Safira Grace Bastian hanyalah seorang mahasiswa biasa di Kalimantan. Hidupnya terasa tenang bersama kakak yang sukses sebagai pebisnis dan adik yang disiplin sebagai taruna di universitas ternama Jakarta. Keluarga mereka tampak harmonis, hingga suatu malam ayah dan ibu berpamitan dengan alasan sederhana: sang ibu pulang kampung ke Bandung, sang ayah menemui teman lama di Batam. Namun sejak kepergian itu, semua komunikasi terputus. Telepon tak pernah dijawab, pesan tak pernah dibalas, dan alamat yang mereka tuju ternyata kosong. Seolah-olah kedua orang tua lenyap ditelan bumi. Ketiga kakak beradik itu pun memulai perjalanan penuh misteri untuk mencari orang tua mereka. Dalam pencarian, mereka menemukan jejak masa lalu yang kelam: organisasi rahasia, perebutan kekuasaan, dan musuh lama yang kembali bangkit. Rahasia yang selama ini disembunyikan ayah dan ibu perlahan terbuka, membuat mereka bertanya dalam hati: “Apakah ini benar orang tua kami?
ini cerita buatan sendiri!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAFRIDA ANUGRAH NAPITUPULU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepulang dari rumah Amos
Pencarian ini bukan hanya tentang menemukan Ayah dan Ibu.
Tapi tentang mengenal siapa mereka sebenarnya.
Mereka keluar dari rumah Amos tanpa banyak bicara.
Pagi masih terang, tapi langkah Safira terasa berat—seperti setiap meter yang ia lalui membawa pertanyaan baru. Di dalam mobil, Clarissa menyetir dengan rahang mengeras, sementara Adrian menatap keluar jendela, matanya kosong.
Tak satu pun dari mereka tahu harus mulai dari mana.
Safira memeluk tasnya, jari-jarinya meremas tali dengan gelisah. Bayangan foto itu terus muncul di kepalanya. Tatapan ayahnya yang asing. Dingin. Jauh dari ingatan masa kecil yang penuh tawa.
“Ayah bukan orang biasa,” gumamnya pelan, mengulang kata-kata Amos.
Clarissa melirik lewat kaca spion.
“Yang jelas, dia menyembunyikan sesuatu. Dan bukan untuk melindungi dirinya sendiri saja.”
Safira mengangguk, meski dadanya masih berontak menolak kenyataan.
“Tapi Ayah tetap Ayah,” katanya lirih. “Apa pun yang pernah dia lakukan… dia membesarkan kita dengan cara yang benar.”
Mobil berhenti di halaman rumah. Bangunan itu menyambut mereka dengan tenang terlalu tenang, seolah tak terjadi apa-apa. Safira turun terakhir. Ia berdiri sebentar, memandang pintu depan, lalu melangkah masuk.
Di ruang tengah, suasana terasa berbeda. Sejak kepergian orang tua mereka, rumah ini seperti menahan napas.
Safira naik ke kamarnya. Ia duduk di tepi ranjang, membuka tas, dan mengeluarkan salinan foto yang sempat ia ambil diam-diam sebelum pergi. Ia membaliknya pelan.
Perisai Malam.
Nama itu seperti mengetuk ingatan yang terkunci. Samar—seperti pernah ia dengar, entah dari percakapan setengah sadar, atau bisikan yang tertinggal di ujung mimpi.
Ia memejamkan mata.
Potongan-potongan masa kecil menyelinap masuk:
pintu yang terkunci saat malam,
telepon berdering lalu tiba-tiba sunyi,
Ayah yang berubah sangat waspada saat nama tertentu disebut.
Safira membuka mata, napasnya tercekat.
“Kenapa aku baru menyadarinya sekarang…?”
Ketukan pelan terdengar di pintu. Clarissa masuk, duduk di sampingnya.
“Kita tidak akan dapat jawaban dari orang-orang yang takut,” katanya tenang. “Kalau Ayah menyuruh kita hidup damai… mungkin itu caranya memberi waktu. Bukan menyerah.”
Adrian menyusul, berdiri di ambang pintu.
“Ada satu hal yang bisa kita lakukan. Pelan. Tanpa menarik perhatian.”
Safira menoleh.
“Apa?”
Adrian menghela napas.
“Kita mulai dari dokumen itu. Nama-nama. Tanggal. Kita cocokkan dengan apa pun yang masih bisa diakses. Bukan untuk mengejar… tapi untuk memahami.”
Safira mengangguk. Ada ketakutan, ya. Tapi juga tekad yang mulai mengeras.
Malamnya, Safira terbangun dari tidur yang gelisah. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia teringat mimpi singkat—ayahnya berdiri di depan pintu, setengah bayangan menutup wajahnya.
“Maaf,” kata ayahnya dalam mimpi itu. “Tidak semuanya bisa Ayah ceritakan.”
Safira duduk, menatap gelap.
“Kalau begitu,” bisiknya, “biarkan aku yang mencari tahu.”
