NovelToon NovelToon
Ixevons

Ixevons

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat / Action
Popularitas:336
Nilai: 5
Nama Author: Riahe

"Sebutkan namaku saat waktunya tiba, Riezky..."
Dua puluh tahun lalu, Kerajaan Ixevon runtuh dalam satu malam. Raja Thomas gugur setelah menyegel iblis Malakor, dan Ratu Rebecca tewas demi menyelamatkan putra tunggal mereka.
Kini, Riezky Ixevon tumbuh di desa nelayan terpencil. Ia tak tahu siapa dirinya, hanya pemuda yang berjuang menjinakkan kutukan Petir Biru dan Api Merah di tubuhnya. Satu-satunya dunianya adalah Lyra, seorang janda nelayan yang merawatnya dengan kasih sayang sejak bayi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riahe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebangkitan Malakor: Pecahnya Segel Abadi

Sesampainya di dalam, Riezky mendapati dirinya berada di sebuah ruang rahasia di bawah kediaman An. Ruangan itu tidak luas, namun dipenuhi dengan atmosfer yang berat dan kuno. Dinding-dinding kayunya yang menghitam karena usia menyimpan sejarah panjang klan ninja tempat An berasal. Di sana, berjejer rapi alat-alat ninja kuno yang tidak pernah dilihat Riezky di Aethelgard: kusarigama dengan rantai yang berkarat namun tajam, gulungan-gulungan segel yang memancarkan aura dingin, serta sebuah set Armor Leluhur An yang berdiri tegak di sudut ruangan, seolah-olah roh sang pemilik aslinya masih berjaga di sana.

An bergerak dengan ketangkasan yang luar biasa, jemarinya menari di atas luka-luka Riezky yang menganga, mengoleskan cairan berwarna hijau pekat yang segera memberikan sensasi dingin yang menyengat.

"Aku menempelkan segel di bahumu. Aku tidak tahu ini akan terjadi, namun firasatku mengatakan hal yang berbeda... dan untungnya aku tepat waktu," ucap An datar, matanya tetap fokus pada luka Riezky.

"Terima kasih... aku hampir saja dibunuh oleh anaknya," ucap Riezky menahan perih. Suaranya masih bergetar, bayangan bola energi oranye itu masih menghantui pelupuk matanya.

"Anaknya? Hmm..." An bergumam pelan, dahinya sedikit berkerut. Informasi itu tampaknya menjadi variabel baru dalam perhitungan strateginya.

Suasana yang awalnya terasa aman di bawah lindungan kayu-kayu tua itu berubah seketika menjadi hening yang kelam. Keheningan itu bukan jenis yang menenangkan, melainkan kesunyian predator sebelum menerkam. Udara di dalam ruangan mendadak menjadi sangat padat, seolah-olah tekanan atmosfer di sekitar mereka melonjak berkali-kali lipat. An dan Riezky saling tatap-menatap; An menyadari bahwa teknik penyembunyiannya telah ditembus oleh indra tajam sang iblis.

BOOOOM!

Tanpa peringatan, langit-langit ruang bawah tanah itu meledak hancur berkeping-keping. Serangan dahsyat dari atas merubuhkan seluruh struktur kayu rumah An, mengubur mereka berdua di bawah tumpukan kayu dan tanah. Debu mengepul hebat ke udara, menghalangi pandangan.

Dari lubang besar yang baru saja tercipta, Malakor berdiri melayang di udara, menatap ke bawah dengan senyum dingin yang meremehkan. Sosoknya terlihat begitu megah namun mengerikan dengan jubahnya yang berkibar tertiup angin kencang.

"Kau tidak bisa sembu—" Kata-kata Malakor terputus secara brutal.

Sebuah bayangan raksasa melesat cepat seperti meteor dari arah cakrawala, menabrak tubuh Malakor tepat di dada dengan kekuatan yang mampu membelah gunung.

