NovelToon NovelToon
Cinta Untuk Yuki

Cinta Untuk Yuki

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Anak Yatim Piatu / Selingkuh
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mawarhirang94

Dalam hujan deras yang menyesakkan, Yuki berlari menyelamatkan diri bersama bayi perempuannya, Ai Chikara, dari masa lalu yang mengancam nyawa mereka. Sebuah kecelakaan di tengah pelariannya justru mempertemukannya dengan Kai, pria asing yang tanpa ragu memberi perlindungan.

Di rumah keluarga Kai, Yuki dan bayinya menemukan kehangatan, perawatan, dan rasa aman yang belum pernah mereka rasakan. Di balik sikap dingin Kai dan kelembutan ibunya, perlahan tumbuh ikatan yang tak terduga—ikatan yang mungkin mampu menyembuhkan luka, sekaligus mengubah takdir mereka.

Namun, saat malam hujan berlalu, bayang-bayang masa lalu Yuki belum tentu ikut menghilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarhirang94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 Alarm yang Tidak Pernah Berbunyi

Tiba-tiba....

BEEP.

Satu suara elektronik terdengar.

Niko langsung membeku.

Alisnya berkerut.

Layar utama berkedip.

Sistem keamanan internal aktif.

Itu bukan alarm bahaya.

Bukan intrusi.

Bukan serangan.

Itu sesuatu yang jauh lebih jarang.

Sangat jarang.

Hampir mustahil.

Akses utama terdeteksi.

Niko berdiri cepat.

“Ren!”

Ren berlari masuk.

“Ada apa?”

Niko menatap layar dengan wajah pucat.

“Ada seseorang membuka pintu akses utama rumah.”

Semua orang langsung berhenti bergerak.

Ibu Kai menoleh.

Yuki berdiri perlahan.

“Apa… musuh?”

Niko menggeleng perlahan.

Suara napasnya berat.

“Tidak mungkin…”

Ren menegang.

“Kenapa?”

Niko menunjuk layar.

“Kode akses itu… hanya dimiliki satu orang.”

Ruangan mendadak sunyi.

Jantung semua orang berdetak keras.

 

Pintu yang Mustahil Terbuka

Di monitor terlihat jelas.

Rak dapur di rumah atas… bergerak.

Panel tersembunyi terbuka perlahan.

Tangga menuju ruang bawah tanah aktif.

Lampu jalur menyala satu per satu.

Sistem keamanan otomatis membuka jalur.

Tidak ada perlawanan.

Tidak ada peringatan.

Sistem menyambut tamu itu.

Seperti mengenali tuannya.

Yuki menutup mulutnya.

Air matanya langsung jatuh.

“Tidak mungkin…”

Ibu Kai menggenggam dada.

Ayah Kai berdiri kaku.

Ren hampir tidak berani bernapas.

Langkah kaki terdengar dari speaker.

Pelan.

Berat.

Nyata.

Suara sepatu menyentuh anak tangga.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Semakin dekat.

Semakin jelas.

Ai yang berada di pelukan Niko tiba-tiba menoleh ke arah pintu koridor.

Matanya berbinar.

Seolah mengenali sesuatu sebelum orang dewasa menyadarinya.

 

Detik yang Menghentikan Dunia

Pintu baja besar di ujung koridor terbuka otomatis.

SSSHHHH...

Semua orang berdiri.

Tidak ada yang berani bergerak.

Tidak ada yang berani berbicara.

Dan kemudian...

Sosok itu muncul.

Tinggi.

Memakai mantel hitam.

Tubuhnya sedikit kurus.

Wajahnya penuh bekas luka tipis.

Namun…

mata itu.

Tatapan dingin yang familiar.

Kai berdiri di ambang pintu.

Hidup.

Nyata.

Pulang.

 

Dunia yang Mendadak Pecah

Ibu Kai menangis lebih dulu.

Tangannya gemetar.

“Kai…?”

Suara itu hampir tidak terdengar.

Kai tersenyum kecil.

“Ibu…”

Satu kata itu cukup.

Ibu Kai langsung berlari.

Memeluk anaknya erat.

Tangisnya pecah tanpa bisa ditahan.

“Kau hidup… kau hidup…”

Ayah Kai berjalan mendekat.

Matanya merah.

