Michelle Valen seorang seniman muda terkenal yang meninggal karena penghianatan sahabat dan tunangannya, ia berpindah jiwa kedalam tubuh Anita Lewis.
Diberikan kesempatan hidup kedua ditubuh orang lain, ia memulai pembalasan dendam dan merebut kembali identitas dirinya yang telah direbut oleh mereka.
Pernikahan dadakan dengan Dion Leach sang CEO gila yang terkena racun aneh, menjadikannya batu loncatan demi bertahan hidup, keduanya sama-sama saling memanfaatkan dan menguntungkan.
Mau tau kelanjutan dan keseruan ceritanya?
Silahkan mampir guys....
Happy reading, semoga cukup menghibur...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratu Darah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Bab 17 Mas Kawin Warisan
Rumah Sakit
Pria berjas rapi yang berdiri di sudut ruangan menatap Anita dan mengangguk sopan.
“Hallo Nona Lewis,” sapanya singkat.
Anita membalas dengan anggukan tenang sebelum mendekati tempat tidur pasien. Ia berbicara lembut pada neneknya yang duduk di sisi ranjang.
“Nenek.”
Tatapan neneknya naik, tajam dan sarat kecewa.
“Kalau aku tidak memintamu datang ke rumah sakit,” katanya dengan nada menegur, “apa kau memang tidak berencana menjenguk ayahmu sama sekali?”
Anita tidak membantah. Ia tahu, meski suaranya terdengar keras, nenek tetaplah satu-satunya orang di keluarga Lewis yang benar-benar menyayanginya dengan tulus.
Sambil mengelus dada yang sesak karena kekesalan, sang nenek terus mengomel pelan, menasihati Anita agar lebih sopan, lebih peduli.
Anita mendengarkan tanpa menyela, pandangannya beralih ke ranjang pasien tempat Gerry Lewis, ayahnya terbaring sakit. Kaki kanannya dibalut gips tebal, dan dari posisi itu tampak jelas ada pelat logam di dalamnya. Wajahnya pucat, napasnya teratur tapi lemah.
Namun, Anita tak merasakan sedikit pun iba.
Selene, yang berdiri di sisi lain ranjang, membuka suara dengan nada sendu.
“Ayah sedang dalam perjalanan pulang waktu itu,” katanya lirih. “Tiba-tiba ada batang baja entah dari mana yang menembus betisnya. Dokter bilang... mungkin Ayah tak akan bisa berdiri normal lagi seumur hidup.”
Anita menunduk. Ia melihat luka-luka kecil di kaki ayahnya dan bekas darah kering di perban. Luka itu tidak tampak separah yang digambarkan Selene, tetapi jelas cukup membuatnya tak bisa berjalan dalam waktu yang lama.
Kemudian ia mengingat sesuatu, yaitu Dion Leach.
Hanya karena betisnya sempat tergores sedikit waktu itu, Dion benar-benar membalas dendam dengan cara brutal, membuat kaki ayahnya hancur total.
Gila.
Pria itu benar-benar gila.
Namun di balik keterkejutan itu, ada secuil rasa yang aneh , rasa aman.
Ada sesuatu yang hangat di dadanya saat menyadari Dion melakukannya demi dirinya.
Selene menatap Anita dengan air mata di mata, seolah tak percaya melihat wajahnya yang begitu tenang.
“Anita,” katanya pelan, “kau tidak sedih sama sekali? Ayah dalam keadaan seperti ini, dan kau... bahkan tidak menitikkan air mata?”
Suara itu cukup keras untuk membuat nenek menoleh dengan tatapan tidak senang.
“Anita!” tegurnya.
Anita hanya mengangkat alis, lalu menatap Selene dengan senyum tipis yang menusuk.
“Ayah masih hidup, bukan? Kau ingin aku meratap seperti di pemakaman? Atau... seberapa besar keinginanmu sebenarnya untuk melihatnya mati, Selene?”
Selene terbelalak dan buru-buru menggeleng.
“Bukan begitu! Aku hanya......”
“Menangis agar semua orang mengira ayahmu sudah meninggal?” potong Anita dingin.
Suasana di ruangan menjadi tegang.
Nenek, yang sudah tua dan tidak suka melihat orang menangis di depannya, mulai tampak tidak nyaman melihat Selene tersedu-sedu.
Air mata Selene jatuh satu per satu, tapi tidak ada yang menenangkannya.
Akhirnya Suzanne, ibu Selene, ikut bicara dengan nada tajam.
“Selene menangis karena khawatir. Tapi kau, Anita... wajahmu bahkan tidak menunjukkan sedikit pun kepedulian.”
Anita menatapnya dengan mata datar, lalu mengulas senyum tipis.
“Aku kira, meskipun wajahmu penuh luka akibat operasi plastik yang gagal, kau masih bisa sedikit berpura-pura berperan sebagai ibu yang bijak. Ternyata aku terlalu memujimu.”
