Kelahirannya menciptakan badai dahsyat. Di saat yang sama, klan Erlang kalah telak. Kekalahan itu membuatnya dicap sebagai anak pembawa sial. Bukan hanya hampir menghilang dari alam langit, klan Erlang juga harus membayar pajak ke klan Liu setiap. tahunnya.
*******
Erlang Xuan, nama yang sama dengan Leluhur klan, tapi nasib mereka berbeda. Jika Leluhur terlahir dengan kekuatan tak terbatas, maka dia terlahir dengan tubuh cacat. Selama belasan tahun, ia disiksa dan direndahkan. Bahkan, karena masalah sepele, ayahnya menghukumnya.
Karena tak punya dantian dan meridian, Erlang Xuan tak bisa berkultivasi. Sampah pembawa sial, itulah julukannya. Tak ada yang tahu bahwa dibalik tubuh cacat itu tersembunyi sesuatu yang akan mengguncang alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena_Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17 Kain Penutup Mata II
"Sebagai pembukaan, kami persilahkan Tuan Muda Erlang naik ke arena!" Suara pria bertopeng memecah keramaian. Para penonton bersorak, sementara Pangeran Zhang tersenyum tipis.
"Aku ingin tahu kamu layak menikah dengan adikku atau tidak!"
Zhang Qiang bergumam pelan. Seminggu yang lalu, ayahnya memilih Erlang Han dengan adiknya. Bukan salah satu adiknya yang hadir di turnamen, melainkan putri yang dirahasiakan selama 17 tahun. Karena itu, ia berinisiatif untuk menguji calon adik iparnya terlebih dahulu.
"Dengan senang hati!"
Erlang Han naik ke arena. Matanya menyapu para peserta yang hadir. Ia tersenyum saat melihat orang yang sangat dibencinya ada di sana. Senyumnya memudar, dan telunjuknya menunjuk Erlang Xuan.
"Sampah buta, naik ke arena dan serahkan nyawamu!" katanya dengan sombong.
"Huh, sampah! Melihat saja tidak bisa, bagaimana mau bertarung?" Para penonton berteriak, sementara para master hanya diam dengan kening berkerut.
"Kain itu menyegel kekuatan kuat di matanya!" Seorang Master mencoba mengukur kekuatan jiwa di mata Erlang Xuan, tapi ia terkena serangan balik. Justru, serangan balik itu hampir saja menghancurkan kultivasinya.
"Memiliki kekuatan jiwa yang sangat kuat di usia yang cukup muda. Entah apa yang dilaluinya selama ini!" katanya sembari memegang dadanya yang kesakitan.
Di atas arena, Erlang Xuan berdiri di hadapan Erlang Han. Saat melihat wajah orang di depannya, amarahnya langsung meledak. Diantara semuanya saudaranya, orang itulah yang berkali-kali mencelakainya.
"Sampah pembawa sial! Sudah buta, tidak punya dantian, dan hari ini nyawamu akan kukorbankan. Malang sekali kamu, adikku!" katanya dengan senyum meledek.
"Bagaimana kalau buka penutup matamu itu?"
Erlang Han tersenyum tipis. Senyum itu seolah mengisyaratkan bahwa dirinya adalah pemenang. Sayangnya, ia tidak tahu kekuatan seperti apa yang tersegel dibalik kain penutup mata itu.
"Kenapa mundur? Kamu meremehkanku?" Bentaknya.
Erlang Xuan tersenyum sinis. Ia tahu betul apa yang akan terjadi jika penutup matanya dilepas. Semua orang yang hadir akan menjadi korbannya. Mereka akan mati atau hidup, tidak ada yang tahu.
"Baj*ngan! Kubilang buka, ya, buka!" Erlang Han berteriak.
"Berhentilah berbicara!" Erlang Xuan menarik pedangnya. Pedang yang dikeluarkannya membuat semua orang diam seribu bahasa. Bahkan, Erlang Xiao yang berdiri di kursi kehormatan berdiri karena terkejut.
"Pedang bintang suci! Kenapa pedang itu ada di tangannya?" tanyanya.
"Erlang Xiao, apa yang terjadi? Mengapa pedang itu ada di tangannya?" Kaisar bertanya dengan nada serius. Pasalnya, pedang itu tercipta dari pecahan bintang, dan Li Yanruo yang berjuluk iblis suci adalah pengguna pertama pedang tersebut.
"Setahuku, pedang itu tercipta dari penyatuan kekuatan sang iblis suci dengan pecahan. bintang. Seharusnya pedang itu diberikan kepada Erlang Ming yang lebih jenius!" lanjut Kaisar Zhang.
Di atas arena, Erlang Xuan menyerang Erlang Han hingga pemuda itu terluka parah. Meski sudah terluka, pemuda itu tidak mau menyerah. Ia terus menghindar dan mengukur waktu hingga lukanya sembuh dengan sendirinya.
"Sampah, pedang itu milikku! Serahkan padaku atau kau akan mati!" ancamnya. Dalam hati, ia menertawakan adiknya itu. Dulu, jika sudah diancam dengan kematian, apa pun yang dimintanya akan dituruti.
"Jika kamu punya kemampuan, ambil sendiri, pecundang!"
Wajah Erlang Han memerah. Ia mengeluarkan pedangnya lalu menyerang tanpa mempedulikan luka-lukanya. Dalam waktu singkat, arena pertarungan hancur, dan Qi yang sangat kuat menyapu tribun.
