Setelah hidup lontang-lantung selama separuh hidupnya, Denzel Bastian mengacaukan kehidupannya dengan tangan sendiri. Dia kehilangan istri dan ketiga anak kembar untuk selamanya. Hingga saat berada dalam lautan api, istri yang sudah bercerai bertahun-tahun dengannya tanpa ragu menerjang masuk ke kobaran api untuk mati bersamanya.
Denzel pun sadar, ternyata istrinya begitu mencintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Bab 25 Denzel, Ini Sakit Sekali
Fiona mengobrak-abrik kamar untuk waktu yang lama, sebelum akhirnya menyembunyikan uang lebih dari dua puluh juta rupiah itu.
Begitu Fiona kembali ke ruang utama, Denzel yang takut bayi-bayinya kelaparan, mengajak Fiona ke kota untuk berbelanja bahan makan.
Di gerbang rumah.
Denzel menutup gerbang rumah, lalu menatap Fiona dengan ragu-ragu dan berkata, "Sebaiknya aku pergi sendiri."
Setelah mengatakannya, Fiona berjalan pergi.
"Kalau begitu jangan cepat-cepat, perhatikan jalannya."
Denzel menasihati Fiona dan menyusulnya.
Jam segini, biasanya bapak-bapak dan ibu-ibu di desa keluar untuk menghabiskan waktu dan mengobrol setelah makan.
Cerita Denzel yang dipukuli oleh ayah mertuanya hari ini sudah tersebar ke seluruh desa.
Lagi pula, ada mobil mewah yang parkir di depan rumah Denzel hari ini.
Jadi, tidak dapat dihindari ada beberapa orang yang menguping pembicaraan mereka.
Meskipun Fiona telah mengobati luka di wajah Denzel, wajah Danzel
"Enggak, kita pergi bersama. Aku takut kamu akan menghambur-hamburkan uang. Aku juga harus ke pabrik untuk mengajukan cuti pada manajer."
Masih terlihat mengerikan.
Semua orang di desa terkejut melihat Denzel pergi bersama Fiona untuk pertama kalinya.
Seluruh Desa Floria tahu bahwa Denzel sangat dingin terhadap istrinya.
Denzel hampir tidak pernah tersenyum pada istrinya. Mereka bahkan tidak pernah keluar bersama. Namun, hari ini mereka pergi bersama untuk pertama kalinya.
Tak lama kemudian, mereka berdua sampai di pohon beringin besar di pintu masuk desa. Denzel menyapa para ibu-ibu dengan sopan.
Fiona juga menyapa mereka, lalu Fiona dan Denzel pergi bersama.
Para ibu-ibu itu terdiam melihat pasangan muda yang tampak akrab itu, mereka sangat penasaran.
"Hiss ... ini aneh. Denzel dipukuli hingga begitu parah oleh ayah mertuanya hari ini. Tapi, dia tidak melampiaskannya pada istrinya. Sepertinya hubungan mereka berdua membaik?"
"Benar, tadi aku sempat dengar tentang perceraian atau semacamnya. Kemudian, ayah mertua Denzel pergi dengan marah. Mungkin Fiona enggak mau pulang bersama ayahnya!"
Salah satu ibu-ibu itu berdecak. "Fiona terlihat pintar. Kenapa pikirannya jadi tidak rasional kalau berhubungan dengan Denzel? Bukankah menjadi nona besar jauh lebih baik daripada hidup bersama bajingan itu?"
"Mungkin Denzel berhasil merayu Fiona. Lagi pula, kalau Fiona benar-benar pergi, siapa yang akan merawat dia, Danzel 'kan pengangguran!"
"Aduh, bocah brengsek ini."
Para ibu-ibu itu tidak berani membicarakan Denzel secara terang-terangan. Begitu Hanzel dan Fiona sudah berjalan menjauh, para ibu-ibu itu mulai membicarakan mereka dengan penuh semangat.
Denzel dan Fiona menghabiskan waktu hampir satu setengah jam untuk membeli bahan makanan.
Denzel biasanya berjalan dengan cepat, tetapi hari ini dia ditemani oleh seseorang yang berkaki pendek.
Meskipun Fiona lebih tinggi daripada wanita pada umumnya, dibandingkan dengan Denzel yang tingginya 186 cm, Fiona terlihat sangat pendek.
Ditambah lagi, ketika mereka
Membeli sayuran di supermarket di kota, Fiona berusaha untuk menghemat uang sehingga dia menghabiskan banyak waktu untuk memilih bahan makanan yang murah.
Pada akhirnya, Denzel tidak sabar dan langsung mengambil beberapa iga besar, daging sapi, dan beberapa sayuran segar. Kemudian, dia menarik Fiona yang merasa sayang keluar dari supermarket dan pulang.
Jika Denzel tidak mengambil inisiatif, Fiona mungkin masih berkutat di supermarket.
Ketika sampai di rumah, mereka langsung pergi ke dapur. Fiona menyiduk air untuk membersihkan iga sapi sambil bergumam dengan pelan, "Sekali belanja habis seratus tiga puluh enam ribu rupiah, itu terlalu mahal."
"Itu gajiku selama setengah hari."
