Aruna Arabella, gadis cantik yang terlibat hubungan asmara dengan seseorang laki-laki tampan yang tak lain adalah kakak tirinya setelah sang mama memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang duda kaya, yang mempunyai seorang putra.
Aruna harus menelan pahitnya kehidupan di dalam keluarga nya, sang papa berselingkuh takala usia Aruna menginjak tujuh tahun, tak hanya itu, sang papa serta pelakor tersebut membawa kabur kakak laki-laki Aruna.
Setelah kejadian itu Aruna tingal bersama dengan mama nya, yang bekerja sebagai penjahit di sebuah butik kecil sederhana.
Karena kepintaran nya, Aruna di terima masuk di sebuah sekolah elite, ia mendapat beasiswa, di sanalah Aruna memulainya, kisah cinta dengan seorang laki-laki posesif yang ternyata adalah anak laki-laki dari pria yang menjadi papa sambung nya.
Dari sini lah kisah cinta terlarang itu di mulai ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
"Aahhhhh, panas-panas! Tolong panas!" teriak Vani menjerit kesakitan.
"Upsss," ujar Aruna.
Mendengarkan itu, Reyhan dan beberapa anak lain pun bergegas menghampiri Vani.
"Astaga, Vani! Kaget Reyhan bergegas mengambil Vani yang dada, tangan dan sebelah pipi nya merah karena kuah mie panas tersebut.
"Panas banget! Aruna! Lo sengaja kan bikin gue jatuh," kata Vani mulai menuduh Aruna.
"Lah kok gue? Lo sendiri yang kesandung dan hampir numpahin mie nya ke muka gue, gue tepis dong, yakali gue diem aja," jawab Aruna sambil menatap tajam Vani.
"Aruna, Lo tega banget sama Vani, kenapa gak ada habis-habisnya Lo jahatin dia? Gue pikir Lo udah lupain soal ini tapi nyatanya masih aja Lo kayak gini," ucap Reyhan yang sudah pasti akan selalu berada di pihak Vani.
"Gue gak peduli, orang bukan gue yang salah, siapa suruh kaki cewe Lo lemes kek kaki bebek aja masih kuat ketimbang punya dia," kata Aruna menunjuk kaki Vani.
"Aruna ko udah keterlaluan banget, sekarang juga ikut gue ke kantor kepala sekolah, gue mau Lo jelasin di sana," kata Reyhan memegang pergelangan tangan Aruna dan hendak membawa nya ke kantor kapsek.
"Lepasin gue! Lepasin gue gak bersalah!" Berontak Aruna.
Sementara Vani yang melihat itu tetap merasa keberuntungan di pihak nya.
"Lepasin dia," kata Erlan yang tiba-tiba berdiri di hadapan Reyhan dengan tatapan tajam nya.
Segera saja Aruna menarik keras tangan nya dari genggaman Reyhan dan segera bersembunyi di belakang Erlan.
"Gak usah ikut campur ini urusan gue sama Aruna, memang nya Lo siapa?" kata Reyhan yang tidak mengenali Erlan.
"Siapa gue Bukan urusan Lo, ayo!" kata Erlan yang kemudian memegang pergelangan tangan Aruna dan membawa nya pergi dari kantin tersebut.
"Keluarin rekaman cctv nya, kasih ke dia, gakada yang boleh keluar sebelum lihat rekaman cctv nya, ucap Leo kepada pelayan kantin, dan kemudian pergi dari sana.
"Baik tuan muda," kata pelayan tersebut segera melaksanakan perintah.
Segera saja hal ini membuat Vani ketakutan, wajah nya seketika gelisah, ternyata di kantin terdapat dua cctv, ia benar-benar tidak menyangka akan hal ini.
"Sial," batin Vani sambil mengepalkan tangannya.
"Reyhan kayaknya gak tau siapa dia? "Berani bikin masalah sama Erlan."
"Sekarang beckingan Aruna udah berubah," "Astaga kok bisa Erlan ada di pihak Aruna? Beruntung banget sih dia?" Mulai lah terdengar bisikan-bisikan para siswa dan siswi yang menyaksikan kejadian tersebut.
"Awas aja Lo Aruna, Lo emang bener-bener penggoda laki-laki bisa-bisa nya Lo di belain Erlan," batin Vani.
Sementara itu Erlan dan Aruna tiba di koridor sekolah. Aruna menatap punggung kekar laki-laki tersebut, sambil mengikuti langkah kaki besar nya menyusuri koridor sekolah dengan tangan yang mesih menggenggam erat pergelangan tangan Aruna. Tersirat senyum tipis di kedua sudut bibir Aruna, pertama kalinya ia merasa ada yang melindungi dirinya meskipun terlihat sedikit kasar.
"Kita kau ke mana?" tanya Aruna membuyarkan keheningan yang terjadi di antara mereka berdua.
Erlan ya g mendengar itu tiba-tiba menghentikan langkahnya dan melepaskan tangan dari pergelangan tangan Aruna. Keduanya saling tatap satu sama lain, manik mata Aruna menatap setiap inci wajah Erlan yang sangat tampan. Begitu juga sebaliknya.