"Kebetulan banget pas lagi keliling! Ayo, Harry!" teriak sebuah suara yang sangat cempreng namun penuh nyali.

Itu adalah Andre yang datang menunggangi naga kesayangannya, Harry. Mereka muncul seperti sebuah keajaiban di tengah keputusasaan. Harry, sang naga, menggeram keras, menyemburkan aura panas dari lubang hidungnya.

Malakor, yang sempat terdorong beberapa meter di langit, menatap Andre dengan tatapan tajam yang memancarkan kebencian murni. Dengan gerakan yang hampir tidak terlihat oleh mata manusia, Malakor menjangkau ke depan dan menyentuh kepala Harry dengan ujung jarinya.

DHUAR!

Seketika, sebuah ledakan sihir berwarna merah pekat meledak dari titik sentuhan tersebut. Kekuatannya begitu masif hingga Andre dan Harry terpental jauh ke belakang, melesat menembus awan dan menghilang dari pandangan dalam sekejap. Malakor hanya mendengus kecil, merapikan kerah jubahnya seolah-olah tabrakan tadi hanyalah gangguan debu yang mengotori pakaiannya.

Di bawah reruntuhan, tanah mulai bergetar. Riezky merangkak keluar, mendorong balok kayu besar yang menindih kakinya. Debu tebal menyelimuti wajahnya yang kini penuh luka goresan, namun matanya memancarkan kilatan amarah yang sulit dibendung.

"Sialan..." ucapnya dengan emosi yang meluap, tangannya mengepal hingga buku jarinya memutih, siap untuk meledakkan petirnya kembali ke arah langit.

"Tidak... tidak di sini," ucap An dengan suara yang sangat rendah namun tegas.

An tahu bahwa bertarung di reruntuhan rumahnya yang sudah hancur hanya akan menjadi bunuh diri massal. Sebelum Malakor sempat mengirimkan serangan susulan ke lubang itu, An dengan cepat merangkai simbol tangan yang rumit—sebuah segel ruang yang menguras banyak energinya.

Puffff!

Sekali lagi, pandangan Riezky terdistorsi. Rasa mual menghantam perutnya saat tubuhnya ditarik melewati dimensi. Detik berikutnya, hawa panas dari reruntuhan berganti dengan embusan angin sejuk yang membawa aroma rumput basah.

Mereka kini berada di sebuah daratan hijau yang luas, jauh dari jangkauan pandangan Malakor untuk sementara waktu. Namun, pendaratan kali ini tidak mulus. An jatuh berlutut di samping Riezky, napasnya tersengal-sengal, dan tangan yang ia gunakan untuk menarik Riezky tampak gemetar hebat karena luka bakar sihir yang ia terima saat ledakan tadi.

"Hey, kau tidak apa-apa?" tanya Riezky khawatir. Ia segera mendekat, melupakan rasa sakit di tubuhnya sendiri saat melihat sang ninja yang biasanya tenang kini tampak sangat rapuh.

An tidak langsung menjawab. Ia memegangi tangannya yang kesakitan, mencoba menahan rasa perih yang menjalar hingga ke bahu. Matanya menatap tajam ke arah cakrawala, seolah-olah ia bisa melihat jejak keberadaan Malakor dari jarak ribuan mil.

"Aku... baik-baik saja," bisik An parau, meski keringat dingin mulai membasahi dahinya.

Bisik An parau, meski keringat dingin mulai membasahi dahinya.

Riezky seketika menjauh dari sisi An. Instingnya berteriak bahwa kehadirannya hanya akan menyeret An ke dalam bahaya yang lebih besar. Ia tahu betul, sejak awal Malakor hanya mengincarnya dan tidak akan segan-segan menghancurkan siapa pun yang berdiri di dekatnya.

Benar saja, suasana padang rumput yang tenang itu mendadak mencekam. Dari kegelapan batas hutan dan bayangan pepohonan yang rimbun, sosok tinggi berjubah itu muncul. Malakor datang sendiri, tanpa putranya, melangkah perlahan seolah sedang menikmati ketakutan mangsanya.