Ia tidak berkata apa-apa.

Hanya menepuk bahu anaknya keras.

Cara seorang ayah mengatakan rindu tanpa kata.

Ren menunduk dalam-dalam.

Air matanya jatuh.

“Bos…”

Kai menepuk bahunya.

“Kau menjaga mereka dengan baik.”

Ren tidak mampu menjawab.

 

Yuki yang Tidak Bergerak

Di tengah keramaian itu…

Yuki tidak bergerak.

Ia berdiri jauh.

Tubuhnya gemetar.

Matanya menatap Kai seolah takut ini hanya ilusi.

Ia berbisik pelan.

“Kai…?”

Kai menoleh.

Tatapan mereka bertemu.

Semua suara seolah hilang.

Bulan-bulan kesepian.

Ketakutan.

Tangisan malam.

Harapan yang hampir mati.

Semua runtuh dalam satu detik.

Kai melangkah mendekat.

Perlahan.

Hati-hati.

Seolah takut Yuki menghilang.

“Aku pulang.”

Kalimat sederhana itu membuat Yuki menangis.

Ia berlari.

Memeluk Kai kuat.

Memukul dadanya berkali-kali.

“Kamu jahat… kamu jahat… kamu bilang akan kembali… tapi lama sekali…”

Kai memeluknya erat.

Tangannya gemetar.

“Aku minta maaf… aku harus memastikan kalian benar-benar aman.”

Yuki menangis di dadanya.

Seluruh emosi yang tertahan selama berbulan-bulan akhirnya keluar.

 

Reaksi Ai

Di tengah pelukan itu..

Ai turun dari gendongan Niko.

Ia berjalan cepat.

Langkah kecilnya tergesa.

“Papa…”

Kai menoleh.

Bayi kecil itu berdiri di depannya.

Menatapnya lama.

Seolah memastikan.

Lalu...

Ai mengangkat tangan.

“Papa Kai…”

Kai berlutut.

Air matanya akhirnya jatuh.

Ia mengangkat putrinya tinggi.

Ai tertawa keras.

Seolah tidak pernah ragu ayahnya akan kembali.

Kai memeluknya kuat.

“Aku pulang, putri kecil.”

 

Keheningan yang Berubah Menjadi Kebahagiaan

Ruang bawah tanah yang dulu dipenuhi kecemasan kini berubah menjadi lautan emosi.

Asisten menangis.

Pengawal tersenyum lega.

Niko diam menatap.

Ia menghembuskan napas panjang.

“Ya… dunia kembali normal.”

Kai menoleh padanya.

“Terima kasih sudah menjaga mereka.”

Niko hanya menjawab singkat.

“Dia sering tidur di pangkuanku.”

Kai tersenyum kecil.

“Bagus.”

 

Pengakuan Kai

Semua berkumpul di ruang utama.

Kai duduk di tengah keluarga.

Ia menjelaskan semuanya.

Ledakan.

Pengkhianatan.

Pemulihan rahasia.

Strategi menghilangkan jejak.

Dan alasan berita kematiannya disebarkan.

“Aku harus mati… supaya perang berhenti mengejar kalian.”

Semua terdiam.

Ibu Kai menggenggam tangannya.

“Kau tidak perlu memikul semuanya sendirian.”

Kai menatap keluarganya.

Untuk pertama kalinya…

ia terlihat bukan sebagai mafia.

Melainkan pria yang hanya ingin pulang.

 

Rumah Kembali Hidup

Malam itu menjadi malam paling hangat sejak mereka bersembunyi.

Makanan disiapkan.

Tawa kembali terdengar.

Ai tidak mau lepas dari Kai.

Setiap menit ia memastikan ayahnya tidak pergi lagi.

Yuki duduk di samping Kai.

Tangannya tidak pernah melepas genggaman suaminya.

Seolah takut kehilangan lagi.

Kai menatap semua orang.

Dan sadar…

semua perang yang ia jalani bukan untuk kekuasaan.

Bukan untuk nama.

Bukan untuk dunia mafia.

Melainkan untuk momen ini.

Keluarga.

Rumah.

Dan cinta yang menunggunya pulang.

 

Namun…

di balik kebahagiaan itu…

mata Kai sesekali berubah tajam.

Karena ia tahu satu hal.

