Alea Maheswari tidak pernah menyangka bahwa hidupnya yang tenang akan berakhir menjadi pion dalam permainan bisnis ayahnya. Ia dipaksa bertunangan dengan Dafin Danuar, seorang CEO dingin yang merupakan putra dari rekan bisnis keluarganya.
Bagi Dafin, kehadiran Alea adalah gangguan besar. Hatinya sudah terkunci untuk kekasih pilihan hatinya sendiri. Di mata Dafin, Alea hanyalah penghalang kebahagiaannya, sementara bagi Alea, pertunangan ini adalah beban yang harus ia pikul demi kehormatan keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penolakan Dafin
Sementara itu, di sisi lain kota yang gemerlap, suasana di kediaman mewah keluarga Danuar tidak kalah mencekam. Jika di rumah Alea suasananya terasa seperti penjara yang dingin, di sini, suasana terasa seperti medan perang yang siap meledak kapan saja.
Dafin Danuar, CEO muda yang baru saja kembali dari kantornya pukul sepuluh malam, masih mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Wajahnya yang tegas tampak lelah, namun sorot matanya tetap tajam. Ia baru saja hendak melangkah menuju kamarnya saat suara berat ayahnya, Bramantyo Danuar, menghentikannya di tengah tangga.
"Dafin, duduklah sebentar. Papa dan Mama ingin bicara hal penting."
Dafin menghela napas panjang. Ia sudah bisa merasakan firasat buruk dari nada bicara ayahnya. Dengan langkah berat, ia berbalik dan menghampiri kedua orang tuanya yang sudah menunggu di ruang kerja pribadi sang ayah yang dipenuhi aroma cerutu dan buku-buku tua.
"Papa tidak akan berbasa-basi," ucap Bramantyo sambil menatap putra tunggalnya itu. "Minggu depan, kita akan mengadakan acara pertunangan resmimu dengan Alea Maheswari. Semuanya sudah diatur dengan Arkan."
Dafin tertegun. Ia sempat mengira dirinya salah dengar, namun wajah serius ayahnya membuktikan sebaliknya. Sebuah tawa hambar keluar dari bibir Dafin.
"Pertunangan? Papa bercanda?" tanya Dafin dengan suara rendah yang penuh penekanan. "Aku bukan anak kecil lagi yang bisa Papa atur jadwal kencannya, apalagi masa depan pernikahanku."
"Ini bukan soal kencan, Dafin! Ini soal aliansi bisnis!" seru Bramantyo, suaranya mulai meninggi. "Perusahaan Maheswari memegang kendali atas jalur distribusi yang kita butuhkan untuk ekspansi ke luar negeri. Dengan pernikahan ini, kita akan menjadi tak terkalahkan."
Dafin mengepalkan tinjunya di atas meja. Rahangnya mengeras. "Jadi aku hanya alat negosiasi bagi Papa? Apa Papa lupa, atau pura-pura lupa, bahwa aku sudah punya kehidupan sendiri?"
Dafin menatap ibunya, mencari dukungan, namun ibunya hanya menatapnya dengan tatapan memohon. "Sayang, Alea itu gadis yang cantik dan berpendidikan. Dia sangat cocok mendampingimu sebagai istri seorang CEO..."
"Cukup, Ma!" potong Dafin tegas. "Apa kalian benar-benar tidak tahu, atau sengaja menutup mata bahwa aku sudah memiliki kekasih? Aku mencintai Maya! Kami sudah berhubungan selama tiga tahun, dan kalian tahu itu dengan sangat jelas!"
"Maya hanya seorang model, Dafin! Dia tidak akan bisa membantumu " bantah Bramantyo tak kalah keras. "Dia bukan level kita!"
"Level?" Dafin berdiri, menatap ayahnya dengan kemarahan yang meluap.
"Aku tidak peduli dengan level atau aliansi bisnis sialan ini! Aku tidak akan bertunangan dengan Alea Maheswari atau siapa pun pilihan Papa. Hati aku sudah ada yang memiliki, dan aku tidak akan mengkhianati Maya hanya demi selembar kontrak kerja sama!"
"Kamu akan tetap melakukannya!" ancam Bramantyo.
"Jika kamu menolak, Papa akan mencabut posisimu sebagai CEO di Danuar Group dan membekukan seluruh asetmu. Kamu ingin memilih cinta? Silakan. Tapi mulailah dari nol tanpa nama Danuar di belakangmu!"