Tanpa basa-basi, Malakor mengangkat tangannya. Sebuah bola energi sihir merah pekat melesat cepat ke arah Riezky.

Syuuuut—BOOM!

Riezky menghindar dengan gerakan refleks yang luar biasa cepat, berguling di atas rumput sebelum melenting berdiri. "Cukup main-mainnya!" teriak Riezky. Ia memusatkan energinya, memunculkan Fist Blade yang berpendar biru elektrik di tangannya, lalu melesat bagaikan kilat ke arah Malakor.

Namun, Malakor jauh lebih cepat dari yang dibayangkan. Sebelum bilah besi Riezky menyentuh jubahnya, Malakor sudah mencengkeram pergelangan tangan Riezky dengan kekuatan yang tak masuk akal. Cengkeraman itu terasa dingin dan mematikan, membuat seluruh lengan Riezky seketika kaku dan tak bisa digerakkan.

"Kau sama seperti ayahmu... lemah," ucap Malakor dengan nada seram yang bergetar di udara. Ia mendekatkan wajahnya, matanya yang kelam menatap langsung ke mata Riezky. "Tapi kau... kau mengancam."

Riezky meringis kesakitan, namun matanya tidak menunjukkan ketakutan. Tanpa pikir panjang, ia menarik napas dalam-dalam dan memusatkan seluruh sisa energinya tepat di tengah dadanya. Ia menggabungkan panas api yang membara dengan liarnya energi petir, memaksanya menyatu dalam satu titik ledak.

DHAARRRR!

Ledakan besar terjadi tepat di antara mereka berdua. Gelombang kejutnya menghanguskan rumput di sekitar dan menciptakan kawah kecil. Malakor terpental beberapa meter ke belakang, jubahnya sedikit tercabik akibat ledakan mendadak itu.

Sementara itu, Riezky terkapar di tengah area ledakan. Napasnya terputus-putus, tubuhnya berasap. Bajunya seketika gosong dan di beberapa bagian tampak bolong-bolong akibat panas dari kekuatannya sendiri yang meluap tak terkendali.

Riezky telah memberikan segalanya dalam satu ledakan, namun Malakor tampak masih bisa berdiri tegak. Di kejauhan, An mencoba bangkit meski kondisinya masih sangat lemah.

Sebangkitnya An yang hanya bisa terduduk jongkok menahan perih, sebuah bayangan raksasa tiba-tiba menutup cahaya matahari dari atas. Dengan raungan yang menggetarkan tulang, munculah naga besar berwarna hitam pekat dengan mata ungu yang menyala tajam. Naga itu mendarat dengan dentuman keras, memasang badan untuk menghadang tepat di depan Riezky dan An yang sudah tidak berdaya.

Itulah Harry, dan di atas punggungnya, Andre berdiri dengan napas memburu. Mereka baru saja berhasil kembali setelah terpental jauh akibat hantaman sihir Malakor sebelumnya. Wajah Andre tampak penuh luka gores, namun amarahnya jauh lebih besar daripada rasa sakitnya.

"Jangan sentuh sahabatku!" teriak Andre dengan suara lantang yang membelah keheningan padang rumput.

Ia menghunuskan Pedang Obsidian miliknya—sebilah pedang hitam legam yang seolah menghisap cahaya di sekitarnya. Tanpa ragu, Harry dan Andre maju bersamaan dalam harmoni yang mematikan. Harry terbang rendah, menyemburkan hawa panas dan sabetan ekor raksasanya untuk mengalihkan perhatian Malakor, sementara Andre mengambil ancang-ancang dari sisi buta sang penyihir kegelapan untuk memberikan serangan tunggal yang mematikan.

