NovelToon NovelToon
Cinta Yang Kembali Di Hari Vonis

Cinta Yang Kembali Di Hari Vonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dark Romance / Angst
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: linda huang

Rasa putus asa menyelimuti Jessica Zhou saat hakim menjatuhkan vonis hukuman mati atas dirinya karena dituduh membunuh kedua orang tuanya demi warisan.

Bandingnya ditolak. Harapan seakan habis.

Hingga kasus itu sampai ke tangan Hakim Li—Adrian Li—yang dijuluki “Hakim Gila” karena ketegasan dan caranya yang tak biasa dalam mencari kebenaran.

Adrian, yang selama ini hanya fokus pada pekerjaannya, dicintai oleh dua wanita: Jessica Zhou dan Holdie Fu. Holdie berambisi tinggi dan berusaha mendapatkan hati pria dingin itu, sementara Jessica memilih memendam perasaannya setelah cintanya ditolak sepuluh tahun lalu.

Kini, nasib Jessica berada di tangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Di Kota S, pagi sudah berganti siang. Cahaya matahari menembus jendela besar kantor Adrian, namun suasana di dalam ruangan terasa berat.

Adrian berdiri di dekat meja kerjanya dengan tangan terlipat, sementara Jaksa Wu duduk di kursi tamu di depan meja. Di sampingnya, Max sedang memegang ponsel, menunggu kabar dari tim lapangan.

Tiba-tiba ponselnya berdering.

Max segera mengangkatnya. Wajahnya yang semula tenang perlahan berubah tegang.

“Apa? Sudah kabur?” suaranya terdengar terkejut namun tetap berusaha menahan emosi. “Apakah kalian sudah memeriksa rekaman CCTV?”

Ia berjalan beberapa langkah menjauh sambil mendengarkan laporan dari rekannya. Beberapa detik kemudian, Max memutuskan panggilan itu.

Jaksa Wu mengangkat alisnya. “Ada apa?”

Max menarik napas pendek sebelum menjawab. “Hakim Chen sudah menghilang. Rumah dan kantornya sudah didatangi tim kita. Kata stafnya, beliau tidak masuk kerja sejak perintah eksekusi itu dijalankan.”

Ia berhenti sejenak.

“Sepertinya dia memang bermasalah.”

Adrian yang sejak tadi diam langsung menoleh. Tatapannya tajam.

“Bukan dia yang bermasalah,” ucapnya pelan namun tegas. “Ada orang yang mendesaknya. Aku mengenal sifatnya. Dia tidak pernah korupsi dan tidak pernah membedakan status korban.”

Adrian kemudian mengangkat pandangannya. “Bagaimana dengan CCTV?”

Max segera membuka rekaman yang baru saja dikirim oleh rekannya. Ia memutar video itu di ponselnya sebelum menunjukkannya.

“Ini dia,” kata Max. “CCTV kantor Hakim Chen sebelumnya.”

Dalam rekaman itu terlihat seorang pria berdiri di depan meja kerja Hakim Chen. Pria tersebut mengenakan topi dan masker, membuat wajahnya sama sekali tidak bisa dikenali.

“Hanya terlihat seorang pria dengan topi dan masker,” lanjut Max. “Sulit memastikan identitasnya.”

Ia menyerahkan ponselnya kepada Adrian.

Adrian menonton rekaman itu beberapa detik dengan tatapan fokus. Ia memperhatikan cara pria itu berdiri, panjang langkahnya, serta tinggi tubuhnya.

Setelah itu ia menyerahkan ponsel tersebut kepada Jaksa Wu.

“Eksekusi itu ada hubungannya dengan pria ini,” kata Adrian dengan suara tenang.

Ia menunjuk layar ponsel.

“Perkiraan tinggi badan pria ini sekitar seratus sembilan puluh sentimeter.”

Adrian kemudian menoleh kepada Max.

“Max, cari tahu apakah Nico Zhou dan Jeff Zhou memiliki postur yang mirip dengan pria ini.” Perintahnya singkat, tetapi jelas.

