NovelToon NovelToon
Cinta Ini Belum Usai

Cinta Ini Belum Usai

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Percintaan Konglomerat / Saudara palsu
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Baby.Scorpio

Sekar memutuskan untuk pulang ke ibukota Jakarta setelah mendengar berita tentang pertunangan kakak angkatnya Rahman Hakim Wijaya. Ada gejolak rasa yang tidak bisa ia jelaskan timbul di hatinya. Entah itu rasa sayang, cinta, atau hanya sekedar rasa peduli sebagai keluarga yang berbahagia mendengar berita tersebut, tiada yang tahu.

Awalnya semuanya baik-baik saja. Sampai kabar lama itu menyebar luas, dan menghancurkan segalanya. Karirnya, harapannya, atau bahkan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baby.Scorpio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.24 Operasi tanpa pisau bedah

Lampu neon di dalam bunker persembunyian di pinggiran Zurich berdengung rendah, menciptakan suasana yang kaku dan mencekam.

Tempat ini milik seorang mantan kolega ayah Alvin, sebuah apartemen bawah tanah yang lebih mirip fasilitas medis pribadi daripada tempat tinggal.

Udara di sini kering, berbau ozon dan pembersih lantai rumah sakit—aroma yang seharusnya membuat Sekar merasa tenang sebagai seorang dokter, namun justru memicu trauma yang baru saja ia coba kubur.

Alvin duduk di sofa kulit yang pecah-pelah, sedang bertelanjang dada sementara Sekar menjahit luka robek di bahunya.

Pria itu tidak meringis sedikit pun, ia hanya menatap langit-langit dengan mata yang nampak kosong, sesekali menyesap wiski dari botol kecil untuk meredam rasa sakit.

"Kau terlalu tegang, Dokter," gumam Alvin, suaranya parau. "Jahitanmu biasanya lebih rapi dari ini."

Sekar tidak menyahut. Tangannya yang mengenakan sarung tangan latex bergerak dengan mekanis. "Diamlah, Alvin. Aku sedang mencoba memastikan ototmu tidak mengalami trauma permanen. Kau beruntung peluru itu hanya menyerempet."

"Aku beruntung karena aku punya dokter bedah kelas dunia yang berutang budi padaku," sahut Alvin dengan senyum miring yang khas. Namun, senyum itu menghilang saat ia melihat Sekar tiba-tiba berhenti.

Sekar menatap Arini yang tertidur pulas di ranjang kecil di sudut ruangan. Anak itu nampak sangat rapuh di balik selimut tebalnya.

Bukan posisi tidurnya yang membuat Sekar membeku, melainkan setetes cairan merah pekat yang mengalir dari lubang hidung Arini, membasahi bantal putih itu.

Sekar segera menjatuhkan peralatan jahitnya dan menghambur ke arah Arini. "Arini? Arini, bangun, Sayang!"

Alvin ikut berdiri, mengabaikan bahunya yang belum selesai dijahit. "Ada apa?"

Sekar tidak menjawab. Ia meraih tisu, menyeka darah dari hidung Arini dengan tangan gemetar.

Ia segera mengambil stetoskop dan senter medis dari tasnya. Pupil mata Arini nampak sedikit melebar saat ia terbangun dengan linglung.

"Ibu... kepalaku pusing lagi," bisik Arini. Suaranya terdengar sangat jauh, sangat mirip dengan suara Lukas di saat-saat terakhirnya di Hamburg.

Sekar merasakan dunia seolah runtuh sekali lagi. Ia segera memeriksa denyut nadi Arini. Takikardia! Jantungnya berdetak terlalu cepat, dan ada suara murmur halus yang tidak pernah terdengar sebelumnya.

Sekar segera mengambil sampel darah Arini menggunakan jarum suntik, lalu memasukkannya ke dalam mesin penganalisis portabel yang ada di bunker tersebut.

Selama lima menit yang terasa seperti selamanya, Sekar dan Alvin berdiri dalam keheningan yang menyesakkan, hanya ditemani suara mesin yang berputar.

