Ditinggalkan ,dihina, dan dicap mandul, Azura kembali ke desa kerumah orang tuanya dengan hati hancur setelah 5 tahun pernikahan diceraikan suaminya . Namun saat hidupnya mulai bangkit, rahasia besar keluarga terungkap, ancaman, dan musuh berbahaya . Di tengah badai itu, Azura bertemu Rayyan ,duda kata dengan dua anak kembar dan luka masa lalu . Akankah Azura mempertahankan harga diri, keluarga, dan cintanya? Atau masa lalu kembali meruntuhkan segalanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Niskala NU Jiwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan yang Tak Terduga di Rumah Desa
Pagi itu di Desa Kenanga, Azura menemani Arka dan Aidan berbelanja baju baru di pasar tradisional. Si kembar sangat antusias, apalagi setelah tahu mereka akan ikut mengaji bersama Rafa dan Deni, anak Bu Hana. Bagi mereka, dunia yang selama ini sempit di balik tembok rumah mewah kota, kini terasa luas dan hangat.
Jam 2 siang Azura mengantar si kembar, Rafa dan Deni ke Mesjid tempat mereka mengaji dan di temani juga Bu Hana, dan mereka pulang mengaji nanti bersama Bu Hana.
Sedangkan Bu Laras memilih tinggal di rumah untuk membantu Bu sulastri membuat kue tradisional dari singkong dengan taburan lelehan gula merah.
Di sela-sela membuat kue, Bu Laras sempat bertanya pada Bu Sulastri tentang Azura . Lalu Bu Sulastri menceritakan semua perjalanan hidup Azura, Bu Sulastri tak kuasa menahan tangis. Dan Bu Laras menceritakan tentang kehidupan anaknya Rayyan . Azura dan Rayyan memiliki luka yang sama karena pengkhianatan pasangan, tapi cara mereka menghadapinya sangat berbeda. Rayyan memilih menjadi dingin, kaku, dan sibuk kerja, sedangkan Azura memilih untuk tetap ceria dan menebar kebahagiaan. "Azura benar-benar cocok untuk Rayyan," Guma Bu Laras dalam hati.
Sedang asik bercerita Azura datang langsung masuk ke dapur memasak ikan bakar madu saus asam manis untuk menyambut kepulangan si kembar.
Tepat saat makanan siap dan mereka baru saja selesai menunaikan sholat asar, suasana rumah mendadak riuh. Pak Humaidi, penjaga rumah, melapor bahwa ada tamu dari kota: Tuan Rayyan.
Ibu Laras terkejut bukan main. "Seharusnya lusa dia baru kembali dari luar negeri!"
Ibu Laras bergegas keluar diikuti Bu Sulastri dan pak Hadi. Di ruang tamu, Rayyan langsung memeluk ibunya, dan juga ibu Laras tak lupa memeluk suaminya sambil menangis. Rayyan tampak sangat khawatir,
" Bagaimana kabar ibu?"
Sebelum suasana semakin mendalam pak Hadi mempersilahkan keluarga ibu Laras duduk. Saat Rayyan bertanya di mana Arka dan Aidan, tiba-tiba Azura muncul membawa nampan berisi kue singkong buatan Bu Laras dan Bu Sulastri tadi.
"Si kembar tidak ada dirumah ini," jawab Azura acuh tak acuh sembari menata kue dan minuman
"Silahkan, Opa-nya si kembar, dimakan kuenya, ini buatan ibu dan Omanya si kembar." Azura sengaja mengabaikan Rayyan sepenuhnya.
Rayyan yang awalnya khawatir, emosinya langsung meluap. "Apa maksud anda, Nona,? Anak saya tidak ada di rumah?"
"Yakin si kembar itu anak anda?" ejek Azura tenang. Suami Bu Laras hendak angkat bicara ,tetapi Bu Laras mencubit lengannya, memberi kode untuk diam dan menonton drama yang akan terjadi.
"Jangan membuat kesabaran saya habis!' desis Rayyan penuh penekanan.
Di saat bersamaan, di teras rumah, Angga sang asisten yang menunggu duduk di kursi. Farhan datang dari kebun dan terkejut melihat Angga.
"Pak Angga? Kenapa ada di sini?"
