Viona tidak menyangka jika dirinya akan ber transmigrasi menjadi seorang ibu tiri jahat pada tahun sembilan puluhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Senggrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GAPLEK
Bian menunjukkan mobil mainannya pada keluarganya. Kakek Darma lah yang mengantarnya pulang. Karena Vina sibuk membuat ting-ting jahe dari jahe yang tersisa.
"Baguskan mainannya, " kata Bian dengan bangga.
"Bagus sekali. Siapa yang membuatnya? " tanya Ramli penasaran. Ramli merupakan Adik Jaka dan juga Dewi.
"Pasti Kakek buyut, " ujar Adin memberikan tebakan. Kakek Darma yang mendengarnya langsung mengelak. Karena bukan beliau yang membuatnya.
"Bukan Kakek buyut, tetapi Tante Kalian."
Ingin rasanya Kakek Darma meminta si kembar memanggil Vina dengan sebutan Ibu. Namun Vina sendiri dulu yang tidak menginginkan panggilan itu. Sekarang Jaka sudah berniat untuk menceraikannya. Sepertinya panggilan itu tidak akan pernah ia dengar sampai sisa hidupnya. Beliau pun tersenyum miris.
"Ada apa kek?" tanya Jaka dengan khawatir melihat ekspresi Kakek Darma seperti itu. Kakek Darma tersadar dari lamunannya.
"Tidak papa. Maaf Kakek tidak bisa lama-lama. Sebentar lagi gelap. Kasihan kalau Vina sendiri di rumah," jawab Kakek Darma memberi alasan. Sebenarnya Jaka tidak begitu percaya sama jawaban Kakek Darma yang sepertinya hanya ingin mengalihkan perhatiannya.
"Minum Kopinya dulu Paman....mumpung masih panas," kata Ibu Jaka yang tiba-tiba datang sambil membawa segelas cangkir yang berisi minuman kopi.
"Kok repot-repot segala."
"Apanya yang repot, cuma segelas air saja. Kebetulan tadi ayahnya anak-anak membawa pulang ubi dari ladang. Silahkan dinikmati."
Untuk menghormati Ibu Jaka yang sudah repot-repot menghidangkan minuman dan juga cemilan , Kakek Darma menunda kepulangannya.
Vina yang berada di rumah telah menyelesaikan pekerjaaanya yang membuat ting-ting jahe. Saat ini ia melipat pakaian kering yang sudah ia cuci. Ia tidak hanya mencuci pakaiannya sendiri tetapi juga pakaian Kakek Darma sekalian.
Malam pun akhirnya tiba. Vina sudah menyalakan cempluk yang ada di ruang tamu.Saat ingin menyalakan yang ada di dalam kamarnya, ia mendapati minyaknya telah habis.Mau tidak mau malam ini ia harus tidur dengan kondisi gelap-gelapan.
Keesokan harinya Kakek Darma mengajak Vina untuk memanen singkong yang ada di ladang. Rencananya Kakek Darma akan menjadikan singkong itu menjadi gaplek.
Gaplek adalah singkong yang sudah dikupas dan dikeringkan (dijemur) untuk membuatnya awet, berfungsi sebagai bahan makanan pokok di daerah tertentu dan bisa diolah menjadi makanan seperti tiwul, gatot, atau tepung tapioka.
Cara membuat gaplek sangat mudah. Singkong dikupas lalu dijemur di bawah matahari hingga kering, terkadang menjadi berwarna kehitaman karena proses alami.
Kakek Darma tidak hanya bersama Vina tetapi juga dua orang yang biasa bekerja pada Kakek Darma. Bisa dibilang pekerja tetap kakek Darma.
Kakek Darma beserta kedua pekerjanya berangkat lebih dulu. Vina berangkat belakangan sambil membawa kiriman atau bekal makanan untuk mereka semua.
Kedua orang yang bekerja di ladang Kakek tinggal tidak jauh dari rumahnya. Namanya Pak Jumari dan Pak Pahing. Usia keduanya masih dibawah empat puluhan.
Karena membuat makanan untuk empat orang , porsi makanan yang dimasak tentu lebih banyak dari yang biasa ia masak.
