Suaminya berkhianat, anaknya di tukar dan dihabisii. Selama lima tahun dia merawat anak suami dan selingkuhannya yang bahkan tinggal satu atap dengannya berkedok sebagai pengasuh.
Bahkan dirinya diracuni oleh pelayan kepercayaannya. Ratih, berakhir begitu tragis. Dia pikir dia adalah wanita paling malang di dunia.
Namun nasib berkata lain. Ketika dia membuka mata, dia berada tepat dimana dia akan melahirkan.
Saat itu Ratih bersumpah, dia akan membalas suaminya yang brengsekk itu. Dia akan mengambil bunga dari setiap perbuatan suami dan semua yang telah menyakitinya dan anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Rencana Baru
Ben terdiam sebentar, dia sama sekali belum memikirkan caranya. Karena bagaimanapun pengacara Markus adalah pengacara tetap perusahaan. Dia yang memegang kendali untuk semua masalah perusahaan. Hampir semua data perusahaan dia mengetahuinya.
"Berikan aku waktu nyonya, masalahnya pengacara Markus memiliki semua data perusahaan. Tidak akan mudah menjebaknya, dan kita juga harus memastikan bahwa, ketika kita menyingkirkannya dia tidak memiliki sama sekali data perusahaan lagi. Jika tidak, bisa saja di membocorkannya ke rival perusahaan kita!"
Ratih mengangguk paham. Dia tahu, pasti hal itu membutuhkan waktu yang sangat lama. Salahnya juga, semua tentang perusahaan diketahui oleh pengacara Markus. Dia benar-benar memberikan akses yang tidak terbatas untuk pengacara itu.
"Ya sudah, atur saja!" kata Ratih yang memegang kepalanya lagi.
"Apa kamu tidak enak badan? kepalamu pusing?" tanya Ben yang sejak tadi memperhatikan Ratih.
"Iya sedikit pusing"
Ben melihat Rafa yang sudah tertidur di bahunya. Dia meletakkan Rafa perlahan di strollernya. Sangat pelan. Lalu dia menyentuh kepala Ratih, memijatnya perlahan.
"Mungkin kamu kurang tidur, tidak apa-apa. Sedikit pijatan, lalu sampai rumah nanti minum teh chamomile. Maka sakit kepalamu akan berkurang!" kata Ben.
Ratih seperti mengalami de Javu, dulu ketika mereka masih sekolah. Dan Ben menjadi bodyguard Ratih. Ben juga sering melakukan hal yang sama seperti ini. Kalau Ratih pusing karena kurang tidur, saat akan ujian dan terlalu sibuk belajar, Ben akan memberikan pijatan ringan seperti itu. Tapi sangat efektif, sakit kepala Ratih biasanya langsung berkurang.
Angin yang bertiup ke arah mereka. Membuat rambut Ratih sesekali menutupi wajahnya. Dan Ben sesekali juga meraih helaian rambut itu dan merapikannya.
"Nyonya, obatnya..."
Ratih langsung menarik dirinya menjauh dari Ben. Ketika bibi Asih datang setelah mengambil obat.
"Terima kasih, Ben. Kami akan pulang sekarang..."
"Bagaimana kalau kita makan siang dulu, di dekat sini ada restoran daging yang baru buka, kamu suka sekali sate dan daging panggang kan?" tanya Ben.
Ratih menoleh ke arah bibi Asih. Ia pikir, juga bisa mengajak bibi Asih makan siang di restoran itu. Sudah lama mereka tidak makan siang di luar juga.
Ratih mengangguk, Ben terlihat begitu senang. Pria itu bahkan segera mendorong stroller Rafa. Karena memang restoran itu tempatnya tak jauh dari rumah sakit.
Begitu sampai di restoran, Ben memesan banyak makanan. Dan ketika makanan itu datang, Ben bahkan memotongkan daging untuk Ratih.
"Makan ini saja, aku sudah potongkan untukmu!"
Ratih hanya bisa mengangguk. Karena piringnya sudah di angkat oleh Ben, dan piring Ben yang dagingnya sudah di potong-potong kecil-kecil, di letakkan di depan Ratih.
"Terima kasih!"
"Anytime Ratih... maksudku, nyonya! sama-sama nyonya!"
Ratih melirik sekilas ke arah Ben. Dan pria itu langsung menundukkan kepalanya memotong daging di piringnya.
