Hai teman-teman, aku masih berjuang konsisten tapi aku nggak tahu kalau akhirnya di tengah jalan aku menyerah dan tidak melanjutkan. Aku hanya rindu menulis. Tapi aku terjebak pada rutinitas harian yang tiada henti. Lanjutan dari Penantian panjang 1 dan 2. Padahal Penantian panjang 2 saja belum saya tamatkan. Tapi semua nama tokoh bermula dari sana.
"Apa kamu bilang?" Suara serak zahrin dengan air mata kemarahan namun dia tahan. Tenggorokannya tercekat sakit, ditambah harus mendengar permintaan suaminya yang dirasa tak mampu dia tunaikan.
Kembali dengan seorang pria yang pernah menyakitinya sangat dalam. Rasanya Zahrin tak terima.
Regi tak beralih tatap. Menatap Zahrin dengan mata sendu yang membuat Zahrin melengos sakit bertambah dengan dadanya yang nyeri.
Apa yang terjadi teman-teman? Sampai-sampai Zahrin begitu?
Ingatkah kalian, siapa pria yang menyakiti Zahrin dulu?
Aku tidak janji menamatkan ceritanya. Tapi aku dapat fell nya. Semoga bisa konsisten menggarapnya🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naisa strong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Vonis dokter
"Apa?" Regi dan Zahrin saling menatap tidak percaya.
"Dokter mungkin salah, suami saya sehat kan, dok? Nggak mungkin, nggak mungkin, saya yakin dokter salah vonis suami saya." Zahrin yang mulai panik, sampai-sampai yang tadinya ruangan dokter spesialis penyakit dalam itu hening seketika berubah tatkala Zahrin berusaha menyangkal terkait penyakit Regi.
Regi dengan pelan berusaha menenangkan Zahrin untuk duduk kembali. Namun Zahrin masih dengan kepanikannya dan penyangkalannya. "Kamu nggak sakit kan, bilang sama dokter kalau kamu nggak sakit dan vonisnya salah." Zahrin pecah tangisnya dipelukan Regi.
Regi merengkuhnya dengan segala kesiapannya. Regi sudah mengetahui lama penyakitnya, sengaja menyembunyikan nya, supaya Zahrin tidak begini akhirnya. Tapi hari ini, segala kesiapannya pun runtuh, hatinya tak cukup tegar melihat Zahrin yang menangis tanpa henti. Regi mengajak Zahrin keluar dari ruang dokter menuju mobil. Tissu di dalam mobil pun habis dan Zahrin belum berhenti menangis. "Itu kan baru kata dokter." Ucap Regi berusaha menenangkan istrinya.
Tangis Zahrin perlahan berhenti, namun tidak kedua tangannya yang tiada henti menyeka air mata dengan tissu yang tersisa. Sesenggukan nya masih terus-terusan terdengar dimana Regi kemudian menarik pelan bahu Zahrin lalu memeluknya dan mengelus-elus ujung kepala yang berbalut kerudung merah jambu itu.
"Kamu janji tidak akan pergi." Zahrin menatap dalam mata suaminya.
Namun tidak pada Regi yang kemudian melengos kalah kalau penyakitnya memanglah sudah parah dan dia harus pasrah oleh takdir pemisah.
Zahrin tersenyum apatis. "Kamu saja nggak berani berjanji. Kenapa? Itu karena takdir lebih punya kendali atas penyakitmu, ya, kan?"
"Kita pulang." Regi yang menyudahi kesedihan hari ini.
Zahrin masih tidak percaya dengan vonis dokter jika penyakit Regi sangatlah serius dan bahkan dokter berani memvonis jika nyawa suaminya tidaklah lama lagi.
Sepanjang perjalanan dan sesampainya di rumah. Zahrin masih diliputi rasa gelisah yang tiada henti. Sebentar-sebentar melamun lalu menangis sendiri dimana Regi memilih pergi kembali ke Toko Olivia. Sengaja itu dia lakukan, supaya Zahrin lebih tenang. Namun ternyata Regi salah. Malam nya dia kembali pulang, Zahrin sudah menemukan semua rahasia obat-obatan yang dia sembunyikan begitu pula segala catatan dokter dari tahun ke tahun dimana kebohongannya terkait alasan pergi ke luar negeri nya bersama mamanya ternyata bukan berkunjung ke saudaranya. Melainkan berobat, namun semua berakhir di tahun ini, Zahrin sudah mengetahui semuanya.
"Kenapa kamu tidak bicara sejak awal? Kamu sakit, aku tidak apa-apa. Istri macam apa aku ini?" Zahrin merutuki dirinya sendiri dengan air mata mengambang.
Regi masih berdiri diam seribu bahasa.
"Kamu sakit, kamu kesakitan. Kamu kesakitan bertahun-tahun tapi kamu diam dan aku tidak tahu." Zahrin masih berkata-kata penuh penyesalan dengan segala ketidaktahuannya sebagai istri. "Aku hanya tidak ingin kamu pergi." Bersamaan dengan sudah tidak kuat lagi air matanya tertampung. Buliran jernih itupun membasahi kedua pipi Zahrin dengan memeluk Regi.
