Aruna Putri Rahardian harus menelan pil pahit ketika ayahnya menuduh sang ibu berselingkuh. Bahkan setelehnya dia tak mengakui Aruna sebagai anaknya. Berbeda dengan adiknya Arkha yang masih di akui. Entah siapa yang menghembuskan fit-nah itu.
Bima Rahardian yang tak terima terus menyik-sa istrinya, Mutiara hingga akhirnya meregang nyawa. Sedangkan Aruna tak di biarkan pergi dari rumah dan terus mendapatkan sik-saan juga darinya. Bahkan yang paling membuat Aruna sangat sakit, pria yang tak mau di anggap ayah itu menikah lagi dengan wanita yang sangat dia kenal, kakak tiri ibunya. Hingga akhirnya Aruna memberanikan diri untuk kabur dari penjara Bima. Setelah bertahun-tahun akhinya dia kembali dan membalaskan semua perlakuan ayahnya.
Akankan Aruna bisa membalaskan dendamnya kepada sang ayah? Ataukah dia tak akan tega membalas semuanya karena rasa takut di dalam dirinya kepada sangat ayah! Apalagi perlakuan dari ayahnya sudah membuat trauma dalam dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Kembali Ayah! 17
"Apa kmu gugup?" tanya Edwin kepada Aruna.
Saat ini mereka sedang berada di dalam sebuah mobil yang akan membawa mereka ke markas lawan untuk menyerang mereka. Dan ini adalah pertama kalinya Aruna ikut dalam pertempuran. Dia sudah menggunakan rompi anti peluru. Di tangannya juga sudah ada sen-pi dan beberapa senjata di pinggang dan kakinya. Sudah seperti ma-fia wanita saja Aruna ini. Tampilannya keren sekali apalagi posturnya yang tinggi pada seusianya.
"Iya Om! Aku hanya takut membuat kesalahan Om!" jawab Aruna jujur.
"Jangan banyak memikirkan hal yang belum tentu. Di dalam Medan perang satu yang harus kamu lakukan adalah fokus. Jika kamu kehilangan fokus maka akan membuat mereka memanfaatkan kesempatan itu sehingga membuat kamu kalah. Intinya adalah fokus, ingat itu. Anggap saja kita sedang latihan seperti biasanya. Dan mereka adalah media yang selalu kita gunakan setiap hari. Jadikan target dan samsakmu! Lakukan tanpa ragu!" jawab Edwin mencoba memberikan semangat kepada Aruna.
"Iya Om!" jawab Aruna mencoba menenangkan dirinya.
Dia satu-satunya wanita di antara anak buah Edwin. Dia juga adalah yang termuda di antara yang lainnya. Sebenarnya Edwin tidak begitu yakin membawa Aruna kali ini. Selain karena dia masih kecil dan perempuan, tempat ini sangat bahaya untuknya. Bukan arena bermain-main. Tapi melihat bagaimana Bima tak peduli kepada Aruna dan kemauan Aruna sendiri yang besar membuat Edwin akhirnya mau tak mau mengizinkan Aruna ikut dalam operasi kali ini.
Mobil melaju dengan cepat membelah kesunyian. Lewat tengah malam mereka beraksi. Mulai memasuki dan mengepung markas lawan secara senyap. Mengepung mereka dari semua penjuru. Semua orang sudah tahu posisi dan tugasnya masing-masing. Sedangkan Aruna di minta untuk tak jauh dari Edwin ataupun Ramon.
"Tetaplah berada di dekatnya taupun Ramon! Jangan jauh dari jangkauan kami!" Edwin kembali mengingatkan Aruna.
"Baik Om!" jawabnya mengangguk paham.
Aruna emang memilih untuk menurut kepada Edwind dan Ramon. Apalagi di operasi pertama ini dia juga masih berlum tahu dan terbiasa dengan segala situasinya.
Doooorrr
Doooorrr
Doooorrr
Bugh
Bugh
BRAAAAKKK.
Semua anggota yang berada di bawah komando Edwin mulai merangsek masuk ke dalam markas lawan. Pertempuran dan pertarungan tak bisa di hindarkan lagi oleh mereka yang merasa kaget karena tiba-tiba di serang tanpa adanya aba-aba ataupun melihat pergerakan mereka.
"Sial-an! Mereka rupanya malah mencuri start dengan menyerang kita lebih dahulu!" geram Bruno pimpinan kelompok lawan.
"Si Edwin memang kurang ajar! Berani sekali dia datang ke rumahku tanpa permisi! Serang mereka dan aku ingin kalian membawa Si Edwin dalam keadaan hidup atau ma-ti!" tambah Bruno berdiri dari tempat duduknya dan mengambil sen-ja-tanya dan ikut turun bersama anak buahnya.
