"Di tengah kesibukan kehidupan SMA di Jakarta, Yuki dan kelompok teman terbaiknya menjalani petualangan yang mengubah hidup mereka dari merawat kakaknya yang sakit, menemukan cinta pertama, hingga membentuk tim untuk lomba bahasa asing nasional.
Dengan persahabatan sebagai dasar kuatnya, mereka menghadapi segala rintangan: perbedaan cara pandang, tantangan kompetisi, dan bahkan menemukan makna baru dalam persahabatan antar budaya. Awalnya hanya sekelompok teman biasa, kini mereka membuktikan bahwa kerja sama dan cinta bisa membawa mereka meraih kemenangan yang tak terduga termasuk kesempatan untuk menjelajahi dunia luar!"
"Siapakah mereka? Dan apa yang akan terjadi saat mereka melangkah keluar dari zona nyaman Jakarta untuk menjelajahi dunia yang lebih luas?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Kolim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 17
Hari setelah mereka menang lomba, suasana di kelas masih meriah. Hana, Kinta, dan Rina sibuk merencanakan libur ke taman hiburan yang akan dilaksanakan hari Sabtu depan mereka membuat daftar makanan yang akan dibawa, menggambar peta taman, dan membahas permainan yang akan dimainkan bersama Yuki.
"Yuki, kamu pasti mau main mainan putar yang baru kan? Aku dengar itu seru banget!" ucap Hana dengan mata yang bersinar. Yuki tersenyum lembut tapi matanya terlihat khawatir. "Nanti kita lihat ya, Hana. Sekarang aku pulang duluan ya Kakak Ayase bilang badan nya tidak enak." Kinta mengangguk. "Baik, Yuki. Jangan lupa hubungi kita ya!"
Yuki pulang ke rumah dan melihat Ayase duduk di sofa, keringat membasahi alis. "Kakak, kamu baik-baik saja? Maukah aku bikin minuman hangat?" tanya dia dengan khawatir. Ayase tersenyum lembut. "Tidak apa-apa, Yuki. Cuma sedikit demam aja. Kamu cepat mandi dan tidur ya."
Malam itu, Yuki terbangun karena suara batuk yang keras dari kamar Ayase. Dia berlari ke kamar dan melihat Ayase terbaring di tempat tidur, wajahnya kemerahan dan batuk terus-menerus. "Kakak! Kamu sakit parah ya! Aku panggil dokter!" teriak Yuki.
Dia menelepon dokter keluarga yang segera tiba. Dokter memeriksa Ayase dan wajahnya menjadi serius. "Dia terkena infeksi saluran napas yang parah, bahkan sudah menyebar ke paru-paru. Dia butuh segera dirawat di rumah sakit. Jangan ditunda lagi!" ucap dokter.
Yuki panik tapi coba tetap tenang. Dia membantu dokter membawa Ayase ke mobil dan ikut bersama ke rumah sakit. Di rumah sakit, Ayase langsung dirawat di ruang rawat intensif. Dokter memberitahu Yuki bahwa infeksinya cukup parah dan dia perlu dirawat selama minimal 10 hari. "Dia mungkin akan tidur selama beberapa hari sebelum bangun. Jangan khawatir terlalu banyak, tapi jagalah dia ya," ucap dokter.
Yuki duduk di kursi di depan ruang rawat intensif, menahan tangannya Ayase yang dingin. "Kakak, tolong bangun ya... aku butuh kamu... jangan tinggalkan aku sendirian," gumamnya dengan air mata yang terus menetes. Dia tidak pulang ke rumah sama sekali tidur di kursi, makan apa yang diberikan perawat, dan selalu memantau keadaan Ayase.
Selama 3 hari berikutnya, Ayase masih belum terbangun. Yuki menghabiskan semua waktunya di rumah sakit, tidak pernah meninggalkan sisi Ayase. Dia lupa untuk memberitahu teman-temannya tentang keadaan Ayase dia terlalu sibuk menjaganya dan takut mereka khawatir.
Hanya satu orang yang tahu: Bu Siti. Pagi hari ke-4, Yuki menelepon Bu Siti dari ponselnya sambil tetap memegang tangannya Ayase. "Bu Siti... maaf ya, aku tidak bisa ikut libur ke taman hiburan hari Sabtu. Kakak Ayase sakit parah dan dirawat di rumah sakit. Dia belum bangun sampai sekarang," ucap Yuki dengan suara gemetar.