"Ingat, mulai sekarang yang boleh ganggu Lo cuma gue, gak dengan orang lain, kalau sampai gue lihat ada yang ganggu Lo lagi dan Lo gak ngelawan, Lo yang bakal gue marahin," ucap Erlan sambil memasukkan salah satu tangan ke saku celana nya.
"Makasih ya ... Kak Erlan," kata Aruna tak mempedulikan apa yang sebelumnya di ucapkan Erlan kepada nya.
Deg ... Jantung Erlan rasanya memompa lebih cepat dari sebelumnya setelah mendengar panggilan itu dari Aruna.
"Gue bukan kakak Lo, jangan kepedean gue cuma gak mau di salahin papa kalau Lo kenapa-kenapa, sekarang masuk kelas," ujar Erlan sambil menyembunyikan rasa gugupnya karena panggilan Aruna barusan.
"Okey, mana buku nya?" tanya Aruna menadahkan tangan nya meminta buku yang di pegang Erlan tadi.
"Nih, buruan masuk kelas," ucap Erlan tak sabar.
"Iya-iya, bawel banget," ucap Aruna yang kemudian berlari kecil meninggalkan Erlan.
Erlan melihat Aruna yang semakin menjauh dari pandangan nya, ia tak bisa membohongi dirinya sendiri kalau ia merasakan sesuatu ketika berdekatan dengan Aruna, dia bahkan tidak bisa diam dan menutup mata melihat Aruna di buli orang.
"Gue cari-cariin kemana-mana, ternyata Lo di sini," ucap Leo sambil menepuk pundak Erlan.
"Ngapain Lo nyari gue?" ucap Erlan kepada Leo.
"Gak, gue cuma mau nanya, kok Lo tiba-tiba belain Aruna dan bantuin dia," kata Leo yang penasaran.
"Gue gak ngerasa ngelakuin apa-apa," kata Erlan cuek dan melanggar pergi.
"Woy! Gue belum selesai bicara, jelasin ke gue kenapa,!" teriak Leo yang kemudian mengejar Erlan.
Sementara itu di kantin sekolah. Semua orang telah melihat rekaman cctv tersebut dan mereka tau kalau Aruna tidak bersalah, termasuk Reyhan yang tadinya hampir membuat masalah bagi Aruna dengan membawa nya ke kantor kapsek.
"Kenapa Lo ngelakuin ini?" tanya Reyhan yang saat ini berdiri di depan Vani yang baru saja keluar dari toilet sekolah untuk membersihkan diri nya yang tadinya ketumpahan mie.
"Ngelakuin apa maksud nya Rey?" tanya Vani dengan wajah polos seperti biasanya.
"Lo gak usah ngeles lagi bisa gak? Di rekaman kelihatan jelas kalau Lo sengaja lewat di depan Aruna sedangkan jalan lain masih banyak, Lo juga gak murni kesandung," kata Reyhan yang kesal dengan perbuatan Vani.
"Oh, jadi sekarang kami juga gak percaya sama pacar kamu sendiri Do? Aku ruh cuma gak sengaja, emang kenapa sih kamu malah belain dia, kan yang pacar kamu itu aku," kata Vani dengan mata yang berkaca-kaca.
"Gak, maksud aku gak gitu sayang, maaf ya, udah lupain aja, ayo ke kelas dan obatin luka nya," kata Reyhan kembali bisa di taklukkan Vani hanya dengan wajah sedih saja. Ia pun membawa Vani kembali ke dalam kelas untuk mengobati nya.
Beberapa jam pun akhirnya berlalu, kini jam pelajaran terakhir pun telah usai, seluruh siswa dan siswi SMA tersebut segera bergegas meninggalkan sekolah setelah mendengar bell pulang di bunyikan, termasuk Aruna yang saat itu sudah keluar dari gerbang sekolah.
Aruna berjalan menyusuri jalan raya, cuaca cukup panas terasa begitu menyengat di kulit nya, namun ia tak mengeluh sedikitpun karena mulai terbiasa. Tetapi tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti tepat di samping Aruna. Aruna segera saja mengenali mobil itu yang ternyata adalah milik kakak tirinya, Erlan.
****
sama aja kek Vani ,gak jelas apa mau nya.dulu Aruna dihina karena dekat ma dia,sekarang udah jauh Deket ma Erlan juga salah.mau nya kalian apa sih...
Aruna udah jauh dari Reyhan pun Lo gak puas...
Aruna Deket cowo lain Lo pun sewot...
gak jelas juga itu otak lho 🤣🤣🤣
jiaaah nih bocah cowo kudu di jitak kepalanya...
buat anak gadis orang cenat cenut aja
🤣🤣🤣🤣
jangan Ngadi Ngadi ya bocil 🤣🤣🤣
jagain Baek Baek tuh adek ketemu gede
kk dan adik udah biasa berantem ajaa,saling jahil.abg ku aja yang paling besar suka nyelipin kepala ku di keteknya ,kayak miting gtu.padahal aku udah punya anak.auto ngamuk aku,dianya malah lari keliling rumah