"Sampah, beraninya kamu menghinaku!" Erlang Han mengatur napasnya. Jantungnya bekerja lebih cepat, dan setengah dari Qi-nya sudah terpakai. Di sisi lain, lawannya baik-baik saja. Tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan sama sekali.
"Huh, sampah! Serahkan pedang itu kepada Tuan Muda Erlang!" Para penonton berteriak. Teriakan mereka membuat Erlang Xuan marah.
"Pecundang, serahkan pedang itu kepada kakakmu, lalu buka penutup matamu! Sampah tak berguna sepertimu hanya boleh menjadi pelayan rendahan!" Erlang Xiao berteriak.
"Apa lagi yang kamu tunggu! Letakkan pedang itu dan hancurkan kultivasimu!" Ia kembali berteriak. Orang-orang yang hadir ikut berteriak. Bukan menyemangatinya, tapi menghina dan merendahkannya.
"Sepertinya aku terlalu baik kepada kalian!" Erlang Xuan menancapkan pedangnya di arena. Saat ia hendak membuka penutup matanya, Jianxue muncul dan menghentikannya.
"Kakak, ada beberapa orang yang mendukungnya. Jangan sampai karena amarahmu, orang yang tak bersalah menjadi korban!" Jianxue menasehati, sementara Zhang Xue tidak senang melihat interaksi keduanya.
"Dia siapa?" tanyanya dalam hati.
Matanya sedikit menyipit saat melihat liontin yang dipakai Jianxue. Bentuk liontin itu sama persis dengan liontin yang dipakai Hehua, adil iparnya. Dalam hitungan detik, cemburu di hatinya langsung hilang saat itu juga.
"Apakah dia Jianxue?" tanyanya.
Di arena, Erlang Xuan mengurungkan niatnya untuk melepas penutup matanya. Ia ingat, diantara orang-orang yang hadir, ada adiknya dan juga Zhang Xue.
Erlang Xuan tersenyum. Ia membuka topeng gadis di depannya. Wajah yang tak asing itu membuat Erlang Han, dan anggota klan Erlang yang hadir terkejut.
"Kamu kembali, adik kecilku!" ucapnya.
"Tuntaskan dendamu, Kak!" Jianxue mengambil topengnya dan meninggalkan arena pertarungan.
"Aku menunggu dari tadi, tapi kamu tidak membukanya!" Erlang Han geram. Dengan cepat di depan Erlang Xuan dan menarik kain penutup mata itu.
"Huahahaha! Kalian semua, lihatlah matanya yang buat!" Erlang Han berteriak. Ia hendak membakar kain itu, tapi Erlang Xuan merebutnya lebih dulu.
Wuuuussss
Boooommmmmm
Di detik berikutnya, kekuatan jiwa yang sangat kuat menghantam area turnamen. Semua orang terpental, meski tidak korban jiwa. Satu-satunya yang menjadi korban adalah Erlang Han, orang yang membuka kain penyegel itu.
"Kamu terlalu sombong, Erlang Han!" Ia mengikatkan kain itu di matanya. Pedang yang menancap di arena dicabut. Tak sampai semenit, darah menetes di arena, diikuti oleh lengan yang terputus.
Slasssshh
Lengan Erlang Han yang satunya terpotong. Darah pemuda itu mengalir deras seperti mata air yang menyemburkan air jernih. Darah Erlang benar-benar membasahi arena turnamen.
Jleeebb
Bukan pedang, melainkan belati yang menusuk perutnya. Matanya melotot saat melihat belati itu. Belati yang sama yang pernah digunakan untuk menyiksa adiknya, Erlang Xuan.
"Kamu terlalu kejam!" katanya.
"Kalau aku kejam, bagaimana denganmu? Menyiksa seseorang yang tak berkultivasi, mencoba membunuhnya berkali-kali, memaksanya menelan pil matahari dan mengurungnya di kamar penginapan bersama seorang gadis? Itu jahat atau kejam?"
Erlang Xuan mengangkat kakaknya ke udara. Dengan satu hentikan jari, pemuda itu meledak. Potongan tubuh dan darahnya menghilang, kecuali darah yang membasahi arena pertarungan.
"Sampah kurang ajar! Kembalikan anakku!" Erlang Xiao berteriak. Ia menangisi anaknya yang mati, sementara anaknya yang disiksa bertahun-tahun diabaikan.
"Ini baru satu, Tuan Erlang! Masih ada seseorang yang harus mati!" Ia menggerakkan kedua jarinya, dan Erlang Ming muncul di atas arena.
"Erlang Xuan!!" Erlang Xiao berteriak penuh amarah. Tanpa mempedulikan orang-orang yang hadir, ia ke arena dengan pedang terhunus.
"Erlang Han, Jia Mei, dan Erlang Ming anakmu! Lalu, Hehua, Jian Xue, dan aku kamu anggap apa?" Suaranya pelan, tapi menyiratkan kesedihan, amarah, dan kebencian.
"Kami kamu anggap apa?" Ia berteriak.
Swuuuussss
Kekuatan yang sangat dahsyat menghantam Erlang Xiao. Darah menyembur dari mulutnya, dan beberapa tulang rusuknya patah. Samar-samar, ia merasakan aura yang sangat menakutkan. Bisa dipastikan aura itu campuran dari aura iblis, dan aura yang terbentuk dari kesedihan, amarah, dan kebencian yang menumpuk selama bertahun-tahun.