Bandhana memiliki makna hubungan yang mengikat satu hal dengan hal lainnya. Disini Anindita Paramitha memiliki hubungan yang sangat rumit dengan Zaverio Kusuma yang merupakan mantannya namun sekarang jadi kakak iparnya.
Vyan Syailendra, merupakan sahabat Anindita namun permusuhan dua keluarga membuat mereka saling membenci. Namun, hubungan mereka tidak pernah putus. mereka saling melindungi, meskipun membenci.
Dan waktu kelam itu terjadi, Anindita tewas ditangan keluarga suaminya sendiri. Vyan yang berusaha melindungi sahabatnya pun tewas. Zaverio pun membalas keluarganya sendiri dengan cara sadis dan saat semuanya selesai, dia berniat mengakhiri diri sendiri. Namun, dia malah terlempar ke tempat dimana dia bertemu dengan Anindita kecil yang berusia 5 tahun. Akankah, takdir Anindita Paramitha dapat diubah oleh Zaverio? Dan akankah rahasia kelam dapat terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beatt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Dua Minggu Kemudian - Kremasi
Jenazah Anindita dan Vyan dikremasi dalam upacara yang sangat privat. Hanya keluarga terdekat yang hadir.
Abu mereka diletakkan dalam dua guci cantik yang berdampingan di ruang memorial khusus yang dibangun di Paramitha Corp—ruangan dengan jendela besar menghadap taman tempat Anindita dan Vyan dulu bermain saat kecil.
Darma dan Arjuna berdiri di sana untuk terakhir kalinya, menatap guci yang berisi sisa-sisa cucu mereka.
"Maafkan Kakek, cucuku," bisik Darma. "Maafkan Kakek karena tidak melindungimu..."
"Maafkan Kakek, Vyan," Arjuna menambahkan. "Karena membiarkan dendam mengaburkan cinta..."
Setelah upacara selesai, kedua keluarga sepakat untuk merger. Paramitha Corp dan Syailendra Group bersatu menjadi satu korporasi megah—sebagai penghormatan untuk Anindita dan Vyan yang seharusnya bersahabat dari awal.
...****************...
Kantor Zaverio - Malam Terakhir
Zaverio duduk sendirian di kantornya yang megah di puncak gedung tertinggi Jakarta. Di mejanya, semua dokumen legal yang sudah ditandatangani: seluruh aset pribadinya—properti, saham, investasi senilai ratusan triliun rupiah—diserahkan kepada Darma Paramitha dan Arjuna Syailendra.
Dia tidak membutuhkan uang itu lagi. Untuk apa? Wanita yang dia ingin berikan segalanya sudah mati.
Di tangannya, sebuah pistol.
Di layar laptop, sebuah video pernikahan dia dan Anindita yang tidak pernah terjadi—video yang dia edit sendiri dari berbagai foto dan video mereka bersama bertahun-tahun lalu. Video tentang masa depan yang tidak akan pernah terwujud.
Zaverio tersenyum sedih, air matanya mengalir untuk terakhir kalinya.
"Tunggu aku, Dita," bisiknya. "Aku menyusulmu sekarang. Kali ini... kali ini aku tidak akan terlambat lagi."
Dia mengarahkan pistol ke pelipisnya, jarinya menekan pelatuk perlahan—
BANG!
...****************...
Zaverio membuka matanya.
Tapi bukan langit-langit kantor megahnya yang dia lihat. Bukan juga kegelapan kematian.
Yang dia lihat adalah... langit-langit kamarnya. Tapi bukan kamar di mansion Kusuma yang megah. Ini kamar kecil. Sederhana. Dengan wallpaper bergambar robot yang sudah usang.
Kamar masa kecilnya.
Tubuhnya terasa... kecil. Sangat kecil.
Dengan panik, Zaverio bangkit dan berlari ke cermin di sudut kamar.
Apa yang dia lihat membuat jantungnya berhenti.
Seorang anak kecil berusia sekitar 9 tahun menatapnya dari cermin—dengan mata hijau zamrud yang sama, tapi wajah yang masih bulat, rambut yang masih halus.
"Tidak mungkin..." Dia menyentuh wajahnya di cermin. Suaranya tinggi—suara anak kecil. "Ini tidak mungkin..."
Pintu kamar terbuka, seorang wanita muda masuk—ibu tirinya, Lastri Kusuma, tapi lebih muda, lebih cantik, belum ada kebencian di matanya.
"Zav, sayang, ayo sarapan! Hari ini kita akan pergi menemui kakek" katanya dengan senyum lembut.
Zaverio menatap tangannya yang kecil, kemudian ke cermin lagi, kemudian ke ibu tirinya yang masih muda.
Perlahan, kesadaran merayap masuk.
Dia kembali. Kembali ke masa lalu. Dia diberikan kesempatan kedua.
"Kesempatan kedua..." bisiknya pelan, air mata mengalir—tapi kali ini bukan air mata kesedihan.
Ini air mata harapan.
