NovelToon NovelToon
CINTA TERLARANG : BOSS DAN KARYAWAN

CINTA TERLARANG : BOSS DAN KARYAWAN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

seorang gadis muda yang harus benting tulang menghidupi kedua adik kembarnya setelah kedua orang tuanya meninggal. adik perempuannya sakit-sakitan, mengharuskannya bekerja lebih keras. saat pulang bekerja tak sengaja dia tertabrak mobil, dan ternyata yang menabrak itu adalah pemilik perusahaan tempat dia bekerja. saat itu lah pria pemilik perusahaan itu jatuh hati pada gadis itu. bukan hanya karena kecantikannya, tapi juga karena sifatnya yang baik dan sangat menyayangi adik-adiknya. namun saat melihat adik laki-laki gadis itu, dia mengingat seseorang di masa lalunya. tentang ayahnya yang pernah mengaku melakukan kejahatan sebelum dia meninggal. ayah pria itulah yang menjadi penyebab kematian kedua orang tua nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17

Lantai marmer penthouse yang dingin itu seolah menyerap setiap tetes keberanian yang tersisa di tubuh Dinda. Setelah terlelap dalam tidur yang dipenuhi mimpi buruk, ia terbangun dengan sentakan hebat. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Pikiran pertamanya bukan lagi tentang rasa perih di tubuhnya, melainkan tentang Dika dan Dita.

Dinda menyeret langkahnya keluar dari kamar utama. Pakaian formal yang dibelikan Leo terasa mencekik lehernya, sangat kontras dengan jiwanya yang merasa kotor. Di ruang tamu yang luas, ia melihat Alan duduk di balik meja kerja kaca, jemarinya menari di atas keyboard laptop dengan kacamata bertengger di hidungnya. Sosok pria sukses yang sempurna, seolah badai semalam tidak pernah terjadi.

Melihat sosok itu, perut Dinda mual. Tanpa sepatah kata pun, ia melangkah lurus menuju pintu keluar.

"Mau ke mana?" Suara bariton Alan memecah keheningan. Ia tidak mendongak, namun otoritas dalam suaranya tetap sama.

Dinda berhenti, tangannya sudah memegang gagang pintu yang dingin. "Pulang. Saya tidak punya alasan lagi untuk berada di sini."

Alan berdiri, melepas kacamatanya dan berjalan mendekat. "Aku sudah bilang, kondisimu belum stabil. Dika tidak boleh melihatmu dengan wajah itu."

Dinda berbalik, matanya menyala penuh kebencian. "Tuan pikir siapa yang membuat saya seperti ini? Tuan! Setiap detik saya di sini, saya merasa tercekik. Saya harus melihat adik-adik saya. Dika pasti sudah gila mencari saya!"

"Leo sudah ke sana. Semuanya terkendali," ucap Alan datar, mencoba menenangkan wanita di depannya.

"Terkendali menurut standar Tuan!" suara Dinda meninggi. "Dika bukan orang yang bisa disuap dengan makanan mewah. Dia tahu saya, Tuan. Dia tahu ada yang salah!"

Dinda hendak memutar kunci, namun tangan kokoh Alan menahan pintu itu. Jarak mereka begitu dekat hingga Dinda bisa mencium aroma parfum maskulin Alan yang kini membuatnya ingin muntah.

"Lepaskan, Tuan Alan. Atau saya akan berteriak dari balkon ini agar semua orang tahu siapa Tuan sebenarnya!" ancam Dinda dengan suara bergetar.

"Dinda, kumohon... tenanglah sedikit—"

Tiba-tiba, ponsel di saku jas Alan yang tersampir di kursi berdering nyaring. Alan mendesah kasar, menatap Dinda sejenak sebelum melangkah mundur untuk mengambil ponselnya. Nama LEO tertera di layar.

"Ya, Leo? Ada apa?" Alan menjawab dengan nada tidak sabar.

Namun, detik berikutnya, ekspresi Alan membeku. Rahangnya mengeras, dan tatapan matanya yang semula tajam mendadak berubah menjadi cemas yang nyata.

"Apa? Sejak kapan?... Berikan dia bantuan medis apa pun. Aku akan ke sana sekarang."

Dinda yang memperhatikan dari pintu merasakan firasat buruk menghujam jantungnya. "Dita? Ada apa dengan Dita, Tuan?"

Alan menutup teleponnya, menatap Dinda dengan tatapan yang sulit diartikan. "Leo bilang... kondisi Dita menurun drastis. Dia sesak napas dan sangat lemah. Dika menolak bantuan Leo untuk membawa Dita ke rumah sakit."

Dunia seolah runtuh di bawah kaki Dinda. Rasa perih di tubuhnya mendadak hilang, digantikan oleh kepanikan yang luar biasa. "Dita... Ya Tuhan, Dita!"

Tanpa pikir panjang, Dinda membuka pintu dan berlari keluar menuju lift. Air matanya tumpah seketika. Ia menyalahkan dirinya sendiri. Ia merasa Tuhan sedang menghukumnya karena noda yang ia biarkan terjadi semalam.

