Destia Ayu Gantari wanita cantik cerdas dan penuh pesona yang hobinya memanah. Tanpa sengaja saat liburan di Jogja dia bertemu pria yang menarik menurutnya yaitu Idrissa Pramudya yang merupakan dosen di kampus yang sama dengan ayahnya.
Idris tak sengaja akan menabrak Tia, saat Tia sedang berjalan di area stasiun. Akhirnya mereka bertemu kembali saat berada di sebuah warung saat sedang sarapan. Mereka semakin dekat seiring waktu sampai akhirnya menikah.
Idris sendiripun merupakan Duda tanpa anak yang sudah bercerai karena dikhianati mantan istirnya tapi Tia belum mengetahui semua itu bahkan sampai mereka menikah.
Saat Idris bertemu wanita masa lalunya Tia mengetahui hal tersebut dari Anggun karyawannya.
Bagaimanakah respon Tia? Apakah akan marah, sedih, kecewa? Atau kepo mungkin? dan ingin cari tahu lebih tentang masa lalu suaminya tersebut dengan hal-hal yang tidak biasa?
Jika ingin tahu terus ikuti kelanjutannya ya guys. Don't forget to keep reading until the end💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtf_firiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Will You Marry Me?
Malam itu, Jakarta baru saja dibasuh hujan ringan, menyisakan aroma aspal basah yang bercampur dengan wangi manis dari sisa panggangan di toko Crumbs & Clouds. Toko sudah tutup satu jam yang lalu, namun Tia masih berada di dapur bersama Anggun dan Lita untuk merapikan inventaris bulanan. Di tengah kesibukan itu, Idris muncul di pintu kaca, mengetuk perlahan dengan senyum yang tampak sedikit lebih tegang dari biasanya.
"Belum selesai, Bos?" tanya Idris, melangkah masuk sambil membawa dua kotak besar makanan favorit Tia.
Tia mendongak, menyeka sedikit tepung di pipinya. "Dikit lagi, Mas. Stok cokelat kita bulan ini luar biasa perputarannya. Kamu kok ke sini malam-malam? Bukannya besok ada acara pameran lukisan?
"Cuma mau memastikan pilotku nggak lupa makan," jawab Idris singkat. Ia kemudian melirik Anggun dan Lita, lalu memberikan kedipan rahasia yang tidak disadari oleh Tia.
Kedipan itu bukan berarti ganjen atau apapun itu. Tapi Idris dan mereka beedua telah membuat kesepakatan dan sebuah kejutan untuk Tia.
"Tia, ikut aku sebentar yuk. Ada sesuatu yang harus aku tunjukin di tempat parkir atas," ajak Idris setelah Tia menyelesaikan catatannya.
Tia mengernyitkan dahi. "Tempat parkir? Sekarang? Aku capek banget, Mas."
"Sebentar saja. Janji, ini berhubungan sama rencana pengembangan toko kamu," bujuk Idris.
Dengan sedikit rasa penasaran, Tia menuruti. Mereka naik ke lantai paling atas gedung ruko tersebut, sebuah area terbuka yang menghadap langsung ke cakrawala Jakarta Selatan.
Namun, saat pintu tangga darurat terbuka, Tia tertegun. Area parkir yang biasanya kosong dan gelap itu kini dihiasi dengan lampu-lampu gantung kecil (fairy lights) yang melintang di antara pilar. Di tengah-tengahnya, terdapat sebuah meja kecil yang ditata rapi, dan yang paling mengejutkan: sebuah parasut paralayang berwarna biru—sama persis dengan yang mereka gunakan di Gunung Kidul—terbentang di lantai sebagai alas duduk.
"Mas... apa-apaan ini?" bisik Tia, langkahnya ragu namun hatinya mulai berdebar kencang.
Idris menuntunnya duduk di atas parasut itu.
"Tia, ingat nggak waktu kita di Bukit Shaba? Kamu bilang kamu takut lari ke arah jurang karena kamu nggak tahu apa yang ada di bawah sana."
Tia mengangguk, matanya mulai berkaca-kaca melihat suasana yang begitu intim. "Aku ingat. Dan kamu bilang, 'Jangan lawan anginnya, ikuti saja'."
"Betul," sambung Idris, suaranya kini merendah dan penuh emosi. "Selama ini, aku liat kamu lari ke banyak jurang. Kamu lari pas keluar dari kantor, kamu lari pas ngerintis bisnis sendirian, kamu lari pas kita daki Merbabu. Dan setiap kali kamu lari, kamu selalu berhasil melewati semuanya."
