NovelToon NovelToon
Aku Milikmu, Tuan Mafia

Aku Milikmu, Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Cinta Murni
Popularitas:347
Nilai: 5
Nama Author: Yellow Sunshine

Rachel hanya ingin menyelamatkan nyawa adiknya.
Namun bantuan dari ayah tirinya itu justru berubah menjadi mimpi buruk ketika ia dijual pada Tom—seorang pria kaya, kejam, dan terobsesi memilikinya. Terperangkap dalam sangkar emas yang menyesakkan, Rachel akhirnya memilih kabur dan mempertaruhkan segalanya demi kebebasan.
Di saat itulah ia bertemu Liam Smith. Pria misterius yang tampak dingin dan tak tersentuh. Bagi Rachel, Liam hanyalah seorang penyelamat. Tapi ia tidak tahu satu hal, bahwa Liam adalah bos mafia dan dirinya adalah seseorang yang pernah menyelamatkan hidupnya yang tak pernah bisa Liam lupakan.
Namun, ketika Rachel akhirnya mengetahui siapa Liam sebenarnya, ia dihadapkan pada dua pilihan. Akankah ia mampu bertahan dengan pria yang bisa melindunginya dari seluruh dunia? Atau akankah ia justru memilih meninggalkannya sebelum dunia Liam menghancurkan hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dinding yang Sengaja Dibangun

Pagi hari datang tanpa suara, perlahan merayap masuk melalui celah tirai kamar Liam. Cahaya pucat jatuh di lantai, membelah ruangan yang masih dipenuhi sisa-sisa semalam, seperti bau antiseptik, sisa kapas atau kain perban, dan napas berat yang kini lebih teratur dari sebelumnya.

Rachel terbangun lebih dulu. Butuh beberapa detik sebelum kesadarannya benar-benar pulih, dan membuat tubuhnya menegang. Ia baru menyadari ada sesuatu yang salah—tampak terlalu dekat, dan terasa terlalu hangat. Sebuah lengan melingkar di pinggangnya dari belakang. Pegangannya tidak keras, tapi cukup jelas untuk membuat napasnya tersendat. Napas Liam terasa di tengkuknya, hangat dan teratur, seolah itu adalah hal yang paling wajar di dunia.

Rachel terpaku—jantungnya berdegup kencang, cepat, dan nyaris menyakitkan. Rasa panik dan bersalah muncul bersamaan, menekan dadanya cukup berat. Ia berusaha mengingat bagaimana posisi ini bisa terjadi, tapi ingatannya terputus di antara kelelahan dan kewaspadaan semalam.

Beberapa detik kemudian, Liam bergerak. Tubuhnya ikut menegang seketika, seolah juga baru tersadar akan sesuatu yang asing. Beberapa saat kemudian, lengannya refleks mengendur. Liam membuka mata dan langsung membeku saat menyadari siapa yang ada di hadapannya—dan bagaimana posisi mereka di atas ranjangnya yang hangat. Tatapannya beralih cepat ke arah tangannya yang masih menyentuh pinggang Rachel, lalu sontak menjauh seolah tersengat.

Rachel tidak menunggu lebih lama lagi. Ia segera bergeser menjauh dan bangkit dari ranjang, dengan gerakan yang tampak terburu-buru dan canggung. “Maaf,” katanya cepat, suaranya rendah tapi jelas gemetar. “Aku… aku tidak bermaksud...”

Ia merapikan rambutnya dengan tangan yang sedikit bergetar, lalu kepalanya menunduk dan tubuhnya menjaga jarak, yang kini terasa terlalu jauh sekaligus belum cukup. “Aku seharusnya tidak tertidur di sini.”

Liam tidak langsung menjawab. Ia duduk bersandar, wajahnya tampak datar, bahkan nyaris tanpa ekspresi. Tatapannya terlihat kosong dan sulit dibaca—bukan dipenuhi amarah, bukan juga ekspresi penuh kelembutan.

Rachel menelan ludah yang terasa berat di tenggorokannya. “Kalau begitu, aku akan keluar.” Ia melangkah menuju pintu, berusaha mempertahankan sikap profesional, meski dadanya masih berdebar.

“Tunggu!” , suara Liam menghentikannya tepat saat tangannya menyentuh gagang pintu. Nada suaranya terdengar dingin dan terkendali. Membuat tubuh Rachel akhirnya berbalik.

“Jangan pernah masuk ke kamarku lagi tanpa izin seperti semalam,” kata Liam tegas. “Apa pun alasannya.”

Tidak ada emosi yang terdengar di sana. Terlebuh lagi, tidak ada ucapan terima kasih atau sisa kehangatan dari malam sebelumnya. Di sana hanya ada batas yang ditegakkan dengan jelas.

Rachel mengangguk pelan. Ia tidak membela diri, juga tidak ingin menjelaskan. “Baik, Tuan.” , jawabnya, lalu membuka pintu dan keluar.

