Lima tahun menikah, Samira tak pernah dicintai.
Pernikahannya lahir dari kesalahan satu malam bukan dari cinta, melainkan kehamilan yang memaksa Samudra menikahinya.
Ia mencintai sendirian. Bertahan sendirian.
Hingga suatu hari, lelah itu tak bisa lagi ditahan.
“Lepaskan aku, Mas… aku menyerah.”
Karena pernikahan tanpa cinta hanya akan mengajarkan satu hal: kapan seseorang harus berhenti bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itz_zara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Izin Orang Tua
Pagi ini, seperti biasa, Samudra bangun lebih dulu lalu bersiap untuk berangkat ke kantor.
Namun ada yang berbeda dari pagi sebelumnya.
Jika dulu ia hanya duduk diam sambil membaca berita di ponselnya, kali ini ia benar-benar terlibat dalam percakapan di meja makan. Ia bahkan beberapa kali membantu mengambilkan minum untuk Binar.
Suasana terasa lebih hangat.
“Papa nanti papa pulang jam berapa?” tanya Binar polos, masih mengunyah makanan di mulutnya.
Samudra tersenyum tipis.
“Ditelen dulu, sayang. Nggak boleh ngomong kalau masih ada makanan,” ujarnya lembut.
Binar buru-buru menelan makanannya, lalu tersenyum malu-malu. “Hehe… Papa pulang jam berapa?”
“Mungkin malam,” jawab Samudra. “Ada kerjaan yang harus diselesaikan.”
Wajah kecil itu langsung berubah sedikit murung.
“Malam lagi…” gumamnya pelan.
Samudra menangkap perubahan itu. Dadanya terasa seperti ditekan sesuatu.
“Kenapa? Binar mau Papa pulang cepat?”
Binar mengangguk pelan. “Iya… Binar mau main lagi sama Papa.”
Kalimat sederhana. Tapi entah kenapa terasa begitu menohok.
Samudra menatap putrinya beberapa detik. Wajah kecil itu begitu tulus. Tak ada tuntutan, hanya keinginan sederhana untuk ditemani.
Selama ini…
Berapa banyak momen seperti ini yang ia lewatkan?
Ia melirik Samira sekilas. Wanita itu sedang menuangkan teh, pura-pura tidak memperhatikan, padahal jelas ia mendengar semuanya.
Samudra menghela napas pelan.
“Oke,” katanya akhirnya.
Binar langsung menatapnya penuh harap. “Oke apa, Pa?”
“Hari ini Papa usahakan pulang lebih cepat.”
“Masa sih?” Mata Binar langsung berbinar.
“Iya. Papa janji.”
“Yeaaay!” Binar bersorak kecil sambil bertepuk tangan.
Samira tanpa sadar tersenyum melihatnya. Samudra menyadari senyum itu.
Ia menghabiskan sarapannya lebih cepat, lalu berdiri dan mengambil tas kerjanya.
Sebelum benar-benar pergi, ia berlutut di depan Binar.
“Papa berangkat dulu ya.”
Binar langsung memeluk lehernya. “Hati-hati, Papa.”
Pelukan kecil itu membuat Samudra terdiam sesaat.
Ia membalas pelukan itu lebih erat dari biasanya.
“Iya. Yang baik di sekolah, ya.”
“Iyaaa.”
Samudra berdiri, lalu tanpa sadar menoleh ke arah Samira.
“Aku berangkat.”
“Iya… hati-hati,” jawab Samira pelan.
Ada jeda kecil di antara mereka. Biasanya hanya itu. Tanpa tatapan. Tapi pagi ini berbeda.
Samudra menatapnya sepersekian detik lebih lama.
Seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun akhirnya ia hanya mengangguk dan melangkah pergi.
Pintu tertutup.
Suara mobilnya terdengar menjauh. Binar masih tersenyum lebar.
“Papa sekarang baik banget ya, Ma.”
Samira terdiam. Ia tak langsung menjawab.
Matanya menatap ke arah pintu yang tadi ditutup Samudra.
“Iya…” gumamnya pelan.
Namun di dalam hatinya, ada rasa yang sulit dijelaskan.
Haruskah ia bahagia?
Atau justru takut berharap lagi?
Karena perubahan kecil seperti ini…
Bisa menjadi awal yang indah. Atau awal dari luka yang lebih dalam.
@@@
Sesampainya di kantor, Samudra langsung disambut setumpuk berkas yang sudah tertata rapi di atas meja kerjanya.
Baru saja ia meletakkan tas, sekretarisnya mengetuk pintu.
