Liana hamil anak pria lain, tapi Morgan—suami kontrak yang selalu ia maki—justru yang menggagalkan aborsinya dan mengaku sebagai ayahnya. 'Hiduplah untuk anak itu,' ucap Morgan dingin, meski hatinya hancur melihat istrinya merindukan pria yang telah membuangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyamaran di Kampus
Ruang Kuliah 402 Fakultas Ekonomi pagi itu dipenuhi oleh aroma parfum mahasiswa baru dan desas-desus tentang siapa dosen yang akan masuk. Bagi mahasiswa lain, ini adalah awal dari masa depan. Bagi Liana Shine, ini adalah panggung sandiwara yang memuakkan.
Ia duduk di barisan paling belakang, sengaja memilih pojok remang-remang agar bisa menyandarkan kepalanya ke dinding. Matanya yang sembab karena kurang tidur dan tangisan semalam tersembunyi di balik kacamata hitam besar. Di sampingnya, beberapa mahasiswi berbisik tentang "Dosen Es" yang konon brilian namun kejam dalam memberi nilai.
Tepat pukul delapan, pintu ruang kuliah terbuka.
Langkah kaki yang berirama tegas dan konstan bergema di atas lantai porselen. Morgan Bruggman masuk dengan tas kulit hitam di tangan kiri dan segelas kopi di tangan kanan. Ia mengenakan kemeja abu-abu baja yang lengannya digulung hingga sikut, menampakkan jam tangan perak yang berkilau di bawah lampu neon. Aura otoritasnya seketika membungkam ruangan.
Morgan meletakkan tasnya di atas podium, lalu menatap seluruh ruangan. Matanya menyapu setiap wajah hingga akhirnya berhenti selama dua detik tepat di mata Liana yang tersembunyi di balik kacamata hitam. Tidak ada sapaan hangat. Tidak ada pengakuan bahwa wanita di baris belakang itu adalah orang yang tadi pagi berbagi meja makan dengannya.
"Selamat pagi," suara Morgan bariton dan tenang, namun menjangkau setiap sudut ruangan. "Saya Morgan Bruggman. Dan saya tidak suka membuang waktu. Letakkan ponsel kalian di dalam tas, atau saya yang akan menyimpannya sampai akhir semester."
Liana mendengus pelan. Sifat diktatornya keluar lagi, batinnya. Ia sengaja tidak bergerak, tetap menyandarkan punggungnya dengan angkuh.
"Saudari yang di pojok belakang, dengan kacamata hitam," Morgan menunjuk tepat ke arah Liana tanpa ekspresi. "Apakah ruangan ini terlalu silau untuk Anda, atau Anda sedang mencoba tidur di kelas saya?"
Seluruh kelas menoleh ke arah Liana. Bisik-bisik mulai terdengar. Liana merasakan wajahnya memanas, bukan karena malu, tapi karena marah. Ia melepas kacamatanya dengan gerakan kasar, menatap Morgan dengan tatapan menantang.
"Maaf, Pak. Saya hanya sedang tidak enak badan," jawab Liana dengan nada yang sengaja dibuat tidak sopan.
"Jika Anda sakit, silakan ke ruang medis. Jika Anda di sini, Anda mengikuti aturan saya. Lepas kacamata itu, duduk tegak, dan buka buku makroekonomi Anda halaman sepuluh," ucap Morgan dingin sebelum berbalik menuju papan tulis digital.
Sepanjang dua jam perkuliahan, Morgan mengajar dengan presisi yang mengerikan. Ia menjelaskan kurva dan variabel ekonomi seolah-olah dunia ini hanyalah sekumpulan rumus yang bisa dipecahkan. Liana sama sekali tidak memperhatikan. Ia sibuk mencoret-coret bukunya dengan nama 'Derby' yang dikelilingi duri-duri, membayangkan betapa indahnya jika ia berada di belakang motor Derby sekarang, menghirup kebebasan, bukan menghirup aroma kopi dan otoritas Morgan.
Saat jam istirahat tiba, Morgan mengumumkan bahwa ia ingin semua mahasiswa baru mengumpulkan draf rencana studi mereka di mejanya sebelum pukul dua siang.
