Judul: White Dream With You
Sinopsis:
Sarendra selalu merasa dirinya tidak cukup menonjol. Dengan postur yang sedikit bungkuk dan rambut belah tengahnya yang rapi, ia lebih suka tenggelam dalam deretan angka di jurusan Akuntansi SMK Pamasta daripada harus berurusan dengan keramaian. Namun, sebuah insiden tali rafia yang putus di bawah terik matahari Surabaya mempertemukannya dengan Vema—gadis TKJ yang aromanya seperti sabun bayi dan keberaniannya setinggi langit.
Apa yang dimulai dari bantuan kecil di bawah pohon kersen, tumbuh menjadi rasa yang perlahan namun pasti. Butuh waktu tujuh bulan bagi Rendra untuk mengumpulkan keberanian, dan bagi Vema untuk membuka pintu hatinya. Mereka adalah dua kutub yang berbeda, namun saling menguatkan di tengah rintangan yang datang silih berganti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cokocha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Sketsa dan Sepotong Nomor
Hari terakhir MPLS di SMK Pamasta ditutup dengan perayaan yang santai. Lapangan tengah sudah dipenuhi oleh suara musik dan sorak sorai siswa yang merasa lega karena masa perpeloncoan telah usai. Namun bagi Sarendra, hari ini adalah hari yang paling mendebarkan. Mulai besok, ia akan terkurung di lab Akuntansi, sementara Vema akan sibuk dengan kabel-kabel di gedung TKJ.
Rendra berdiri di tepi lapangan, sesekali tangannya bergerak merapikan rambut belah tengahnya yang sedikit berantakan karena angin. Postur tubuhnya masih agak bungkuk, namun matanya dengan tajam memindai kerumunan untuk mencari satu sosok: gadis berambut pendek dengan aroma sabun bayi.
"Ren, lu nggak ikut joget?" tanya Bagas yang sudah berkeringat setelah ikut flashmob.
"Enggak, Gas. Aku lagi nyari... itu, Vema," jawab Rendra jujur. Sifat tenangnya kali ini bercampur dengan sedikit kegelisahan.
"Cie! Tuh, di pojok bawah pohon kersen lagi. Kayaknya dia lagi dikerubungin anak-anak minta bantuan lagi deh."
Rendra segera melangkah ke arah pohon kersen—tempat pertama kali mereka bertemu. Benar saja, Vema sedang dikelilingi oleh beberapa siswi yang memintanya menuliskan kesan-pesan di buku kenangan mereka dalam bahasa Inggris.
Vema hanya tersenyum tipis dan mengangguk. Tangannya yang lelah tetap bergerak menuruti semua permintaan itu. Rendra menunggu di kejauhan sampai kerumunan itu bubar. Begitu Vema sendirian dan tampak menghela napas panjang, Rendra mendekat.
"Vema?" panggil Rendra lembut.
Vema mendongak, matanya yang lelah seketika berbinar sedikit saat melihat Rendra. "Eh, Sarendra. Akhirnya selesai juga ya harinya."
"Iya. Kamu... nggak apa-apa? Kelihatannya capek banget," tanya Rendra. Ia memberikan sebuah botol minuman dingin yang baru saja ia beli. "Ini, buat kamu. Belum dibuka kok."
Vema menerima botol itu. "Makasih, Dra. Kamu selalu datang di waktu yang pas. I really appreciate it."
Mereka terdiam sejenak di bawah bayangan pohon kersen. Suasana di lapangan sangat berisik, tapi di bawah pohon ini, dunia seolah hanya milik mereka berdua. Rendra menunduk, posturnya yang agak bungkuk membuat ia terlihat sejajar dengan Vema yang sedang duduk.
"Besok kita sudah mulai masuk kelas masing-masing," ucap Rendra memecah keheningan.
"Gedung TKJ sama Akuntansi kan jauh-jauhan."
Vema mengangguk, rambut pendeknya bergoyang tipis. "Iya. Dra, kalau nanti aku tiba-tiba kelihatan 'aneh' atau nggak sempat menyapa, tolong jangan berpikiran buruk ya? Di rumahku... energinya kadang bikin aku capek sampai ke sekolah."
Rendra terdiam, mencoba memahami maksud Vema tanpa mau mendesak. Ia tahu ada rahasia besar di rumah itu. Sebelum mereka berpisah, Vema memberikan selembar kertas sketsa wajah Rendra yang sedang tersenyum tenang—hasil goresan tangan Vema yang luar biasa.
"Makasih, Vem. Ini bagus banget," ucap Rendra tulus. "Boleh... aku minta nomor WhatsApp-mu? Biar kita tetap bisa ngobrol." Lalu Rendra memberikan handphonenya ke Vema
Vema mengambil ponsel Rendra dan mengetikkan nomornya dengan jari yang lentur. "Tapi jangan hubungi pas malam hari ya, Dra. Aku... aku nggak selalu bisa pegang HP kalau sudah di dalam rumah."
Rendra mengangguk paham, meski dalam hatinya muncul sedikit rasa heran. "Aku ngerti. Makasih ya, Vema."
Penutupan MPLS hari itu berakhir dengan letupan kembang api kecil yang mewarnai langit Surabaya. Di tengah riuhnya sorak-sorai siswa lain, Rendra berdiri mematung sambil menggenggam erat kertas sketsa pemberian Vema. Matanya mengikuti punggung Vema yang mulai menjauh, kembali ke kerumunan anak TKJ.
Ada banyak tanda tanya yang kini berputar di kepala Rendra. Mengapa Vema terlihat begitu tertekan saat menerima telepon? Kenapa dia dilarang memegang ponsel di malam hari? Dan kenapa aroma sabun bayi yang lembut itu seolah menyembunyikan sesuatu yang sangat berat?
Mulai besok, seragam putih-biru akan berganti menjadi putih-abu-abu. Dan bagi Sarendra, masa sekolahnya di SMK Pamasta bukan lagi sekadar tentang mengejar nilai akuntansi yang sempurna, melainkan tentang menjawab rasa penasaran yang perlahan mulai tumbuh terhadap gadis berambut pendek itu.
ada apa dgn vema
lanjuuut...