Regi pun turut sedih. Suasana hati Zahrin semakin kacau balau dan Regi tidak tega melihat Zahrin demikian.
Suasana malam yang biasanya ceria dengan gelak tawa Arsyad dan Arsyla yang biasanya masih ikut tidur mereka, mendadak senyap dan yang ada hanya kesedihan Zahrin yang semakin menjadi.
Segala ketakutan Zahrin yang coba dia katakan. "Bagaimana dengan aku, Arsyad dan Arsyla setelah kamu pergi?" Tangisnya yang semakin memecah keheningan malam. "Aku nggak sanggup." Zahrin yang kemudian beranjak pergi dari hadapan Regi dengan tangis yang tidak bisa dia bendung.
Keesokan harinya.
Regi sengaja bangun lebih awal karena harus meminum obat-obatan yang selama ini dia minum guna memperlambat penyakit nya menyebar ke seluruh tubuh.
"Aku bahkan tidak tahu menahu tentang hal ini." Zahrin yang memergoki Regi.
"Kamu sudah bangun." Jawab Regi
"Istri macam apa aku ini?!" Zahrin yang masih tidak percaya dengan semua ini.
"Cukup, Rin! Berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Aku sengaja menyembunyikan penyakit ini supaya kamu, Arsyad dan Arsyla tidak cemas." Regi berusaha membuat Zahrin tenang.
"Coba saja kamu tidak menolong Alma, pasti semua tidak akan seperti ini. Iya, kan?!"
"Rin, Zahrin, berapa kali aku bilang, itu hanya vonis dokter. Kenyataannya aku masih berdiri di hadapan kamu." Upaya Regi yang meyakinkan istrinya yang kemudian beberapa detik selanjutnya. Regi memegangi bagian hati nya yang terasa sangat nyeri dan tidak kuat lagi.
"Ada apa?!" Zahrin panik bersamaan dengan Regi yang kemudian pingsan lalu dengan cepat Zahrin membawanya ke rumah sakit.
Di ruang perawatan intensif rumah sakit.
"Bagaimana Rin, keadaan Regi?" Ibu Olivia terlihat cemas dan berusaha celingukan untuk melihat putranya dari luar ruangan.
Zahrin masih tersisip amarah. "Mama sudah tahu tapi mama tidak bicara tentang penyakit Regi dengan aku. Aku istrinya, ma. Aku berhak tahu." Tidak terimanya Zahrin.
"Bukan waktunya untuk bicarakan ini, Rin."
"Lalu aku istri macam apa, ma? Membiarkan suami saya minum obat-obatan nya sendiri. Menanggung sakit nya sendiri, bahkan beberapa kali kalian berangkat berobat dan setelahnya pulang pun aku tidak tahu menahu dan sekarang kata dokter nyawanya tidak lama lagi. Apa-apa an ini, ma?!" Zahrin masih protes dengan sikap mama mertuanya.
Ibu Olivia setelahnya menangis pelan. "Aku juga tidak menginginkan ini, Rin." Tatap ibu Olivia kepada Zahrin dengan sendu.
"Dan apa mama tahu, penyakit Regi itu bermula karena dia mendonorkan sebagian organ pentingnya untuk Alma?!" Kemarahan yang coba Zahrin tahan kepada mama mertuanya. Namun ibu Olivia hanya bisa diam. "Kenapa?! Kenapa mama diam?! Kenapa kalau sudah begini mama terasa menyerah, tapi untuk hidup Alma, seakan mama memperjuangkannya melebihi apapun."
"Berhenti menyalahkan mama, Rin! Dan jangan bawa-bawa Alma terkait penyakit Regi!" Pelan, namun terlihat sekali seolah Alma segalanya bagi ibu Olivia.
"Itu karena mama tidak pernah peduli sama perasaan aku, Arsyad dan Arsyla." Zahrin tidak peduli lagi apa yang dia katakan. "Bagaimana hancurnya mereka kalau Daddy nya tidak ada?" Zahrin yang kemudian menangis lalu pergi dari hadapan mama mertuanya.
Tidak lama setelahnya dokter keluar dari ruang perawatan intensif. Menjelaskan jika kondisi Regi tidaklah bagus. Penyakit yang di deritanya sudahlah sangat serius dan membuat tubuh Regi semakin hari semakin melemah.
Ibu Olivia lebih dari puluhan kali mendengarnya. Hatinya sudah cukup siap dengan segala kemungkinan terburuk mengingat dia dengan Regi sudah menjalani pengobatan canggih sekalipun di luar negeri, namun nihil dan penyakit tersebut tetap menjalar keseluruh tubuh Regi. Ibu Olivia menatap dalam raut wajah putranya. Namun tidak lama dia keluar karena mendengar suara Zahrin.
"Masih berani kamu datang kesini?!" Zahrin berusaha mencegah perempuan itu untuk membuka pintu ruangan intensif.
Bersambung