Di balik hiruk-pikuk kehidupan modern, setiap manusia menyimpan rahasia gelap yang mereka simpan sendiri. Kota yang tampak gemerlap di siang hari menyembunyikan luka, pengkhianatan, dan pilihan-pilihan sulit yang mengubah arah hidup seseorang.
Ini kisa tentang Naya, yang menerima pengkhianatan dari tunangan dan adik tirinya. Tentang Naya yang terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria paling berkuasa di negaranya. Dan tentang Naya yang ternyata tidak punya siapa-siapa, selain lapisan rumit labirin hidup yang membuatnya berjuang memecahkan teka-teki, lalu dengan tanpa pilihan memilih percaya pada suaminya.
*
Cerita ini hanyalah karangan penulis, kesamaan nama tokoh dan latar hanyalah fiksi belaka untuk kebutuhan tulisan dan tidak ada hubungannya dengan dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Pagi itu awan gelap menggantung di atas cakrawala, langit sedang mendung, dan angin yang agak kencang menerbangkan dedaunan kering di pinggir jalan.
Naya menatap sekilas jam tangannya sebelum masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan oleh supir sejak setengah jam lalu.
“Sepertinya akan hujan,” gumam Naya mendongak, lalu setelahnya benar-benar masuk, duduk di kursi penumpang.
Dari belakang kemudi, supir melirik Naya sekilas. Setelah memastikan Naya duduk dengan nyaman, dia pun melajukan mobilnya meninggalkan rumah.
Naya mengeratkan syal ke lehernya, memastikan lehernya tidak terlihat karena Lucio memberinya banyak tanda disana tadi malam. Ya, hubungan suami istri itu telah terjadi, Naya hanya bisa pasrah menerima karena sekarang statusnya adalah istri.
Lucio memperlakukannya dengan sangat baik dan hati-hati, hingga malam itu Naya merasa sangat aman berada di dekatnya.
“Nyonya, kita sudah sampai.”
Lamunan Naya tentang Lucio seketika buyar, ia menoleh keluar dan benar saja, mereka sudah sampai di halaman rumah ayahnya.
“Bapak pulang saja, nanti saya pulang diantar sama papa.” Kata Naya turun dari mobil.
“Tapi, Nyonya, Tuan berpesan pada saya untuk menunggu.”
Naya menggaruk kepalanya, mencari alasan apa yang akan digunakan agar supir ini pulang saja.
“Lucio bilang dia yang akan menjemput saya,” kata Naya.
Supir itu terlihat ragu, namun kemudian ia tetap mengangguk.
Setelah mobil itu pergi meninggalkan halaman, Naya berdiri beberapa saat di depan rumah. Angin pagi berhembus pelan, membuat rambutnya sedikit berantakan. Ia kemudian melangkah menuju pintu masuk utama sambil melirik ke arah bagian rumah sebelah kanan.
Bangunan itu masih dipenuhi perancah dan tumpukan material. Beberapa pekerja terlihat sibuk memperbaiki bagian dinding yang hangus. Bagian rumah itu memang sengaja dibakar oleh ayahnya beberapa waktu lalu untuk mengelabui Lucio. Sayangnya rencana itu gagal total, dan sekarang semuanya harus diperbaiki kembali.
Naya menghela nafas pelan.
Baru saja ia hendak menaiki anak tangga menuju pintu, pintu rumah tiba-tiba terbuka dari dalam.
Ardan muncul dengan wajah agak kusut, seolah baru saja bangun tidur atau kurang istirahat. Sama seperti Naya yang terkejut melihatnya, Ardan juga tampak terkejut sesaat. Namun keterkejutan itu segera berubah menjadi senyum lebar.
“Naya,” ujarnya dengan nada senang. “Aku tahu kamu pasti kembali. Kamu merindukanku?”
Ia bahkan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, seolah memberi isyarat agar Naya segera memeluknya.
“Apaan sih?” dengus Naya sambil memutar bola matanya ke atas. “Aku cuma mau ketemu Papa.”
Tanpa memedulikan sikap Ardan, ia melewati pria itu yang masih berdiri di ambang pintu.
“Hei.”
Ardan dengan cepat mencekal tangannya, menahannya agar tidak melangkah lebih jauh.
“Jangan bohong,” katanya pelan. “Aku tahu pernikahanmu bukan keinginanmu.”
Naya terdiam.
Ardan benar. Ia tahu itu. Namun Naya tidak ingin terlihat menyedihkan di hadapan Ardan. Ia tidak ingin pria itu melihat kelemahannya.
“Aku bahagia kok,” bantah Naya cepat. “Lucio memperlakukanku jauh lebih baik daripada kamu.”
“Kamu bohong.”
Ardan menatap wajahnya cukup lama. Tatapannya teduhnya berubah tajam, seolah mencoba membaca setiap emosi yang Naya sembunyikan.
Ia selalu tahu apa yang Naya rasakan.
“Kamu nggak bahagia,” lanjutnya santai.
