"Amelia kita sudah menikah, ingat perjanjian kita jika pernikahan ini hanya sementara. Aku menikahimu karena terpaksa.. jangan berharap banyak dari pernikahan ini. Aku pun tidak akan menyentuhnya."ucap Rudi.
Amelia gadis berasal dari desa kidul, bertemu dengan Rudi pria asal ibukota,ia seorang kontraktor yang sedang membangun jalanan di desa Amelia.
Amelia terpaksa menerima lamaran Rudi karena ingin melunasi hutang kedua orang tuanya.
Rudi terpaksa menikahi Amelia karena tunangannya Sarah hilang entah ke mana menjelang 1 minggu pernikahan mereka.
Sementara undangan sudah menyebar kemana-mana.
Untuk menutupi aib keluarga Rudi memilih Amelia untuk ia nikahi.
"Apapun persyaratannya aku terima yang terpenting uang yang kamu janjikan harus tepati..." jawab Amelia tegas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur silawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 12. ternyata tukang bumbu.
Satu minggu berlalu kehidupan Amelia semakin membaik hatinya lebih tenang pikirnya pun lebih fresh.
Tidak ada lagi tekanan dari mertuanya.Ia bisa tidur nyenyak dan tidak ada gangguan saat sedang tidur.
Sering sekali Amelia sedang tidur dibangunkan oleh salah satu isi rumah itu. Terutama Dewi dan Azizah atau Ibu mertuanya. Untuk memasak Indomie jika mereka lapar.
Amelia tak ubah seperti pembantu di rumah mertuanya sendiri.
Tapi hari ini semuanya berakhir, Amelia bisa tidur pulas di rumah budenya walaupun itu sederhana.
Kegiatannya setiap hari menulis cerbung beribu-ribu kata.
Amelia tidak menyangka jika banyak sekali pembaca yang membaca ceritanya.
Ribuan komentar yang positif membuat Amelia semangat untuk menulis buku kedua.
"Alhamdulillahirobbilalamin. Semoga bulan ini sudah bisa menikmati gaji dari ceritaku." Batinnya dalam hati.
Budi Gendis yang hidup sebatang kara tanpa Anak tanpa Suami.. sangat bahagia sekali dengan kehadiran Amelia di rumahnya.
Hari-harinya kini, penuh dengan warna-warni tidak kesepian lagi seperti biasanya.
"Lia. Amelia!! Bude tinggal ke pasar dulu ya? Sarapanmu sudah Bude siapkan, makan dulu sebelum menulis." Amelia yang sedang mencuci pakaiannya di dalam kamar mandi menghentikan kegiatannya mencuci.
Ia menemui budenya yang mau pergi ke pasar menjual hasil tanamannya.
"Bude mau ke pasar? Kenapa tidak jual di depan rumah kita aja sayur-sayuran ini. Atau dijual di tukang sayuran, miring sedikit tidak apa-apa harganya yang penting tidak capek."saran Amelia.
"Pasar itu jauh, bude sudah tua Sudah saatnya istirahat. Tunggu sebentar Amelia antar ke pasar.. besok-besok jika panen sayuran jual di depan rumah saja, Amelia yakin para tetangga pasti mau membeli sayur hasil penen Budenya." Gendis manut ia menunggu keponakan mengganti pakaiannya.
"Bude senang dan bahagia jika pergi ke pasar. Berbagai macam makanan ada di pasar. Suasananya ramai Bude suka dengan keramaian." Pergi kepasar memang hiburan bagi Gendis, yang tidak pernah kemana-mana.
Yang setiap harinya ia habiskan di rumah dan di kebun, yang ada di belakang rumahnya. Hanya itu kegiatan Gendis setiap hari.
Hati Amelia terenyuh mendengar curhatan hati Kakak kandung bapaknya itu.
"Hari ini kita main ke mall yang ada di kabupaten.. Bude bisa beli apa saja yang Bude mau. Amelia punya uang sekarang, dan bude boleh menikmatinya."
Tess...
Air mata itu, jatuh di pipi wanita paruh baya itu. Ia tidak menyangka keponakannya begitu perduli dengannya.
Gendis tidak dikarunia keturunan dari pernikahannya.. tetapi suaminya sangat setia dengannya walaupun tidak dianugerahi keturunan genis dan suaminya Mahmud. Selalu bersama-sama dalam suka maupun duka yang memisahkan mereka takdir kematian.
Mahmud meninggal dunia 7 tahun yang lalu kena serangan jantung. Semenjak itu hidupnya di sepi dan suram.
