Norma menolak keras ketika mertua memintanya menggadaikan rahimnya pada pria kaya, dengan dalih untuk pengobatan sang putri.
Namun saat kejadian nahas menimpa putrinya, dan tekanan dari Mariah mertua nya, membuat Norma terpaksa mengambil keputusan nekad.
Tak sampai disitu, keputusan Norma membuatnya di hina oleh keluarga Syamsul dan masyarakat sekitar.
Sementara suaminya bekerja di luar negeri sebagai TKI. Hilang kontak.
Akankah Norma mampu menjalani kehidupan yang dilema?
.
Mohon baca teratur disetiap bab nya🙏
Kemana kah suami Norma?
Bagaimana kisahnya?
Setting: Sebuah pulau di Riau
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juniar Yasir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan Masitah
Syakir telah mendapat laporan dari Prakoso terkait masalah yang menimpa Norma. Tapi dirinya belum bisa mengambil langkah apa pun. Karena dirinya tidak ada hubungan dengan Norma, dan paling penting, Norma belum pisah secara negara. Jika dirinya secara terang-terangan menolong atau bertindak gegabah, pasti membuat masalah semakin runyam. Dan membenarkan jika dirinya telah mengontrak rahim istri orang lain.
Mana mungkin Syakir akan bertindak terburu-buru, berakhir nama baiknya yang akan di pertaruhkan. Belum lagi nama keluarga dan adat keluarga mereka yang termasuk kental.
Dirinya harus menyelesaikan satu persatu masalah terlebih dahulu. Seperti pagi ini, dirinya akan berkunjung ke rumah orang tuanya. Zakaria Rafandi, ayah kandung Syakir telah menghubunginya. Memintanya untuk pulang, makan siang bersama. Tapi Syakir tahu, jika sang Ibu telah konfirmasi terkait pernyataan Dia tempoh hari tentang pernikahan. Sebagai keluarga terpandang hal ini perlu di bicarakan secara transparan, bebet bobot siapa yang akan menjadi menantu keluarga Rafandi harus jelas.
"Pak, kita sudah tiba" ucapnya Supir membuyarkan lamunan Syakir.
Syakir hanya mengangguk, lalu membuka pintu mobil, keluar dan berjalan menuju rumah orang tuanya.
"Assalamualaikum" Sapa Syakir, menyalami ayah dan Ibunya yang berada di ruang keluarga.
"Apa dirimu sudah sarapan? Mari Bunda siapkan!" ujar Mastura mengusap punggung anaknya.
"Sudah Bun" balasnya tersenyum hangat "Bapak apa kabar?" tanya ringan, lebih ke_ basa-basi.
"Seperti yang dirimu lihat, bapak sehat sekali. Benarkah ucapan bunda mu jika kau akan menikah? Siapa orang tuanya? Apa pekerjaannya?" tanya Zakaria bertubi-tubi.
Syakir terlihat biasa saja, karena memang beginilah orang tuanya.
"Yang jelas dia seorang perempuan Yah" jawabnya singkat.
"Syakir...." tegur Mastura.
"Sekarang ini bukan waktu untuk main-main lagi Nak. Kau bukan lagi anak remaja yang baru mengenal soal pernikahan. Cukup sekali gagal dalam berumah tangga!" suara Zakaria mulai naik satu oktaf.
"Lihat papa. Sampai saat ini masih bertahan, awet!" ucapnya lagi.
"Ya bertahan. Tapi nambah satu gundik!" balasnya telak.
"Syakir! Jaga ucapan mu!" Zakaria beranjak, menuding putranya yang sering menentangnya.
Syakir bukannya takut, pria ini hanya terkekeh pelan.
"Kenapa yah? Marah dengan ucapan ku yang Ada memang fakta ini?" ucapnya bersedekap dada "Ayah sangat beruntung karena beristrikan bunda. Karena bunda terlalu baik hati menerima gundik masuk ke keluarganya!"
"Kau!" Zakaria mengangkat telapak tangannya.
Plakkkkkk!!
"Bunda!?" Syakir mendekati Ibunya yang terkena damprat oleh sang suami.
"Sayang, maafkan Abang" Zakaria mendekati istrinya.
"Sudah, aku tak apa. Tolong kalian jangan berselisih paham seperti ini, berujung main fisik. Kita ini keluarga." lirihnya mengusap pipi yang merah.
"Dan kau Syakir! Tolong sedikit hargai Ayah mu. Jangan pernah membahas masa lalu, istri kedua ayahmu adalah Ibu mu juga" ucapnya pelan.
Syakir berdecih muak.
"Sampai kapanpun aku tak Sudi!" Syakir mengendurkan genggaman tangan Ibunya.
"Kau mau kemana Nak? Kita belum makan Dan... membahas soal pernikahanmu" ucap Mastura melihat sang anak berbalik, melangkah menjauh.
"Tidak perlu!" Syakir meninggalkan kediaman orang tuanya dengan hati yang kesal.
Brakkkkkk
Pintu mobil tertutup dengan kasar oleh Syakir, membuat sang supir terlonjak kaget.
"Ke hunian jeruk sawit!" ucapnya dingin, wajah melihat keluar jendela mobil.
"Ba-baik Pak" Supir langsung menyalakan mesin, lalu memutar arah menuju jalan raya, tujuan hunian yang di tinggali Norma.