Wajah Suzanne memucat, sementara Gerry yang sejak tadi diam di tempat tidur tiba-tiba berteriak, suaranya serak penuh amarah.
“Cukup! Kau ke sini untuk menjenguk atau mencari ribut?”
Ia tampak kesal sekaligus frustrasi. Kejadian batang baja menembus betisnya masih segar di ingatan, dan kini ia bahkan tidak tahu apakah akan bisa berjalan lagi.
Anita menatap mereka satu per satu tanpa ekspresi, lalu menghembuskan napas panjang.
“Aku sudah datang dan melihat kondisi Ayah. Kalau tidak ada hal lain, aku pamit.”
“Nanti dulu,” potong neneknya dengan cepat.
“Pengacara ini mencarimu. Jangan bilang... kau melakukan hal ilegal lagi?”
Nada suaranya mengandung keputusasaan.
“Anita, dengar baik-baik. Kali ini aku tidak akan menolongmu lagi. Kalau kau sampai masuk penjara, aku... tidak akan ikut campur.”
Anita menatap neneknya dengan tenang, lalu mengalihkan pandangan ke pria berjas rapi itu. Ia mengenali logo firma hukum terkenal di map yang dibawanya.
Selene menunduk, tapi ada kilat kecil di matanya suatu kegembiraan yang tak bisa disembunyikan.
Dia tahu, setiap kali pengacara datang, itu pertanda masalah baru bagi Anita.
Dan kali ini, sepertinya tidak ada seorang pun yang akan menolongnya lagi.
Gerry Lewis menatap anaknya dengan ekspresi tegas.
“Anita, kau selalu menimbulkan masalah. Kali ini, selesaikan sendiri urusanmu.”
Nada suaranya datar, tapi penuh rasa muak. Ia menatap pria berjas yang berdiri tak jauh dari sana , seorang pengacara berpenampilan elegan dan berwibawa.
Pria itu datang bahkan sebelum Anita muncul, dan dari cara dia membawa diri, jelas bukan sembarang orang. Gerry langsung tahu, masalah yang melibatkan anaknya kali ini tidak main-main.
Selene, yang berdiri di sisi ranjang, berusaha menenangkan ayahnya dengan nada lembut.
“Ayah, jangan terlalu khawatir. Apa pun yang terjadi, suaminya akan menanganinya.”
Ucapan itu membuat nenek menoleh cepat dengan mata membulat.
“Suaminya?” tanyanya bingung. “Anita, kau sudah menikah?”
Nada suaranya campuran antara heran dan kesal , bagaimana mungkin dia tidak tahu cucunya sudah menikah?
Anita hanya mengangguk pelan tanpa menjelaskan lebih jauh. Ia berbalik menghadap pengacara itu dan berkata sopan, “Tuan, Anda ingin bertemu saya?”
Pria paruh baya itu melangkah maju dan menyerahkan kartu namanya dengan gerakan tenang.
“Saya Charles Simpson,” ucapnya dengan nada profesional.
Anita menerima kartu nama itu dan membacanya sekilas.
Simpson & Co. sebuah firma hukum terkenal di F City.
Reaksi Gerry spontan. Matanya membesar karena kaget.
“Anda Charles Simpson? Pemilik Simpson & Co. yang itu?” tanyanya dengan nada hampir tak percaya.
Charles mengangguk santai. “Benar sekali.”
Wajah Gerry mendadak tegang. Ia tahu reputasi pengacara ini selama lebih dari sepuluh tahun, tak satu pun kasus yang ditanganinya pernah kalah.
Jika pengacara sekelas ini datang menemui Anita, berarti lawan yang mereka hadapi bukan orang biasa. Ia bahkan sempat berpikir untuk segera menjauh agar tidak terseret.
Selene pun terkejut, tapi cepat memulihkan ekspresinya dan tersenyum menawan.
“Tuan Simpson,” katanya lembut, “Kakak saya ini masih muda dan ceroboh. Mungkin dia berbuat salah tanpa sadar. Bisakah Anda berbicara baik-baik dengan klien Anda dan mencari jalan damai tanpa harus ke pengadilan?”
Nenek ikut menimpali, suaranya mulai bergetar karena cemas.
“Benar, Tuan Simpson. Anita memang kadang keras kepala, tapi hatinya tidak jahat. Kalau bisa diselesaikan secara pribadi, saya akan menanggung biayanya.”
Meskipun sebelumnya ia mengatakan tidak akan menolong Anita lagi, namun begitu masalah benar-benar terjadi, naluri kasih seorang nenek tetap menguasainya. Ia tidak sanggup melihat cucunya terseret ke ranah hukum.
Suzanne menatap Charles dengan wajah tegang.
