NovelToon NovelToon
Jerat Sentuhan Berbahaya

Jerat Sentuhan Berbahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Obsesi / Harem
Popularitas:935
Nilai: 5
Nama Author: Lily Quinza

"Aku membencimu saat kau menyentuhku!"

"Benarkah? Tapi aku melihat bagaimana respon tubuhmu."

"Hentikan! Jangan sentuh aku!"

"Jika aku tak mau?"

"Kau tidak waras!"

Rodriguez De La Vega Navarro, CEO paling berkuasa di London, kehilangan satu hal yang tak bisa dibeli dengan uang Valeria De Luca.

Dua tahun setelah perpisahan tanpa penjelasan, takdir mempertemukan mereka kembali di toko kue milik Valeria. Satu tatapan cukup untuk membuka luka lama dan membangkitkan perasaan yang seharusnya telah mati.

Cinta berubah menjadi obsesi. Akankah Valeria bertahan.....
atau Rodrigo menghancurkan segalanya demi memilikinya kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Quinza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 Ciuman memabukkan

Malam merambat perlahan di kota London, menyisakan langit berwarna jingga yang memudar menjadi ungu kelam.

Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, memantulkan cahaya temaram di trotoar yang basah oleh sisa gerimis sore tadi.

Di dalam toko kue kecil milik Valeria, aroma vanila dan kayu manis masih menggantung di udara. Etalase sudah ditutup, kursi-kursi dirapikan, hanya lampu gantung di sudut ruangan yang menyala redup, menciptakan bayangan panjang di dinding bata.

Angin malam tidak berdesir lembut, ia mengamuk. Hembusannya menghantam kaca jendela, membuat kaca tersebut bergetar halus.

Rodrigo duduk di sofa dekat jendela, ponsel di tangan. Wajahnya terlihat serius ketika ia menghubungi Jared, membicarakan pekerjaan yang seharusnya ia selesaikan besok. Suaranya rendah, terkendali. Namun, tatapannya sesekali melayang ke arah Valeria.

Gadis itu duduk di bibir ranjang, yang berada di lantai atas toko kue miliknya. novel terbuka di pangkuannya. Namun kalimat-kalimat di halaman itu semakin kabur. Kelopak matanya berat. Hawa dingin merayap di sela-sela dinding, menyentuh kulitnya yang lelah setelah seharian bekerja. Padahal ia baru saja selesai makan malam 30 menit yang lalu tapi kantuk itu menyerang hebat.

Novel itu perlahan melorot dari tangannya.

Valeria tertidur. Rodrigo terdiam di tengah kalimatnya.

“Ya, kita bahas lagi besok,” ujarnya singkat pada Jared sebelum mematikan panggilan.

Hening.

Hanya suara angin dan detak jantungnya sendiri yang terdengar jelas. Ia menoleh.

Valeria benar-benar tertidur. Wajahnya tenang. Bibirnya sedikit terbuka. Rambut ikalnya menjuntai menutupi sebagian pipinya.

Rodrigo berdiri perlahan. Luka tusuk di perutnya masih terasa ngilu, terutama saat ia bergerak terlalu cepat. Namun malam ini rasa sakit itu seperti tidak berarti apa-apa.

Ini kesempatannya.

Langkahnya mendekat ke bibir ranjang. Ia berdiri memandangi wajah Valeria dari jarak yang terlalu dekat untuk disebut aman.

Cantik.

Terlalu cantik untuk sekadar dipandang.

Tangannya terulur, ragu hanya sepersekian detik, sebelum akhirnya menepis jarak. Ia menyentuh rambut ikal yang menjuntai di pipi Valeria, mengusapnya perlahan, seolah takut membangunkannya. Namun ia juga berharap ia terbangun.

Rodrigo menelan ludah.

“Sial, dia terlalu cantik,” gumamnya lirih.

Namun tubuhnya tidak mendengarkan akalnya.

Ia semakin mendekat. Luka di perutnya sedikit menekan saat ia membungkuk, rasa nyeri menjalar, tapi ia mengabaikannya. Napasnya bercampur dengan udara dingin ruangan.

Wajahnya kini hanya beberapa senti dari wajah Valeria.

Sial.

Ia menunduk mendekat dan mencium bibir Valeria. Hanya sepersekian detik. Namun, cukup untuk membuat dunia berhenti.

Mata Valeria membulat seketika. Ia terbangun dengan sentakan tajam.

Mata Valeria membulat sempurna, wajahnya memerah oleh rasa terkejut. Ia berusaha mendorong dada bidang Rodrigo tapi usahanya kalah, tubuhnya melemas karena ciuman itu memabukkan.

Hmmmpptt

Hhmmmmpptt

“Apa yang kau lakukan?” suaranya bergetar, bukan karena takut, tapi karena emosi yang meledak.

“Diam!” bisiknya rendah di sela napas.

Bukan perintah keras.

Rodrigo memperdalam ciuman itu satu detik lebih lama. Dan detik itu cukup untuk menyadarkan Valeria.Valeria sepontan mengepalkan tangan. Tangan gadis itu mengenai luka Rodrigo membuat pria itu mendesis.

"Ssshhhh!"

"Yatuhan," ujar Valeria terkejut.

Akhirnya mereka mengurai jarak. Perban itu basah lagi, bukan marah yang Valeria rasakan melainkan merasa bersalah.

"M...maafkan aku!" ujarnya, sembari mencebik kesal. "Siapa yang menyuruhmu lancang seperti itu."

"Aku tidak lancang!"

Valeria memicingkan mata, "Kau kehilangan akal, aku tertidur dan kau diam-diam akan memperkosaku?"

