sepasang sahabat yang telah berbagi segalanya selama belasan tahun harus menghadapi ujian terberat dalam hubungan mereka, kehadiran orang baru dan ketakuran akan kehilangan satu sama lain jika mereka melangkah lebih jauh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayemon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
serangan balik yang elegan dan syarat muthlak sang arsitek
Matahari Bali keesokan paginya muncul dengan wajah yang jauh lebih bersahabat, namun suasana di lobi hotel mewah tempat Arlan menginap masih terasa sedingin es. Arlan berdiri di dekat jendela besar, menatap ke arah kolam renang tanpa ekspresi. Ia baru saja selesai mandi air hangat dan menyesap kopi pahitnya saat pintu lift terbuka, memperlihatkan Maura yang melangkah keluar dengan gaun sutra berwarna kuning cerah, tampak segar seolah kejadian di saung semalam hanyalah sebuah mimpi indah.
"Pagi, Arlan. Tidurmu nyenyak setelah petualangan badai kita?" sapa Maura dengan senyum kemenangan yang masih terpasang rapi.
Arlan tidak membalas senyum itu. Ia meletakkan cangkir kopinya ke meja dengan bunyi klak yang cukup keras. "Tidurku sangat nyenyak setelah bicara dengan tunanganku. Mari kita bicara di ruang kerja hotel, Maura. Ada hal penting yang harus kita selesaikan sebelum aku kembali ke Jakarta siang ini."
Maura mengangkat alisnya. "Oh, kaku sekali. Kenapa tidak di restoran sambil sarapan?"
"Ruang kerja. Sekarang," tegas Arlan, lalu melangkah mendahuluinya.
Di Jakarta, Kira duduk di depan laptopnya dengan mata sedikit sembab, namun jemarinya bergerak lincah di atas keyboard. Ia sedang menyusun sebuah unggahan di akun media sosial profesionalnya sebagai desainer interior. Ia tidak ingin membalas Maura dengan drama atau sindiran murahan. Ia ingin membalasnya dengan kelas.
Maya, yang sejak pagi sudah berada di sampingnya, mengintip layar laptop Kira. "Ra, beneran mau post ini?"
Kira mengangguk mantap. "Iya. Dia main di ranah emosional yang manipulatif, aku akan main di ranah kenyataan yang substansial."
Kira mengunggah foto sketsa desain interior master bedroom yang sedang ia kerjakan untuk rumah masa depannya bersama Arlan. Di foto itu, terlihat jelas detail kecil seperti gantungan kunci berbentuk payung—simbol pertemuan pertama mereka—dan sebuah tulisan tangan Arlan di pojok kertas: "Untuk rumah kita, dari hati yang paling dalam."
Keterangannya singkat: "Desain bukan hanya soal estetika, tapi soal sejarah dan kepercayaan yang dibangun selama sebelas tahun. Terima kasih untuk kiriman foto 'badai'-nya kemarin, Maura. Itu mengingatkan kami bahwa bangunan yang kokoh tidak akan goyah hanya karena angin kencang atau hujan sesaat. Semangat surveinya ya, Arlan. Pulanglah, rumahmu sudah menunggu."
"Gila! Halus banget tapi nusuk sampai ke tulang!" seru Maya sambil memberikan tepuk tangan. "Ini namanya mematikan lawan dengan kasih sayang."
Kira tersenyum tipis. "Aku bukan mematikan lawan, May. Aku cuma menunjukkan posisi masing-masing."
Di ruang kerja hotel di Bali, Arlan menyodorkan sebuah dokumen tambahan di atas meja. Maura membacanya dengan dahi berkerut.
"Apa ini, Lan? 'Addendum Kontrak Kerja Sama'?" tanya Maura.
"Baca poin keempat dan kelima," perintah Arlan dingin.
Maura membacanya perlahan. "Poin empat: Segala bentuk komunikasi terkait proyek harus melalui grup koordinasi resmi yang melibatkan minimal dua staf dari masing-masing pihak. Poin lima: Pertemuan tatap muka hanya boleh dilakukan di lingkungan kantor atau lokasi proyek pada jam kerja resmi. Pelanggaran terhadap poin ini memberikan hak bagi Arsitek untuk memutuskan kontrak secara sepihak tanpa pinalti."
Maura melempar dokumen itu ke meja. "Ini konyol! Kamu membatasi ruang gerakku sebagai klien?"
"Aku membatasi ruang gerakmu untuk mencampuradukkan urusan pribadi dengan profesionalisme kantorku," balas Arlan. "Foto yang kamu unggah semalam adalah bentuk pelecehan terhadap privasiku dan tunanganku. Kamu mencoba menciptakan narasi yang tidak ada, Maura."
"Aku cuma berbagi momen, Lan! Memangnya salah kalau aku merasa kamu selalu ada buatku?"
