Fei Xing berasal dari abad masa depan—tahun 3080—dimana hampir semua aspek kehidupan dikuasai oleh mesin pintar canggih.
Kemajuan teknologi yang terlalu cepat mengakibatkan banyak kerusuhan dan konflik di seluruh dunia.
Ayahnya, seorang profesor jenius di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, menciptakan sebuah sistem canggih yang terpasang pada jam pintar Fei Xing.
Tujuan utama penciptaan sistem itu adalah untuk melindungi anaknya dengan mengirimkannya pergi dari tahun 3080 yang penuh bahaya.
Di dunia baru ini, Fei Xing bebas mengendalikan sistemnya sesuai keinginannya.
Sistem kecerdasan buatan ini sangat pintar dan memiliki protokol dasar: tidak boleh menyakiti atau melawan tuannya.
Dalam kurun waktu 100 tahun, Fei Xing sudah sering melakukan perjalanan lintas dunia—dari zaman modern, masa lalu, hingga dunia saat ini—hanya untuk bertahan hidup dan mengembangkan kemampuannya.
Namun Sistemnya membutuhkan energi untuk tetap beroperasi dan menjaga kelangsungan hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suku Hu
Anak itu kemudian berbalik lagi dan dengan hati-hati mengulurkan tangannya. Fei Xing menyentuh tangannya dengan lembut untuk memeriksa kondisi fisiknya dengan cermat.
[Anak ini mengalami kekurangan gizi berat, Tuan. Memberikan larutan nutrisi dengan dosis kecil secara teratur akan membuatnya kembali sehat dalam waktu singkat!] sistem memberitahu Fei Xing dalam hati.
Fei Xing segera menoleh pada Pelayan 01."...Ambilkan larutan nutrisi untuk semua anak-anak. Berikan dosis kecil saja ya, jangan terlalu banyak...."
Pelayan 01 membungkuk dengan hormat. "...Baik, Tuan muda!" Setelah itu dia segera keluar dari kantin untuk mengambil larutan yang diminta.
Setelah itu, Fei Xing memberikan boneka serigala itu pada gadis kecil tersebut. "Ini dia, boneka milikmu..."
Saat anak itu menerima boneka yang dianggapnya sebagai "hewan mati", dia langsung terkejut.
Ternyata itu bukan hewan yang diawetkan—bulu pada boneka sangat lembut dan halus, bahkan baunya sangat harum bukan seperti bau busuk yang biasanya ada pada hewan mati.
"Terima kasih, Tuan muda!" ucapnya dengan wajah penuh kegembiraan sambil memeluk boneka itu erat-erat.
Fei Xing tidak menyadari bahwa anak-anak suku ini akan menganggap boneka yang diberikan itu sebagai hewan mati yang telah diawetkan dengan cara ajaib olehnya.
Lalu perlahan, anak-anak lainnya mulai berani melangkah maju untuk bergabung dalam antrian.
Kali ini datang seorang anak laki-laki berusia 8 tahun—wajahnya tirus dengan pipi cekung dan rambut kusut yang baru saja dirapikan oleh ibunya.
Fei Xing memeriksa kondisi anak itu dengan cermat, kemudian meminta Pelayan 01 untuk memberikan larutan nutrisi yang sama seperti yang diberikan pada anak-anak sebelumnya.
"Baiklah, boneka apa yang kamu mau?" tanya Fei Xing dengan ramah.
Anak itu dengan hati-hati menunjuk pada boneka beruang coklat besar yang terletak di ujung troli.
Pelayan 02 segera mengambilnya dan memberikannya pada anak itu, yang langsung tersenyum lebar sambil mengucapkan terima kasih.
Begitu seterusnya hingga semua anak-anak mendapatkan boneka atau mainan pilihan mereka. Setiap anak juga menerima kotak larutan nutrisi kecil yang bisa mereka konsumsi setiap hari.
Setelah anak-anak selesai, Fei Xing melihat pada Hu Zan dan Dukun Li Wu. "...Apa lagi yang kalian butuhkan selain tempat tinggal?"
Hu Zan berpikir sejenak sebelum menjawab."Kami membutuhkan alat-alat untuk bertani dan bahan bangunan untuk memperkuat pemukiman baru kami. Juga, kami ingin belajar cara menanam tanaman makanan yang bisa bertahan di musim dingin."
"Baiklah," kata Fei Xing dengan tenang. "Aku akan menyediakan alat pertanian dasar dan benih tanaman yang cocok untuk iklim di sini..Para pelayan akan mengajari kalian cara mengolah tanah dan menanamnya dengan benar."