“Baik. Akan segera aku laksanakan,” jawab Max tanpa ragu. Ia segera bersiap menghubungi timnya.

Jaksa Wu yang masih memegang ponsel itu menghela napas pelan sebelum menatap Adrian.

“Lalu… bagaimana dengan dia?” tanyanya. “Kita tidak bisa membiarkan begitu saja.”

Max melihat laporan baru di ponselnya lalu berkata, “Bukan hanya Hakim Chen. Istrinya juga tidak ditemukan di rumah. Tetangga mengatakan mereka pergi sejak dini hari. Putrinya sendiri memang sudah lama tinggal di luar negeri.”

Jaksa Wu mengerutkan kening.

“Jika seluruh keluarga menghilang, itu terlihat seperti pelarian.”

Adrian justru menggeleng pelan.

“Belum tentu. Chen bukan orang yang akan menghancurkan kariernya sendiri tanpa alasan. Jika dia benar pergi, kemungkinan ada seseorang yang memaksanya.”

Adrian menoleh kepada Max.

“Periksa data imigrasi. Aku ingin tahu apakah mereka benar keluar dari negara ini.”

Max mengangguk. “Baik.”

Adrian melanjutkan dengan nada lebih serius.

“Dan satu hal lagi… tingkatkan pengamanan Jessica. Selama penyelidikan ini berlangsung, Jessica Zhou adalah tahanan sekaligus saksi penting. Jika seseorang mencoba mempercepat eksekusinya sekali, tidak ada jaminan mereka tidak akan mencoba lagi.”

Max mengangguk pelan.

Adrian menambahkan dengan nada tegas,

“Tingkatkan pengamanan di blok tempat dia ditahan. Semua akses harus dicatat. Tidak ada kunjungan tanpa izin langsung dariku.”

Max mengangguk mantap. “Baik.”

“Aku akan ke rumah sakit besok," kata Adrian akhirnya dengan nada tegas.

Ia menoleh kepada Max.

“Max, besok kau harus memastikan Jessica benar-benar aman. Baik dari luar maupun dari dalam penjara.”

Max mengangguk tanpa ragu. “Aku mengerti.”

Ia kemudian berpikir sejenak sebelum bertanya, “Apakah Anda ingin menemui Jeff Zhou secara langsung?”

Adrian menutup berkas di tangannya perlahan. “Benar. Bukti yang kita dapat semua mengarah pada Jessica. Dan yang bisa menjebak dia hanya orang yang paling dekat dengannya. Walau kedua kakaknya sangat membencinya ... tapi aku yakin mereka bukan pelakunya."

***

Malam itu Jessica tidur seorang diri di sel barunya di penjara Kota S. Sel itu jauh lebih layak dibandingkan tempat sebelumnya. Ada kasur tipis yang bersih, bantal, dan selimut yang cukup hangat.

Namun kenyamanan itu tidak mampu menenangkan pikirannya.

Di tengah malam, tubuhnya tiba-tiba gelisah di atas kasur.

Seolah terperangkap dalam mimpi buruk.

Dalam mimpinya, ia melihat kedua tangannya sendiri—penuh darah.

Di hadapannya, dua sosok tergeletak di lantai. Wajah mereka pucat, tubuh mereka berlumuran darah.

Ayah dan ibunya.

Jessica dalam mimpi itu memegang pisau yang masih meneteskan darah. Ia melihat dirinya sendiri menikam mereka.

Jeritan kesakitan menggema di telinganya.

“Jessica… kenapa…?” suara ibunya terdengar lemah.

Jessica dalam mimpi itu mundur dengan gemetar. “Bukan aku… aku tidak—”

Namun darah terus mengalir di lantai.

Lalu terdengar suara langkah berat.

Tok… tok… tok…

Sepasang kaki pria mendekat. Ia mengenakan sepatu bot hitam yang mengkilap. Langkahnya tenang, seolah semua yang terjadi di ruangan itu bukan hal yang mengejutkan baginya.

Jessica mencoba melihat wajah pria itu.

Namun dalam mimpi itu, wajahnya selalu tertutup bayangan.

Pria itu berhenti tepat di depannya.

