Ada yang bilang anak perempuan itu kesayangan ayahnya
tapi, Anisa bukan putri kandung keluarga ini
Ia anak adopsi yang kebetulan bertemu dengan James Arthur didepan panti asuhannya.
Pertama kali melihat Anisa James langsung membawanya.
Anisa menjadi kesayangan James saja nyawanya hampir dalam bahaya.
Karena Anisa sadar ia kesayangan pria yang dianggapnya ayah sekarang semua bahaya itu ia tantang seperti masalah kecil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sky tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan sampai Anisa tahu hal ini
Tentang Rosa Alba Australis. Perempuan di masa lalu yang pernah dekat dengan dengan James dia adalah perempuan yang datang dari keluarga berada bahkan sejajar tingkat sosialnya dengan keluarga Oceanus.
Rosa memiliki mata coklat keemasan rambut hitam panjang juga memiliki bentuk wajah yang sama sekali tak jauh beda dengan Anisa.
Kebetulan juga di keluarga Oceanus mewarisi gen mata coklat keemasan dan rambut hitam yang mirip dengan keluarga Australis.
James merasa langsung dekat dengan nya saat suara lantangnya membuatnya pertama kali merasa tak di takuti bahkan nada bicara yang angkuh itu tak jauh beda saat ia kecil tak suka ada orang yang berlama-lama di sekitarnya.
"Tuan." Sopir yang menyarankan Silva dan James untuk datang ke panti asuhan itu akhirnya masuk dan Canaria menatapnya curiga.
"Alasan saya menyarankannya adalah waktu itu saya yang sedang berlibur dan sekitar tempat itu adalah kampung halaman keluarga saya, tak sengaja saya melihat tulisan didepan halaman jika itu termasuk panti asuhan, saya tidak tahu dalamnya seperti apa, karena Tuan Silva kehabisan ide saya memberi saran saja datang kesana... Tentang masalah di tempat itu saya tidak paham karena bukan orang yang selalu ada disana atau sering pergi ke lingkungan itu." Suara yang tidak ragu bahkan wajahnya juga memperlihatkan ia tak bohong matanya juga menatap James tanpa rasa takut.
Silva menepuk bahunya dan memintanya keluar dari ruangan.
James duduk di kursi kerjanya ya dan menatap ketiganya.
"Canaria kau yang akan bertugas mengurus Anisa dan Sol kau Carikan pelayan yang benar-benar bisa diandalkan didekat Anisa. Dan kau, Silva bagaimana dengan kasus yang di tangani polisi apa yang di katakan mereka tentang hukumannya?"
Silva menceritakan betapa mengerikannya panti asuhan itu dan juga tentang hukuman yang di terima para pengurus adalah hukuman mati dan penjara seumur hidup untuk mereka yang tidak melakukan kekerasan atau hanya membantu jika pelaku utama adalah hukuman mati.
"Dan... Sol panggilkan dokter wanita untuk memeriksa beberapa luka yang di alami Anisa aku mau dia sembuh bukan tambah sakit."
Semuanya keluar kecuali Silva karena akan melanjutkan pekerjaan kantor yang sempat tertunda.
Di kamarnya Anisa merasa sangat sepi. Apa yang harus ia lakukan karena masih siang bermalas-malasan ini membuatnya jenuh, biasanya ia akan melakukan banyak hal. Mata yang terus menerus mencari sesuatu, akhirnya menemukan buku yang menarik dari sampulnya di rak dekat meja belajarnya.
Di ambilnya dengan tangga kecil dan di bawanya duduk diatas karpet.
Di baca sampai tak terasa waktu berlalu dan suara ketukan pintu mengagetkan nya.
"Anisa?"
"Ah iya." Ternyata ayahnya masuk dengan pakaian sudah bukan yang tadi Anisa lihat sangat aneh menurutnya.
"Ayah tidak salah memakai baju, ini kan kamar perempuan, ayah itu berhadapan dengan perempuan normal gunakan pakaian yang baik bukan yang memperlihatkan dada bidang ayah dan tali yang sengaja di longgarkan... atas terlihat seksi tau."
Seketika membeku di tempatnya, bagaimana ia bisa tak berkutik di hadapan anaknya. James kalah telak baru saja beberapa hari bersama ia sudah mendapatkan lawan yang sepadan.
"Aku akan menggantinya nanti."
Anisa bergeser memberikan tempat untuk ayahnya duduk bersamanya.
"Apa yang kau lakukan?"
"Membaca, aku bosan."
"Jika bosan di kamar datanglah keruang kerja ayah dan jika mau jalan-jalan di halaman atau kau ingin makan dan ingin kueh pinta pada pelayan telpon dengan itu disana kau tidak di beri tahu?"