Idris mengambil sebuah kotak kecil dari saku jaketnya, namun ia tidak langsung membukanya. Ia menatap mata Tia dalam-dalam. "Aku sadar, aku nggak mau cuma jadi orang yang nunggu kamu. Aku mau jadi orang yang selalu ada di samping kamu, satu hati, satu tujuan, nggak peduli seberapa kencang masalah atau alur hidup di masa depan nanti."
Momen Lamaran yang tak terduga terjadi.
Idris berlutut di atas kain parasut itu, di tengah lampu-lampu yang berkelap-kelip seperti bintang di puncak gunung.
Ia membuka kotak beludru kecil itu, menampakkan sebuah cincin emas putih dengan mata berlian mungil yang berkilau.
"Tia, aku nggak punya brownies Merbabu Sunrise buat sogokan sekarang. Aku cuma punya janji. Aku mau jadi pemimpin kamu, jadi rekan tim kamu, jadi sahabat atau teman cerita dan jadi tempat ternyaman untuk kamu pulang setiap kali kamu capek dengan segala hal."
"Tia, will you marry me? Kita daki gunung-gunung selanjutnya bareng-bareng, ya?"
Tia menutup mulutnya dengan kedua tangan. Tangis bahagianya pecah. Kesunyian malam di atap gedung itu seolah menjadi saksi bisu dari akhir sebuah perjalanan panjang dan awal dari sebuah babak baru.
"Iya, Mas. Iya, aku mau!" jawab Tia dengan suara terisak namun mantap.
Idris segera menyematkan cincin itu di jari manis Tia, lalu berdiri dan memeluknya erat.
Di kejauhan, tiba-tiba terdengar suara sorakan. Anggun, Lita, bahkan orang tua Tia muncul dari balik pilar gedung sambil membawa balon-balon berbentuk awan.
Ternyata, Idris sudah menyiapkan ini semua dengan bantuan tim toko dan keluarga Tia.
Ternyata kejutannya berhasil btw congrats ya Idris dan Tia.
"Tuh kan, Mbak Tia! Saya bilang juga apa, hari ini bakal ada kejutan besar!" seru Lita sambil berlari memeluk bosnya.
Ibu Tia menghampiri dengan mata yang juga basah oleh air mata. "Mama senang sekali. Akhirnya kamu ketemu orang yang nggak cuma sayang sama kamu, tapi juga sayang sama mimpi-mimpi kamu."
Ayah Tia menepuk bahu Idris dengan keras, sebuah gestur kepercayaan penuh. "Jaga dia, Idris. Jangan kasih dia jatuh tanpa kamu ada di bawahnya."
"Siap, Om. Saya nggak akan biarin dia jatuh sendirian," jawab Idris tegas.
Sambil menikmati udara malam dan pemandangan Jakarta, Tia menyandarkan kepalanya di bahu Idris. Cincin di jarinya terasa pas, seolah-olah memang diciptakan untuk berada di sana.
"Mas," bisik Tia. "Toko kita... kayaknya butuh menu baru lagi buat ngerayain ini."
Idris tertawa lepas. "Ide bagus. Gimana kalau namanya 'The Proposal'? Brownies cokelat putih dengan taburan mutiara gula?"
"Nggak," jawab Tia sambil tersenyum manja.
"Namanya 'The Landing'. Karena akhirnya, aku tahu ke mana aku harus memilih pria yang akan bersamaku selamanya." ucapnya "Aku sayang banget sama kamu mas. Thanks for everything sayang!" Tia melanjutkan kalimatnya dengan berkaca-kaca.
Idris menghapus air mata yang keluar di ujung mata Tia"Sure sayang, kata-kata kamu ternyata manis banget aku jadi terharu", dengan pelan Idris menarik Tia. Memeluknya lalu mengecup keningnya.
Malam itu, di atas sebuah parasut di tengah kota Jakarta, Tia menyadari bahwa hidup bukan hanya tentang seberapa tinggi kita bisa terbang atau seberapa banyak puncak yang bisa kita daki. Hidup adalah tentang siapa yang memegang tangan kita saat kita takut, dan siapa yang tetap tinggal saat kita jatuh.
Bersama Idris, Tia tahu bahwa setiap remah (crumbs) perjuangan dan setiap awan (clouds) tantangan akan selalu berakhir manis. Dari tebing Gunung Kidul, ke puncak Merbabu, hingga ke atap gedung di Jakarta, cinta mereka telah menemukan ritmenya sendiri.
Besok pagi, Tia akan kembali ke tokonya bersama Anggun dan Lita. Ia akan kembali memanggang, kembali melayani pelanggan, namun kali ini dengan sebuah kekuatan baru di jemarinya. Sebuah cincin yang mengingatkannya bahwa ia tidak lagi akan sendirian lagi.
apa nanti ga ada kata akan prettt pada waktunya 🤭
mantan ga ada