Denzel baru saja menyalakan tungku. Mendengar gumaman Fiona, dia tertegun. Seolah-olah menyadari sesuatu, Denzel menatap Fiona dan berkata, "Gaji setengah hari? Bukankah gajimu cuma lima juta dua ratus ribu rupiah perbulan? Apa bisa dapat seratus tiga puluh enam ribu rupiah dalam setengah hari?"
Fiona kaget dan pura-pura terbatuk. "Kamu salah dengar, aku tadi bilang lebih dari setengah hari. Bagaimana mungkin aku dibayar seratus tiga puluh enam ribu rupiah dalam setengah hari?"
Denzel langsung paham saat melihat respons Fiona yang kikuk karena keceplosan.
Ternyata gaji bulanan Fiona lebih dari lima juta dua ratus ribu rupiah.
Fiona bekerja selama belasan jam
Sehari. Bagaimana mungkin gajinya sekecil itu. Ternyata, Fiona diam-diam memiliki tabungan pribadi.
Dulu, sifat Denzel sangat buruk. Jika Fiona tidak melakukannya, Denzel pasti sudah meminta semua uangnya.
Memikirkan hal ini, Fiona pasti sangat kesulitan saat itu.
Denzel berdiri dan berjalan ke arah Fiona. Dia mengulurkan tangannya dan menyentuh wajah mulus Fiona. "Sudah, selanjutnya biar aku saja."
Fiona tidak sengaja mendongak dan menatap Denzel di sampingnya.
Wajahnya terasa panas sekarang.
Kenapa Denzel tiba-tiba menyentuh wajahnya...
Denzel memandangi Fiona yang mukanya kotor dan tersenyum. Kemudian, dia menyentuh sisi wajah
Fiona yang lain. "Minggirlah, kucing kecil kotor."
Fiona tersipu karena Denzel menyentuh wajahnya lagi, terutama ketika dia melihat senyum tipis di wajah Denzel. Wajah Fiona semakin panas dan jantungnya berdebar-debar.
Sikap Denzel terhadapnya sekarang sangat berbeda dengan sebelumnya.
Fiona mulai kewalahan menghadapi sikap Denzel.
Tiba-tiba Fiona tertegun, dia merasa, sepertinya ada yang salah.
Kucing kecil kotor?
Barusan, Denzel memanggilnya kucing kecil kotor. Apakah ada sesuatu di wajahnya?
Detik berikutnya, Fiona baru menyadarinya. Fiona mengulurkan
Tangan dan menyentuh wajahnya yang baru saja disentuh oleh Denzel.
kemudian, dia membersihkan abu di wajahnya...
Orang ini
Denzel sudah membersihkan iga dan menuangkannya ke dalam wajan besar berisi air panas di atas tungku.
Denzel mengeluarkan spatula dan mengaduk iga yang ada di dalam wajan.
Dia baru mau berbalik dan bersiap untuk memotong lobak putih.
Begitu Denzel berbalik, dia merasakan tatapan marah Fiona yang sedang berdiri di sampingnya.
"Ada apa kucing kecil kotor?"
Denzel sengaja menanyakan pertanyaan yang sudah diketahui jawabannya. Dia mulai membersihkan lobak dengan cepat, lalu meletakkannya
Di talenan dan memotongnya.
Fiona menatap wajah Denzel yang seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Dia tidak peduli kalau Denzel marah padanya. Fiona berbalik dan berjalan ke arah tungku untuk mengambil sedikit abu, lalu dia berjalan ke arah Denzel dan berjinjit. Fiona mengulurkan tangannya dan mengusapkan abu tersebut di wajah Denzel.
"Aduh..."
Wajah Denzel masih agak bengkak. Jadi, begitu disentuh Fiona, Denzel langsung meringis kesakitan.
Fiona juga bereaksi. Tangan kecilnya membeku di udara dan dia menatap Denzel. "Apa kamu baik-baik saja?"
Melihat ekspresi tegang Fiona, Denzel semakin lebai, "Sepertinya abunya masuk ke dalam lukaku. Ini sakit sekali."
Fiona langsung panik saat Denzel mengerutkan alisnya, "Coba aku lihat."
Denzel berbalik dan menundukkan kepalanya sedikit, dia masih berpura-pura kesakitan.
Fiona mengerutkan alis dan berjinjit untuk melihat lebih dekat luka di wajah Denzel. "Sepertinya tidak kena lukanya, coba aku bersihkan ya?"
Saat Fiona berbicara, dia mengulurkan ujung jarinya yang bersih dan menyeka wajah Denzel dengan lembut. Fiona tidak menyadari bahwa mereka sangat dekat saat ini.
Sentuhan dingin terasa di wajah Denzel yang panas. Denzel menurunkan kelopak matanya, lalu menatap wajah cantik Fiona. Kelembutan terpancar dari tatapan mata Fiona yang sedang fokus membersihkan luka Denzel.
Denzel merasa jantungnya berdetak
Kencang dalam sekejap.
Di lubuk hati Denzel, dia memiliki dorongan yang tidak dapat dijelaskan untuk memeluk Fiona.
Pada saat yang sama, Denzel secara naluriah mengulurkan tangannya...