“Siapa klien Anda, Tuan Simpson? Apa yang dilakukan Anita kali ini? Apakah dia menyakiti seseorang… atau bahkan membunuh seseorang?”
Pertanyaan itu membuat nenek hampir pingsan. Ia memegang dada dan bergoyang, tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Anita segera sigap menahan neneknya, menuntunnya kembali ke kursi.
“Nenek, tenanglah. Aku tidak berbuat salah apa pun,” katanya lembut.
Namun Gerry yang mendengar ucapan itu justru semakin emosi.
“Berani-beraninya kau berkata begitu!” serunya marah. “Selene, panggil polisi sekarang juga! Kita harus melaporkan dia sebelum semuanya terlambat!”
Selene tampak ragu, tapi tetap mengeluarkan ponselnya dan mulai menekan nomor darurat.
Melihat kekacauan yang mulai memuncak, Charles akhirnya menghela napas pelan dan berkata dengan nada datar namun tegas,
“Tenanglah semuanya. Saya tidak datang untuk membawa Nona Lewis ke pengadilan. Saya di sini mewakili pihak yang berbeda , untuk membicarakan warisan saham milik almarhumah Nona Suri Mason. Nona Anita Lewis tidak melakukan kejahatan apa pun.”
Ruangan mendadak hening.
Selene menghentikan panggilannya, dan semua mata tertuju pada Charles.
Nama itu Suri Mason mengguncang semua orang di ruangan itu.
Itu adalah nama ibu kandung Anita.
Gerry tampak gelisah.
“Suri masih memiliki saham di perusahaan?” tanyanya hati-hati.
Sebelumnya, semua orang percaya bahwa ketika Suri meninggal tanpa surat wasiat, sahamnya otomatis berpindah ke tangan keluarga Lewis. Anita hanya mendapat dua persen simbolis , jumlah yang tak berarti dibandingkan saham besar yang dimiliki Gerry.
Namun kini, seorang pengacara ternama datang membawa kabar lain.
Kalau benar ada surat wasiat, seluruh struktur kepemilikan Lewis Group bisa berubah total.
Charles membuka tas kerjanya dan mengeluarkan sebuah map tebal.
“Ini adalah salinan surat wasiat yang sah dari Nona Mason,” katanya.
“Isinya menyatakan bahwa setelah putrinya, Nona Anita Lewis, menikah, seluruh harta pribadi serta dua puluh persen saham perusahaan atas nama Nona Mason akan otomatis dialihkan kepada Nona Lewis.”
Semua orang terdiam.
Suasana di ruangan itu menjadi berat ,campuran antara keterkejutan, iri, dan ketakutan.
Hanya Anita yang berdiri tenang di tengah mereka, menatap dokumen di tangan pengacara itu dengan mata tajam.
Dia benar-benar merasa seperti mendapatkan kembali apa yang selama ini seharusnya miliknya.
Ucapan Richard barusan membuat seluruh ruangan mendadak sunyi.
Semua mata menatapnya dengan ekspresi tidak percaya. Mereka datang ke rumah sakit dengan pikiran bahwa pria berjas itu datang untuk menuntut Anita atas kesalahan besar , tapi ternyata yang ia bawa justru warisan bernilai luar biasa.
Dua puluh persen saham Lewis Group, ditambah dua persen yang selama ini sudah dimiliki Anita sendiri.
Artinya, kepemilikan Anita hampir setara dengan saham yang dipegang oleh Gerry Lewis, sang kepala keluarga.
Suzanne ternganga. Ia cepat-cepat meraih dokumen itu dari tangan Richard, membaca lembar demi lembar dengan napas tersengal.
“Tidak mungkin… ini tidak benar. Bagaimana bisa Suri melakukan ini?” serunya dengan suara gemetar.
Namun sebelum sempat melanjutkan, Gerry menarik berkas itu darinya. Ia membaca isinya dengan mata yang semakin membulat , setiap kalimat dalam surat wasiat itu jelas menyebut bahwa semua saham milik Suri Mason diwariskan kepada Anita Lewis.
Tak ada ruang untuk penafsiran lain.
Richard menatap Gerry dengan tenang, nada suaranya sopan namun tajam.
“Pak Lewis, mohon segera lakukan proses transfer saham kepada Nona Anita. Jika tidak, saya akan menempuh jalur hukum atas dugaan penyalahgunaan aset warisan.”
Setelah mengatakan itu, ia menatap Anita dan tersenyum tipis.
“Nona Lewis, bila ada yang Anda butuhkan, jangan ragu untuk menghubungi saya kapan saja.”
Anita mengangguk pelan, lalu bertanya, “Tuan Simpson, mengapa surat wasiat Ibu saya baru muncul sekarang?”
