pack dengan dua garis merah yang sangat jelas, seketika tangisnya pecah. Ia langsung memeluk Ayana dengan sangat erat. Tanda Kehamilan Pasti.

"Ya ampun, Na... Al... beneran? Oma bakal punya cucu lagi?" tanya Mama Al di sela isak tangis bahagianya.

Papa Al yang biasanya terlihat kaku pun tidak bisa menyembunyikan binar matanya. Ia menepuk bahu Al berkali-kali dengan bangga. "Selamat, Al. Jaga Ayana baik-baik. Ini anugerah luar biasa buat keluarga kita."

"Reva, sini Sayang!" panggil Mama Al pada cucu pertamanya. "Reva tahu nggak? Di dalam perut Mama ada adek bayi. Reva seneng nggak bakal jadi Kakak?"

Reva yang melihat Omanya menangis malah sempat bingung, tapi kemudian ikut melompat kegirangan. "Leva seneng! Nanti adeknya Leva kasih mainan boneka ya, Oma?"

"Iya, Sayang. Reva harus jagain adeknya nanti ya," ucap Mama Al sambil menciumi pipi Reva berkali-kali.

Malam itu, rumah mereka penuh dengan tawa dan haru. Mama Al langsung sibuk merencanakan menu makanan sehat untuk Ayana dan melarang menantunya itu melakukan pekerjaan berat. Nutrisi Ibu Hamil Trimester Pertama. Ayana merasa sangat dicintai; ia sadar bahwa keputusannya untuk tetap bertahan bersama Al adalah keputusan terbaik dalam hidupnya.

Sejak kabar kehamilan itu dikonfirmasi, sikap Al berubah drastis. Sosok Al yang biasanya dingin dan kaku, kini berubah menjadi suami yang sangat manja sekaligus protektif tingkat tinggi.

Keesokan paginya, Ayana baru saja ingin turun dari tempat tidur untuk menyiapkan susu Reva, namun tangan Al langsung menahannya.

"Mau ke mana?" tanya Al dengan suara serak khas bangun tidur, namun tatapannya sangat waspada. Tips Menjaga Kehamilan Muda

"Mau buatin susu Reva, Al. Kasihan dia udah bangun," jawab Ayana lembut.

"Duduk saja. Biar saya yang buat. Kamu nggak boleh capek, Na," tegas Al. Ia bahkan membantu Ayana menyandar di bantal dengan sangat hati-hati, seolah Ayana adalah porselen yang mudah retak.

Reva yang melihat Papanya sibuk sendiri langsung mendekat. "Papa... Leva mau susu cokelat!"

"Sabar ya Sayang, Papa buatin. Reva jagain Mama ya, jangan sampai Mama turun dari kasur," ucap Al sambil mengelus kepala Reva. Reva pun mengangguk mantap, duduk tegap di samping Ayana bak penjaga kecil.

Sepanjang hari, Al seolah menjadi bayangan Ayana. Saat Ayana ingin mengambil minum di dapur, Al sudah lebih dulu membawakannya. Bahkan saat Ayana sedang fokus kuliah online, Al duduk di sampingnya sambil sesekali memijat bahu Ayana atau menyuapinya buah-buahan. Nutrisi Ibu Hamil

"Al, aku cuma hamil, bukan sakit. Aku masih bisa jalan sendiri kok," protes Ayana sambil tertawa kecil karena Al terus-menerus memegangi lengannya setiap kali ia berdiri.

"Saya nggak mau ambil risiko, Na. Kamu dan adek bayi itu nyawa saya sekarang," balas Al tanpa ragu. Kalimat jujur itu sukses membuat jantung Ayana berdegup kencang dan pipinya merona.

Puncaknya, Al sampai memesankan kursi kerja yang lebih empuk agar Ayana nyaman saat kuliah online. Ia juga memasang aromaterapi di kamar supaya Ayana tidak mual. Sikap Al yang sangat memanjakannya membuat Ayana merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Cara Mengatasi Mual Saat Hamil

"Makasih ya, Al. Kamu bener-bener jadi suami siaga," bisik Ayana saat mereka bersantai di sore hari.

Al mengecup kening Ayana lama. "Ini belum seberapa dibandingkan perjuangan kamu jagain Reva sendirian dulu. Sekarang, giliran saya yang jaga kalian bertiga."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!