Kepulangannya berarti satu pesan bagi dunia bawah:

Kai tidak mati.

Dan saat berita itu menyebar…

dunia mafia internasional akan kembali bergetar.

***

Kepulangan Kai mengubah segalanya.

Ruang bawah tanah yang selama berbulan-bulan dipenuhi rasa kehilangan kini kembali hidup. Tawa terdengar lebih sering, langkah kaki terasa ringan, dan udara yang sebelumnya dipenuhi kecemasan perlahan berubah menjadi hangat.

Namun…

Kai bukan pria yang mudah lengah.

Malam setelah kepulangannya, ia berdiri sendirian di ruang kontrol bersama Niko. Puluhan layar menampilkan keadaan rumah di atas, hutan sekitar, jalur akses tersembunyi, hingga titik pengawasan jarak jauh miliknya di berbagai negara.

Matanya tajam.

Tidak ada emosi.

Hanya perhitungan.

“Aku tidak akan membawa mereka keluar dulu,” ucap Kai pelan.

Niko mengangguk tanpa menoleh.

“Sudah kuduga.”

Kai menyilangkan tangan.

“Berita kematianku belum sepenuhnya padam. Dunia luar masih percaya aku mati. Itu keuntungan terbesar kita.”

Niko mengetik cepat di keyboard holografik.

Beberapa data muncul.

Pergerakan mafia internasional.

Sisa jaringan Viktor.

Kelompok bayangan yang dulu menunggu kesempatan menjatuhkan Kai.

“Mereka mulai bergerak lagi,” kata Niko. “Karena merasa singa sudah mati.”

Kai tersenyum tipis.

“Bagus.”

Ia menatap layar.

“Biarkan mereka keluar dari sarangnya.”

 

Keputusan Tinggal di Ruang Bawah Tanah

Keesokan paginya, seluruh keluarga berkumpul di ruang makan besar bawah tanah.

Yuki duduk di samping Kai sambil menggendong Ai yang sibuk memainkan sendok kecilnya.

Ibu Kai memperhatikan wajah anaknya.

“Apa kita akan kembali ke atas?” tanya beliau lembut.

Kai menggeleng pelan.

“Belum.”

Semua langsung fokus padanya.

“Aku ingin kita tetap di sini sementara waktu.”

Ayah Kai mengangguk pelan, memahami arah pikirannya.

“Kau masih mencium bahaya.”

Kai menatap ayahnya.

“Ya. Musuh terbesar bukan yang menyerang terang-terangan… tapi yang menunggu kesempatan.”

Yuki menggenggam tangan Kai.

“Kami ikut keputusanmu.”

Kai menoleh padanya.

Tatapannya melunak.

“Aku tidak mau mengambil risiko sekecil apa pun terhadap kalian.”

Ibu Kai tersenyum.

“Rumah ini memang dibuat untuk hari seperti ini.”

Ren menambahkan,

“Persediaan cukup untuk berbulan-bulan lagi, Tuan.”

Kai mengangguk puas.

“Bagus. Kita anggap ini bukan persembunyian… tapi benteng.”

 

Kehidupan Baru di Benteng Rahasia

Hari-hari berikutnya berubah menjadi rutinitas unik.

Ruang bawah tanah bukan lagi tempat pelarian.

Ia menjadi rumah kedua.

Pagi hari dimulai dengan Yuki berkebun di area hidroponik. Tanaman hijau tumbuh subur di bawah lampu matahari buatan. Ai sering duduk di keranjang kecil sambil menepuk-nepuk daun sayur.

Kai kadang ikut membantu.

Hal yang dulu mustahil dilakukan seorang bos mafia.

Yuki tertawa kecil suatu pagi.

“Aku nggak pernah bayangin mafia paling ditakuti dunia lagi nyabut rumput.”

Kai menjawab santai,

“Ini latihan menyamar.”

Yuki tertawa.

Suara itu membuat Kai sadar—semua perang yang ia jalani layak dijalani demi mendengar tawa itu.

 

Kai Menjadi Ayah Sepenuhnya

Karena tidak pergi ke medan perang sementara waktu, Kai akhirnya merasakan hal yang dulu jarang ia miliki:

Waktu.

Ia melihat Ai belajar menyebut kata baru.

Melihatnya jatuh lalu bangkit lagi.