Ruangan itu mendadak sunyi. Dafin menatap ayahnya dengan tatapan tidak percaya. Ancaman itu adalah pukulan telak. Bukan karena Dafin takut miskin, tapi karena ia telah membangun perusahaan itu dengan keringatnya sendiri selama lima tahun terakhir.
Dafin berbalik tanpa sepatah kata pun. Ia keluar dari ruangan itu dengan langkah kasar, membanting pintu hingga suaranya bergema ke seluruh penjuru rumah.
Ia merogoh ponsel di sakunya, melihat wallpaper layar kuncinya foto dirinya bersama Maya yang sedang tersenyum bahagia. Rasa bersalah mulai menghimpit dadanya. Bagaimana ia harus menjelaskan ini pada wanita yang ia cintai?
Dafin melangkah ke balkon kamarnya, menyalakan sebatang rokok untuk menenangkan sarafnya yang tegang. Ia menatap lampu-lampu kota yang jauh di bawah sana. Di pikirannya, Alea Maheswari bukanlah seorang gadis, melainkan sebuah penghalang besar yang kini berdiri di antara dirinya dan kebahagiaannya.
"Alea Maheswari..." gumamnya dengan nada benci. "Jangan harap kamu akan mendapatkan apa pun dariku selain pengabaian."
Malam itu, dua orang di tempat berbeda meratapi nasib yang sama. Alea yang menangis di pelukan sunyi malam bersama bodyguard-nya, dan Dafin yang terbakar amarah demi mempertahankan cintanya. Mereka berdua tidak menyadari bahwa mereka hanyalah dua orang asing yang dipaksa masuk ke dalam satu arena permainan yang sama.
......................
Maya sedang berada di apartemennya yang mewah, menyesap segelas wine sambil menunggu pesan dari Dafin, saat berita itu muncul melalui pesan singkat dari seorang teman sosialitanya. Sebuah tangkapan layar dari draf undangan eksklusif yang seharusnya masih menjadi rahasia keluarga.
Wajah cantik yang biasanya menghiasi sampul majalah itu mendadak pucat. Gelas di tangannya bergetar.
"Pertunangan... Dafin dan Alea Maheswari?" gumamnya tak percaya.
Tepat saat itu, pintu apartemen terbuka. Dafin melangkah masuk dengan wajah yang terlihat sangat kusut. Ia tidak perlu mengatakan sepatah kata pun.
"Dafin, katakan padaku ini tidak benar," suara Maya bergetar, ia berdiri dan menghampiri pria itu. "Aku baru saja mendapat kabar bahwa kamu akan bertunangan minggu depan. Itu lelucon, kan?"
Dafin menarik napas berat, lalu meraih bahu Maya. "Maya, dengarkan aku. Papa mengancamku. Dia ingin mengambil semua yang sudah aku bangun jika aku menolak perjodohan bisnis ini."
Maya tertawa getir, matanya mulai berkaca-kaca. "Jadi, perusahaanmu lebih penting daripada aku? Selama tiga tahun ini, apa aku hanya sekadar persinggahan sementara bagimu?"
"Bukan begitu! Aku tidak akan pernah mencintai gadis itu. Ini hanya di atas kertas, Maya. Beri aku waktu untuk menyelesaikan ini," mohon Dafin, suaranya terdengar frustrasi.
"Waktu? Dafin, dia Alea Maheswari! Dia muda, cantik, dan keluarganya setara denganmu. Bagaimana jika kamu jatuh cinta padanya? Bagaimana jika dia tidak mau melepaskanmu?" Maya mulai terisak, tangisannya pecah. Ia memukul dada Dafin dengan lemah. "Kamu berjanji akan menikahiku, Dafin! Kamu janji!"
Dafin memeluk Maya erat, mencoba meredam kemarahan dan ketakutan kekasihnya. "Aku janji, dia tidak akan pernah mendapatkan apa pun dariku. Aku hanya akan memberikan namaku padanya, tapi hatiku tetap milikmu. Aku akan membuat dia muak dan meminta pembatalan pertunangan ini sendiri. Percayalah padaku."
Maya menyandarkan kepalanya di dada Dafin, namun matanya yang sembab kini menyiratkan sesuatu yang lain, "Aku tidak akan membiarkan wanita itu mengambilmu, Dafin. Siapa pun Alea Maheswari itu, dia harus tahu bahwa dia sedang merebut milik orang lain."
Malam itu, Maya tidak hanya menangis karena sedih, tapi juga karena rasa terancam.