"Kecuali Saudari Liana Shine," Morgan mengemas tasnya. "Ikut ke ruangan saya sekarang. Ada beberapa dokumen administrasi dari kakak Anda yang harus kita selesaikan."
Kalimat itu memicu gelombang bisikan baru. Liana mengutuk dalam hati. Morgan sedang bermain api dengan membawa-bawa nama Liam. Dengan langkah malas, Liana mengikuti Morgan keluar kelas, menjaga jarak beberapa meter di belakangnya agar tidak terlihat terlalu akrab.
Mereka sampai di kantor dosen yang sunyi. Begitu pintu tertutup, Morgan meletakkan tasnya dan berbalik. Wajah "dosen" itu hilang, digantikan oleh wajah "suami kontrak" yang dingin.
"Apa-apaan kau tadi?" desis Liana. "Semua orang akan curiga!"
"Semua orang akan curiga jika kau terus bertingkah seperti preman di kelasku, Liana," balas Morgan sambil melepas kacamata bacanya. "Kau datang terlambat, mengenakan kacamata hitam, dan tidak mencatat satu patah kata pun. Kau ingin merahasiakan pernikahan ini, atau kau ingin berteriak pada dunia bahwa kau adalah mahasiswi bermasalah?"
"Aku tidak peduli! Aku ingin ponselku kembali!" Liana mendekat ke meja Morgan, matanya berkilat. "Aku tahu kau menyimpannya di tas itu!"
"Kau akan mendapatkannya sore nanti, sesuai perjanjian," Morgan duduk di kursinya, membuka laptop seolah Liana tidak ada di sana. "Sekarang, keluar. Temui teman-temanmu, atau lakukan apa pun yang dilakukan anak usia delapan belas tahun. Tapi jangan lewatkan jam makan siang. Aku tidak mau Liam mengira aku tidak memberimu makan."
Liana menghentakkan kakinya dan keluar dari ruangan itu. Namun, ia tidak menuju kantin. Ia berlari menuju pintu belakang gedung fakultas, tempat di mana Derby sudah berjanji akan menunggunya.
Di balik bayangan pohon ek besar, Derby bersandar pada motornya. Begitu melihat Liana, ia menyeringai dan merangkul pinggang gadis itu.
"Bagaimana kelas si dosen tua itu? Dia membuatmu bosan?" tanya Derby sambil mengembuskan asap rokok ke udara.
"Dia monster, Derby. Dia mengambil ponselku," adu Liana, menyandarkan kepalanya di dada Derby yang keras. Hanya di sini ia merasa memiliki kendali atas hidupnya.
"Sialan. Mau aku berikan pelajaran?" Derby mengepalkan tangannya. "Aku tidak suka cara dia menatapmu tadi pagi."
"Jangan, Derby. Kakakku bisa tahu," Liana menarik kerah jaket Derby. "Bawa aku pergi sebentar. Aku butuh udara segar. Hanya satu jam."
Derby tertawa dan memberikan helm pada Liana. "Ayo, Tuan Putri. Kita cari tempat yang tidak punya aturan."
Liana naik ke belakang motor Derby, memeluk pinggang pria itu erat-erat saat motor itu meraung meninggalkan area kampus. Ia merasa menang. Ia merasa telah mematahkan rantai yang dipasang Morgan.
Namun, satu jam yang direncanakan berubah menjadi tiga jam. Liana kehilangan jejak waktu saat Derby membawanya ke sebuah tempat bilyar di pinggiran kota. Ia baru tersadar saat melihat jam di dinding tempat itu menunjukkan pukul 14:15.
"Sial! Aku ada kelas jam dua!" Liana panik.
"Sudahlah, bolos saja sekali-sekali," rayu Derby.
"Tidak bisa, Derby! Pria itu ... dia akan melaporkannya pada Kak Liam!"
Liana memaksa Derby mengantarnya kembali. Saat ia sampai di gerbang belakang fakultas, suasananya sudah sepi. Liana berlari menuju kelasnya, namun kelas sudah berakhir sepuluh menit yang lalu. Dengan napas terengah-engah, ia berjalan menuju parkiran, berharap bisa bersembunyi di suatu tempat sebelum Morgan menemukannya.
Namun, Morgan sudah berdiri di samping mobilnya. Ia tidak sedang membaca buku. Ia hanya berdiri di sana, menatap jam tangannya dengan ekspresi yang begitu gelap hingga Liana merasa suhu di sekitarnya turun drastis.