Melihatnya berjalan semakin stabil.

Ai hampir selalu mengejar Kai.

“Papa!”

Suara kecil itu menjadi musik favoritnya.

Bahkan para pengawal sering tersenyum melihat bos mereka sekarang duduk di lantai bermain balok mainan.

Ren pernah berbisik pada Niko,

“Kalau dunia mafia lihat ini, reputasi bos bisa runtuh.”

Niko menjawab datar,

“Justru ini alasan dunia mafia takut padanya.”

Ren mengerutkan dahi.

“Kenapa?”

Niko menatap Kai yang tertawa bersama Ai.

“Pria yang punya sesuatu untuk dilindungi… adalah pria paling berbahaya.”

 

Sistem Pertahanan Ditingkatkan

Meski suasana hangat, Kai tidak berhenti bekerja.

Setiap malam ia mengadakan rapat rahasia.

Strategi.

Pembersihan sisa musuh.

Aliansi baru.

Dunia mafia internasional perlahan tunduk tanpa menyadari ia masih hidup.

Beberapa kelompok mulai saling menghancurkan.

Persis seperti rencana Kai.

Ia duduk bersama Gala dan Ren.

“Kita tidak menyerang,” kata Kai.

“Kita membuat mereka saling memakan.”

Gala tersenyum.

“Seperti dulu.”

Kai menatap layar dunia.

“Tidak. Kali ini aku bermain lebih sabar.”

 

Ketenangan yang Dijaga

Yuki mulai merasa lebih tenang.

Trauma masa lalu perlahan memudar.

Ia tidak lagi sering terbangun karena mimpi buruk.

Setiap kali gelisah, Kai ada di sampingnya.

Suatu malam Yuki berbisik,

“Aku dulu takut hidupku berakhir dalam ketakutan.”

Kai menggenggam tangannya.

“Sekarang?”

Yuki tersenyum lembut.

“Sekarang aku merasa dilindungi.”

Kai tidak menjawab.

Hanya mencium keningnya pelan.

 

Ibu Kai Mengamati

Dari kejauhan, Ibu Kai sering memperhatikan mereka.

Ia tersenyum kepada suaminya.

“Kai berubah.”

Ayah Kai mengangguk.

“Dia akhirnya menemukan alasan hidup… bukan hanya bertahan hidup.”

Ibu Kai menatap Yuki.

“Gadis itu menyelamatkan anak kita.”

 

Ancaman yang Masih Mengintai

Namun keamanan absolut tidak pernah ada.

Suatu malam alarm senyap berbunyi di ruang kontrol.

Niko langsung berdiri.

Kai datang beberapa detik kemudian.

“Apa?”

Niko menunjuk layar.

“Sinyal penyadapan jauh… seseorang mencoba melacak jaringan lama kita.”

Kai tersenyum tipis.

“Mereka mulai curiga.”

Ren menegang.

“Haruskah kita pindah?”

Kai menggeleng.

“Tidak.”

Matanya berubah dingin.

“Kita tetap di sini.”

Ia menatap seluruh sistem keamanan.

“Biarkan mereka mencari rumah kosong di atas… sementara raja mereka duduk tepat di bawah kaki mereka.”

 

Keputusan Final

Keesokan harinya Kai mengumpulkan keluarga.

“Kita akan tetap tinggal di ruang bawah tanah sampai aku benar-benar membersihkan dunia luar.”

Yuki mengangguk tanpa ragu.

“Kami percaya padamu.”

Ibu Kai tersenyum.

“Rumah ini terasa hidup selama kita bersama.”

Ayah Kai menepuk bahu anaknya.

“Selesaikan perangmu… lalu kita semua naik kembali sebagai pemenang.”

Kai memandang mereka satu per satu.

Keluarganya.

Alasan ia masih berdiri.

Alasan ia kembali dari kematian.

“Tidak akan lama lagi,” ucapnya tenang.

Ai bertepuk tangan tanpa tahu arti kata-kata itu.

Namun Kai tahu.

Perang belum selesai.

Mereka hanya sedang beristirahat… di dalam benteng paling aman di dunia.

Dan ketika saatnya tiba.

Kai tidak lagi bertarung sendirian.

Ia bertarung untuk rumah yang menunggunya pulang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!