"Uang pemberian bapak mertuamu disimpan, gunakan untuk keperluan kuliahmu. Bude Sudah cukup bahagia dengan hadirnya kamu di rumah ini.." Amelia menggangguk. Ia meminta budenya untuk menunggu sebentar Lia menghangat motor tua itu dulu.
Kegiatan mencuci ia hentikan, akan dilanjutkan setelah pulang dari pasar.
Lia juga butuh refreshing walaupun hanya kepasar mungkin bisa melahirkan inspirasi dan ide-ide segar untuk menulis.
30 menit mereka sudah sampai di pasar tradisional desa itu.
Lia memarkirkan motor tua peninggalan almarhum Pakde Mahmud.
Ia membantu Budenya mengangkat sayur-sayuran. Seperti kangkung dan bayam.
"Biar Bude saja yang membawanya, semua sayur-sayuran ini sudah ada pembelinya." Lia mengekor di belakang budenya ia membantu budenya mengangkat sebagian kangkung dan bayam untuk dibawa ke pembeli.
" Tumben agak siang Mbak yu? "Tanya wanita bertubuh gempal pada Gendis.
" Iya aku kesiangan ndun.. kamu masih mau kan membeli sayuranku?"jawab Gendis.
" Justru aku menunggu sayuran Mbakyu. Ada pelangganku yang mau hajatan, ia memesan sayuaran jumlah yang sangat banyak."jawab Indun.
"Ini siapa Mbakyu cantik banget? Tanpa make up sudah kelihatan glowingnya. Apalagi kalau di treatment cantiknya pakai banget."Amelia menggangguk lalu mengulurkan tangannya pada indun penjual sayuran.
"Saya Amelia bulik, keponakan Bude Gendis." Amelia memperkenalkan diri.ia memanggil indun dengan sebutan bulik, karena ia tahu indun orang Jawa dan masih muda.
"Ayo Men kowe nduk? Kamu mau cari kerja di ibukota? Pasti baru datang dari kampung ya? Wajahnya masih alami tanpa make up."para pedagang menoleh serentak menantap Amelia yang memang cantik alami.
"Terima kasih pujiannya bulik.Ia Saya baru datang dari kampung dan ingin mencari pekerjaan." Jawab Amelia.
Ia tidak mungkin menceritakan Jika ia ke kota dibawa oleh seorang kontraktor. Yaitu suaminya, lalu dicampakkan begitu saja setelah luka laki-laki itu menemukan obatnya..
Transaksi jual beli sayur-sayuran berjalan dengan lancar.
Gendis telah mengantongi uang sebesar tiga ratus ribu hasil menjual bayam dan kangkung.
"Kamu mau jajan apa nduk, di pasar ini jajalan kampung ada. Semua yang kamu cari ada di pasar ini." Benar saja, Amelia menemukan ibu penjual sayuran buntil, yang terbuat dari daun pepaya yang digulung. Selain itu Amelia menemukan penjual cenil jajanan kesukaannya.
Amelia terkagum-kagum ternyata di kota,ia bisa menemukan jajanan kampung.
"Aku mau beli cenil dan buntil Bude."jawab Amelia.
Lia dan Bude Gendis berkeliling pasar apa saja dibeli oleh mereka.
Lia pun membeli beberapa potong pakaian dan dalaman. Yang,memang Sudah usang dan Sudah saatnya untuk diganti.
Tidak lupa ia membelikan budenya beberapa potong daster untuk bude pakai sehari-harinya.
"Jangan banyak-banyak beli dasternya cukup satu saja. Jangan buang uang sembarangan."ucap Bude Gendis.
"Apa yang Lia beli dan bude semuanya sesuai dengan kebutuhan kita. Daster Bude sudah sobek-sobek dan begitupun pakaianku sudah tidak layak dipakai.. Lia harus bepakaian rapih dan bagus setiap harinya ,jika Lia bertemu keluarga mantan suami penampilan Lia sudah berubah Bude." Lia menyimpan sakit hati yang teramat dalam pada keluarga mantan suaminya yang menghinanya sedemikian rupa.
Hinaan mereka dijadikan cambuk oleh Amelia untuk bangkit dan menjadi wanita yang sukses dan mandiri.
Setelah melakukan pembayaran, Amelia dan Budi Gendis memutuskan untuk makan soto ayam lamongan yang terkenal enak di pasar itu.
Mata Amelia tertegun menatap sosok yang sangat ia kenal.
Wanita jangkung yang sedang sibuk melayani para pembeli bumbu giling.
"Kamila.? Bukannya Ia seorang pegawai kantoran di perusahaan elektronik bernama di kota industri.. katanya ia orang kepercayaan Jepang.. Kenapa ada di pasar? Dan menjual bumbu-bumbu."batin Amelia.