Namun, Malakor hanya berdiri statis. Matanya tidak menunjukkan sedikit pun kekhawatiran. Saat jarak mereka sudah sangat dekat, Malakor hanya merentangkan telapak tangannya ke depan.

BZZZT—KRAAAK!

Lagi-lagi, sebuah gelombang kejut berwarna merah pekat meledak dari tubuh Malakor. Efek dorongan itu begitu masif, seperti dihantam oleh gunung yang bergerak. Harry yang berukuran raksasa sekalipun terdorong mundur dengan kasar, sementara Andre terpental hebat di udara.

Cengkeraman Andre pada senjatanya terlepas. Pedang Obsidian itu melesat berputar di udara sebelum akhirnya menancap dalam ke batang sebuah pohon besar di tepi padang.

Kejadian mengerikan terjadi seketika: begitu pedang itu menancap, warna hijau dari pohon tersebut terserap habis. Daun-daunnya rontok menjadi abu, batangnya mengerut kering, dan dalam hitungan detik, pohon itu mati total seolah seluruh kehidupannya dihisap oleh aura pedang tersebut.

Andre jatuh tersungkur di tanah, sementara Harry mengerang kesakitan di dekatnya. Kini, Malakor melangkah perlahan melewati pedang yang tertancap itu, matanya kembali tertuju pada Riezky yang bajunya masih berasap.

Riezky merangkak dengan napas yang berbunyi serak, matanya yang pecah pembuluh darahnya menatap tajam ke arah Malakor. Ia menoleh sedikit ke arah An yang masih terduduk lemas di belakangnya.

"An... bisakah kau kembalikan aku ke tempat itu lagi?" ucap Riezky terbata-bata, merujuk pada reruntuhan kerajaan Ixevon berada.

An mendongak, wajahnya pucat pasi karena kehabisan energi spiritual. "Tentu saja... tapi aku butuh waktu untuk pulih," jawabnya dengan suara lelah yang hampir hilang ditelan angin.

"Oke, akan aku ulur waktunya," ucap Riezky singkat.

Seolah mendapatkan suntikan adrenalin murni, Riezky memaksakan tubuhnya berdiri. Ia menghentakkan kakinya ke tanah, dan sekali lagi, Fist Blade kebanggaannya muncul dengan kilatan listrik yang lebih liar dari biasanya. Kali ini, ia tidak menyerang dengan membabi buta. Ia bergerak dalam pola zig-zag yang tidak beraturan, membelah udara dengan kecepatan yang membuat bayangannya tertinggal di belakang.

Syuuut! Syuuut!

Dua bola sihir merah dilemparkan Malakor, namun Riezky melenting di udara, menghindarinya hanya dalam hitungan milimeter. Malakor mulai tampak geram; ia merentangkan kedua tangannya untuk menciptakan gelombang dorongan besar lagi. Namun, Riezky sudah membaca gerakannya.

Tepat saat Malakor mulai menghimpun energi, Riezky melempar salah satu Fist Blade-nya dengan putaran horizontal yang sangat kencang. Bilah besi itu melesat memotong angin, mengarah tepat ke leher Malakor.

Fokus Malakor terkecoh. Ia terpaksa membatalkan mantranya untuk menangkis bilah besi yang terbang itu dengan tangan kosong. Dan di detik itulah, Riezky sudah berada tepat di hadapannya.

DHUARRRR!

Sebuah pukulan telak menghantam telak wajah Malakor. Itu bukan sekadar pukulan fisik; kepalan tangan Riezky adalah pusat dari ledakan dahsyat gabungan elemen petir biru dan api merah. Ledakan itu terjadi tepat di titik kontak, menciptakan kilatan cahaya yang membutakan dan dentuman yang membuat tanah di bawah mereka retak sedalam beberapa meter.

Tubuh Malakor terlempar ke belakang, terseret di atas rumput hingga menciptakan jalur tanah yang hangus. Untuk pertama kalinya, sang iblis itu merasakan sakit yang nyata dari keturunan Ixevon.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!