Aruna, dokter bedah jenius dari masa depan, terbangun di tubuh Lin Xi, seorang putri terbuang yang dihukum mati karena fitnah. Di dunia yang memuja kekuatan kultivasi, Lin Xi dianggap "sampah" karena jalur energinya hancur.
Namun, bagi Aruna, tak ada yang tak bisa disembuhkan oleh pisau bedahnya. Menggunakan ilmu medis modern, ia memperbaiki tubuhnya sendiri dan bangkit dari liang lahat untuk menuntut balas dendam.Takdir mempertemukannya dengan Kaisar Yan, penguasa kejam yang sekarat karena kutukan darah. Dengan satu tusukan jarum, Aruna menyelamatkannya dan memulai kontrak berbahaya: Aruna menjadi tabib pribadinya, dan sang Kaisar menjadi tameng bagi balas dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 RTJ
Cahaya matahari sore menerobos masuk melalui kisi-kisi jendela paviliun, membiaskan debu yang menari di udara yang tenang. Long Chen masih betah duduk di sisi ranjang, tangannya tak lepas mengusap punggung tangan Lin Xi yang kini terasa jauh lebih halus—namun juga lebih rapuh. Kehangatan yang ia rasakan bukan lagi luapan Qi yang membara, melainkan hanya suhu tubuh manusia biasa.
"Yang Mulia," suara Lin Xi memecah keheningan yang nyaman itu. "Anda adalah seorang Pangeran. Duduk di sini berjam-jam hanya untuk menatap seorang gadis yang baru bangun dari kematian... bukankah itu sedikit berlebihan bagi reputasi Anda?"
Long Chen terkekeh, suara rendahnya menggetarkan dada. Ia perlahan melepaskan genggamannya, meski ada sorot enggan yang melintas sejenak di matanya. "Reputasiku sudah hancur sejak aku membiarkanmu menendang pantatku di hutan dulu, Xi'er. Jadi, beberapa jam lagi tidak akan mengubah apa pun."
Ia berdiri, merapikan jubah biru safirnya yang sedikit kusut. Sosoknya yang tinggi dan tegap kini menghalangi sebagian cahaya, menciptakan bayangan panjang di atas tubuh Lin Xi.
"Aku harus kembali ke Istana Utama. Ayahanda Kaisar sedang dalam suasana hati yang... rumit. Beliau senang pemberontakan Lin Tian tumpas, tapi beliau juga khawatir tentang 'kekuatan es' yang membekukan setengah kediaman ini. Aku harus memastikan laporan para penjaga tidak terdengar seperti dongeng mistis yang menakutkan bagi takhta."
Lin Xi mengangguk paham. Ia tahu persis bagaimana politik bekerja. Sesuatu yang terlalu kuat dan tidak bisa dikendalikan akan selalu dianggap sebagai ancaman, meskipun itu adalah penyelamat.
"Pergilah. Aku tidak akan lari kemana-mana. Dengan kaki yang selemas ini, bahkan mengejar kucing pun aku tidak sanggup," canda Lin Xi, meski ada nada pahit yang terselip di sana.
Long Chen membungkuk, wajahnya mendekat hingga Lin Xi bisa mencium aroma kayu cendana dan dinginnya embun yang menempel di jubah pria itu. Ia mendaratkan kecupan ringan di kening Lin Xi.
"Jangan berpikir terlalu banyak. Bi Inah dan Pengasuh Han ada di luar. Dan Satu... dia tidak akan membiarkan seekor lalat pun masuk tanpa izin. Istirahatlah, Jenderal kecilku."
Long Chen berbalik dan melangkah keluar. Suara pintu kayu yang bergeser dan langkah kakinya yang mantap di atas lantai selasar perlahan menghilang. Lin Xi menarik napas panjang, matanya kini menatap kosong ke langit-langit paviliun yang dihiasi ukiran teratai.
"Kek," panggilnya dalam batin. "Dia sudah pergi."
“Hmph, anak muda itu memang punya lidah yang manis,” suara Kakek Bai bergaung, kali ini terdengar lebih jernih di kepalanya. “Tapi dia benar, Xi'er. Sekarang kau adalah sasaran empuk. Tanpa Qi, kau hanyalah selembar kertas di tengah badai. Kau harus mulai belajar hidup dengan cara yang berbeda.”
Malam jatuh dengan cepat di ibu kota. Paviliun Lin Xi yang terpencil kini diterangi oleh beberapa lentera minyak yang berpendar lembut. Pengasuh Han baru saja selesai membantu Lin Xi menyeka tubuhnya dan mengganti pakaiannya dengan jubah tidur sutra berwarna putih pucat.