Dan di kota yang sama, di tempat lain yang jauh dari jangkauan mereka,
sebuah nama lama kembali disebut.
Sebuah jaringan lama kembali bergerak.
Perisai Malam tidak pernah benar-benar hilang.
Ia hanya menunggu saat yang tepat untuk bangkit..
dan tanpa disadari Safira, langkah pertamanya sudah ia ambil.
Pagi datang dengan suara hujan tipis.
Safira terbangun lebih awal dari biasanya. Langit di luar jendela kelabu, seolah ikut memantulkan isi kepalanya yang belum juga jernih. Ia duduk di tepi ranjang, menatap salinan foto yang masih tergeletak di meja kecil—Perisai Malam.
Nama itu terasa semakin berat.
Di dapur, aroma kopi tercium. Clarissa sudah bangun, berdiri menyandarkan punggung di meja, matanya menatap kosong ke cangkir di tangannya. Adrian duduk di sudut, membuka laptop, layar penuh tab pencarian.
“Tidak ada berita,” kata Adrian tanpa menoleh. “Tidak ada laporan perjalanan. Tidak ada catatan rumah sakit. Tidak ada apa-apa.”
Safira mengambil kursi di hadapan mereka.
“Itu berarti mereka masih hidup,” katanya cepat, seperti refleks. “Kalau sesuatu yang buruk terjadi… setidaknya akan ada jejak.”
Clarissa menatap Safira lama.
“Kamu masih berusaha percaya,” ucapnya pelan.
Safira mengangguk.
“Aku harus.”
Clarissa tidak membantah. Ia hanya menghela napas dan meletakkan secangkir kopi di depan Safira.
Mereka mulai membuka dokumen peninggalan ayah mereka pelan, hati-hati. Nama-nama yang tertera tidak langsung dikenali. Beberapa hanya inisial. Sebagian lain dicoret dengan tinta hitam tebal, seolah sengaja dihapus dari sejarah.
Safira memperhatikan satu nama yang tidak dicoret.
Nama itu muncul dua kali.
Dengan jarak waktu hampir sepuluh tahun.
“Ini aneh,” katanya sambil menunjuk layar. “Kenapa yang ini dibiarkan?”
Adrian mendekat.
“Mungkin karena dia sudah mati,” ujarnya datar.
“Atau… terlalu penting untuk dihapus.”
Kalimat itu membuat Safira merinding.
Belum sempat mereka melanjutkan, ponsel Clarissa bergetar.
Satu pesan masuk.
Nomor tidak dikenal.
Isinya singkat:
“Kalian mulai terlalu dekat.”
Ruangan mendadak sunyi.
Safira berdiri refleks.
“Siapa itu?”
Clarissa menggeleng pelan, wajahnya mengeras.
“Aku tidak tahu. Tapi mereka tahu kita bergerak.”
Adrian menutup laptop dengan cepat.
“Berarti Amos benar. Kita sedang diawasi.”
Safira menarik napas dalam-dalam. Jantungnya berdetak cepat, tapi pikirannya justru terasa anehnya… jernih.
“Kalau mereka ingin menakuti kita,” katanya perlahan, “berarti ada sesuatu yang tidak ingin mereka kita temukan.”
Clarissa menatap adiknya.
“Kamu sadar apa artinya ini?”
Safira mengangguk.
“Aku tahu.”
Ia menelan ludah. “Tapi aku juga tahu… Ayah dan Ibu tidak akan meninggalkan kita tanpa alasan.”
Hujan di luar mulai mereda.
Safira berjalan ke jendela, menatap jalanan yang mulai ramai. Dunia di luar tampak normal—orang-orang berangkat kerja, suara motor, klakson jauh. Tidak ada yang tahu bahwa di dalam rumah itu, tiga bersaudara sedang berdiri di ambang sesuatu yang berbahaya.
“Perisai Malam,” bisik Safira sekali lagi.
“Kalau itu benar dunia Ayah… maka di situlah jawabannya.”
Clarissa mendekat, berdiri di sampingnya.
“Kita lakukan ini dengan caramu,” katanya.
“Pelan. Diam. Dan aman.”
Adrian mengangguk dari belakang.
“Dan satu hal lagi.”
Ia menatap Safira serius. “Mulai sekarang, kamu tidak pernah sendirian.”
Safira tersenyum tipis—senyum yang rapuh, tapi nyata.
“Aku tahu.”
Namun jauh dari rumah itu,
di sebuah ruang yang dipenuhi layar dan peta,
seseorang sedang memperbesar foto lama yang sama.
...----------------...
Ilustrasi
Jarinya berhenti tepat di wajah Safira kecil berdiri di samping Armand.
“Jadi… anak-anaknya mulai bergerak,” gumamnya.
“Terutama yang itu.”
Lampu ruangan meredup.
Perintah dikirim.
Nama Safira masuk ke dalam daftar.
Dan sejak pagi itu,
tanpa Safira sadari,
ia bukan lagi hanya anak yang mencari orang tuanya.
ia telah menjadi bagian dari warisan yang selama ini disembunyikan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...