Naya menyentakkan tangannya hingga terlepas dari genggaman Ardan.
“Memangnya kenapa kalau aku nggak bahagia?” balas Naya sengit. “Kebahagiaanku sama sekali bukan urusanmu. Kita sudah berakhir.”
“Kebahagiaanmu masih menjadi tanggung jawabku…”
Ardan berhenti sejenak. Naya tanpa sadar meremas jemarinya dengan cemas.
Pria itu kemudian menunduk sedikit hingga wajah mereka sejajar.
“…karena aku mencintaimu.”
Cinta?
Kata itu membuat dada Naya terasa sesak.
“Berhenti menggangguku—”
Kalimat Naya terpotong.
Tangan Ardan tiba-tiba merengkuh pinggangnya, menarik tubuh Naya mendekat tanpa memberi kesempatan untuk menolak.
Tubuh Naya seketika kaku.
Jantungnya berdebar kencang.
Masih sama seperti dulu. Perasaan itu masih ada, masih bersembunyi di tempat yang tidak pernah benar-benar ia hapus. Seolah sekeras apa pun ia mencoba melupakan, sebagian hatinya masih tertinggal pada Ardan.
Atau mungkin masih sepenuhnya.
“Jangan kurang ajar!” bentak Naya akhirnya setelah berhasil menguasai diri.
Ia menginjak punggung kaki Ardan dengan keras, membuat pria itu sedikit terhuyung. Tanpa menunggu reaksi lebih lanjut, Naya segera masuk ke dalam rumah.
Namun sialnya, pagi itu sepertinya memang tidak berpihak padanya.
Begitu melangkah masuk, Naya langsung melihat Rima berdiri beberapa meter dari pintu, memegang ponsel yang kameranya mengarah tepat ke arahnya.
Gadis itu jelas sedang merekamnya.
Atau mungkin mengambil foto.
Rima tersenyum tipis, seolah baru saja mendapatkan sesuatu yang menarik.
Apa dia ingin mengirimkannya pada Lucio?
Naya menatapnya sekilas dengan malas, lalu berjalan melewati Rima begitu saja. Ia tidak peduli apakah gadis itu akan mengirimkan foto itu pada Lucio atau bahkan menambahkan cerita yang tidak pernah terjadi.
“Papa.” Naya memanggil pelan saat melihat ayahnya baru saja keluar dari kamar.
Pria paruh baya itu tampak sedikit terkejut, namun segera berjalan mendekat. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia langsung memeluk Naya dengan erat, seolah ingin memastikan sendiri bahwa putrinya benar-benar baik-baik saja.
“Kamu baik-baik saja, kan?” tanyanya dengan nada khawatir.
“Aku baik-baik saja,” jawab Naya pelan. “Tapi, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan pada Papa.”
Ekspresi Tuan Tuqman langsung berubah lebih serius. Ia mengangguk kecil, lalu menepuk bahu Naya dengan lembut.
“Ayo.”
Pasangan ayah dan anak itu kemudian berjalan menuju ruang kerja. Ruangan itu sudah lama menjadi tempat mereka berbicara tentang hal-hal penting, tempat yang selalu terasa lebih tenang dan privat dibandingkan ruangan lain di rumah.
Mereka duduk di sofa panjang yang berada dekat jendela besar.
Tuan Tuqman menatap putrinya dengan rasa ingin tahu.
“Jadi…?” tanyanya pelan. “Apa yang begitu penting sampai kamu datang kemari?”
Naya sempat terdiam sejenak, seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk mengucapkannya.
“Papa masih menyelidiki kematian Mama?”
Pertanyaan itu membuat Tuan Tuqman tertegun.
Untuk sesaat ia tidak bergerak sama sekali.
Tatapannya terdiam pada wajah Naya, lalu perlahan bergeser ke arah jendela. Garis wajahnya mengeras, namun di saat yang sama ada sesuatu yang sulit dijelaskan muncul di matanya.
Tuan Tuqman menghela nafas pelan. Sudut bibirnya sempat terangkat tipis, tetapi senyum itu terasa aneh, tidak benar-benar hangat, juga tidak sepenuhnya dingin. Apakah dia sedang berpura-pura tegar?
“Apa Lucio mengatakan sesuatu padamu?” tanyanya akhirnya.
Naya mengerutkan kening. Lucio tidak mengatakan apa-apa, tapi ia melihat map aneh di ruang kerjanya. Lucio mungkin ada hubungannya, apa ayahnya sudah tahu kalau Lucio terlibat?
Tuan Tuqman menunduk sebentar, menatap tangannya sendiri. Lalu ketika ia kembali menatap Naya, ekspresinya sudah berubah lagi, lebih lembut, lebih seperti ayah yang biasa ia kenal.
Namun anehnya, justru perubahan itu membuat Naya semakin merasa tidak tenang. Seolah-olah ada sesuatu yang baru saja disembunyikan darinya.
“Papa tahu kalau Lucio terlibat?”
...***...
...Like, komen dan vote ...