“Jessica,” katanya dengan suara rendah.

Nada suaranya terdengar tenang, hampir lembut.“Jangan salahkan aku melakukan ini padamu.”

Ia sedikit menunduk, seolah sedang menatap Jessica yang gemetar. “Anggap saja… kau sedang berbuat baik.”

Suara itu bergema di kepalanya.

Tiba-tiba—

Jessica terbangun.

Ia langsung duduk tegak di atas kasur.

Napasnya tersengal-sengal, dada naik turun dengan cepat. Keringat dingin membasahi wajah dan lehernya.

Tangannya gemetar ketika ia menatap telapak tangannya sendiri.

Bersih.

Tidak ada darah.

Namun bayangan dalam mimpi itu masih terasa terlalu nyata.

Jessica memeluk lututnya perlahan di atas kasur, berusaha menenangkan diri.

“Kenapa… aku tidak bisa mengingatnya," bisiknya pelan dengan suara gemetar.

Matanya menatap kosong ke dinding sel yang sunyi.

Di sudut hatinya, muncul rasa takut yang tidak bisa ia jelaskan. Seolah mimpi itu bukan sekadar mimpi. Melainkan potongan ingatan yang terkubur jauh di dalam pikirannya.

***

Malam semakin larut di Kota S. Di dalam kantornya, Adrian masih belum pulang. Berkas kasus Jessica Zhou terbuka di atas meja kerjanya.

Adrian kemudian menutup berkas itu perlahan lalu mengambil ponselnya. Ia menekan nomor seseorang yang ia kenal.

Beberapa saat kemudian panggilan tersambung.

“Dokter Lin,” ucap Adrian tenang.

Di seberang sana terdengar suara pria yang sedikit terkejut. “Hakim Li? Sudah lama tidak mendengar kabar Anda.”

“Aku membutuhkan bantuanmu.”

Nada suara Adrian langsung berubah serius.

“Ada seorang tahanan wanita yang pernah disuntik midazolam dalam dosis yang tidak jelas. Aku ingin dia menjalani pemeriksaan medis lengkap.”

Dokter Lin terdiam sejenak sebelum menjawab, nadanya kini lebih profesional.

“Jika dia tahanan, pemeriksaan tidak bisa dilakukan di ruang praktik biasa.”

“Aku tahu,” jawab Adrian singkat. “Karena itu aku akan mengajukan pemeriksaan di Rumah Sakit Umum Kota S, di bawah pengawalan resmi dari penjara.”

“Baik,” kata Dokter Lin. “Kalau begitu saya akan menyiapkan ruang pemeriksaan di bagian neurologi.”

Adrian melanjutkan dengan nada tegas.

“Aku ingin pemeriksaan saraf dan memori. Periksa juga apakah masih ada efek obat di tubuhnya.”

1
Raine
nah sesuai dugaan sebelumnya, kalau jj dalangnya dan cuman pura pura koma
erviana erastus
ya jj itu pura2 koma 🤭🤭🤭
Nadila Fathania Alfi
makin seru 😍😍
Melinda Cen
seruu lanjutkan lg
Nadila Fathania Alfi
min bikin cerita jangan pendek", panjang panjang aja 😄😄
erviana erastus
apakah dalangx JJ pura² koma🤔🤔🤔
Anonymous
Seru2…. Up yg bnyk Thor 💪💪💪
Melinda Cen
lanjut bykkan eps nya
Dian Fitriana
update
Melinda Cen
perbyk dong eps nya kk lg seru nih
Dian Fitriana
update
erviana erastus
selamat hakim chen kamu bakalan habis sama Adrian Li 🤭
Maria Mariati
kapokkk hadapin tuh hakin neraka ,main2 sama nyawa orang,siap2 hadapin hakim neraka
Dian Fitriana
update
erviana erastus
habis hidup mu chen ckckck keluar kadang harimau masuk ke kandang macan 🤣
Melinda Cen
lanjut kan kk, perbyk eps nya biar ga penasaran😄
Dian Fitriana
update
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
seru kayaknya
Melinda Cen
perbyk dong eps nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!