"Fania, kamu tahu pernikahan ini hanya sebuah formalitas saja. Aku harap kamu merelakan aku untuk menikah dengan Zelina." __ Raditya Mahardika.
"Mas, beri aku 30 hari saja untuk mengabdi sebagai istri yang Solehah untukmu. Aku hanya ingin mewujudkan wasiat Ayah. Setelah itu, kamu berhak menceraikan aku, dan kamu bisa menikah dengan wanita itu."
Hidup Raditya Mahardika kacau sejak dijodohkan dengan Fania Azalea. Semua terjadi karena Raditya mempunyai wanita idaman lainnya.
Fania Azalea meminta waktu agar dirinya bisa mewujudkan wasiat mendiang Ayahnya. Dia ingin menjadi seorang istri yang baik untuk suaminya. Namun, takdir berkata lain. Raditya justru ingin menikah lagi dengan wanita pujaan hatinya. Dia ingin berpoligami dan meminta Fania untuk menyetujui niatnya.
Baca selengkapnya di sini!
Follow IG : romansa_love94
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Romansa Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 17 (Mulai goyah)
Setelah suaminya keluar dari kamarnya, Fania segera turun dari ranjang dan mengunci pintu. Dia terduduk sembari terisak, dia sedang dilema besar. Bagaimana bisa dia memberikan kehormatannya pada pria yang tidak mencintainya. Bahkan yang paling parah adalah pria itu telah berkhianat dengan wanita lain.
"Aku tidak mau melakukan itu, aku tidak mau. Aku tau itu dosa, tetap saja dia bukanlah pria yang baik. Jadi, aku punya pilihan untuk menolak. Iya, aku akan menolaknya. Aku harus segera pergi dari hidupnya," ucap Fania dalam hati. Dia sudah membuat keputusan.
Sementara itu di tempat lain, Raditya kembali ke dalam kamarnya. Dia masuk ke dalam dengan mood yang berantakan. Suasana hatinya semakin kacau saat dimarahi oleh Zelina yang ikut emosi karena Raditya pergi tanpa pamit.
"Radit, kamu dari mana saja? Mengapa kamu pergi begitu saja meninggalkan aku di tempat panas itu sendirian?" tanya Zelina dengan penuh emosi.
Raditya duduk di kursi dengan wajah yang frustasi. Dia diam tidak menjawab pertanyaan istrinya. Zelina pun kesal, dia membentak suaminya dengan suara yang sangat keras. "Raditya, kamu ini ada apa? Mengapa kamu mengacuhkan aku? Jangan bilang kamu menemui wanita itu?"
Raditya masih diam, dan sikapnya itu semakin membuat Zelina curiga. "Kamu tidak menjawab, jadi semua itu benar? Radit, kamu mengapa seperti ini? Bukankah kamu sudah berjanji tidak akan terpikat dengannya?"
"Diamlah, kepalaku sedang pusing sekarang. Aku mau istirahat, rasanya lelah sekali." Raditya menghindari pertanyaan itu dan segera menyingkir menghindar keributan.
Zelina menghentakkan kakinya kesal. Napasnya naik turun penuh dendam. "Aku harus menyingkirkan wanita itu. Aku yakin jika Raditya sudah mulai tertarik dengan wanita sialan itu. Aku harus membuatnya menghilang dari dunia ini."
Dalam kepala Zelina sudah memikirkan banyak cara bagaimana cara menyingkirkan Fania yang merupakan penghalang hubungannya saat ini. Dia sangat tidak terima jika harus tersingkir dalam hubungannya saat ini.
*****
Malam hari pun tiba, kegelisahan yang dalam semakin menyelimuti hati Fania. Dia berjalan mondar-mandir dalam kamarnya sambil berpikir bagaimana cara menghindari suaminya. "Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mau melakukannya dengan pria itu. Bagaimana ini? Ya, aku harus pergi. Lebih baik aku pergi daripada bertemu sama dia."
Fania bergegas membereskan semua barangnya. Dia ingin pulang saja daripada harus melayani suaminya yang arogan itu. Semuanya sudah masuk di dalam koper. Fania membuka pintunya dan keluar sambil menarik koper yang berat itu.
Langkah Fania sangat tergesa-gesa, dia takut jika ketahuan oleh suaminya. Dia terus berlari menuju ke jalan raya, jantungnya bedegup kencang dan napasnya terengah-engah tidak beraturan. Setelah jauh dari kawasan hotel, Fania duduk sebentar untuk menunggu taksi yang lewat. Dia sudah tidak punya waktu lagi.
Sepuluh menit menunggu, dari kejauhan ada taksi yang lewat. Fania segera menghentikannya, tapi kendaraan itu tidk berhenti karena ada penumpang. "Astagfirullah, bagaimana ini? Aku harus bagaimana?"
Fania berdiri dengan penuh kepanikan, dia masih berharap pada taksi yang lewat. Hingga tak lama kemudian ada kendaraan yang lewat. Dia segera menghentikannya dan ternyata kosong tidak ada penumpang. Fania masuk ke dalam dan langsung menuju ke bandara.