“Selamat pagi, Pak. Ini beberapa dokumen yang perlu tanda tangan hari ini. Ada juga proposal kerja sama yang harus direview sebelum jam dua siang.” Ujar Sania.
Samudra mengangguk singkat. “Taruh saja.”
Pintu kembali tertutup. Ruangan menjadi sunyi.
Ia duduk, membuka jasnya, lalu mulai memeriksa satu per satu berkas di hadapannya. Tangannya bergerak otomatis membaca sekilas, memberi paraf, lalu menandatangani.
Pekerjaan yang sudah sangat ia kuasai.
Namun hari ini fokusnya tidak sepenuhnya ada di sana.
Pikirannya beberapa kali teralihkan. Terbayang wajah kecil Binar yang berkata ingin ia pulang cepat.
Terbayang pula senyum tipis Samira di meja makan tadi. Samudra berhenti sejenak. Pulpen di tangannya menggantung di udara.
Kenapa bayangan itu terus muncul?
Ia menghela napas pelan, mencoba kembali fokus.
“Kerja dulu,” gumamnya pada diri sendiri.
Beberapa menit kemudian, ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk.
Dari Samira.
"Mas, Binar tadi nanya lagi Papa jadi pulang cepat nggak. Aku bilang iya. Jangan lupa ya."
Samudra menatap layar itu cukup lama.
Ia jarang menerima pesan seperti ini dari Samira. Biasanya hanya hal-hal penting atau soal rumah tangga. Tidak pernah ada nada lembut seperti itu.
Ia mengetik balasan singkat.
"Iya. Aku usahakan."
Namun setelah terkirim, ia menatap kata-kata itu lagi.
Usahakan?
Kenapa tidak langsung bilang pasti?
Samudra mengusap wajahnya pelan.
Selama lima tahun ini, ia selalu menempatkan pekerjaan di atas segalanya. Rumah hanya persinggahan. Anak hanya tanggung jawab. Istri hanya status.
Tapi akhir-akhir ini... Semua terasa berbeda. Tiba-tiba saja ia ingin pulang.
Ia kembali menatap berkas-berkas di depannya.
Lalu tanpa sadar bergumam pelan—
“Kalau dulu gue peduli… mungkin semuanya nggak bakal sejauh ini.”
Ruangan tetap sunyi.
Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar. Samudra mengambil pulpen lagi.
Kali ini ia mempercepat pekerjaannya.
@@@
Hari itu, Samudra benar-benar pulang lebih cepat dari biasanya.
Jam masih menunjukkan pukul lima sore ketika ia sudah keluar dari gedung kantor. Para karyawan lain bahkan belum banyak yang berkemas. Janjinya pada Binar terngiang di kepalanya.
Tapi apakah ia langsung pulang ke rumah?
Tidak.
Mobilnya justru melaju ke arah berbeda.
Ke rumah orang tuanya.
Sepanjang perjalanan, pikirannya penuh. Tentang surat yang ada di ruang kerjanya. Tentang keputusan yang sudah lama ia pendam. Tentang Samira.
Setelah hampir satu jam perjalanan, akhirnya ia tiba di rumah masa kecilnya.
Rumah itu masih sama. Halamannya rapi. Lampu teras sudah menyala.
Begitu masuk, kedatangannya jelas mengejutkan.
“Kamu baru pulang kantor kenapa langsung ke sini?” tanya Shinta, ibunya, heran. “Mending kamu pulang, ajak cucu Mama ke sini.”
“Aku ada yang mau dibicarakan, Mah. Sama Mama dan Papa,” jawab Samudra datar.
Shinta mengernyit. Sementara Raka—ayahnya tetap duduk tenang di sofa, ekspresinya seperti biasa dingin dan sulit ditebak.
“Katakan,” ucap Raka singkat tanpa basa-basi.
Shinta terkadang memang dibuat pusing dengan karakter suami dan anaknya. Sama-sama tenang. Sama-sama jarang menunjukkan emosi.
Samudra duduk di hadapan mereka.
“Sebenarnya… aku mau membicarakan tentang pernikahanku.”
Shinta langsung merasa tidak enak.
“Kenapa dengan pernikahanmu?” tanya Shinta.
Setelah lima detik hening, Samudra mengucapkannya tanpa ekspresi—
“Aku mau cerai dari Samira.”
Ruangan itu seperti mendadak kehilangan udara.
Shinta membeku.
“Apa?” suaranya nyaris bergetar. “Kenapa? Apa yang salah dengan Samira?”
