Katanya sakit hati seseorang itu adalah ketika dia diam dan pergi tanpa banyak bicara. Itu yang di lakukan Anjas, dia sakit hati pada istrinya yang selingkuh, tapi bukan pergi untuk menata hati yang hancur, dia justru pergi ke dukun untuk membalas sakit hati.
"Saya ingin dia mati Mbah"
"Ada penyiksaan yang lebih mematikan dari kematian"
"Apa itu Mbah?"
"Rasa cinta yang tak berbalas"
"Bagaimana saya melakukannya?"
"Teluh... Pelet mati"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nekat
"Apa bisa saya bertemu Yuna?" tanya seorang lelaki berambut pirang datang ke kantor Anjas
"Kamu... kamu yang kemarin lusa membawa paket itu kan?" tanya satpam penjaga
"Paket apa saya tidak tahu, saya teman Yuna" jawabnya yang ternyata adalah Edrick
"Tunggu saya telepon resepsionis dulu, kamu jangan masuk karena saya yakin kamu orang yang mengirimkan paket berisi ular itu" jawab satpam terus mengawasi Edrick yang terlihat tidak peduli.
Edrick meniupkan sesuatu ke arah satpam itu dan sedetik kemudian satpam itu terjatuh tak sadarkan diri dengan telepon yang masih menyala, Edrick langsung masuk dan mematikan sambungan telepon, lalu membuka seragam satpam yang ada di sana, kebetulan satpam itu sedang sendirian karena yang lain sedang keliling, jadi Edrick punya waktu untuk menyamar dan memasukkan satpam itu ke kolong meja agar tidak ketahuan. dia juga memakai Wig supaya tidak ada yang curiga padanya.
Setelah selesai merapikan penampilannya, Edrick masuk dengan santai ke dalam perusahaan, tidak ada yang curiga karena Edrick di kira satpam baru yang punya nama yang sama dengan satpam yang dia lukai, targetnya hanya satu sekarang, Yuna, dia harus membawa Yuna secepatnya karena kekasihnya sudah kritis di rumah sakit.
"Lantai ruangan pak Juno di mana ya? saya mau mengantarkan pesanan makanan beliau" tanya Edrick menunjukkan makanan yang sebelumnya sudah dia pesan secara online.
"Oh, ada di lantai sebelas pak, naik saja langsung" jawab seorang karyawan
"Terima kasih mbak"
"Kamu tidak akan bisa lari lagi dariku Yuna, bukankah bagus organ kamu ada di dalam tubuh Julia, aku jadi bisa memiliki dua orang, Julia dan juga kamu" gumam Edrick menyeringai
Ting.
Lift sudah sampai di lantai sebelas, dia mulai keluar untuk mencari ruangan Juno dan pastinya Yuna ada di depan ruangan itu karena Yuna adalah sekretaris Juno sekaligus asisten pribadinya.
Senyumnya langsung terbit saat dia sudah melihat Yuna berada di depan ruangan Juno yang di pindahkan Anjas ke lantai sebelas karena khawatir pengaruh gaib dari ular itu masih ada di ruangan Juno yang akan di bersihkan terlebih dahulu oleh Anjas yang ada di lantai tiga belas.
"Selamat pagi Bu Yuna" sapa Edrick tersenyum manis
"Selamat pa..."
Mata Yuna langsung terbelalak saat dia melihat orang yang ada di hadapannya bukanlah satpam, tapi Edrick yang selama satu tahun ini dia hindari dan dia takuti.
"Kak Edrick.." ucapnya langsung berdiri dan mundur.
"Kenapa mundur? aku hanya ingin bicara baik baik dengan kamu, aku mau minta maaf" ucap Edrick
"Yuna sudah memaafkan kak Edrick, menjauh kalau memang kak Edrick serius mau minta maaf" jawab Yuna mulai pucat.
"Aku ke sini karena mommy sakit, dia ingin bertemu kamu" jawab Edrick berbohong
"Yuna bisa menelponnya dan itu sudah cukup, mommy juga tidak pernah bilang kalau beliau sakit" balas Yuna membuat senyuman Edrick langsung sirna, di gantikan tatapan tajam yang membuat Yuna semakin ketakutan.
"Pergi kak.."
"Ikut denganku baik baik atau aku akan buat kamu malu di depan semua orang dengan video kamu yang sedang mandi" ancam Edrick yang memang punya video Yuna yang sedang mandi di kamar mandi rumahnya saat dia bermain ke rumah Edrick.
"Jangan lakukan itu" ucap Yuna
"Kalau begitu ikut aku sekarang, dan jangan buat keributan" bisik Edrick
"Kenapa kak Edrick melakukan ini, apa tidak pernah kak Edrick mengasihani Yuna?" tanya Yuna mulai menitikkan air matanya.