Pagi tadi Kakek Darma mengambil satu buah tewel agar dimasak oleh Vina. Jadi pagi ini Vina memasar sayur lodeh tewel, sambal bajak sama membuat perkedel dari ubi talas.
Perkedel yang terbuat dari ubi talas tidak kalah enak dari perkedel yang terbuat dari kentang. Setelah semuanya matang . Vina membawanya ke ladang.
Saat tiba di ladang, Vina melihat tiga orang yang sedang memanen singkong. Ketiganya membagi pekerjaan agar cepat selesai.
Pak Pahing mempunyai tubuh paling kekar dan kekuatan paling besar. Bertugas untuk mencabut batang singkong sampai akar-akarnya. Kakek Darma bagian mengumpulkan singkong yang yang sudah di cabut . Sedangkan Pak Jumari bagian mengupas kulit singkong.
"Makan dulu Kek!" seru Vina dengan suara keras. Kakek Darma menghentikan pekerjaanya dan meminta Pak Jumari dan pahing untuk beristirahat dan mengisi perut.
"Ayo makan dulu!"
"Baik Paman."
Ketiganya mencuci kedua tangan dan kakinya di sumur. Di ladang itu memang ada sumur. Biasanya digunakan saat musim panas untuk menyiram tanaman.
Vina juga turut makan bersama mereka. Mereka makan beralaskan daun pisang. Sungguh nikmat bersama di tengah ladang seperti itu.
Selesai makan mereka kembali melanjutkan pekerjaaanya. Vina mendapatkan tugas untuk menata singkong yang sudah kupas kulitnya dan di potong menjadi dua bagian memanjang. SIngkong-singkong itu di tata di atas batang singkong yang sudah ditata terlebih dahulu oleh Kakek Darma.
Cuaca sangat panas. Untungnya tadi ia memakai topi bambu yang ada di rumah.
"Keadaan Jaka bagaimana Vin? " tanya Pak Jumari yang posisinya paling dekat dengannya.
"Sudah agak baikan Pak lik. Tidak lama lagi juga sembuh, " jawab Vina tanpa menoleh ke arahnya.
"Benarkah?!"
"Tunggu beberapa hari lagi Pak Lik bisa lihat sendiri. "
"Kok Pak Lihat Kamu tidak lagi tinggal di rumahnya. "
"Pengen saja tidak ada alasan khusus. "
"Hubungan Kalian baik-baik saja kan? "
"Apa menurut Pak Lik hubungan Kami dari awal baik-baik saja? " tanya Vina sambil menoleh kearah Pak Jumari.
"Tidak juga sih, " jawab Pak Jumari dengan lirih.
"Sebenarnya hubungan Kami baik-baik saja. Dulu Aku terlalu kekanak-kanakan dan belum bisa menerima keadaan. Pak Lik bayangkan saja, belum pernah pacaran tiba-tiba disuruh nikah sama duda anak dua. Seandainya Pak Lik berada di posisiku bagaimana? "
"..... "
Pak Jumari tidak berani menjawab. Seandainya Ia yang berada di posisi Vina mungkin Ia akan melakukan hal-hal yang lebih gila dibanding apa yang dilakukan oleh Vina.
Saat Pak Jumari masih muda beliau pernah kabur dari rumah lantaran dijodohkan dengan wanita yang tak ia sukai. Kemudian beliau menikah dengan wanita yang dicintainya hingga kini telah dikaruniai dua orang anak.
Menjelang sore Kakek Darma mengajak semuanya untuk pulang. Sehari ini mereka berhasil memanen setengah patok. Tinggal setengah patok lagi. Cukup cepat ternyata. Padahal mereka hanya istirahat selama dua kali.
Setelah dua hari pekerjaan itupun selesai. Sepulangnya dari kadang sudah ada Jaka dan kedua anaknya.
"Kamu sudah sembuh! " seru Vina dengan terbelalak. Melihat Jaka berdiri tegak seperti itu, Vina tidak kuasa untuk menolak pesonanya.
"Meski masih kaku tapi secara keseluruhan semuanya baik- baik *sS
cie jaka ngambek gk di sapa😁
semangat nulis bab nya😘😘❤️❤️❤️