"Dinda, tunggu! Aku antar!" Alan menyusul, mencoba meraih lengan Dinda saat mereka masuk ke dalam lift yang bergerak turun.

"Jangan sentuh saya!" Dinda menepis tangan Alan dengan kasar. "Ini semua gara-gara Tuan! Kalau saja Tuan tidak membawa saya ke sini, kalau saja Tuan tidak melakukan hal bejat itu, saya pasti sudah di rumah menjaga Dita!"

"Aku tahu! Aku salah!" Alan membentak pelan, frustrasi dengan dirinya sendiri. "Tapi sekarang bukan waktunya berdebat. Mobilku ada di lobi, kita akan sampai ke kontrakanmu dalam sepuluh menit. Pakai taksi akan memakan waktu lama!"

"SAYA TIDAK MAU MASUK KE MOBIL TUAN LAGI!" teriak Dinda saat pintu lift terbuka. Ia berlari keluar menuju lobi, mengabaikan tatapan heran dari resepsionis apartemen mewah itu.

Dinda berlari ke pinggir jalan, tangannya melambai liar mencari taksi atau ojek. Namun, di kawasan elit itu, kendaraan umum tidak semudah yang ia bayangkan. Alan muncul di belakangnya dengan mobil sedan hitamnya yang mengkilap, berhenti tepat di depan Dinda.

"Dinda, masuk! Nyawa Dita taruhannya! Jangan biarkan egomu membunuh adikmu sendiri!" Alan berteriak dari balik kaca mobil yang terbuka.

Dinda terpaku. Kata-kata Alan seperti belati yang menusuk kenyataan pahit. Ia membenci mobil itu, ia membenci pria di dalamnya, namun ia lebih mencintai Dita. Dengan isakan yang menyakitkan, Dinda membuka pintu mobil dan masuk.

Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil begitu mencekam. Dinda terus meremas jemarinya sendiri, bibirnya tak henti menggumamkan doa dan nama Dita. Alan mengemudi dengan kecepatan tinggi, menerobos lampu lalu lintas seolah ia adalah penguasa jalanan.

"Tuan... kalau terjadi apa-apa pada Dita, saya tidak akan pernah memaafkan Tuan. Dan saya tidak akan pernah memaafkan diri saya sendiri," bisik Dinda pelan, menatap lurus ke depan dengan mata yang kosong.

Alan tidak menjawab. Ia hanya menggenggam kemudi lebih erat hingga buku jarinya memutih. Penyesalan itu kini bukan lagi sekadar rasa bersalah karena telah menodai Dinda, melainkan ketakutan bahwa ia telah menghancurkan satu-satunya hal yang paling berharga bagi wanita yang ia cintai.

Saat mobil memasuki kawasan gang sempit menuju kontrakan Dinda, Dinda langsung berteriak, "Berhenti di sini! Berhenti!"

"Rumahmu masih di dalam, Dinda."

"SAYA BILANG BERHENTI!" Dinda memaksa keluar sebelum mobil benar-benar berhenti sempurna. "Tuan tidak boleh ikut masuk. Jika Dika melihat Tuan mengantar saya dengan mobil ini, semuanya akan hancur. Pergi, Tuan Alan! Pergi!"

Dinda keluar dan berlari menyusuri gang sempit itu, mengabaikan rasa perih di antara kedua kakinya yang kembali berdenyut karena dipaksa berlari. Alan hanya bisa diam di dalam mobilnya, menatap punggung Dinda yang menghilang di belokan gang.

Ia ingin mengejar, ingin melindungi, namun ia sadar bahwa keberadaannya saat ini adalah racun bagi wanita itu.

**

Dinda sampai di depan kontrakannya dengan napas tersengal. Ia melihat Leo berdiri di teras dengan wajah tegang, sementara dari dalam rumah terdengar suara isakan Dika yang jarang terjadi.

"Dinda! Akhirnya kamu sampai," ucap Leo lega.

Dinda tidak memedulikan Leo, ia langsung menghambur masuk. "Dita! Dika!"

Di dalam kamar yang temaram, Dika sedang memeluk tubuh Dita yang menggigil hebat. Dika mendongak, matanya yang merah dan dingin menatap Dinda. Tidak ada sambutan hangat. Yang ada hanyalah tatapan penuh selidik dan kemarahan yang tertahan.

"Dari mana saja, Kak?" tanya Dika, suaranya rendah namun bergetar.

Dinda tidak menjawab, ia langsung berlutut di samping Dita, memegang dahi adiknya yang sangat panas. "Dita, ini Kakak... Kakak di sini, Sayang."

Dita membuka matanya sedikit, tersenyum lemah. "Kak... Dinda... jangan pergi lagi..."

Dinda memeluk adiknya erat, air matanya membasahi baju Dita. Ia bisa merasakan tatapan Dika yang menusuk punggungnya. Dika memperhatikan pakaian baru yang dikenakan Dinda—sebuah dress mahal yang tidak mungkin dibeli oleh seorang buruh pabrik, bahkan dengan bonus sekalipun.

"Siapa orang itu, Kak? Dan kenapa Kakak pakai baju itu?" tanya Dika lagi, kali ini lebih tajam.

***

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!