Bugh
Bugh
Braaaakkk
Aruna melawan dua orang sekaligus saat dia berjalan di belakang Edwin. Awalnya dia merasa takut tapi saat dia terkena pukulan dari salah satunya membuat Aruna kesal. Sehingga akhirnya dia melawan dua orang itu bergantian dengan kesal.
"Sial-an kau! Berani sekali memukul wajahku!" kesal Aruna dan kembali me-mu-kuli mereka berdua yang sudah tak berdaya di lantai.
"Dasar bocah tengik! Berani sekali kau!" teriak yang lain dan kembali menyerang Aruna.
Bugh
Bugh
Bugh
Aruna memukul dua pria yang menyerangnya kembali barusan. Salah satu dari mereka mengeluarkan sen-ja-ta api di balik punggungnya. Sedangkan Aruna tak menyadari hal itu karena sedang fokus dengan pria yang sedang di lawannya.
Doooorrr
BRUUUUKKKK
Aruna terkaget saat melihat seorang pria terkapar di depannya dengan cairan merah menggenang keluar dari kepalanya.
"Fokus Aruna!" teriak Edwin mengingatkan Aruna yang terlihat sangat kaget.
"Iya Om!", jawab Aruna yang baru pertama kali melihat kejadian seperti itu. Dia kembali menyerang mereka dan sekarang dia mulai berani menggunakan sen-ja-ta miliknya. Sebelumnya dia belum berani karena masih takut dan bahkan tangannya gemetaran. Namun setelah tangannya terkena lu-ka goresan karena ulah salah satu dari mereka membuatnya berani mengeluarkan sen-ja-ta.
Sreeeeettttt
Sreeeeettttt
Aruna dengan lihai menggunakan dua sen-ja-ta ta-/jam yang ada pada dua tangannya. Walau beberapa kali dia terkena pukulan dan juga sabetan tak membuat dia menyerah. Apalagi jumlah mereka juga ternyata banyak. Dan dia tak boleh membuat fokus Edwin, Ramon juga yang lainnya ikut terpecah karena dia yang tak bisa bertahan.
Ternyata kerasnya kehidupan di luar untuk bisa bertahan hidup susah di rasakan Aruna. Gadis yang baru saja berusia tiga belas tahun harus berjuang sendiri agar tetap bisa hidup, bertahan demi dirinya sendiri. Tak ada tempat yang bisa dia datangi untuk berlindung. Kecuali dirinya sendiri. Kehidupan dan kisah yang begitu berat bagi Aruna kecil. Kehilangan, sik-saan, hukuman, makian, apa lagi yang belum pernah dia terima? Semuanya sudah dia jalani. Keinginannya sekarang hanya satu, menjadi manusia kuat. Karena orang kuat dan berpengaruh bisa mendapatkan dan melakukan semua sesuka hatinya termasuk dengan melawan ayahnya sendiri nanti.
"Menghindar dan mundur Aruna! Dia bukan lawanmu!" teriak Edwin menarik Aruna saat melihat Bruno mendekati Aruna.
Braaakkk
Aruna terjatuh saat Edwin menariknya cukup kuat. Hal itu di lakukan Edwin karena tak mau jika sampai Aruna terluka. Bruno bukanlah lawan yang sepadan untuk Aruna. Bisa ma-ti seketika Aruna di tangan pria itu. Ramon yang melihat hal itu segera menarik Aruna menjauh dari sana.
Doooorrr
Doooorrr
Bruno malah sengaja menembaki Aruna dan Ramon. Dia memang mengincar yang lemah di antara musuhnya. Dan saat memperhatikan mereka, matanya tertuju kepada Aruna. Gadis kecil yang ikut di libatkan kali ini. Bruno mengira jika mereka terlalu ceroboh membawa gadis kecil ke arena perang.
Bugh
Bugh
Traaaanggg
Edwin melawan Bruno dan berhasil membuat sen-ja-ta yang ada di tangannya terlepas dan terlempar. Merka berdua akhirnya baku hantam Sedangkan hampir semua anak buah Bruno terluka parah. Hanya tersisa beberapa saja. Aruna da Ramon juga kembali bertarung. Kali ini Ramon tak jauh dari Aruna karena khawatir dia kan menjadi incaran mereka lagi. Walau lelah dan seluruh badannya terasa sakit, Aruna tetap melawan dan bertarung dengan mereka semua. Bahkan mereka hampir menang, jika Edwin bisa meringkus Bruno.
Braaaakkk
Aruna sepertinya sudah tak kuat dan tak punya tenaga lagi untuk bertarung. Sehingga membuat dia jatuh pingsan.
calon keluarga mafia somplak 🤣🤣🤣
mau anda apa sih Pak bima ,,
herman saya/Facepalm//Facepalm//Facepalm/