Tama datang dengan satu tujuan: menjaga Lengkara.
Bukan untuk dimiliki, apalagi diperebutkan—cukup memastikan gadis itu baik-baik saja.
Namun mendekati Lengkara tak sesederhana rencananya.
Saat Tama sibuk mencari cara supaya selalu ada di dekat Lengkara, justru Sasa muncul tanpa aba-aba. Terlalu berisik, terlalu berani, dan terlalu sering menyebut namanya seolah mereka sudah sedekat itu.
Ironisnya, Sasa adalah adik dari laki-laki yang terang-terangan disukai Lengkara.
“Bang, 831 gimana? Yes or no?” Sasa menatapnya penuh harap.
Tama mendengus, menahan senyum yang tak seharusnya ada. “Apaan sih, nggak jelas banget!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cuek
Tama muak sekali pada gadis yang membuatnya menghitung kacang ijo. Tidak menghitung dengan benar, Tama justru mencari cari untuk pergi dari sana. Gila saja, tadi siang ia sudah dikerjai Lengkara dan teman-temannya masa sore harinya harus melayani gadis kurang kerjaan di hadapannya.
"Sa..." panggil Tama lirih, sedari tadi gadis itu selalu menyebut namanya sendiri setiap kali bicara. Tipe-tipe anak mami yang super manja.
Gadis itu mendongak ke arahnya, "iya? eh Abang tau nama Sasa?"
Tama memutar bola mata, dalam hati merutuki gadis di depannya. Antara polos atau bodoh? sedari tadi berulang kali menyebut namanya sendiri,mana mungkin lawan bicaranya tak tau.
"Tau lah kan dari talo lo nyebut nama sendiri. Sasa, sasa, sasa. Udah kayak santan sachetan aja." tiba-tiba Tama teringat salah satu bahan makanan yang biasa di beli mamanya.
"Hei, kalo Santen sachetan itu Kaleng, Sasa mah bumbu penyedap, micin." kelakarnya, sama sekali tak marah meskipun namanya diejek.
"Eh walaupun Sasa ada santennya juga sih." lanjutnya sambil tertawa membuat Tama kian mengernyitkan kening, tak mengerti arah pembicaraan gadis itu.
"Tapi kata gue mah enakan santan yang dari kelapa langsung deh." jawab Tama asal, "ngomong-ngomong ini kayaknya kacang ijonya kurang deh. Lo beli lagi gih ke dalem, satu bungkus lagi aja." imbuhnya.
"Oke.Tunggu bentar, Bang. Sekalian nanti Sasa beliin jajan deh." Sasa berlalu ke dalam dengan polosnya.
Pandangan Tama mengikuti Sasa yang kian sibuk diantara rak makanan, setelah memastikan gadis itu tak melihatnya, ia segera kabur. "Dasar Bocil! Sorry yah gue cabut duluan."
Di dalam mobil sepanjang perjalanan Tama tertawa puas, rasanya ia sudah berhasil membalaskan kejadian tak menyenangkan yang ia alami siang tadi, meski pun tidak pada orang yang sama, yang penting hatinya puas.
Tiba di rumah masih sepi, nampaknya sang mama masih sibuk di saon miliknya yang akan segera buka, Beauty Atelier. Soal kecantikan, make up dan perawatan mamanya memang jago, bahkan tak jarang mamanya pergi dari satu lokasi ke lokasi lain saat ada panggilan make up. Sementara sang ayah jangan ditanya, pria itu sibuk dengan perusahaannya di Surabaya. Dia menjadi satu-satunya orang yang tak ikut pindah, memilih menentap disana sampai menemukan orang yang bisa dipercaya untuk mengelola lalu pindah kesini dan membuat cabang baru.
"Mau di rumah baru atau rumah lama tetep aja tiap pulang nggak ada orang." gumam Tama yang langsung menuju kamarnya.
Tama membuka ponselnya yang tiba-tiba bergetar tak henti-tentinya padahal tak ada telepon masuk. "buset buset..."
Tama tak membalas chat pribadi yang masuk, isinya chat cari perhatian dari Dila dan Selvia. Rupanya mereka satu kelas, terlihat dari namanya yang ditambahkan dalam grup baru, 12 AKL 1. Tama membuka info grup, tujuannya tentu mencari nomor Lengkara. Bukankah mereka bilang tadi mau mencari tempat duduk ternyaman bersama, berarti ada kemungkinan gadis itu juga satu kelas dengannya.
Dari sekian banyak kontak, terdapat satu nama yang begitu mencolok pandangannya *Istrinya Dirgantara. *Kayaknya yang ini deh. "Chat apa yah?" batinnya.
"Kirim gambar yang sesuai foto profilnya aja deh." setelah berseluncur di pinterest dan mencari foto yang sesuai dengan profil Kara. Lumayan ilfil rasanya mencari gambar laki-laki.
“Hai Lengkara, suka sama gambarnya? Gue masih punya banyak loh.”
Semenit, dua menit hingga lima menit tak ada balasan. Hanya dibaca tanpa respon. Tak menyerah Tama mengirim lebih banyak gambar.
“Lo sebenernya siapa sih? Tau nomor gue dari mana? Kalo nggak nyebutin nama gue blokir nih. Gue males hubungan sama orang yang nggak gue kenal.”
Tama tersenyum, "kena juga lo, Ra."
Tama lanjut mengirim pesan lagi.
“Lo nggak perlu tau siapa gue, Ra. Yang penting gue tau siapa lo, itu udah cukup. Lo orang yang ditakdirkan buat gue lindungi.”
“Istirahat yang cukup, jangan sampai sakit yah Lengkara Ayudhia.”
Tak tanggung, Tama langsung mengirim 2 pesan sekaligus. Lama dia menunggu balasan dari Kara yang kontaknya terlihat online tapi chat nya kali ini benar-benar tak direspon.
"An jir serius ini gue diabaikan?" batin Tama sambil tersenyum miris.
.
.
.
Guys baca ulang dari bab 1 yah, ada yang aku edit karena beberapa part plot hole.
See you di bab selanjutnya
aku jadi penasaran kayak apa ya Tama bucin sama Sasa🤔🤣🤣🤣