Semua orang mengangguk dengan penuh rasa syukur.
Keesokan paginya, Fei Xing memerintahkan pelayan untuk membawa semua alat pertanian dan benih tanaman ke area luar vila.
Hu Zen dan para pria suku segera berkumpul untuk menerima pelatihan dari para pelayan tentang cara mengolah tanah, menanam benih, dan merawat tanaman.
"Sekarang, tanah di sekitar pemukiman baru kalian cukup subur jika diolah dengan benar," jelas Pelayan 04 sambil menunjukkan cara menggali lubang untuk menanam benih.
"Kalian bisa menanam kentang, ubi jalar, dan sayuran berdaun yang tahan musim dingin."
Hu Zen dan teman-temannya dengan cermat mengikuti setiap langkah yang diajarkan.
Mereka mulai mencoba menggali tanah dengan alat yang diberikan, sedikit terkesan dengan seberapa mudah alat tersebut bekerja dibandingkan dengan alat yang biasa mereka gunakan di suku.
Sementara itu, para wanita dan anak-anak diajari cara mengumpulkan serat tanaman dan mengolahnya menjadi bahan baku untuk membuat pakaian.
Dukun Li Wu juga diajari cara mengolah tanaman obat yang tumbuh di sekitar kawasan untuk menyembuhkan luka dan penyakit.
Seiring berjalannya waktu, Fei Xing mulai memberikan kebebasan lebih pada suku Hu Zen untuk bergerak di sekitar wilayah yang dikelolanya.
Suatu hari, Fei Xing sedang duduk di taman vila sambil melihat anak-anak suku Hu Zen yang sedang bermain bersama Hei Bai.
Anak-anak sudah tidak lagi takut dengan serigala besar itu—malahan sering bermain mengikutinya ke mana-mana.
"Hei Bai sudah menjadi teman baik bagi mereka," kata sistem dengan nada senang.
Fei Xing tersenyum. "Ya, itu bagus. Aku ingin mereka merasa seperti di rumah sendiri di sini."
Hu Zen mendekati Fei Xing dengan langkah perlahan.".......Tuan muda, kami sudah berhasil menanam beberapa tanaman di area yang disediakan. Mereka tumbuh dengan baik dan kami berharap bisa menukarnya dengan makanan atau alat lain jika sudah panen."
Fei Xing mengangguk setuju. "...Tentu saja. Dan jika kalian ingin memperluas area pertanian kalian, aku akan menyediakan tanah tambahan untuk kalian. Semua hasil panen kalian bisa kalian simpan atau tukarkan dengan apa saja yang kalian butuhkan."
Hu Zen mengucapkan terima kasih dengan sangat tulus.
Dia melihat ke arah anak-anak yang sedang bermain riang bersama Hei Bai, lalu kembali melihat Fei Xing dengan pandangan penuh penghormatan.
"Kami tidak akan pernah melupakan kebaikan Tuan muda kepada kami," ucap Hu Zen dengan suara tegas. "Kami akan selalu menjaga wilayah ini dan membantu Tuan muda dengan sepenuh hati jika diperlukan."
"Soal tempat tinggal, apa yang kalian rencanakan bangun?" tanya Fei Xing pada kepala suku.
Pria itu menjawab dengan cepat. "..Sama seperti sebelumnya—gubuk dari jerami dan bambu...."
"Gubuk jerami akan cepat rusak jika badai datang lagi. Bukankah lebih baik jika kalian membuat rumah pohon saja...."
"Rumah pohon....?" Hu Zen mengerutkan keningnya—mereka baru pertama kali mendengar hal seperti itu.
Fei Xing menghela nafas perlahan."...Baiklah, karena masih siang hari, bawalah para wanita dan anak-anak untuk beristirahat dulu. Para pria bisa ikut dengan aku untuk melihat contoh lokasi yang cocok...."
Semua orang mengangguk setuju.
Fei Xing segera berangkat bersama para pria dan kepala suku menuju area belakang supermarket—tempat yang masih berupa kawasan hutan dan termasuk dalam wilayah yang dikelolanya.
Sejak datang ke dunia ini, Fei Xing telah memutuskan untuk menetap dan hanya sesekali pergi ke dunia lain untuk bekerja dan mengumpulkan koin.
Karena itu, dia juga telah menandai wilayah seluas beribu-ribu meter persegi sebagai kawasan miliknya.
Tak ada siapapun yang bisa masuk secara sembarangan—jika ada yang tidak sengaja masuk, mereka akan dituntun keluar dengan ramah atau dipaksa jika perlu.
