NovelToon NovelToon
Cadar Sang Pendosa

Cadar Sang Pendosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Romantis / Cintamanis / Balas Dendam / PSK / Konflik etika
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nadiaa Azarine

Dalam semalam, video scandal yang tersebar membuat kehidupan sempurna Adara hancur. Karirnya, nama baiknya, bahkan tunangannya—semuanya dihancurkan dalam sekejap.

“Gila! Dia bercadar tapi pelacur?”

“Dia juga pelakor, tuh. Gundik suami orang.”

“Jangan lupa… dia juga tidur sama cowok lain meskipun sudah punya tunangan se-perfect Gus Rafka.”

“Murahan banget, ya! Sana sini mau!”

“Namanya juga pelacur!”

Cacian dan makian terus dilontarkan kepada Adara. Dalam sekejap citranya sebagai influencer muslimah bercadar, dengan karya-karya tulisnya yang menginspirasi itu menghilang.

Nama panggilannya berubah menjadi “Pelacur Bercadar”. Publik mengecamnya habis-habisan bahkan beberapa orang ingin memukulinya.

Namun di tengah semua kekacauan yang terjadi, seorang pria mengulurkan tangannya kepada Adara.

“Menikahlah denganku, Adara. Aku akan membantumu untuk memperbaiki nama baikmu. Setelah semuanya membaik—kamu bisa pergi meninggalkanku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadiaa Azarine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suasana Baru

Seminggu yang terasa lamban akhirnya berlalu. Rumah keluarga Junia masih menyisakan wangi bunga krisan dan anyir kayu dari peti yang pernah disemayamkan di ruang tengah. Karangan bunga yang dulu memenuhi dinding sudah mulai layu, pita-pita putihnya tergantung lemas seperti kehilangan makna. Foto-foto keluarga yang semula dipajang untuk ibadah penghiburan kini tergeletak begitu saja, menjadi saksi bisu akan hari-hari penuh tangis yang baru saja berlalu.

Junia duduk di ambang pintu ruang keluarga, memeluk lutut dan menatap halaman kosong di luar. Para tetangga dan sanak keluarga sudah berhenti datang. Meninggalkan keheningan yang semakin menyedihkan. Keheningan yang tersisa justru terasa jauh lebih menyakitkan daripada keramaian hari-hari duka sebelumnya.

Junia masih tidak percaya bahwa hidupnya bisa berubah secepat itu. Baru seminggu lalu ia berkeliling Tokyo dan disneyland bersama orang-orang yang paling ia sayangi, dan hari ini rumahnya yang saat itu terasa hangat seketika mendingin hingga membuatnya hampir membeku

Selama beberapa hari ini hanya tetangga sebelah rumahnya, Tante Lela bersama putrinya—Laura yang menemaninya. Laura adalah tetangga sekaligus sahabat dekatnya dan mereka bersekolah di SMA yang sama. Tante Lela sendiri menganggap Junia sudah seperti putrinya sendiri, karena itulah ia menemani Junia, memberinya makan dan memastikan Junia kembali ceria untuk melanjutkan hidupnya.

Keluarga pamannya datang di hari pertama, lalu di hari ketiga mereka pulang dan belum kembali lagi. Junia menatap abu di atas meja. Ia bahkan tidak tau harus membuang abu itu atau menyimpannya. Ayah dan kakeknya memang beragama Kristen, sehingga jasad mereka dikremasi sesuai tradisi keluarga Ayahnya. Entah apa alasannya, Junia tidak tau.

Sementara ibunya seorang Muslim. Benar. Orang tuanya menjalani hubungan pernikahan yang rumit. Namun perbedaan keyakinan itu membuat rumah mereka terasa seperti dua dunia yang bertemu—pernikahan beda agama yang sejak dulu dijalani dengan cara masing-masing. Sedangkan Junia sendiri? Dia memilih mengikuti agama Ibunya.

Suara mobil yang berhenti di halaman rumahnya membuat Junia menoleh sebentar ke arah Jendela. “Om Johan…” lirihnya tanpa rasa semangat.

Tak lama, suara langkah kaki terdengar dan berhenti tepat di hadapannya. “Junia…” panggilnya pelan. “Om mau ngomong sesuatu.”

Junia mengangguk kecil, tanpa menoleh. Tatapannya hanya menatap lurus ke depan. “Iya, Om.”

Johan menarik napas panjang “Maaf karena Om baru datang. Paman mengurus banyak hal selama kamu masih shock. Termasuk urusan utang-utang ayahmu.”

Junia mengangkat kepala. “Ayah punya utang?”

Johan mengangguk pelan. “Lumayan besar. Totalnya ratusan juta. Ayahmu juga sempat pinjam ke beberapa orang buat nutup bisnis yang nggak jalan. Om sebenarnya kaget juga.”

Junia menunduk. Ia tidak tahu apa-apa soal itu. Yang Junia lihat Ayahnya selalu tampak stabil, disiplin, dan tidak pernah terlihat kesulitan masalah keuangan.

“Karena itu…” Johan menjeda ucapannya, “Rumah ini dan beberapa aset lainnya terpaksa dijual buat nutup utang-utangnya. Soalnya kalau nggak, kamu yang bakal ditagih.”

Junia membeku. “Rumah… dijual?”

“Om nggak punya cara lain, Junia. Aset-aset Papa kamu yang lain sudah disita bank dan hanya tersisa rumah ini,” jelas Johan. “Dan itu pun masih tidak cukup untuk melunasi hutang Ayah kamu.”