'Entah kenapa, tapi aku merasa Ben...'
Suara ponsel berdering...
Ratih yang tadinya sedang memikirkan sesuatu, segera mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya.
Ben yang melihat itu juga memperhatikan. Ratih menoleh ke arah Ben.
"Mas Fandi"
Wajah Ben mendadak berubah. Dari tadinya yang terlihat ingin tahu. Jadi, terlihat malas lalu segera memalingkan wajahnya dari Ratih.
'Ada apa dengannya?' batin Ratih sebelum menerima panggilan telepon dari Fandi itu.
"Halo mas"
[Sayang, kamu dimana? sayang aku butuh tanda tanganmu. Pembangunan proyek di Teluk Harapan membutuhkan material lebih banyak lagi, aku di rumah dan kamu tidak ada]
"Aku sedang mengantar Rafa imunisasi, mas!"
[Baiklah kalau begitu, aku akan menyusul ke rumah sakit]
"Oke!"
Ratih segera menutup panggilan telepon dari Fandi itu.
"Aku akan makan dengan cepat, kamu akan kembali ke rumah sakit kan?" tanya Ben.
"Kenapa aku harus kembali ke rumah sakit? tinggal panggil saja supirnya kemari kalau mau pulang!" kata Ratih.
Bibi Asih tidak banyak bicara, dan tidak memperhatikan juga. Dia hanya makan, sambil sesekali memperhatikan Rafa yang memang berada di stroller yang ada di sebelahnya.
"Tapi, dia akan menyusul ke rumah sakit?" tanya Ben.
"Memangnya kenapa? aku tidak menyuruhnya datang ke rumah sakit. Dan kamu Ben, kenapa kamu perduli sekali pada mas Fandi?" tanya Ratih menatap curiga, tapi itu hanya tatapan curiga yang sengaja dilakukan untuk teasing Ben saja.
"Kenapa aku harus perduli pada suami idamanmu itu?"
'Justru aneh kalau kamu tidak perduli padanya. Kamu sangat mencintainya kan Ratih, sampai kamu tidak sadar. Kalau dia hanya memanfaatkanmu saja!' batin Ben.
"Jangan banyak bicara Ben. Banyak makan saja, kamu semakin kurus. Kemana perginya otot tanganmu yang seperti balon itu! atau mungkin delapan pack yang ada di perutmu juga hilang?" Tanya Ratih.
Itu hanya bercandaan mereka sejak dulu.
Ben menggeser kursinya ke dekat Ratih. Ratih yang melihat itu mengangkat alisnya.
"Masih ada, mau lihat?" tanya Ben berbisik pada Ratih.
"Uhukk... Uhukk!"
"Nyonya, minum dulu nyonya" bibi Asih mendekati Ratih dan menggeser gelas minuman Ratih lebih dekat.
Sedangkan Ben kembali menggeser tempat duduknya ke tempat semula.
Ratih meminum air di gelas itu, dan melirik tajam ke arah Ben. Sementara Ben malah terkekeh pelan.
**
Di rumah Ratih, bibi Erma yang baru saja bicara dengan Fandi tampak puas dengan rencana mereka.
Begitu mobil Fandi pergi, bibi Erma segera beranjak ke ruangan laundry. Dimana Sarah juga masih bergelut dengan banyaknya taplak meja yang harus dia cuci saru persatu karena memang bentuknya unik dan beragam. Tidak bisa di masukkan dalam mesin cuci. Bisa rusak.
"Sarah..."
Wajah Sarah sudah tampak sangat lelah.
"Ibu, bagaimana? aku lelah sekali!" keluh Sarah pada bibi Erma.
Entah itu sudah keluhan ke berapa ratus kali sejak dia sampai di rumah ini dan menjadi pelayan di bagian laundry.
"Tenang saja, sekarang Fandi sedang minta uang pada Ratih. Dia akan menggunakan proyek untuk alasan mengambil uang yang banyak dari Ratih. Dengan uang itu, kita akan bayar orang. Untuk melenyapkan bibi Asih tanpa jejak. Nanti kalau bibi Asih sudah tidak ada, kamu akan jadi pengasuh Rafa. Ibu akan bujuk Ratih, bagaimana pun caranya!"
Sarah begitu senang, dia langsung memeluk ibunya itu. Sarah sungguh merindukan Rafa, ingin melihat dan memeluk Rafa yang dia sangka anak kandungnya itu.