"Kamu tahu persis itu salah," Arlan memajukan tubuhnya, menatap Maura dengan sorot mata yang membuat wanita itu sedikit menciut. "Kamu bukan klien pertamaku yang mencoba bermain api. Tapi kamu adalah klien pertama yang membuatku merasa jijik dengan cara komunikasinya. Pilihannya cuma dua: tanda tangani addendum ini, atau aku keluar dari proyek ini sekarang juga, dan aku akan pastikan asosiasi arsitek tahu kenapa aku memutuskan kerja sama dengan Anastasia Group."
Maura terdiam. Ia tidak menyangka Arlan akan senekat itu. Nama baik Anastasia Group adalah segalanya bagi ayahnya. Jika Arlan bicara pada asosiasi, reputasi ayahnya bisa hancur.
"Kamu benar-benar mencintainya, ya?" bisik Maura, suaranya kini terdengar parau, kehilangan nada sombongnya. "Sebelas tahun... apa yang dia punya yang aku nggak punya, Lan?"
Arlan berdiri, membereskan tasnya. "Dia punya sesuatu yang nggak pernah kamu mengerti, Mau: Kesetiaan yang nggak butuh pengakuan orang lain. Dia nggak perlu unggah foto di Instagram untuk merasa memiliki aku. Dia sudah punya aku di dunia nyata."
Ponsel Maura bergetar di atas meja. Sebuah notifikasi masuk. Ia membukanya dan melihat unggahan terbaru Kira yang sudah viral di kalangan teman-teman arsitek mereka. Komentar-komentar di bawahnya memuji kesabaran dan kelas Kira, sementara beberapa orang mulai menyindir Maura sebagai "si penggoda masa lalu".
Wajah Maura memerah padam. Ia merasa seperti baru saja ditampar di depan umum tanpa ada yang menyentuh wajahnya.
"Satu hal lagi," Arlan menoleh di ambang pintu. "Terima kasih sudah meminjamkan bahumu untuk jaket kotor itu semalam. Tapi tolong, kembalikan jaket itu lewat kurir ke kantor. Aku nggak ingin ada barangku yang tertinggal di dekatmu."
Arlan sampai di Jakarta sore harinya. Ia tidak langsung pulang ke rumah ibunya atau ke apartemennya sendiri. Ia langsung menuju kantor Kira.
Begitu ia masuk ke ruangan Kira, Maya langsung memberikan kode "jempol" dan keluar dari ruangan, memberikan privasi bagi pasangan itu.
Arlan menemukan Kira sedang duduk di meja gambarnya, tampak lelah namun wajahnya langsung cerah saat melihat Arlan.
"Hai, Arsitek Hebat," sapa Kira.
Arlan tidak berkata apa-apa. Ia langsung mendekat, menarik kursi Kira, dan memeluknya erat-erat. Ia membenamkan wajahnya di pundak Kira, menghirup aroma parfum melati yang selalu ia rindukan.
"Maafin aku, Ra. Maafin aku sudah bikin kamu harus menghadapi drama sampah kayak gitu di sosmed," bisik Arlan.
Kira membelas pelukan itu, mengusap punggung Arlan. "Nggak apa-apa, Lan. Justru gara-gara itu, aku jadi tahu kalau aku ternyata cukup jago ya bikin caption pedas berkelas."
Arlan melepaskan pelukannya, menatap wajah Kira. "Aku sudah kasih addendum kontrak. Dia nggak akan bisa macam-macam lagi. Kalau dia langgar satu kali saja, aku keluar."
"Kamu berani ancam klien sebesar itu?"
"Demi kamu, aku berani ancam siapa saja, Ra. Termasuk seluruh keluarga Anastasia kalau perlu."
Kira tertawa, sebuah tawa yang merdu dan menenangkan hati Arlan. "Sudah, jangan bahas Maura lagi. Dia sudah dapet balasannya kok. Lihat nih, pengikut Instagramku malah nambah dua ribu orang sejak tadi pagi."
"Hahaha, dasar desainer mata duitan!" goda Arlan.
"Biarin! Lumayan kan buat tambahan beli gorden rumah nanti."
Mereka duduk berdua di kantor yang mulai sepi itu, membicarakan rencana akhir pekan mereka yang sempat tertunda. Arlan merasa sangat bersyukur. Sebelas tahun persahabatan mereka telah membangun sebuah benteng yang jauh lebih kuat dari beton mana pun yang pernah ia desain.
"Lan," panggil Kira saat mereka bersiap pulang.
"Iya?"
"Besok-besok kalau ada badai lagi, jangan kasih jaket ya. Kasih payung aja, biar dia pegang sendiri."
Arlan tertawa lepas, menarik Kira ke dalam pelukannya lagi. "Siap, Nyonya Arsitek. Besok aku bawa stok payung satu lusin di mobil."
Malam itu, di bawah langit Jakarta yang penuh polusi namun terasa sangat indah bagi mereka, Arlan menyadari bahwa godaan masa lalu hanyalah ujian untuk memperkuat masa depan. Maura mungkin punya gairah masa muda, tapi Kira punya kesetiaan masa depan. Dan bagi Arlan, pilihan itu sudah sangat jelas sejak sebelas tahun yang lalu.