Bu Siti terkejut dan khawatir. "Yuki, kenapa kamu tidak memberitahu duluan? Aku khawatir banget sama kamu! Bagaimana kabar kakak mu sekarang?" tanya Bu Siti. "Dia masih tidur, Bu. Dokter bilang dia butuh waktu untuk sembuh. Mohon Bu jangan kasih tahu teman-temannya ya. Aku tidak mau mereka tidak bisa menikmati libur karena khawatir sama aku." Bu Siti mengangguk dengan berat. "Baik, Yuki. Tapi jaga dirimu juga ya. Jangan terlalu memaksakan diri."
Hari Sabtu pagi, hari libur ke taman hiburan yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Semua siswa berkumpul di gerbang sekolah, termasuk Hana, Kinta, dan Rina. Mereka mencari Yuki kemana-mana tapi tidak melihat keberadaannya.
"Hana, mana Yuki ya? Dia janji akan ikut kan?" tanya Rina dengan khawatir. Kinta juga mencari-cari. "Mungkin dia terlambat? Aku telepon dia dulu ya." Dia menelepon nomor Yuki tapi tidak terhubung. "Tidak terhubung. Gimana ini?"
Mereka mendekati Bu Siti yang sedang mengatur siswa. "Bu Siti, mana Yuki? Kenapa dia tidak datang? Teleponnya juga tidak terhubung," tanya Hana dengan suara cemas. Bu Siti tersenyum lembut tapi matanya terlihat sedih. "Yuki ada urusan penting di luar, jadi tidak bisa ikut. Dia minta maaf dan salam buat semua."
Mereka merasa kecewa dan bingung. "Urusan penting apa ya? Dia tidak bilang apa-apa ke kita," gumam Kinta. Hana mengangguk. "Ya. Biasanya dia selalu memberitahu kita apa yang terjadi. Aku khawatir banget." Tapi mereka tidak bisa melakukan apa-apa bis sudah siap berangkat, dan semua siswa sudah naik.
Di bis, suasana terasa sangat berbeda. Tanpa tawa Yuki yang lembut, tanpa dia yang selalu menenangkan Hana yang terlalu semangat, tanpa dia yang selalu berbagi camilan dengan Rina. Hana duduk di tempat duduk yang biasanya diisi Yuki, merasa ruang itu kosong dan sepi.
Setelah sampai di taman hiburan, mereka coba bermain tapi tidak bisa merasa senang. Hana tidak mau main roller coaster yang dia tunggu-tunggu, Kinta tidak bisa menikmati mainan putar, dan Rina hanya diam sambil memandang teman-teman lain yang bermain bersama.
"Kalian, aku tidak bisa ini. Aku pengen ke rumah Yuki buat lihat apa yang terjadi," ucap Hana dengan suara tegas. Kinta dan Rina mengangguk. "Kita juga. Kita minta izin ke Bu Siti ya." Mereka mendekati Bu Siti dan memberitahu keinginan mereka. Bu Siti ragu tapi akhirnya menyetujui. "Baik, tapi pulang dengan hati-hati ya. Jangan lupa hubungi aku kalau ada kabar."
Mereka naik taksi ke rumah Yuki. Saat sampai di depan pintu rumah, mereka mengetuk beberapa kali tapi tidak ada tanggapan. Kinta mencoba memutar pegangan pintu ternyata pintu tidak terkunci. Mereka masuk dengan hati-hati. "Yuki? Kamu ada di dalam?" panggil Hana dengan suara pelan.
Mereka melihat rumah Yuki sepi dan sunyi. Meja makan kosong, sofa tidak dipakai, dan kamar Yuki juga kosong. Tidak ada tanda keberadaan Yuki atau Ayase. "Apa ini? Dimana mereka?" tanya Rina dengan suara gemetar. Hana melihat meja meja dan menemukan surat yang tertinggal di atas meja meja. Dia membacanya:
"Kalau ada yang datang, maaf ya kita tidak ada di rumah. Kakak Ayase sakit dan dirawat di rumah sakit. Aku sedang menjaganya. Mohon jangan khawatir aku baik-baik saja."
Tangan Hana gemetar. "Yuki tidak memberitahu kita karena dia takut kita khawatir," gumamnya. Kinta mendekati dan membaca surat itu juga. "Kita harus ke rumah sakit buat lihat dia!" teriak dia dengan semangat. Rina mengangguk. "Ya! Kita harus pergi sekarang!"