Sementara itu, Ratih di restoran bahkan sedang meminta Ben, untuk mengkonfirmasi apa yang terjadi di proyek teluk harapan. Kalau dulu dia akan langsung percaya pada semua yang dikatakan Fandi. Sekarang tidak lagi, dia tidak akan mengulangi kesalahannya itu.
"Bagaimana?" tanya Ratih pada Ben.
"Memang di butuhkan dana, pembelian material. Tapi tidak lebih dari 100 juta!" kata Ben.
Ratih mengangguk paham. Suaminya yang brengsekk itu memang penuh perhitungan. Dananya hanya kurang sebanyak itu. Tapi dia yakin, suaminya yang brengsekk itu akan meminta uang padanya 10 kali lipat.
"Kalau begitu, kirimkan uangnya pada yang bertanggung jawab di proyek itu. Tidak lebih, tidak kurang!"
"Baiklah!"
***
Bersambung...
biar Sarah jadi gila 🤣
Bahwa Rafa dan Ben banyak banget kemiripannya..
Perlu di selikidiki nih fakta kebenarannya..
Kalau perlu, Rafa & Ben melakukan tes DNA..
Untuk mengungkapkan fakta yg sebenarnya..
Bahwa malam kejadian itu, Ben lah yang bersama nya..
Bukan Fandi yg me ngaku² yg menolong nya..
Hingga Ratih terpedaya oleh tipuan Fandi padanya..
Jadi penasaran, bagaimana kisah awal kejadian nya.. 🤔
Tanpa menyadarinya, cinta tumbuh begitu saja di dalam hati 2 insan manusia..
Semisal tadinya hanya menganggap teman biasa saja..
Namun karena selalu bersama, terbiasa ada, dan saling mengenal 1 sama lainnya..
Maka saat itulah muncul rasa ketertarikan di hatinya..
Seseorang menyadari bahwa itu adalah perasaan cinta, ketika mereka berdua mulai ada rasa kehilangan salah satunya..
Dengan status teman di awalnya, justru kita bisa mengenal lebih baik tentang masing² karakter & kepribadiannya..
Berbeda dengan mereka yg langsung status pacaran di awalnya, terkadang justru lebih berpotensi untuk menerima orang yang salah dalam hidupnya..
Kenapa..?
Karena ketika kau menerima seseorang dengan status pacar, maka kau mengira bahwa seolah-olah dialah jodohmu yg sesungguhnya.. 😁
Begitu pula perselingkuhan, yg terbiasa selingkuh gak akan jera sebelum datang nya penyakit mematikan, dan di rajam sampai mati.. 🤭
Jangan kau mencintai karena ketampanan, sebab ketampanan bisa lenyap termakan usia..
Namun cintai lah dia karena akhlaknya, karena dia tak kan mudah tergoda..
Dan cintai lah dia karena karakter & sifatnya, karena kau tak kan punya alasan lagi untuk membencinya..
Karena dia yg setia, tak kan memandang mu sebelah mata...
Dia yg sayang padamu, tak kan tega membuat mu terluka..
Dan dia yg mencintaimu dengan tulus, tak kan pernah membuat mu kecewa..
Assseeekk.. 💃🏻💃🏻🤭
Namun jangan kau kira semua orang baik padamu.. "
Percaya boleh.. Waspada tetap..
Sebab terkadang justru orang terdekat lah yg paling sering & tega membuat mu terluka dan kecewa karenanya..
Bukan lah begitu..? 😊
Kau minta di hargai sebagai suami..
Sedangkan Ratih sebagai istri tak pernah kau hargai..
Kau malah berselingkuh di belakang istri..
Kau berpura-pura baik di depan istri..
Namun kau menginginkan istri mu mati..
Apa suami seperti itu pantas untuk di hargai..
Bahkan kau sendiri adalah tipe lelaki yg gak tau diri dan gak punya hati..
Tidur saja sana kau Fandi, jangan pernah terbangun lagi dari mimpi² hingga kau mati.. 😏😁
Sejak kapan dia punya jiwa keibuan..
Jika dia punya, kenapa bayi Naufal dia tumbal kan..
Padahal Rafa & Naufal sama² bayi yg tak berdosa, justru kau menjual anak mu sendiri demi keuntungan..
Yasudah, nikmati saja hari² mu seperti itu, yg menyakitkan..