.
******
.
"Sialan betul!" maki perempuan arogan ini.
Engku Masitah, baru saja menemukan fakta yang tidak bisa di terimanya. Wanita keturunan bangsawan negeri jiran, Sedari awal dirinya menolak keras di ceraikan oleh Syakir, tapi dirinya tidak di beri celah untuk menolak, membuatnya nya harus terpaksa mengalah, menyetujui dengan pasrah. Sementara Syakir tidak pernah menyebutkan atau membahas alasannya di ceraikan. Hingga kini berlalu delapan tahun, tapi semangatnya tidak pernah padam. telah berjanji pada diri sendiri, bahwa akan kembali masuk ke keluarga Syakir sebagai istri.
Mana mungkin dirinya rela kehilangan pria kaya, keturunan terpandang. Dirinya juga sangat yakin jika kedua mertua akan sangat mendukungnya dan setuju jika mereka kembali bersama, mengingat mantan mertuanya itu dan orang tuanya adalah sahabat baik. Terlebih mereka terjalin kerja sama PT. Sawit.
Tapi kini angannya itu seakan luntur, karena Mantan suami yang masih di harapkan bisa kembali padanya malah di kabarkan punya wanita lain.
Setelah lama terdiam, ide licik muncul di benak Masitah. Iya tersenyum penuh kelicikan.
'Kita lihat saja nanti Syakir Rafisqy. Setelah ini kan ku buat kau kembali pada ku!' batinnya mengepalkan tangan.
"Tolong antarkan aku ke rumah Ibu Mastura!" Masitah beranjak, mengambil tas dan ponselnya, lalu menuju keluar.
Orang suruhan mengikuti dari belakangnya. Bergegas pria kekar itu membuka pintu mobil bagian belakang. Setelah sang Nyonya masuk, Pria tubuh kekar itu menutup pintu, lalu giliran dirinya masuk ke jok bagian sebelah supir.
Saat mobilnya baru akan memasuki kawasan hunian elite, dari kejauhan tampak mobil Syakir keluar dari hunian orang tuanya.
"Batalkan! Ikuti saja mobil itu!" tunjuknya pada mobil Syakir, sopir mengangguk, lalu memutar arah. Mengikuti mobil Syakir dari jarak aman.
Masitah mengurungkan niatnya kerumah mantan mertua, mengingat info yang di terima belum jelas dan tidak ada bukti. Jadi wanita ini lebih memilih mengikuti Syakir saja.
.
'Kemana pria ini akan pergi?' batinnya.
Mobil Syakir memasuki area kebun jeruk sawit.
"Tak biasanya lelaki ni mengunjungi hunian ini?!" monolognya penasaran.
Mobil yang di tumpangi Masitah berhenti agak jauh. Wanita ini memilih mengamati dari dalam mobil, menghindari ketahuan mantan suami.
"Ha? Betulan ada wanita nya?" Masitah mulai panas hatinya.
Kemarin wanita ini mendapat laporan, jika asisten mantan suaminya membawa wanita muda ke rumah sakit mahal. Entah kenapa dirinya menjadi penasaran. Dan ini lah jawabannya_ meski masih abu-abu.
.
*****
.
Sementara Syakir, pria itu berdiri di serambi rumah panggung. Meskipun ini adalah hunian miliknya, tapi dirinya tetap tidak ingin lancang masuk rumah.
"Assalamualaikum" ucapnya.
"Wa'alaikum salam" Sayup suara lembut menyambut salam. Terdengar langkah kaki menapaki lantai kayu aesthetic mengkilap.
Ceklek! Pintu di buka dari dalam.
Keduanya terdiam sejenak, saling bertatap muka. Manik Norma yang berkilau, lembut dan memukau bertemu mata tajam Syakir.
Norma mengernyitkan kening, tak mengenali pria yang mengenakan kaos oblong, celana chinos selutut ini.
"Maaf, bapak mencari siapa?" tanya Norma.
Syakir menatap rumit perempuan di depannya, matanya turun ke perut yang masih rata. Lalu kembali menatap manik lembut itu, manik yang tidak pernah berubah. Hanya wajah yang terlihat lebih dewasa.
"Pak!?" panggil Norma.
"Buk Syam ada?" tanyanya.
"Oh, sebentar. Saya panggilan dulu. Dengan Bapak siapa?" tanyanya lagi.
"Syakir Rafisqy?" ucapnya tegas.
"Ohhh.. Ha?!" mata bulat itu melotot terkejut. Lalu menunduk dalam.
"Saya rasa telinga anda masih berfungsi dengan baik, pun juga umur anda masih muda, tidak mungkin tuli kan?!'' tekannya.
Norma langsung mendongak, menatap sinis pria bermulut pedas di depannya ini.
"Terima kasih atas pujian anda Pak Syakir Daulay!. Permisi!" ucapnya lalu berbalik berjalan menuju belakang, mencari Mak Cik Syam.
"Apa kata Dia tadi? Syakir Daulay?" gumamnya.
"Prakoso? Siapa Syakir Daulay?" Iya menatap sang asisten.
"Maaf Pak, saya juga kurang tahu" balas Prakoso sopan.
.
.
"Apa? rahim kontrak? betulan kabar yang kau berikan ini?" tanya Masitah melotot.
.
Jangan lupa like dan komentarnya 🙏