Amelia memotret Kamila yang sedang sibuk melayani para pembeli.
"Sebenarnya pekerjaanmu tidak buruk Kamila. Kenapa harus bohong dengan calon suamimu? Ah.. perduli amat semua bukan urusanku, aku dan Mas Rudi sudah selesai." Lia menarik tangan Budenya melangkah ke arah penjual bumbu masakan itu.
"Bude tidak suka dengan bumbu jadi tidak enak. Seumur-umur Bude tidak pernah memasak menggunakan bumbu giling."Amelia membisikan sesuatu di telinga Bude Gendis.
Seketika Mata Bude gendis terbelalak ia memperhatikan wanita jangkung penjual bumbu itu.
"Oh iya ya.! Sangat mirip sekali dengan wanita yang dibawa Rudi ke rumahnya tempo hari."ucap lirih Budi Gendis.
"Bukan mirip Bude, tapi memang itu orangnya.." jawab Amelia.
"Mbak Saya mau beli bumbu opor rp5.000 dan bumbu rendang rp5.000." ucap Amelia.
"Oke Mbak ditunggu ya."jawab Kamila dengan nada yang ngebas.
"Astaghfirullahaladzim.. suaranya kok seperti suara laki-laki? Ya Allah bener tidak salah ini wanita jadi-jadian, pantasan saja Kamila tidak lepas dari Sal untuk menutupi lehernya."Amelia yang sengaja memakai masker memperhatikan Kamila dengan seksama.jangkutnya itu yang membuat Amelia yakin jika kamila wanita jelmaan.
" Sepuluh Riii.."kalimat yang terucap menggantung, saat Kamila melihat siapa pembelinya
"Kamu..??"tanyanya dengan nada tercekat.
Amelia tersenyum sinis menetap Kamila yang bengong.
"10.000 ya Mas?? aku bayar pakai uang pas.. terima kasih.."ucap Amelia sambil meledek Kamila.
Ia tersenyum menatap kamila yang masih bengong. Lia melenggang meninggalkan kios bumbu dapur itu bersama pemiliknya.
Bude Gendis mengekor di belakang sang keponakan Sambil tertawa terpingkal-pingkal..
"Ternyata pacarnya Rudi penjual bumbu dapur, bukan seorang pegawai kantoran.. Alhamdulillah kamu lepas dari laki-laki seperti Rudi, yang memiliki selera aneh Jeruk makan jeruk."ucap Bude Gendis.
"Sotonya kita bungkus aja ya Bude.. Aku ingin cepat-cepat sampai rumah dan menulis ceritaku.. bertemu dengan pacar Mas Rudi melahirkan inspirasi untukku menulis." Gendis setuju dengan ide keponakannya untuk menikmati soto di rumah.
"Bude ikut saja nduk, memang lebih nyantai menikmati soto di rumah. Kita bisa menikmatinya sambil menonton televisi." Jawab Bude Gendis.
"Amelia tunggu.."suara bariton menghentikan langkah Amelia.
Ia menengok ke belakang, ternyata yang memanggilnya adalah Kamila.
"Ada apa mas Karim?"Amalia sempat mendengar salah satu pedagang memanggilnya Karim.
"Tolong dirahasiakan jangan sampai Mas Rudi tahu keadaanku.. Jika kamu berani membuka rahasiaku aku bisa menghabisimu."ancam Kamila.
"Saya sudah tidak ada urusan dengan keluarga mantan suami saya Mas Karim.. dan saya bukan tipe orang yang ikut campur urusan orang lain.. silakan teruskan hubungan kalian dan saya tidak akan ikut campur.. saya menanti surat cerai dari pengadilan Tolong sampaikan itu pada Mas Rudi, ya.Mas karim." Amelia sedikit bergidik ngeri mendengar ancaman Karim.
Ia sering menonton televisi seorang waria membunuh istri pacarnya Karena cemburu.
"Oke terima kasih kerjasamanya Amelia.. Kamu memang anak yang baik... Oh ya, jangan panggil aku Karim. panggil namaku Kamila Wulandari."Amelia ingin tertawa ngakak tapi ia tahan.Ia takut Karim ngamuk.
"Baik Mbak Mila.. Saya permisi."dengan terburu-buru Amelia menstarter motor tua peninggalan pakdenya itu.Ia ingin segera meninggalkan pasar tradisional itu.
"Selamat menikmati pilihanmu Mas Rudi.. seorang wanita karier bekerja kantoran." Batin Amelia dalam hati.
Senyum sinis terbit di sudut bibir tipis wanita cantik itu.