“Enggak ada yang salah,” jawab Samudra. “Masalahnya ada di aku. Selama lima tahun menikah… aku nggak pernah bisa mencintai dia. Aku rasa sudah cukup. Sekarang waktunya dia cari orang yang benar-benar bisa mencintai dia.”
Kalimat itu keluar begitu saja. Tanpa ragu.
Shinta menatap anaknya lama. Raka masih tenang.
Lalu tiba-tiba—
“Kalau begitu memang seharusnya kamu lepaskan dia.”
Samudra langsung menoleh ke arah ibunya. Terkejut.
Shinta berdiri. “Samira itu perempuan baik. Kalau kamu nggak bisa mencintai dia, jangan tahan dia lebih lama lagi. Dia pantas dapat laki-laki yang menghargai dia.”
Samudra mengerutkan dahi.
Ia mengira akan ditentang. Akan dibujuk. Akan dimarahi.
Tapi ini?
“Lagipula,” lanjut Shinta seolah santai, “kebetulan kemarin anak sahabat lama Mama baru ditinggal istrinya meninggal. Dia mapan, baik, dan jelas bisa lebih menghargai Samira.”
Kalimat itu terasa seperti pukulan.
Entah kenapa dada Samudra langsung panas.
“Maksud Mama apa?” tanyanya tajam.
“Enggak ada maksud apa-apa. Mama cuma bilang, kalau kamu ceraiin Samira, pasti banyak yang antre.”
Kalimat itu seperti menyulut sesuatu dalam diri Samudra.
Ia mendadak tak suka membayangkan Samira bersama pria lain.
Tak suka membayangkan ada laki-laki lain yang menjemputnya.
Menemaninya. Membuatnya tersenyum.
Padahal—
Bukannya itu yang ia inginkan?
“Kamu sudah bilang ke Samira?” tanya Shinta lagi.
“Belum.”
“Kalau begitu cepat bilang. Jangan bikin dia makin lama hidup sama suami yang nggak mencintainya.”
Setelah itu, Shinta pergi ke dapur, meninggalkan Samudra dan Raka.
Kini tinggal mereka berdua.
Raka menatap anaknya dalam.
“Kalau itu keputusanmu, lakukan,” katanya tenang. “Mama dan Papa nggak akan menghalangi.”
Samudra terdiam.
“Tapi,” lanjut Raka, “pastikan kamu nggak menyesal.”
Samudra mengangkat wajahnya.
“Menyesal?”
Raka mengangguk pelan. “Kadang kita pikir kita nggak mencintai seseorang… padahal cuma belum pernah benar-benar mencoba.”
Kalimat itu membuat jantung Samudra berdetak sedikit lebih keras.
Ia tak menjawab.
Beberapa menit kemudian ia pamit.
Dalam perjalanan pulang—
Barulah ia benar-benar menuju rumahnya.
Lampu rumah sudah menyala. Jam menunjukkan hampir pukul tujuh malam.
Janji pulang cepat.
Ia menatap rumah itu dari dalam mobil. Di sana ada Binar dan ada Samira.
Tiba-tiba bayangan ucapan ibunya terngiang lagi—
“Banyak laki-laki yang antre.”
Tangannya mengerat di setir.
Kenapa rasanya tidak terima?
Bukankah ini keputusannya?
Samudra akhirnya turun dari mobil.
Begitu pintu dibuka, suara kecil langsung menyambutnya.
“Papa pulang!”
Binar berlari kecil menghampiri, memeluk kakinya.
Samudra menunduk dan mengangkat putrinya ke dalam pelukan.
“Iya. Papa pulang. Maaf ya sedikit terlambat tadi Papa ada urusan sebentar."
Matanya tanpa sadar mencari satu sosok lagi.
Samira berdiri di ambang dapur.
Menatapnya.
Tatapan biasa.
Tapi entah kenapa malam itu terasa berbeda.
Samudra menatapnya lebih lama dari biasanya.
Dan untuk pertama kalinya sejak ia berniat bercerai—
Ada suara kecil dalam dirinya yang mulai bertanya…
Apa benar aku nggak mencintai dia?
Atau aku cuma terlalu lama menutup hati?
@@@
Hai Semuanya!
Selamat Datang Di Cerita Baru Aku!!!
Mohon maaf kalau alurnya terasa lambat. Aku memang sengaja membuatnya bergaya slow burn supaya setiap detail dan emosi dalam cerita nya bisa lebih terasa.
Jangan lupa like, comment, follow, dan share cerita ini ya!!!
Terima Kasih!