Begitu sendirian, Liam terduduk di tepi ranjang. Pandangannya jatuh ke lantai, lalu rahangnya mengeras. Ia menghela napas panjang, lalu mengumpat pelan. Ia sudah bertindak begitu ceroboh, dengan membiarkan Rachel masuk ke kamarnya, bahkan tertidur di sampingnya. Semua itu adalah kesalahan yang seharusnya tidak terjadi.

Kini dadanya terasa sesak—bukan karena luka yang ada di perutnya, tapi karena sesuatu yang lebih sulit dikendalikan. Baru kali ini ia dihinggapi rasa takut—takut jika Rachel terlibat terlalu jauh dalam hidupnya, dan takut jika perasaan itu berubah menjadi kelemahan untuknya.

Sementara itu, Rachel melangkah cepat menyusuri lorong. Begitu pintu kamar Liam tertutup di belakangnya, ia menyadari tatapan di sekelilingnya. Dua orang pelayan tampak berhenti bekerja, seorang penjaga berdiri mematung, dan mata mereka mengikuti langkahnya dengan penuh keterkejutan dan pertanyaan yang tidak diucapkan.

Bisikan pun mulai terdengar, pelan tapi jelas. Sebab, tampaknya memang tidak pernah ada pelayan yang keluar dari kamar tuan mereka di pagi hari seperti ini. Rachel menunduk dan mempercepat langkahnya. Wajahnya kini terasa panas, dan tanpa menoleh, ia langsung menuju kamarnya sendiri. Begitu pintu tertutup di belakangnya, ia bersandar sebentar, lalu menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri.

Ia berganti seragam, merapikan penampilan, dan menghapus sisa-sisa malam dari wajahnya. Saat kembali bekerja, gerakannya tampak kembali teratur, ekspresinya netral, seolah semalam tidak pernah terjadi apapun di antara dirinya dan Liam.

Tak lama kemudian, Liam turun dari lantai atas. Ia tampak sudah rapi, dengan mengenakan setelan jas berwarna gelap. Wajahnya terlihat tenang dan terkendali. Namun langkahnya sedikit lebih pelan, dan tangannya sesekali menekan sisi perutnya, menahan nyeri yang belum sepenuhnya hilang.

Saat melewati dapur, matanya tampak tidak sedang mencari Rachel. Bahkan ketika mereka berada di ruangan yang sama, sikapnya terasa dingin, seolah sedang menjaga jarak dengan jelas. Tidak ada tatapan yang bertemu, juga tidak ada sapaan yang Liam tujukan padanya.

Aktivitas sarapan berlangsung dalam keheningan yang terasa cukup tegang. Rachel dan para pelayan lain bekerja seperti biasa bersama Mrs. Cassel, menyajikan hidangan di atas meja makan. Liam duduk di ujung meja, dan tampak diam sepanjang waktu. Hanya gerakan menyuap makanan dengan sendok, mengambil segelas air putih, dan mengelap noda makanan di sekitar mulutnya yang terlihat kaku.

Begitu selesai, ia berdiri. “Kita berangkat sekarang,” katanya singkat pada dua orang anak buahnya yg berdiri di dekatnya. Tanpa menunggu respon, ia mengambil mantel dan beranjak pergi.

Rachel tetap berdiri di tempatnya, menatap meja makan di depannya yang kembali kosong. Malam tadi terasa seperti sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi—namun juga terlalu nyata untuk diabaikan.

Setelah pintu depan tertutup dan suara mobil Liam menghilang di kejauhan, suasana rumah perlahan kembali ke ritmenya yang biasa. Para pelayan pun segera berpencar melanjutkan tugasnya masing-masing. Ketegangan di meja makan memang mereda, tetapi tidak sepenuhnya hilang—ia menggantung di udara, dan terasa cukup membekas di hati Rachel. Terlebih lagi dengan sikap Liam yang tampak lebih dingin dari biasanya.

Rachel masih berada di dapur, untuk membantu Mrs. Cassel merapikan sisa sarapan. Piring-piring diletakkannya ke wastafel, dengan suara air mengalir yang menjadi latar yang menenangkan sekaligus menekan. Sementara itu, Mrs. Cassel tampak bekerja dengan tenang seperti biasa, gerakannya terlihat efisien dan tanpa komentar berlebihan.

Rachel ragu sejenak sebelum akhirnya membuka suara. “Mrs. Cassel,” katanya pelan, berhati-hati. “Aku melihat luka Tuan Smith semalam.”

Tangan Mrs. Cassel berhenti sesaat di atas piring. Ia tidak langsung menoleh, namun akhirnya menanggapi pernyataan Rachel. “Tuan Smith terluka?” tanyanya, nada suaranya datar, seolah sudah menduga.

Rachel mengangguk. “Iya. Dan itu tampak cukup serius.” Ia menarik napas pendek. “Kenapa tidak ada dokter yang dipanggil untuk mengobatinya? Atau setidaknya pelayan yang dipanggil untuk membantunya. Dan… kenapa semua orang malah meninggalkan kamarnya?”

Mrs. Cassel melanjutkan pekerjaannya, mencuci piring dengan gerakan yang lebih lambat. “Karena itu keinginannya,” jawabnya akhirnya. “Tuan Smith tidak suka ada orang di sekitarnya saat kondisinya seperti itu.”