Saat hasil analisis keluar di layar monitor, lutut Sekar lemas. Ia harus berpegangan pada meja laboratorium agar tidak jatuh.

"Serum itu..." suara Sekar tercekat. "Bagaimana mungkin?"

Alvin mendekat, membaca angka-angka yang berkedip di layar. "Jelaskan padaku dalam bahasa manusia, Sekar."

"Residu serum biru... ada di dalam darah Arini," Sekar menatap Alvin dengan mata yang penuh ketakutan. "Lukas dan Arini berbagi satu plasenta saat di rahim. Saat Von Hess menyuntikkan serum itu ke tubuh Lukas selama bertahun-tahun melalui prosedur prenatal ilegal yang mereka lakukan dulu, sebagian residunya terserap ke sistem sirkulasi Arini. Itu jumlah yang sangat kecil, tidak aktif selama sepuluh tahun... sampai sekarang."

"Kenapa sekarang?" tanya Alvin tajam.

"Trauma fisik saat kecelakaan mobil tadi. Adrenalin yang melonjak. Itu memicu aktivasi protein dalam serum yang tertidur. Tubuh Arini mulai merombak susunan pembuluh darahnya sendiri, Alvin. Persis seperti yang terjadi pada Lukas."

Alvin terdiam. Tidak ada lagi kata-kata sinis yang keluar dari mulutnya. Ia melihat ke arah Arini yang kini kembali memejamkan mata, nampak tersiksa oleh sakit kepala yang hebat.

Alvin menyadari bahwa musuh yang mereka hadapi sekarang bukan lagi pria bersenjata di puncak Alpen, melainkan musuh mikroskopis yang mengalir di dalam nadi anak itu.

"Apa ada penawarnya?" tanya Alvin.

Sekar menggeleng putus asa. "Von Hess tidak pernah menciptakan penawar karena mereka menganggap serum ini adalah sebuah kesempurnaan. Bagi mereka, kematian Lukas hanyalah ketidaktahanan spesimen. Tapi aku tahu cara menghentikannya secara manual, Alvin."

Sekar bergegas mengelilingi bunker itu, mencari sesuatu yang bahkan Alvin tidak tahu apa yang dia cari. "Aku harus melakukan filtrasi darah total—plasmaferesis—dan menyuntikkan inhibitor protein yang dulu pernah dikembangkan Dr. Steiner secara rahasia."

"Di mana inhibitor itu sekarang?" tanya Alvin.k

"Ada di laboratorium Steiner di Berlin. Tapi laboratorium itu sudah disita oleh pemerintah setelah skandal itu meledak."

Alvin segera meraih kemejanya dan memakainya kembali, meski luka di bahunya mulai merembeskan darah. "Aku akan mendapatkannya."

"Alvin, itu bunuh diri! Tempat itu dijaga ketat!"

Alvin berhenti di depan pintu, menatap Sekar dengan pandangan yang dalam. "Aku sudah menjadi cameo dalam hidupmu selama bertahun-tahun, Sekar. Menjagamu dari jauh, membersihkan jejak-jejak kotor keluargamu agar kamu bisa keluar dari penjara dengan nama yang bersih. Aku tidak akan membiarkan anak ini mati setelah semua yang aku lalui."

Alvin melangkah mendekati Sekar, menyentuh pipinya dengan tangan yang kasar namun lembut. "Jaga Arini tetap stabil. Berikan dia cairan intravena apa pun yang kau bisa. Aku akan kembali dalam empat puluh delapan jam membawa inhibitor itu, atau aku tidak akan kembali sama sekali."

Sekar ingin melarangnya, namun ia tahu ia tidak punya pilihan. Ia melihat Alvin pergi, menghilang ke dalam kegelapan lorong bunker.

Untuk pertama kalinya, Sekar menyadari bahwa Alvin bukan hanya sekadar pelindung karena rasa bersalah. Pria itu benar-benar memberikan hidupnya sebagai tumbal bagi kebahagiaan Sekar yang cacat.