Mereka melewati hamparan hutan yang rimbun dan akhirnya menemukan tempat yang menurut Fei Xing sangat strategis untuk membangun rumah pohon.
Pohon-pohon di sana besar dan kokoh dengan dahan yang kuat, sangat cocok untuk menjadi dasar pemukiman baru mereka.
Fei Xing menoleh pada para pria suku Hu Zen yang sedang mengagumi lokasi yang dia tunjukkan. "...Ini sangat cocok untuk tempat tinggal kalian. Soal pembangunan, biarkan para pelayan ku membantu kalian mengatur dan membangunnya...."
"Baiklah, terima kasih banyak, Tuan muda!"Hu Zan mengucapkan terima kasih dengan sangat tulus—dia tahu bahwa bantuan ini akan menyelamatkan seluruh suku mereka dari kesusahan di masa depan.
Mereka kembali ke vila dan melihat suasana yang jauh lebih riang. Anak-anak dan wanita sedang bermain-main di taman dekat vila, dengan wajah yang sudah mulai tampak lebih ceria.
Melihat ini, para pria merasa sangat bahagia dan lega.
Fei Xing tidak menunda waktu sama sekali. Keesokan harinya, dia mengirim 8 pelayan untuk ikut membantu proses pembangunan rumah pohon.
Para wanita dan anak-anak tetap tinggal di vila untuk menyembuhkan diri dan mendapatkan nutrisi yang cukup.
Anak-anak yang rutin minum larutan nutrisi mulai menunjukkan perbaikan—tubuh mereka lebih berisi dan kulitnya tampak lebih sehat dan bersinar.
Sesekali Fei Xing akan meninggalkan vila bersama Hei Bai untuk berburu atau melakukan perjalanan ke dunia lain.
Namun terkadang dia juga membiarkan Hei Bai bermain-main dengan anak-anak suku Hu Zen.
Pada awalnya, saat Hei Bai muncul dengan ukurannya yang besar dan mengerikan, seluruh suku Hu Zen sangat ketakutan.
Namun mereka langsung merasa lega ketika melihat serigala besar itu berguling-guling di lantai dengan lidah terjulur setelah Fei Xing sedikit memarahinya karena ingin menggigit boneka anak-anak.
Sejak saat itu, mereka tahu bahwa Hei Bai adalah peliharaan dan juga pelindung kawasan tempat Tuan muda tinggal.
Butuh waktu tepat 3 minggu untuk menyelesaikan pembangunan seluruh pemukiman rumah pohon.
Saat semua orang suku Hu Zen siap untuk pindah, Fei Xing menemani mereka langsung—jarak hanya sekitar 100 meter dari vila hingga lokasi pemukiman baru.
Melihat rumah-rumah yang terintegrasi dengan baik dengan pohon-pohon besar membuat para wanita dan anak-anak yang belum pernah melihatnya merasa sangat takjub.
Setiap rumah memiliki tangga kayu yang kokoh dan terhubung satu sama lain dengan jembatan kecil agar mudah bergerak antar rumah.
Fei Xing memberikan saran pada mereka."...Untuk keluarga yang memiliki wanita, orang tua, dan anak-anak, lebih baik tinggal di bagian atas rumah pohon—itu akan lebih aman bagi mereka. Sedangkan bagian bawah bisa digunakan sebagai tempat tinggal para pria atau sebagai ruang penyimpanan...."
"Anda benar sekali, Tuan muda...." Dukun Li Wu juga menyetujui ide ini. Hal ini akan memudahkan para pria di suku untuk segera bergerak jika ada bahaya atau musuh yang menyerang.
Pada malam hari peresmian pemukiman baru, mereka mengadakan api unggun yang besar di area terbuka di bawah rumah pohon.
Semua orang duduk bersama-sama sambil menikmati makanan yang lezat dan berbincang santai. Anak-anak yang mengantuk segera dibawa oleh orang tuanya untuk beristirahat lebih dulu.
Kepala suku Hu Zan, Dukun Li Wu, dan kelompok Hu Zen masih duduk bersama di dekat api unggun.Fei Xing duduk di antara mereka sambil memegang kaleng minuman yang dia bawa.
Hari semakin larut malam, Fei Xing pun kembali ke vila untuk beristirahat.Sebelum pergi, dia telah memberikan tanda khusus agar mereka bisa menemukan jalan ke vila kapan saja.
Yaitu dengan mencari pohon besar yang bentuknya melengkung, yang menjadi pembatas kawasan vila miliknya.