"Nona, apakah Anda merasa kedinginan?" tanya Pengasuh Han penuh perhatian. "Tangan Anda masih terasa seperti es."
Lin Xi menggeleng perlahan. "Ini hanya sisa-sisa energi itu, Pengasuh. Jantungku tidak lagi bisa memproduksi panas yang sama. Tapi aku baik-baik saja."
"Nona... ada seseorang yang ingin bertemu. Dia sudah menunggu di gerbang paviliun sejak matahari terbenam."
Lin Xi mengerutkan kening. "Long Chen? Dia kembali secepat ini?"
"Bukan, Nona. Itu... Tuan Muda Kedua dari keluarga Mo. Mo Ruyan."
Mata Lin Xi sedikit melebar. Mo Ruyan. Sahabat masa kecilnya, pria yang dulu selalu membawakannya manisan saat ia dihukum di gudang oleh Lin Tian. Namun, Mo Ruyan juga adalah pria yang keluarganya tetap bungkam saat keluarga Lin memburu Lin Xi sepuluh tahun lalu.
"Biarkan dia masuk," kata Lin Xi akhirnya.
Beberapa saat kemudian, seorang pria dengan jubah hijau lumut yang elegan masuk. Wajahnya tampan, namun garis-ragunya terlihat jelas. Mo Ruyan terpaku di ambang pintu, matanya menatap Lin Xi dengan campuran rasa bersalah, rindu, dan keterkejutan.
"Xi... Xi'er?" suaranya bergetar.
"Duduklah, Ruyan. Jangan berdiri di sana seolah-olah kau baru saja melihat hantu. Meskipun aku tahu, aku memang hampir menjadi hantu," ujar Lin Xi datar.
Mo Ruyan duduk di kursi kayu di samping tempat tidur. Ia meletakkan sebuah kotak kayu kecil di atas meja. "Aku membawa obat pemulih sumsum dari sekteku. Ayahku... dia melarangku datang, tapi aku tidak bisa diam saja setelah mendengar apa yang terjadi di kediaman Lin."
"Keluarga Mo selalu pandai dalam hal 'diam saja', bukan?" sindir Lin Xi, matanya tajam menatap pria di depannya.
Mo Ruyan menunduk, tangannya mengepal di atas lutut. "Aku minta maaf. Sepuluh tahun lalu, aku tidak punya kekuatan untuk menentang keputusan para tetua. Kami terjepit di antara kesetiaan pada Kaisar dan ketakutan pada pengaruh Lin Tian yang menggurita saat itu."
"Aku tidak butuh permintaan maafmu, Ruyan. Itu masa lalu. Katakan, kenapa kau datang sekarang? Apakah karena sekarang keluarga Lin sudah runtuh dan kau ingin memastikan posisimu di pihak yang menang?"
"Bukan begitu!" seru Mo Ruyan, wajahnya memerah. "Aku mendengar kau kehilangan kultivasimu. Xi'er, ibu kota ini bukan tempat yang aman bagi seseorang yang tidak bisa melindungi diri sendiri. Lin Tian mungkin dipenjara, tapi faksi Utara masih memiliki mata-mata di sini. Mereka akan mencarimu. Mereka menginginkan Segel Militer itu."
Lin Xi melirik Segel Militer yang tergeletak di meja rias. "Benda perunggu ini? Long Chen sudah menjaganya."
"Pangeran Chen tidak bisa menjagamu setiap detik!" Mo Ruyan mencondongkan tubuhnya. "Ikutlah denganku ke Lembah Mo. Di sana ada formasi pelindung kuno. Kau bisa hidup tenang, tanpa perlu terlibat dalam intrik istana lagi. Aku bisa menjagamu."
Lin Xi terdiam. Tawaran itu terdengar menggoda bagi siapapun yang lelah berperang. Tapi ia bukan wanita semacam itu.
"Ruyan," Lin Xi menyebut namanya dengan lembut namun tegas. "Sepuluh tahun aku merangkak dari lumpur untuk kembali ke sini. Aku kehilangan kultivasiku untuk menyelamatkan kota ini, bukan untuk lari ke lembah tersembunyi dan bersembunyi di balik ketiakmu."
"Tapi kau lemah sekarang!"
"Tubuhku mungkin lemah, tapi otakku tidak," Lin Xi menunjuk kepalanya sendiri. "Katakan pada ayahmu, Lin Xi yang sekarang memang tidak bisa menghancurkan gunung dengan satu pukulan, tapi dia masih bisa menghancurkan sebuah keluarga bangsawan dengan satu surat jika dia mau."