"Kau bolos kelas Pengantar Bisnis," ucap Morgan saat Liana mendekat. Suaranya tidak keras, tapi tajam seperti silet.
"Aku ... aku tadi ke perpustakaan dan tertidur," Liana berbohong, matanya menghindari tatapan Morgan.
Morgan berjalan mendekati Liana. Ia tidak berhenti sampai jarak mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. Aroma asap rokok dari jaket Derby masih menempel kuat di baju Liana, dan Morgan bisa menciumnya dengan jelas.
"Perpustakaan tidak berbau asap rokok murahan, Liana," Morgan menarik pergelangan tangan Liana, tidak menyakitinya, tapi cukup kuat untuk mencegahnya kabur. "Kau pergi dengan pria itu lagi."
"Lepaskan! Kau bukan pemilikku!"
"Aku adalah suamimu secara hukum, dan aku adalah dosenmu di sini," Morgan menarik Liana menuju mobil dan membukakan pintu dengan kasar. "Masuk. Sekarang."
Di dalam mobil, suasana benar-benar mencekam. Morgan tidak menyalakan mesin. Ia hanya duduk diam, mencengkeram kemudi hingga buku jarinya memutih.
"Kau pikir ini permainan?" tanya Morgan tiba-tiba. "Liam menyerahkanmu padaku karena dia ingin kau punya masa depan. Tapi kau lebih memilih pria yang bahkan tidak bisa membelikanmu helm yang layak?"
"Dia mencintaiku! Sesuatu yang tidak akan pernah kau mengerti karena kau hanya punya es di dalam dadamu!" teriak Liana.
Morgan berbalik, menatap Liana dengan mata yang berkilat marah—emosi pertama yang benar-benar nyata yang pernah Liana lihat dari pria itu. "Cinta? Dia mencintaimu dengan cara membawamu bolos dan membiarkanmu terancam kehilangan beasiswa? Itu bukan cinta, Liana. Itu sabotase."
Morgan merogoh saku jasnya dan mengeluarkan ponsel Liana. Liana mencoba meraihnya, tapi Morgan menahannya tinggi-tinggi.
"Kau melanggar tiga aturan hari ini," ucap Morgan. "Satu, kau pergi tanpa izin. Dua, kau membolos. Tiga, kau berbohong padaku."
"Berikan ponselku!"
"Ponsel ini akan tetap bersamaku selama satu bulan," Morgan memasukkan kembali ponsel itu. "Dan mulai besok, kau tidak akan turun di parkiran ini. Kau akan ikut denganku ke kantor dosen setiap pagi, dan kau akan duduk di sana sampai jam kuliahmu dimulai. Aku akan mengawasimu setiap detik."
"Kau tidak bisa melakukan itu!"
"Aku bisa, dan aku akan melakukannya," Morgan menyalakan mesin mobil dengan sentakan kasar. "Sekarang, kita pulang. Kau punya waktu dua jam untuk mengerjakan tugas yang kau lewatkan tadi, atau aku sendiri yang akan menelepon Liam dan memintanya mengirimmu ke asrama militer di luar negeri."
Liana bersandar di kursinya, menangis dalam diam. Ia menatap ke luar jendela, melihat motor Derby yang melintas di jalur sebelah. Derby mencoba melambaikan tangan, tapi Morgan sengaja menginjak gas, meninggalkan motor itu jauh di belakang.
Sesampainya di apartemen, Liana langsung berlari ke kamarnya dan mencoba mengunci pintu. Namun, ia menyadari kunci kamarnya sudah tidak ada. Di atas meja belajarnya, terdapat sebuah buku catatan baru dan sebuah catatan kecil dari Morgan:
"Jangan cari kuncinya. Mulai malam ini, pintu kamar ini harus terbuka sepuluh sentimeter setiap saat agar aku bisa memastikan kau tidak menghubungi siapa pun secara sembunyi-sembunyi. Aturan baru, Liana. Selamat datang di kenyataan."
Liana menoleh dan melihat Morgan berdiri di ambang pintu, memegang penggaris untuk mengukur celah pintu tersebut dengan ekspresi dingin yang tak tergoyahkan.