Richard menatapnya sejenak sebelum menjawab dengan nada lembut,
“Sebelum meninggal, Nyonya Suri berpesan agar surat wasiat ini baru disampaikan setelah Anda menikah. Ia menyebut warisan ini sebagai mas kawin terakhir untuk Anda, simbol agar Anda bisa berdiri teguh di rumah suami dan dihormati sebagai perempuan yang memiliki kekuatan sendiri.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Namun, beliau juga berpesan: tanpa kemampuan menjaga diri, kekayaan justru bisa menjadi ancaman. Jadi ia menunggu waktu yang tepat sebelum semuanya diserahkan kepada Anda.”
Usai berkata demikian, Richard menundukkan kepala sopan, lalu meninggalkan ruangan.
Setelah pintu tertutup, hanya keheningan yang tersisa.
Semua orang masih terkejut, terutama Gerry dan Suzanne yang saling bertukar pandang dengan wajah pucat. Mereka seolah sedang berbicara lewat tatapan mata, mencoba mencari celah untuk mengubah keadaan.
Anita melangkah maju dan mengambil dokumen itu dari tangan mereka. Senyum miring muncul di sudut bibirnya.
“Dua puluh persen saham itu harus dipindahkan dalam tiga hari. Ini kejutan yang menyenangkan, ya, Ayah?”
Nada suaranya tenang tapi tajam, menusuk ke ego Gerry. Ia bisa melihat jelas rasa tak percaya di wajah orang-orang itu , terutama Selene yang berdiri di belakang, mengepalkan tangan erat-erat.
Selene menegakkan bahunya dan mencoba bersuara lembut, meski nadanya menyiratkan sindiran.
“Anita, kamu tidak tahu cara mengelola perusahaan, bahkan gelar sarjana saja kamu tidak punya. Lebih baik saham itu diserahkan pada Ayah. Lagipula, kita ini keluarga. Tak seharusnya kau mengurusi hal yang bukan bidangmu.”
Anita menatap adiknya itu dingin.
“Jadi kau ingin aku menyerahkannya pada Ayah sekarang supaya nanti, setelah dia mati, kalian bisa membaginya berdua? Kenapa aku harus membiarkan kalian menguasai hasil kerja keras ibuku?”
Nada suaranya tajam seperti pisau.
Lewis Group adalah perusahaan yang dulu dibangun oleh Suri bersama Gerry. Namun selama dua puluh tahun, nama Suri telah dihapus dari sejarah perusahaan. Kini, dengan surat wasiat itu, Anita merasa ibunya akhirnya mendapatkan keadilan meski sudah tiada.
Melihat ekspresi gugup Gerry dan Suzanne, Anita mulai curiga bahwa mungkin kematian ibunya dulu tidak sesederhana yang ia kira.
Suzanne segera mencoba mengubah arah pembicaraan. Ia menatap Nenek dan memohon,
“Ibu, tolong bicaralah dengan Anita. Dia masih belum mengerti dunia bisnis. Kalau saham sebesar itu dipegang oleh dia, perusahaan bisa hancur dalam hitungan bulan.”
Nenek yang sudah lanjut usia tampak ragu. Berdasarkan pengalaman masa lalu, ia tahu cucunya impulsif dan keras kepala. Dalam pikirannya, mungkin Suzanne benar , Anita memang tidak punya kemampuan mengelola kekayaan sebesar itu.
Namun Anita lebih cepat berbicara.
“Uangnya saja belum di tanganku, tapi kalian sudah berebut. Tidak sabaran sekali, ya?” katanya dengan sinis.
Ia menatap ayahnya dengan tatapan menusuk. “Ayah dulu bilang aku berhak menerima apa yang menjadi milikku. Sekarang kenapa ayah menolak? Apa ayah akan menelan kata-katanya sendiri?”
Gerry menggertakkan gigi, matanya merah menahan amarah dan rasa malu.
Ia selalu menjunjung tinggi gengsi, menolak janji sama saja dengan menjatuhkan harga dirinya.
Akhirnya, dengan suara berat, ia berkata,
“Baik. Setelah aku keluar dari rumah sakit, saham itu akan kutransfer padamu.”
“Gerry…” Suzanne refleks berusaha menghentikannya, tapi Gerry langsung menatapnya tajam.
“Cukup!” bentaknya. “Itu memang milik Anita. Kita tidak membutuhkannya!”
Suzanne terdiam, wajahnya menegang karena tak bisa melawan keputusan suaminya di depan umum.
Selene menatap Neneknya dengan getir.
“Nenek, sekarang si pengacau.... eh, Anita adalah istri Dion Leach. Dengan perlindungan Dion, dia tidak akan kehilangan hartanya. Jadi kita tidak perlu khawatir dia bertindak bodoh lagi.”
Di dalam hati, Selene mendidih. Saham yang seharusnya menjadi kekuatannya di masa depan kini jatuh ke tangan Anita dan tidak ada satu pun yang bisa dia lakukan.
---
Bersambung....