Mo Ruyan terhenyak. Ia melihat kilat di mata Lin Xi—kilat yang sama yang ia lihat sepuluh tahun lalu saat gadis itu bersumpah akan membalas dendam. Kultivasinya mungkin hilang, tapi jiwanya tetaplah Jenderal Wilayah Barat yang tak tertundukkan.
Setelah Mo Ruyan pergi dengan langkah lesu, Lin Xi mencoba bangkit dari ranjangnya. Dengan susah payah, ia menyeret kakinya menuju meja rias. Tangannya yang gemetar meraih Segel Militer Wilayah Barat.
Logam itu terasa dingin.
“Benda itu tidak akan berfungsi lagi tanpamu, Xi'er,” suara Kakek Bai memecah kesunyian.
"Aku tahu, Kek. Tapi benda ini masih memiliki simbol. Siapapun yang memegangnya, memegang kendali atas lima puluh ribu tentara di perbatasan. Long Chen berpikir dia melindungiku dengan memberikan aset keluarga Lin kembali padaku, tapi dia sebenarnya memberiku beban yang sangat besar."
Tiba-tiba, jendela paviliun terbuka sedikit karena hembusan angin malam. Seekor burung merpati kecil berwarna abu-abu hinggap di birai jendela. Di kakinya terikat sebuah tabung bambu kecil.
Lin Xi mengernyit. Itu adalah sandi rahasia Garda Bayangan, tapi warnanya berbeda. Merah.
Ia mengambil surat itu dan membacanya. Wajahnya seketika berubah pucat.
“Utusan Utara tidak bergerak sendirian. Ada pengkhianat di dalam lingkaran dalam Pangeran Kedelapan. Waspadai racun dalam perjamuan besok malam.”
Surat itu tidak memiliki tanda tangan, namun Lin Xi mengenali gaya penulisannya. Itu adalah kode yang hanya diketahui oleh mendiang ibunya dan satu orang lagi—kakak laki-laki ibunya yang menghilang bertahun-tahun lalu.
"Pengkhianat di lingkaran dalam Long Chen?" bisik Lin Xi. "Satu? Atau tabib istana?"
Lin Xi mencoba mengalirkan Qi-nya secara naluriah untuk menghancurkan kertas itu, namun ia teringat bahwa ia tidak lagi memilikinya. Ia terpaksa menyulut lilin dan membakar kertas itu secara manual.
Ia menatap abu yang tertinggal dengan pikiran yang berkecamuk. Es di kediaman Lin mungkin sudah mencair, tapi badai baru sedang terbentuk di Istana. Dan kali ini, ia tidak bisa mengandalkan pedangnya.
"Pengasuh Han!" panggil Lin Xi dengan suara yang lebih keras.
Wanita tua itu masuk dengan terburu-buru. "Ya, Nona?"
"Siapkan pakaian terbaikku untuk besok malam. Bukan jubah sutra yang lembut, tapi pakaian kulit yang biasa aku gunakan untuk berburu."
"Nona... tapi Anda masih sangat lemah. Pangeran pasti ingin Anda mengenakan pakaian yang nyaman."
"Lakukan saja, Pengasuh," perintah Lin Xi dengan nada otoritas yang kembali muncul. "Dan satu hal lagi. Panggil Satu secara diam-diam. Aku ingin dia menyelidiki pasokan obat-obatan yang masuk ke kediaman Pangeran dalam tiga hari terakhir."
Pengasuh Han membungkuk dan segera pergi. Lin Xi kembali menatap jendela. Pohon prem di luar tampak bergoyang diterpa angin malam yang kencang.
"Long Chen," gumamnya pelan. "Kau bilang kau akan berdiri di depanku jika ada ledakan. Tapi bagaimana jika ledakannya datang dari dalam pelukanmu sendiri?"
Di dalam benaknya, Kakek Bai mendesah. “Sepertinya waktu istirahatmu memang sangat singkat, Xi'er. Tapi ingat, tanpa Qi, indramu yang lain harus sepuluh kali lipat lebih tajam. Kau harus menjadi rubah jika tidak bisa lagi menjadi singa.”
Lin Xi tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung bahaya. "Aku selalu lebih suka menjadi rubah, Kek. Singa terlalu berisik."
Ia kembali ke ranjang, namun tidurnya tidak akan nyenyak malam ini. Di kejauhan, lonceng istana berdentang tiga kali, menandakan tengah malam telah lewat. Permainan catur baru saja dimulai, dan meskipun ia kehilangan 'menteri' dan 'benteng' kekuatannya, Lin Xi masih memiliki satu bidak yang paling mematikan: kebenaran.