"Kasihan, aku justru menyayangi kamu Yuna, aku ingin kamu juga menjadi bagian dari milikku, aku tidak bisa memilih di antara kalian berdua, tapi aku bisa membuat kalian jadi satu" ucap Edrick mengusap rambut Yuna yang sekarang semakin terisak.
fuuhh...
Edrick kembali meniupkan sesuatu ke wajah Yuna yang membuat Yuna langsung mematung dengan tatapan kosong. Yuna terhipnotis dengan mantra yang di berikan Edrick dan dengan mudah Edrick meminta Yuna berjalan di depan untuk keluar dari perusahaan Anjas.
Ceklek.
"Yuna, kamu mau ke mana?" tanya Juno yang baru keluar ruangannya membawa beberapa berkas yang harus di tanda tangani Anjas.
"Yuna...." panggil Juno sekali lagi tapi Yuna tetap tidak berbalik, terus berjalan ke arah lift
Dan tepat saat Yuna sudah masuk, Edrick menoleh ke arah Juno sambil menyeringai, wajahnya yang sudah di kenali Juno langsung membuat Juno panik dan langsung mengejar mereka, tapi terlambat, pintu Lift sudah tertutup dan Juno segera menghubungi bagian keamanan untuk menahan Edrick.
Anjas juga sudah di beri tahu dan langsung turun ke lantai satu dengan lift khusus direktur. tapi saat sampai di lantai satu, sama sekali tidak ada keributan, orang orang di sana tetap bekerja dengan baik seperti tidak pernah terjadi apapun.
"Mereka di hipnotis nak, orang itu sudah pergi, ikuti mobil berwarna merah, Yuna Ada di dalam mobil itu, biar aku yang menghilangkan efek hipnotis pada diri karyawan kamu" bisik Suro
"Kak..." panggil Juno yang baru sampai di lantai satu.
''Ayo kita kejar si Edrick itu" ajak Anjas menarik tangan Juno.
Tanpa banyak bertanya, Juno mengikuti Anjas, para karyawan di tepuk oleh Suro satu persatu dan mereka mulai sadar tapi tidak tahu dengan apa yang terjadi, dan memilih untuk kembali melanjutkan aktifitas mereka.
Di jalan, Anjas sudah melihat mobil merah yang di maksud Suro, dia mulai menyalip setiap kendaraan supaya mereka bisa mendekat ke mobil itu dan akan mengikutinya dari jarak aman.
"Mereka mau ke mana ya, ini kan arah ke rumah sakit Ferdinand" ucap Juno
"Pasti terjadi sesuatu pada pacar si Edrick, andai saja bukti yang kita miliki kemarin lusa sudah cukup, si Edrick harusnya sudah di penjara, tapi menurut kak Afandi bukti itu tidak cukup kuat" ucap Anjas
"Sekarang buktinya pasti lengkap karena Yuna di culik" ucap Juno
"Masalahnya Yuna di hipnotis, dan di rekaman dia seperti berjalan sendiri tanpa paksaan" jawab Anjas membuat Juno semakin khawatir.
Ternyata benar, Edrick membawa Yuna ke rumah sakit Ferdinand, mereka turun seperti sepasang kekasih yang ingin melakukan pemeriksaan, tapi Juno bisa melihat Yuna hanya ikut bejalan tanpa ada ekspresi di wajahnya yang terlihat datar dan kosong.
"Dokter, saya sudah bawa donor organ untuk kekasih saya" ucap Edrick
"Apa kamu tidak salah? Dia masih hidup dan sehat, donor organ itu hanya di khususkan untuk orang yang sudah meninggal kecuali ginjal, tapi kekasih kamu itu butuh donor jantung dan hati juga, itu membahayakan!" ucap dokter tea terlihat terkejut.
"Tapi dia tidak keberatan dokter, iya kan Yuna" ucap Edrick dan Yuna mengangguk patuh.
"Gila, saya tidak akan melakukan itu, itu bertentangan dengan kode etik dokter!" jawab dokter tegas
Puk.
"Lakukan sekarang dokter, saya tidak punya banyak waktu, saya mau kekasih saya hidup dengan organ milik Yuna, kalau perlu ganti semuanya dengan milik Yuna, matanya bahkan semuanya!" ucap Edrick juga menepuk bahu dokter itu yang tiba tiba langsung mengangguk patuh
"Anak ini butuh di perlihatkan bagaimana rasanya berada di ambang kematian" kesal Anjas yang geram mendengar obrolan Edrick dan dokter yang ada di depan ruangan Julia.