Rachel mengernyit. “Tapi lukanya—”

“Aku tahu.” Mrs. Cassel memotong dengan lembut tapi tegas. Ia menutup keran, lalu berbalik menghadap Rachel. Wajahnya menunjukkan kelelahan yang sudah lama tertimbun. “Ini bukan pertama kalinya, Rachel.”

Rachel terdiam.

“Tuan Smith sering pulang dalam kondisi terluka,” lanjut Mrs. Cassel. “Bahkan terkadang lebih parah. Tapi ia selalu melarang siapa pun mendekat, termasuk dokter. Ia tidak suka orang lain menyentuh dirinya, terlebih tubuhnya. Ia hanya menerima pertolongan dari dokter jika keadaannya memang benar-benar darurat, itu pun dengan banyak peraturan.”

“Dan… kalian membiarkannya?” Rachel bertanya, suaranya mengandung keterkejutan yang tidak bisa ia sembunyikan.

“Kami tidak punya pilihan,” jawab Mrs. Cassel jujur. “Semua orang di rumah ini sudah terbiasa dengan aturannya. Melanggarnya hanya akan membuat keadaan lebih buruk.”

Penjelasan itu justru membuat Rachel semakin bingung. Ia teringat luka di lengan Liam beberapa waktu lalu—bagaimana pria itu membiarkannya membersihkan darah dan membalut lukanya tanpa perlawanan berarti. Bahkan semalam, Liam yang memintanya tetap tinggal. Ia menahannya, dan meminta Rachel menemaninya yang sedang terluka.

Rachel tidak tahu harus merasa tersanjung atau justru khawatir. Pengecualian yang terjadi padanya terdengar seperti sesuatu yang rapuh, dan tampak mudah berubah menjadi kesalahan.

Ia mengalihkan pandangan. “Kalau begitu… kenapa dia tetap pergi hari ini?” tanyanya. “Kondisinya jelas belum pulih.”

Mrs. Cassel menghela napas. “Karena Tuan Smith tidak pernah suka hanya berdiam diri di rumah. Pekerjaan selalu didahulukan, apa pun keadaannya.”

Rachel mendecakkan lidah pelan, nyaris tak terdengar. Dalam hati, ia mengumpat. 'Keras Kepala', Itu adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan pria itu.

Percakapan pun berakhir tanpa kesimpulan. Mrs. Cassel kembali pada tugasnya, dan Rachel pun melanjutkan pekerjaannya. Namun sepanjang hari, pikirannya tidak pernah benar-benar hadir pada aktivitas apapun yang sedang ia kerjakan. Ia menyapu lantai, menyusun perabot, dan menata barang—semua dilakukannya dengan pikiran yang berkelana pada gambaran malam tadi yang terus berulang. Wajah Liam saat tertidur, dengan garis wajahnya yang tegas melunak tanpa sadar. Tangannya yang menahan pergelangan Rachel, terasa lemah tapi penuh permintaan. Dan pagi tadi—posisi mereka yang terlalu dekat dan terlalu intim untuk diabaikan.

Setiap kali ingatan itu muncul, jantung Rachel berdegup lebih cepat. Ada sensasi asing yang membuatnya gelisah sekaligus hangat. Dan, ia tidak menyukainya.

Namun bayangan itu selalu berakhir pada sikap dingin Liam pagi tadi. Teguran tegasnya, nada tanpa emosi, juga batas yang ditarik dengan begitu jelas. Rasa kesal menyusup perlahan, lalu menggantikan kebingungan di kepalanya.

Ia memang telah melanggar batas, Rachel mengakui itu. Ia hanya seorang pelayan, dan kamar itu bukan wilayahnya. Tapi ia hanya ingin menolong. Jika ia tidak ada semalam, kondisi Liam mungkin akan jauh lebih buruk. Demamnya bisa semakin tinggi, dan lukanya bisa terinfeksi.

Sepanjang siang, konflik itu berputar tanpa henti—antara rasa bersalah dan pembelaan diri, antara kesal dan kepedulian yang tidak ia minta tumbuh. Rachel berusaha fokus, tapi setiap suara langkah berat atau bayangan jas hitam membuatnya refleks menoleh, berharap sekaligus takut.

Menjelang sore, ia berdiri di jendela dapur, memandang halaman luar yang sepi. Ia menyadari satu hal dengan jelas, bahwa kehadiran Liam telah mengganggu keseimbangannya. Bukan hanya rutinitas, tapi juga pikirannya. Dan yang paling membuatnya gelisah, bahwa perasaan itu mulai tumbuh tanpa izin, di tempat yang seharusnya bersih dari keterlibatan apa pun dengan pria yang kini menjadi majikannya itu.

1
Yellow Sunshine
Hai, Readers! Selamat menikmati karya baru dari author ya? Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya. bcos ur support means a lot. Salam hangat, dari author 🤗
Mia Camelia
miris banget😔
Yellow Sunshine: Happy reading, Reader! Selamat menikmati episode-episode selanjutnya yg semakin menarik 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!