Dia bisa menyelamatkan Anindita. Dia bisa mengubah segalanya. Dia bisa memastikan masa depan yang berbeda—masa depan di mana Anindita hidup bahagia, di mana mereka bersama, di mana tidak ada dendam, tidak ada kematian, tidak ada kehilangan.
"Mama," panggilnya, suaranya bergetar. "Aku siap. Ayo pergi."
Lastri tersenyum, mengulurkan tangannya. Zaverio menggenggamnya—genggaman yang hangat, tidak seperti genggaman dingin Lastri di masa depan yang gelap.
Saat berjalan keluar kamar, Zaverio membuat janji pada dirinya sendiri:
Aku akan melindungimu, Dita. Sejak awal. Aku tidak akan membuat kesalahan yang sama. Aku tidak akan meninggalkanmu. Dan aku tidak akan membiarkan siapapun—SIAPAPUN—menyakitimu.
Tunggu aku, Anindita Paramitha. Kali ini, aku akan melakukan semuanya dengan benar.
Zaverio, sudah memiliki rencana untuk menyelamatkan hidup Anindita. Dan kini dia hanya punya satu tujuan. Membuat hidup Anindita Paramitha Bahagia.
Satu tahun telah berlalu, kini usia Zaverio sudah menginjak 10 tahun. Hari ini—hari ketika dia berusia 10 tahun—adalah hari pertama dia bertemu Anindita Paramitha di panti asuhan tempat mereka sama-sama suka berdonasi dengan keluarga masing-masing.
Awalnya, Zaverio dan Anindita tidak menyadari sama sekali kalau mereka sudah pernah bertemu waktu mereka masih kecil. Mereka berasumsi bahwa mereka pertama kali bertemu saat Anindita berusia 18 tahun dan Zaverio 23 tahun. Sampai zaverio mendapatkan informasi dari asistennya, terkait pertemuan pertama dirinya dan Anindita.
...****************...
Panti Asuhan Cahaya Harapan - Pagi Hari
Zaverio turun dari mobil Mercedes keluarga Kusuma, tangannya digenggam ibunya. Tapi matanya langsung tersapu ke seluruh halaman panti asuhan, mencari—
Dan dia melihatnya.
Seorang gadis kecil berusia 5 tahun dengan dress pink yang simpel, rambut dikuncir dua, sedang duduk di ayunan sendirian. Wajahnya cemberut—sepertinya dia baru saja bertengkar dengan kakeknya yang sedang berbicara dengan kepala panti.
Anindita Paramitha.
Untuk pertama kalinya dalam dua kehidupan, Zaverio melihatnya lagi.
Hatinya nyaris meledak. Air matanya mengancam tumpah.
Dia hidup. Dia masih hidup. Dia masih punya masa depan.
Tanpa sadar, kakinya melangkah—berlari—menuju ayunan itu.
Anindita menoleh saat mendengar langkah kaki, matanya—mata cokelat yang indah itu—bertemu dengan mata hijau Zaverio.
"Halo," katanya polos, sedikit pemalu. "Siapa namamu?"
Zaverio berdiri di hadapannya, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
"Kenapa kamu menangis?" Anindita panik, turun dari ayunan. "Apa kamu terluka? Apa aku harus panggil orang dewasa?"
"Tidak," Zaverio menggeleng, tersenyum melalui air matanya. "Aku hanya... sangat senang bertemu denganmu."
Anindita bingung tapi tersenyum—senyum yang pernah Zaverio pikir tidak akan pernah dia lihat lagi.
"Namaku Anindita Paramitha," katanya, mengulurkan tangan kecilnya. "Teman-teman memanggilku Dita."
Zaverio menggenggam tangannya—genggaman yang hangat, hidup, penuh janji.
"Namaku Zaverio Kusuma," katanya dengan senyum yang tulus untuk pertama kali dalam dua kehidupan. "Dan aku berjanji... aku akan menjadi teman terbaikmu. Selamanya."
Anindita tertawa—tawa yang jernih seperti lonceng.
"Janji ya!" katanya, mengaitkan kelingking kecilnya dengan kelingking Zaverio.
"Janji," bisik Zaverio, menatap mata gadis kecil yang akan dia lindungi dengan seluruh hidupnya.
Dan di sana, di ayunan panti asuhan yang sama di mana semuanya dimulai dulu, semuanya dimulai lagi.
Tapi kali ini berbeda.
Kali ini, Zaverio memiliki pengetahuan. Memiliki kekuatan. Memiliki kesempatan.
Dan kali ini, dia tidak akan gagal. Namun seorang anak kecil laki-laki datang. Dia berdiri dihadapan Anindita dan Zaverio.
"Siapa kamu? Jangan dekat-dekat dengan sahabat ku!"
Zaverio melihat kearah anak laki-laki yang berusia 5 tahun itu. Dia merasa familiar... Vyan Syailendra?
Anindita melangkah lebih dekat kearah Vyan dengan wajah marah, namun menggemaskan. "Vyan... Jangan memarahi teman baru kita."
"Tapi... Dita, bisa saja dia orang jahat." Vyan menarik Anindita ke belakang tubuhnya, berusaha melindungi sahabatnya itu dari Zaverio Kusuma.