"Itu tadi baru awalan."

"Kau sinting. Apa kau tidak bisa melihat lukamu jadi seperti itu!"

Valeria mengambil antiseptik dan kasa, tangannya terampil dan mengganti balutan perban itu.

Sialan!

Rodrigo berbahaya, sangat berbahaya. Lebih sialnya, Valeria mencoba meronta. Sedikit. Lemah. Hatinya berteriak agar ia menjauh. Namun, tubuhnya mengkhianatinya.

Bodoh.

Bodoh sekali.

Dalam batinnya, ia memaki diri sendiri. Ia benci reaksi tubuhnya yang selalu seperti ini saat bersama Rodrigo. Seolah jarak, logika, dan harga diri meleleh begitu saja saat pria itu menyentuhnya.

“Jangan pernah… lakukan itu lagi,” suaranya bergetar, campuran emosi yang sulit diurai.

Rodrigo menatapnya. Ada kilatan puas di matanya, tapi juga sesuatu yang lebih gelap keinginan yang belum padam.

“Kau tidak benar-benar menolakku tadi,” katanya pelan.

Kalimat itu membuat mata Valeria berkilat tajam. “Jangan berani-beraninya menyalahkanku atas perilakumu.”

Rodrigo terdiam. Valeria menekan dadanya sendiri, mencoba menenangkan detak jantungnya.

“Aku benci ini,” bisiknya, lebih pada diri sendiri. “Aku benci, aku membencimu saat kau menyentuhku!”

Rodrigo melangkah mendekat satu langkah lalu berhenti. Ia tahu jika ia melangkah lagi, semuanya bisa benar-benar hancur.

“Itu bukan kebencian,” katanya lirih. “Itu perasaan yang kau takutkan.”

Valeria menatapnya dengan campuran marah dan goyah. “Keluar,kau bisa tidur di sofa bawah!” ucapnya tegas kali ini. “Sebelum kita melakukan hal yang lebih bodoh lagi.”

Angin kembali menghantam kaca jendela toko kue itu. Rodrigo akhirnya mundur.

Namun tatapannya sebelum berbalik jelas mengatakan satu hal Ia belum menyerah.

Dan Valeria paling takut pada kenyataan bahwa sebagian kecil dirinya mungkin juga belum sepenuhnya ingin menyerah.

Kepuasan aneh yang mengalir di dadanya.

Puas. Karena akhirnya ia mencium Valeria.

Sial. Apa yang dilakukan, Rodrigo?

Ia benar-benar sudah kehilangan akal.

“Aku tidak pernah memaksakan apa pun dalam hidupku,” ucapnya pelan. “Tapi denganmu aku takut kehilanganmu.”

Valeria tertawa kecil, pahit. “Kau tidak pernah memilikinya untuk merasa kehilangan.”

Kalimat itu membuat dada Rodrigo terasa sesak. Angin di luar mulai mereda, seolah badai telah melewati puncaknya. Namun badai di dalam ruangan itu belum benar-benar usai.

Rodrigo melangkah mundur.

Satu langkah.

Lalu satu lagi.

“Aku tidak akan menyentuhmu lagi tanpa izinmu,” katanya akhirnya, suaranya lebih terkendali. “Tapi jangan minta aku berhenti menginginkanmu.”

Valeria tidak menjawab. Ia hanya menatapnya dengan mata yang masih waspada. Rodrigo berbalik menuju tangga di untuk menuju ke bawah. Setiap langkahnya terasa berat.

Sial.

Ia memang hampir kehilangan akal.

Di dalam kamar kecil itu, Valeria duduk di tepi ranjang. Tangannya menyentuh bibirnya sendiri, masih teringat sentuhan yang mengejutkan tadi. Ia marah sangat marah. Namun yang membuatnya lebih gelisah adalah kenyataan bahwa jantungnya masih berdetak tidak normal.

“Bodoh,” bisiknya pada diri sendiri.

Malam semakin larut. Di antara aroma sisa kue dan hawa dingin yang menyelinap, dua hati terjaga dalam jarak yang hanya dipisahkan dinding tipis dan ego yang tebal.

Rodrigo duduk di sofa bawah, cahaya temaram menyinari wajahnya. Ia menutup mata, tapi bayangan wajah Valeria terus muncul. Ini bukan lagi sekadar ketertarikan. Ini perang. Dan jika ia tidak berhati-hati, ia bisa kehilangan satu-satunya hal yang ia cintai.

Sementara itu, di dalam kamar, Valeria mematikan lampu. Gelap. Namun pikirannya tetap menyala. Rodrigo masih terlalu dekat. Terlalu hangat. Terlalu nyata. Saat bibir mereka bersentuhan, waktu seperti membeku sepersekian detik dan justru itulah yang menjadi kesalahan terbesar.

Tubuh Valeria melemas. Itu refleks. Bukan keputusan. Hal terbodoh yang pernah ia lakukan lagi. Tangannya yang semula hendak mendorong dada Rodrigo justru kehilangan tenaga. Napasnya tersendat.

Ciuman itu bukan sekadar sentuhan itu terasa memabukkan, hangat, dan berbahaya.

1
ArhanDyy ArhanDyy
pasti nyesek banget tuh si Valeria
Agus Tina
mampir thor bagus kayaknya 😍
Lilyyy: halo say silahkan yah jangan lupa nanti rating 😍🙏
total 1 replies
Dewi wijayanti Ryan setiawan
lanjut thor😍
Lilyyy: ih makasih kak komentar kakak semangat aku 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!