"Di jelaskan saja kalo butuh sesuatu telpon dengan itu, aku malas aku ingin rasa yang berbeda tapi, bingung sekali... Ah selagi ada ayah bagaimana kalo kita berjalan-jalan bersama." James salah bicara ia harusnya tak mengatakan itu sekarang, sejujurnya ia hanya ingin istirahat bukan jalan-jalan santai lagi.
"Ayo aku akan menggendongmu."
"Tidak aku bisa jalan sendiri." Tersenyum tipis James melihatnya pergi meletakkan buku di tempatnya dan berlalu sendirian meninggalkannya.
Di taman rumah sekarang, cuaca cerah dan mulai terasa dingin.
"Sebentar lagi akan gelap, seharusnya kau memakai syal." James mengangkatnya dan mengendornya berjalan jalan sambil menjawab semua pertanyaan remeh Anis.
Sampai saat yang sama pertanyaan tak terduga membuat James berpikir.
"Ayah kenapa mata dan rambut kita mirip bahkan kita memiliki tatapan yang sama, Ayah apa kita punya hubungan? Kurasa tidak karena katanya aku di buang oleh pria tua yang memiliki bau menyengat seperti gelandangan dan juga penyakit kulit."
"Bagaimana ibu mu?"
"Aku tidak perduli lagi pula aku tahu pun itu tak akan mengubah apapun tapi, aku benci jika membicarakannya."
"Bagus lah, aku ayahmu kau hanya perlu punya aku dalam hidupmu."
"Tentu punya ayah yang tampan dan super seksi dengan tubuh yang begitu bagus aku suka sekali, ini berkah dalam hidup yang hanya sekali."
Tawa yang terdengar aneh mengerikan dari Nisa membuat James menulikan pendengarannya.
"Hahaha Ayah ku yang seksi."
"Kau harus privat kesopanan besok, tata krama mu buruk."
"Aku hanya meniru apa yang di katakan para pengurus panti, tahu."
James kembali marah karena Anisa mengatakan alasannya bisa kurang ajar dalam bahasanya bicara karena pengurus panti.
Benar-benar tak bisa di biarkan ya mereka.
Selama jalan-jalan di halaman dan kini hari hampir benar-benar gelap.
Sol menunggu keduanya di teras lorong mengamati keduanya mendekat. Salah satu pelayang yang bersama Sol sudah membawa selimut hangatnya.
"Biar aku yang membawanya berikan selimut itu." Sol mengambilnya dari pelayan di belakangnya dan memakaikannya pada Nona kecil yang langsung terlihat nyaman. Pipi gembulnya yang memerah perlahan sedikit berubah merah jambu.
James berjalan lebih dulu di ikuti Sol dan dua pelayan di belakang Sol.
Sampai di kamarnya, James membaringkan Anisa perlahan tak lupa menyelimutinya dan mengusap kepalanya.
Anisa merasakan sentuhan sedikit tersenyum sedikit sadar.
"Ayah tak akan memberikan ciuman selamat tidur, aku mau itu... Ayah." James terdiam menarik tangan yang mengusap kepala Anisa dan kembali Anisa terlelap.
Setelah lama mengamati James memberikan kecupan selamat tidur di pucuk kepala Anisa dan ucapan manis.
"Tidur yang nyenyak nak."
Keluar kamar Anisa Sol dan dua pelayan menunggunya.
"Aku akan pergi mengurus bisnis diluar kota selama dua hari, Anisa tidak boleh tahu aku mencari ibunya."
"Siapapun yang datang langsung laporkan pada Silva."
Sol dan kedua pelayan mengangguk mengerti dengan maksud Javier dan juga ekspresi yang seperti memperingatkan untuk hati-hati terhadap Anisa.
Di dalam kamarnya James langsung masuk ke kamar mandi dan bersiap sambil mendengarkan Silva bicara masalah bisnis yang ada di kantor luar kota. Silva menunggunya berganti pakaian formal jas dan setelan juga sudah siap dengan mantel hitam lalu menyerahkan laporan bisnis di luar kota.
"Kita tidak melakukan masalah bisnis yang utama."
"Iya Tuan, Penyelidikan tentang Nona Rosa Alba sudah bertambah lokasinya."
Setelah laporan Silva selesai James baca. Mobil yang di kendarai Farez si sopir yang sama yang menyarankan mendatangi panti asuhan tempat Anisa berada sudah siap.
Kepergian James tidak di ketahui Anisa yang sudah lelap tidurnya. Alasan mengurus bisnis di luar kota adalah alasan bohong hal utamanya adalah mencari keberadaan Rosa Alba.