“Tapi rumah ini isinya kenangan tentang Ayah dan Bunda, Om…” lirih Junia.

“Om nggak punya cara lain, Jun.” Johan menarik napas kasar. “Kamu nggak usah takut. Om bukan mau ngelepas kamu begitu saja. Kamu ikut om tinggal di rumah om yang baru. Rumah ini akan segera diambil sama yang beli. Mungkin akhir minggu ini kita pindah, ya?”

Junia tidak mengangguk, tidak menggeleng. Ia hanya menatap meja kayu di depannya dengan pandangan buram. “Aku kira… kita masih bisa tinggal di sini,” bisiknya lirih.

Johan menghela napas, mengusap punggung tangan Junia pelan. “Om akan urus semuanya. Kamu fokus saja sekolah.”

Junia hanya menghela napas. “Besok Tantemu akan ikut membantu berkemas,” ucapnya lalu menepuk pundak Junia lembut dan segera keluar kamar, meninggalkan Junia seorang diri.

“Aku kehilangan lagi…” lirihnya.

---

Dua hari kemudian Johan datang membawa mobil bak terbuka untuk mengangkut barang-barang yang dianggap masih layak. Semua barang-barang milik Junia sudah dikemas dengan rapi termasuk barang-barang peninggalan ibu dan ayahnya yang ingin ia bawa.

Junia berdiri lama sekali di depan kamarnya yang kosong. Rumah itu—tempat ia menunggu ayahnya pulang kerja, tempat ia duduk di pangkuan kakek, tempat ia belajar memasak bersama bunda. Kini ruangan itu hanya empat tembok putih dengan lantai dingin.

Junia tak lagi menangis. Entahlah. Mungkin ia sudah mulai terbiasa dengan kehilangan. Matanya mengitari seisi rumahnya, bermaksud merekam bagian dari kenangan indah bersama orangtuanya.

Junia masih bisa membayangkan senyuman ibunya saat ia datang menghampiri wanita itu yang sedang memasak di dapur. Ia juga bisa membayangkan ayahnya yang mengajaknya untuk bermain PS bersama, dan kakeknya yang selalu menemaninya berbincang.

“Jun sayang… Bunda udah buatkan Jus Alpukat.”

“Kalau Jun bisa kalahin Ayah bakal Ayah dibeliin Ipad baru!”

“Gambar cucu kakek bagus banget. Cucu kakek bakal jadi pelukis terkenal, ya!”

“Jun sayang… ayo bangun… jangan males-malesan.”

“Jun mau lomba sepeda sama Ayah?”

“Anak ayah mau dipijat nggak?”

Junia menahan air matanya agar tidak tumpah. Ia tidak ingin menangis lagi dan menunjukkannya di depan orang-orang. Ia ingin terlihat kuat dan baik-baik saja.

“Jun… ayo berangkat, Nak.” Suara Johan menyadarkan Junia dari lamunannya.

Ia bergegas pergi menghampiri pamannya yang sudah menunggu di depan rumah. Johan mengarahkan Junia masuk ke mobil mereka. Rumah baru pamannya yang akan mereka tempati berada di pinggiran kota, lebih dekat dari sekolahnya.

Setelah beberapa menit dalam perjalanan, mereka pun sampai di rumah itu. Jelas itu bukan rumah neneknya yang sudah dijual pamannya. Rumah itu tampak masih baru. Mungkin paman kredit perumahan baru, begitulah yang ada dipikiran Junia. Tapi ia enggan bertanya.

“Kamar kamu di atas, sebelah kanan. Tante sudah siapin kasurnya,” ucap Johan.

Junia mengangguk. “Terima kasih, Om.”

Usai mengatakan hal itu, Johan pergi meninggalkan Junia kembali seorang diri.

Junia merebahkan tubuhnya di atas kasur, menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Dunianya terasa kosong meski di luar ia bisa mendengar kedua sepupunya yang sedang tertawa sambil memainkan PS.

“Bunda… Jun kangen…” lirihnya.

“Ayah… kenapa ninggalin Jun sendirian…” Junia terisak. Menangis pedih.

“Katanya Bunda sama Ayah mau nemenin Jun sampe Jun menikah. Bunda sama Ayah pembohong!” racaunya.

“Tuhan… kenapa jahat sama Jun?” lirihnya. “Bunda selalu bilang kalau Allah nggak akan menguji hambanya di luar batas kemampuannya. Tapi Jun nggak kuat lagi, Bunda… kenapa Jun masih diuji padahal Jun nggak kuat.”

“Kenapa Bunda?”

“Dan kenapa nggak ada yang peluk Jun lagi saat Jun nangis? Bunda bilang bakal terus peluk Jun kalo Jun nangis!”

“Allah kenapa ambil Bundaku? Kenapa ambil orang-orang yang aku sayang sekaligus?” Air mata membanjiri wajah cantik gadis itu.

Ia menangis hingga akhirnya terlelap karena kelelahan menangis.

***

Bersambung…

1
Lovita BM
ayok up lagi kakak ✊🏼
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Meliandriyani Sumardi
salam kenal kak
Sweet Girl
Bisa jadi ... mesti diselidiki.
Khan sudah ada clue, Tattoo Mawar.
Sweet Girl
Ijin baca Tor...
episode pertama bagus, bikin penasaran.
semoga selanjutnya makin bagus.
Sweet Girl
Kamu salah... Makai Cadar kok karena Adara...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!