Di dalam taksi, Fania bisa bernapas lega. Dia bisa terlepas dari masalah meski hanya sementara saja. "Setelah ketahuan mungkin dia akan marah sekali. Lebih baik begini, jika tidak maka akan ada penyesalan seumur hidup."
Taksi terus melaju menuju ke bandara, Fania belum tahu apakah ada penerbangan menuju ke Indonesia. Dalam hatinya dia ingin aman dulu. Perjalanan di tempuh hanya dengan waktu lima belas menit. Jam baru menunjukkan pukul tujuh waktu sekitar. Sesampainya di sana, Fania segera membeli tiket untuk pulang. Namun, penerbangan hanya ada di jam satu dini hari. Fania berada dalam kebimbangan, tetapi dia tidak mempunyai pilihan lain. Akhirnya, dia memilih untuk menunggu di bandara. Ada waktu sekitar 5 jam sampai pesawat take off. Fania bersembunyi di tempat yang aman untuk menghindari hal terburuk. Dia masih tetap waspada karena ada besar kemungkinan Raditya datang menyusul.
Tiga jam berlalu, tepat di pukul 22.00, Raditya datang menemui Fania di kamarnya. Dia berdiri di depan pintu dengan penuh percaya diri. Dia menekan bel berkali-kali, tapi belum dibukakan juga. Lalu, Raditya ingin mengetuk pintu, tetapi ternyata pintunya sudah terbuka. "Tidak terkunci? Apa mungkin dia sudah menyambutku?"
Raditya masuk dengan sangat percaya diri. Dia terkejut saat ruangan kamar itu sudah kosong dan sangat sepi. "Fania, apa yang sudah kamu lakukan? Jadi kamu lebih berani menantangku daripada menurut? Sial, sejak jam berapa dia kabur?"
"Fania, awas saja jika ketemu. Aku tidak akan memberimu ampun." Raditya keluar dari kamar dengan penuh emosi. Dia pergi mencari istrinya ke bandara.
Sementara itu di bandara, Fania sudah selesai cek in. Tinggal mencari gate maka dia bisa terlepas dari kearoganan suaminya. Fania berjalan santai menuju ke lift yang ada di lantai dua. Kewaspadaannya pun turun karena sudah sedikit lega. Namun, saat dia ingin masuk ke lift, tiba-tiba saja tangannya ditarik oleh seseorang sehingga dia tidak jadi masuk ke dalam.
Fania menoleh ke belakang, kedua matanya membulat saat melihat suaminya yang sudah ada di depan matanya. "Mas Radit kok .... "
"Mau kabur ke mana kamu, hem? Ayo kembali ke hotel!" Raditya menarik tangan istrinya dengan sangat kasar. Fania pun berlari mengikuti langkah suaminya.
"Mas, aku mau pulang. Aku tidak mau kembali, kamu jahat sama aku. Kamu bukan suami yang baik. Aku tidak ...."
Plaakk!
"Diam atau aku hajar kamu di sini. Kamu hanya perlu patuh dan menurut, itu saja. Jangan melawanku atau aku akan melakukan hal yang lebih." Raditya mengancam sambil mencengkeram kuat pipi istrinya.
Fania tidak bisa melawan, dia hanya memberontak berharap ada orang yang menolongnya. Sementara itu, langkah Raditya semakin cepat hingga membuat Fania terjatuh di lantai. Lalu, dia menggunakan kesempatan itu untuk kabur dari cengkeraman suaminya.
"Hei, jangan kabur kamu!" teriak Raditya sambil mengejar istrinya yang berlari cepat.
Namun, secepat apapun Fania kabur tetap saja terkejar oleh suaminya. Raditya menggendong istrinya keluar dari bandara. Dia berjalan dengan ekspresi yang sangat menyeramkan. Dia menuju ke mobil yang terparkir tak jauh dari bandara.
"Mas turunin aku, aku tidak mau ikut. Aku tidak mau ikut kamu, Mas. Mas Radit turunkan aku." Fania terus berteriak, tapi tidak didengar oleh suaminya.
Akhirnya mereka sampai juga di parkiran, Raditya menurunkan istrinya. Di saat itu juga, Fania berusaha untuk kabur, tetapi gagal. Raditya menarik tanga istrinya dan langsung mencekiknya dengan kuat. "Mau ke mana lagi? Jangan buat aku semakin marah! Atau kamu lebih memilih untuk mati di tanganku?"
Fania berusaha menarik tangan suaminya yang sedang mencekiknya. "M-mas, to-lo-ng le-pas-kan aku! M-mas ...."
.ambil sapu ato apa kh gitu hantamkan ke kepalanya biar kapok...jd laki kok g jelas siram pake karbol sj..lagian mau mau nya nunggu smpe 30 hr..bisa mati kamu mun lemah kya itu😡😡