Luka.
Adalah kata yang membuat perasaan carut marut, tak terlukiskan.
Setiap insan pasti pernah merasakannya atau bahkan masih memilikinya. Entah hanya sekadar di kulit, atau bahkan di bagian terdalam dari jiwa.
Layaknya Bagas.Terpendam jauh, tak kasat mata.
Luka adalah bukti.
Bukti kelemahan raga, keruhnya jiwa. Bukti kalau dirinya hanyalah makhluk fana yang sedang dijahili takdir.
Akal dan hati yang tumpang tindih. Tak mudah untuk dipahami. Menenun jejak penuh liku dan terjal. Dalam manis-pahitnya sebuah perjalanan hidup.
Bukan cerita dongeng, namun hanyalah cerita manusia biasa yang terluka.
*Update setiap hari kecuali Senin dan Rabu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baginda Bram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gadis waktu itu
Sebelum mereka mulai, Renata meminta Bagas untuk menunggunya sebentar. Ia ingin mengganti pakaian sekolahnya dengan pakaian yang lebih kasual.
Bagas tak keberatan. Namun, Renata lagi-lagi merasa tak enak karena sudah kembali merepotkannya. Ia pun menyegerakannya.
Bagas kini berada di ruang tamu ditemani oleh stoples makanan ringan dan air putih. Ia mencicilnya perlahan sembari menunggu.
Tak lama, Renata kembali dengan mengenakan terusan hitam berenda dengan rambut yang terikat tinggi serta kacamata kotak dengan bekas luka yang membentang di dahinya, seperti biasa.
"Ayo, Gas." ajaknya sambil berjalan ke arah dapur.
Bagas memenuhi ajakannya. Mengikuti sosok Renata dari belakang.
"Kamu cukup melihat saja, nanti kalau ada yang salah, kamu bisa beri tahu aku di mana salahnya."
Renata yang masih dihantui rasa tak enak hati, membuatnya tak ingin merepotkannya lebih jauh. Ia merasa hanya dengan dilihat olehnya saja, sudah cukup. Lagipula lelaki itu masih memakai seragam sekolahnya.
Renata mengambil apron berwarna cokelat karamel. Melilitkan pada tubuhnya sebelum mengeluarkan bahan dari dalam kantung belanjaannya. Ia mengulang kembali proses membuat donat yang ia ingat dari awal.
Bagas memperhatikan sosok gadis itu dari belakang. Tak terlihat jelas yang sedang ia lakukan. Ia berinisiatif untuk mencari sudut pandang lain.
Tak ada tempat yang paling tepat selain di sebelah Renata. Dengan begitu ia bisa melihat adonan yang sedang diuleni itu dengan jelas.
Renata yang kaget sontak menoleh. Mendapati wajah samping Bagas yang cukup dekat. Tatapan seriusnya membuat Renata semakin kaget.
"Sepertinya ada yang salah dengan cara mengulenmu."
"B-benarkah?" Renata sedikit tergagap.
"Iya. Setahuku suhunya harus sedang. Tidak boleh panas, juga jangan sampai dingin."
Renata merasa aneh sendiri. Lelaki di sebelahnya mengoreksi dengan sangat fokus, seolah kontradiksi dengan pernyataannya yang bilang kalau ia memiliki kenangan buruk dengan pastri.
"Oh begitu."
Renata mencoba menerapkan apa yang Bagas katakan. Nyala api dari kompor, sedikit ia kecilkan.
"Kenapa kakak tiba-tiba ingin membuat donat?" tanya Bagas membuka obrolan.
"Aku punya janji dengan adikku untuk membuat donat sendiri. Kupikir akan mudah, ternyata tidak seperti yang aku pikirkan."
"Lalu kenapa kamu tidak berhenti lalu beli saja?"
"Inginnya begitu. Tapi, setelah percobaan pertama, entah kenapa aku masih penasaran. Akhirnya kuputuskan untuk melakukannya sampai berhasil."
"Aku paham perasaan itu." sahutnya berbarengan dengan anggukan dalam.
Sementara mereka masih berkutat di dapur, kedua anak kecil kembali masuk ke dalam kamar Renata. Melanjutkan permainan mereka yang tertunda.
Gio melihat ke barisan topi. Matanya tertarik pada sebuah topi yang mirip topi koboi berwarna coklat namun bertepian lebar. Karena terinspirasi dengan kartun yang ia tonton, membuatnya ingin meraih topi itu.
Inisiatif mendorongnya untuk menaiki kursi lalu mengambil topi yang yang baru saja dirapikan itu.
Gea yang melihat sebuah topi melekat di atas kepala Gio, tak mau kalah. Ia meminta kakaknya itu untuk mengambilkan topi putih dengan mawar di atasnya.
Gio awalnya enggan, namun melihat adiknya itu berkaca-kaca dan jika kakaknya tahu, ia akan dimarahi, ia pun mengalah untuk mengambilkannya.