Setelah Alvin pergi, Sekar kembali fokus pada Arini. Ia memasang infus dan memantau setiap perubahan pada monitor. Di dalam kesunyian bunker, Sekar mulai merasa seolah-olah ia tidak sendirian.

Udara di ruangan itu mendadak menjadi dingin, membawa aroma cendana yang samar.

"Rahman..." bisik Sekar.

Ia tidak melihat bayangan apa pun kali ini, namun ia merasa ada seseorang yang berdiri di sisi lain ranjang Arini.

Sebuah kehadiran yang menenangkan, seolah-olah memberikan dukungan moral agar ia tidak menyerah.

"Kau melihatnya juga, kan?" Sekar berbicara pada udara kosong. "Kau tahu ini akan terjadi. Itu sebabnya kau menyembunyikan Arini? Karena kau tahu darahmu adalah racun bagi mereka?"

Sekar merasa ada sebuah dorongan di pikirannya. Ia teringat pada catatan Dr. Steiner yang pernah ia baca saat di Hamburg.

Ada satu cara untuk memperlambat reaksi serum tersebut sebelum inhibitor sampai, hipotermia terkendali. Ia harus menurunkan suhu tubuh Arini ke titik tertentu agar metabolisme protein serum melambat.

Dengan cekatan, Sekar mulai mengumpulkan kantong-kantong es dari kulkas laboratorium dan menatanya di sekitar tubuh Arini.

Ia harus menjaga suhu Arini di angka 34 derajat Celsius. Terlalu rendah, Arini akan terkena radang paru-paru; terlalu tinggi, serum itu akan melahap otaknya.

Ini adalah operasi bedah tanpa pisau yang paling menegangkan dalam hidupnya.

Sementara Sekar berjuang di Zurich, Berlin, Alvin sedang merayap di antara bayang-bayang gudang penyimpanan bukti pemerintah. Dengan koneksi gelapnya, ia berhasil masuk ke dalam fasilitas tersebut.

Ia menemukan koper besi milik Dr. Steiner. Namun, saat ia hendak mengambilnya, lampu sorot tiba-tiba menyala.

"Alvin Pratama. Kau benar-benar tidak tahu kapan harus berhenti."

Seorang pria tua dengan kursi roda muncul dari balik kegelapan. Tuan Von Hess yang asli.

Pria yang seharusnya sudah mendekam di penjara atau rumah sakit, namun entah bagaimana masih memiliki kekuasaan untuk berada di sana.

"Tuan Von Hess," Alvin tersenyum dingin, tangannya tetap memegang koper tersebut. "Aku pikir Anda sudah sibuk menyiapkan pengadilan akhirat Anda."

"Aku butuh anak itu, Alvin. Arini adalah hasil yang murni. Tanpa serum primer, tubuhnya mengadaptasi residu itu secara alami. Dia adalah kunci keabadian yang sesungguhnya," kata Von Hess dengan suara gemetar karena usia namun penuh ambisi.

Alvin mengeluarkan sebuah granat asap dari sakunya. "Maaf, Tuan. Tapi spesimen yang Anda cari adalah seorang anak yang sedang menunggu ibunya pulang. Dan aku tidak suka berbagi."

Alvin meledakkan granat itu, memenuhi ruangan dengan asap pekat, dan melompat keluar melalui jendela kaca yang pecah tepat saat suara tembakan mulai menyalak.

Ia berlari menembus hujan Berlin, memeluk koper inhibitor itu seolah-olah itu adalah jantungnya sendiri.

Ia terus berlari, mengabaikan rasa sakit di bahunya yang kini terasa seperti terbakar. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal—Sekar— yang sedang menangis di bunker Zurich, dan Arini yang sedang berjuang melawan maut yang pernah merenggut Lukas.

1
EmakKece
Seru! alvin-viona-ibu wijaya.. ??? haduuh gimana ini??
lee dave
update....!
Wayan Sucani
Lanjut dong...
EmakKece
Sepertinya menarik 👏
Wayan Sucani
Asli tegang bacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!