Angga pun kaget, " Kenapa pak Farhan ada di sini juga?'
"Ini rumah saya, " jawab Farhan santai. Angga melongo, tidak menyangka Farhan memiliki rumah semewah ini di desa. Farhan pucat pasi mendengar keributan di ruang tamu dan segera mengajak Angga masuk ke dalam. "Pak Angga, kita harus masuk sekarang, sebelum bos mu masuk rumah sakit!"
Angga pun mengikuti Farhan di belakang dengan kebingungan.
Di dalam, mereka mendapati Azura dan Rayyan sedang adu mulut hebat. Sedangkan para orang tua duduk santai di sopa sambil makan kue menikmati perdebatan Rayyan dan Azura.
"Kalau anda memang ayahnya, kenapa tidak tahu kalau anak-anak anda disiksa dengan bekas sundutan rokok oleh pengasuh yang anda agungkan itu?" tantang Azura.
"Tidak mungkin! Pengasuh itu sangat profesional dan terpercaya!" bantah Rayyan dengan nada tinggi.
"Ciih... Aku tak percaya" kata Azura sambil melipatkan tangan di dadanya.
Azura melihat Angga masuk dengan Farhan dan langsung mengalihkan perhatiannya.
"Ucup? Kamu Ucup, kan? Tanya Azura
Farhan panik, "Azura! Dia pak Angga, jangan bikin masalah!"
"Azura, apa kabar?" sapa Angga kaku.
"Aduh, kamu kaku sekali! Apa kamu tertular sifat bos gila kamu ini, Cup?" canda Azura.
Rayyan bingung kerena cewek barbar itu berubah ketika melihat Angga.
"Angga, kamu kenal sama cewek resek ini?"
"Iya Bos, Zura teman kampus saya,
"Ucup, dari pada kamu jadi asisten bapak gila ini, lebih baik pindah ke perusahaan aku. gajinya tiga kali lipat!" tawar Azura santai.
"Enak saja! Kamu mau ambil karyawan orang lain?" Rayyan marah.
"Ya tidak Apa-apa, aku kasihan melihat temanku kerjanya seperti tertekan," sahut Azura enteng.
"Angga, kamu tidak boleh pindah! Saya gaji lima kali lipat per bulannya! Seru Rayyan.
Azura menatap Angga, " Ucup, kamu gaji berapa?
"lima belas juta," jawab Angga polos.
Farhan ikut duduk bersama para orang tua menyaksikan awalnya debat menjadi lelang pegawai.
"Oke, kamu 7 kali lipat gajinya di tempat aku, kita bisa bareng bersama lagi, ada Nella, Dina, Rama juga," ajak Azura
"Tidak bisa, Angga kamu saya gaji sepulu kali lipat perbulan," kata Rayyan.
"Oke deal! Angga kamu akan di gaji 150 juta perbulan. Ingat ya, Tuan Rayyan, janu anda gaji di Ucup 150 juta perbulan, jika tidak, Ucup saya ambil!"
Saat Rayyan ingin membalas terdengar teriakan dari luar.
"Bunda!" si kembar berlari masuk dan langsung di peluk serta di cium oleh Azura, termasuk Rafa juga. Si kembar lalu mendekati Oma dan opa mereka, mencium tangan mereka.
Azura menatap si kembar, "Sepertinya kalian melupakan seseorang."
Si kembar mendekati Rayyan dan mencium tangannya. Ada perasaan aneh di hati Rayyan. Azura menyuruh memeluk ayahnya. Karena si kembar ragu, Azura meyakinkan mereka bahwa ayahnya sebenarnya sangat mengkhawatirkan mereka. Rayyan kaku membatu.
Azura yang gemas menabok pundak Rayyan, "Ayo peluk anakmu!".
"Mas Farhan, ajarkan cara memeluk anak kepada bapak satu ini!" pinta Azura. Farhan mencontohkan dengan memeluk Rafa. Azura kembali memukul pundak Rayyan, "Cepat!"
Rayyan akhirnya memeluk anaknya, dan tangis haru ibu Laras pecah. Angga sibuk merekam momen langka itu, membatin, " Pak Bos ketemu pawangnya! Terimakasih Azura, Dewi keberuntunganku. cepat kaya aku, gaji 150 juta per bulan!"
Di rumah, h