Mereka mengenakan masing-masing sebuah topi. Seolah berperan menjadi tokoh dalam kartun. Memperagakan gerakan yang sama persis.
Lelah bermain, mereka yang tak sabar, kembali ke dapur untuk melihat barangkali apa yang sudah kakaknya buat sudah tersaji.
Mereka berdua ke dapur, mengenakan topi yang masih melekat.
"Kak! Kak!"
Suara panggilan terdengar dari arah belakang Bagas. Ia hanya melirik sekilas. Ternyata memang kedua adik Renata. Melihat topi yang mereka kenakan, ia merasa tak asing dengan topi itu.
Sebentar ... seperti ada yang aneh.
Bagas memutar tubuhnya penuh. Mendapati topi putih yang familiar. Matanya tak mungkin salah lihat kali ini.
Renata yang tak ingin fokusnya buyar, masih belum menggubris panggilan kedua adiknya.
"Kak! Kak!"
"Kak! Kak Lihat deh!"
"iya, nanti ya." akhirnya Renata menyahut.
Kedua anak kecil itu masih tak berhenti. Melihat Renata yang sedang sibuk, Bagas bermaksud untuk membujuk kedua anak itu. Ia maju sebagai gantinya.
Ketika melihat topi itu dari dekat, ia sangat yakin kalau itu adalah topi yang ia lihat saat pentas seni.
Bagas memang seorang pengidap ginofobia yang tidak bisa sama sekali melihat perempuan. Namun, kebiasaan menghindari pandangannya tidak terbatas pada perempuan saja.
Dengan lelaki pun ia tidak bisa menatap mata mereka secara lama. Hal itu sangat menyulitkannya ketika berinteraksi dengan seseorang.
Tapi, sebagai gantinya, ia memperhatikan detail dari barang dan ciri khas dari orang yang pernah berinteraksi dengannya.
Seperti suara, gaya bicara, logat; juga barang-barang yang sering dipakai yang terkadang menjadi ciri khas orang itu.
Karena itu juga, ingatannya dengan suatu barang lebih kuat dibanding orang pada umumnya. Termasuk ingatannya dengan topi yang baru ia lihat beberapa hari yang lalu itu.
"Topi kalian bagus ya?" puji Bagas.
Tangan Renata berhenti seketika saat mendengar kata "topi". Ia langsung menoleh secepat kilat.
Ia terkejut dengan Bagas yang sedang melihat adiknya mengenakan topi putih yang ia bawa ke sekolah tempo hari.
Ia reflek melesat untuk menengahi Bagas dan kedua adiknya. Sengaja berdiri di depan mereka untuk menutupi pandangan Bagas. Berharap ia belum sadar.
"Iya, bagus, Sayang. Jangan main di sini dulu yah. Nanti kalau sudah matang, kakak panggil kok." pinta Renata dengan gestur menyuruh mereka pergi.
Mereka mengangguk lalu segera hilang dari pandangan mereka berdua.
Renata menghela nafas panjang. Ia memutar tubuhnya mendapati Bagas sudah berbalik menatapi adonan kembali.
"Ayo kita lanjutkan, Kak." ajak Bagas.
Renata menjadi ragu kalau lelaki itu sudah sadar. Ia tak menunjukkan keterkejutan seolah tidak melihat apa-apa. Padahal jelas-jelas komentarnya terdengar bagai sindiran untuknya.
"Kamu tidak penasaran dengan sesuatu?" tanya Renata ingin memastikan.
"Penasaran? Dengan apa?" Bagas malah bertanya balik.
"Aku dengar kabar kalau kelasmu mencari orang yang membuat mereka didiskualifikasi. Kamu tidak ikut penasaran seperti mereka?"
"Untuk apa? Sejak awal aku tidak tertarik dengan pentas seni. Mau kalah atau menang, aku tidak peduli. Bahkan ada perasaan senang ketika mendengar kami kalah. Kalau ingin tahu, jelas ingin. Tapi bukan untuk meminta pertanggung jawaban, tapi untuk berterima kasih kepadanya."
Renata merasakan kehangatan dalam dadanya. Meski pekerjaannya akrab dengan lawan jenis, baru kali ini ia merasakan sensasi itu. Senyum leganya mendadak terkembang.
Ia kembali mendekati adonannya. Tangannya melanjutkan apa yang sebelumnya ia tunda.
"Seandainya gadis waktu itu adalah kamu, aku akan sangat bersyukur karena aku bisa langsung berterima kasih saat ini juga."
Kalimat Bagas barusan membuat Renata sadar kalau ia pasti sudah tahu kalau orang itu adalah dirinya.
"Terima kasih ya."
Tidak mungkin ucapan terima kasih itu datang tanpa alasan. Namun Renata terdiam merenung. Bingung harus merespon seperti apa.
Tapi ia yakin satu hal: jika ia sudah tahu, sekalian saja ceritakan semuanya.