Mereka bertanya-tanya ke beberapa petugas rumah sakit sampai akhirnya menemukan ruang rawat inap Ayase. Di sana, mereka melihat Yuki duduk di kursi, kepalanya bersandar di sisi tempat tidur Ayase, dan dia sedang tidur lelap dia terlalu lelah menjaga Ayase.
Hana mendekati perlahan dan menepuk bahunya Yuki. "Yuki... bangun ya..." ucapnya dengan suara pelan. Yuki terbangun dan melihat mereka. Matanya langsung berair. "Kalian... kenapa ada di sini?" tanya dia dengan suara pelan. Hana memeluknya dengan erat. "Kita khawatir banget sama kamu! Kenapa kamu tidak memberitahu kita?"
"aku takut kamu tidak bisa menikmati libur karena khawatir sama aku," jawab Yuki dengan air mata yang menetes. Kinta memeluknya juga. "Kamu bodoh ya! Kita adalah teman kita harus bersama dalam suka dan duka!" Rina memberikan makanan yang dia bawa. "Ini makanan yang kamu suka, Yuki. Kamu pasti lapar kan?"
Saat itu, tangannya Ayase bergerak sedikit. Yuki langsung melihatnya. "Kakak! Kamu bangun?" tanya dia dengan suara penuh harapan. Ayase membuka mata perlahan dan melihat mereka semua. "Yuki... anak-anak... apa yang kamu lakukan di sini?" tanya dia dengan suara pelan.
Hana mendekati dia. "Kakak Ayase, kamu baik-baik saja ya? Yuki menjagamu dengan sangat baik. Kita semua khawatir banget!" Ayase tersenyum lembut. "Terima kasih ya, anak-anak. Maaf ya bikin kamu khawatir. Dan terima kasih, Yuki... untuk menjagaku."
Mereka duduk di ruang rawat inap, bercanda dengan suara pelan agar tidak mengganggu pasien lain. Hana menceritakan bagaimana mereka merasa kurang lengkap di taman hiburan, Kinta menceritakan bagaimana mereka ke rumah Yuki dan menemukan surat, dan Rina menggambar gambar semua orang bersama Ayase di buku catatan.
"Sekarang, kita janji ya nanti kakak Ayase sembuh sepenuhnya, kita ke taman hiburan lagi! Cuma kita ber lima! Dan kali ini, tidak ada yang ketinggalan!" ucap Hana dengan semangat. Mereka semua mengangguk dan bersorak senang. Ayase melihat mereka dengan mata yang penuh kasih sayang dia senang karena Yuki punya teman yang sesungguhnya.
Setelah 12 hari di rumah sakit, Ayase akhirnya bisa pulang. Yuki menjaganya dengan sangat baik dia memasak makanan yang sehat, membantu Ayase melakukan aktivitas sehari-hari, dan selalu mengingatkan dia minum obat. Teman-teman Yuki juga sering datang ke rumah untuk mengunjungi Ayase, membawakan makanan, dan bercanda bersama.
Satu minggu setelah pulang, Ayase mulai merasa lebih kuat. Dia bisa berdiri dan berjalan dengan sendirinya, meskipun masih perlahan. "Yuki, terima kasih sudah menjagaku dengan sepenuh hati," ucap Ayase dengan suara penuh cinta. "Kamu adalah adik yang paling baik di dunia." Yuki memeluknya. "Kakak juga adalah kakak yang paling baik di dunia. Aku tidak bisa hidup tanpa kakak."
Pada hari Minggu pagi, mereka semua pergi ke taman yang dekat rumah. Ayase duduk di kursi roda yang disewa Yuki, dan mereka semua duduk di sekitarnya. Mereka makan camilan yang Hana bikin, bercanda, dan mengambil banyak foto. Mata Yuki terlihat cerah dia bahagia karena Ayase sudah lebih baik dan teman-temannya selalu ada di sampingnya.
Di malam hari, Yuki duduk di teras rumah, melihat bintang-bintang yang menyala. Dia memikirkan semua yang terjadi dari saat Ayase sakit parah sampe teman-temannya datang mencari dia di rumah sakit. Dia merasa sangat beruntung punya keluarga yang mencintainya dan teman-teman yang tidak pernah meninggalkannya, tidak peduli apa tantangan yang akan datang.