NovelToon NovelToon
Maira, Maduku

Maira, Maduku

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Poligami / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Nikah Kontrak / Konflik etika
Popularitas:591
Nilai: 5
Nama Author: Tika Despita

Maira yang terbiasa hidup di dunia malam dan bekerja sebagai perempuan malam, harus menerima tawaran menjadi madu oleh seorang pemuda bernama Hazel Dinata, pengusaha ternama di kota tersebut.

Awalnya Maira menolak, karena baginya menjadi perempuan yang kedua dalam sebuah hubungan akan hanya saling menyakiti sesama hati perempuan. Tetapi karena alasan mendesak, Maira akhirnya menerima tawaran tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tika Despita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Malam pertama itu berlalu begitu saja.

Maira tertidur di kamar, sementara Hazel memilih menghabiskan malamnya di sofa ruang tengah. Rencana Maira untuk menggoda suaminya malam ini jelas gagal total. Namun, kegagalan bukanlah akhir. Di kepalanya, sudah tersusun beberapa ide lain.

Dan pagi ini… adalah salah satunya.

Maira bangun lebih dulu. Ruangan tengah masih sunyi, hanya suara jam dinding yang berdetak pelan. Hazel masih terlelap di sofa ruang tengah dengan posisi setengah miring, wajahnya terlihat lelah namun tenang.

Dengan sengaja, Maira keramas pagi-pagi. Rambutnya ia biarkan tergerai, masih sedikit lembap, jatuh indah melewati bahu. Ia menyemprotkan parfum tipis ke tubuhnya dan tidak berlebihan, tapi cukup untuk meninggalkan aroma segar yang lembut. Setelah itu, ia mengenakan pakaian yang menurutnya cukup menarik.

Senyum tipis terbit di bibir Maira saat ia melangkah keluar kamar dan mendapati Hazel masih tertidur pulas.

Pelan-pelan, Maira mendekat. Ia lalu duduk di lantai, tepat di samping sofa. Tangannya terangkat, jemarinya dengan sengaja membelai sudut wajah Hazel dari rahang, ke pipi, lalu berhenti di kening.

Hazel mengerjap sesaat. Alisnya mengernyit, lalu matanya terbuka cepat.

“Hah..” Ia tersentak, jelas terkejut mendapati Maira sudah tersenyum sumringah di dekatnya.

 “Kamu ngapain pagi-pagi begini? Dan… kenapa pakaiannya begitu?” tanyanya, masih setengah sadar.

Hazel duduk, mengusap wajahnya sendiri, mencoba mengumpulkan nyawa yang belum sepenuhnya kembali.

Maira menyeringai.

“Dari riset yang aku baca,” katanya santai, “pagi hari itu waktu paling bagus buat bercinta. Katanya hormon laki-laki lagi bagus-bagusnya.”

Hazel menatapnya lama, lalu menghela napas pendek.

 “Dasar gila,” gumamnya.

Tanpa memberi Maira kesempatan bereaksi, Hazel berdiri dan langsung mengangkat tubuh Maira.

“Eh...!” seru Maira kaget.

Dalam hati, ia bersorak."Yes… berhasil!"

Namun harapannya buyar seketika.

Hazel membawa Maira ke kamar, lalu dengan gerakan cepat tapi tidak kasar, ia meletakkan tubuh Maira di atas kasur. Selimut yang dipakai semalam masih terbentang. Hazel meraih selimut itu dan… membungkus Maira rapat-rapat, seperti risol siap goreng.

“Ya! Pak Hazel!” protes Maira sambil meronta, tapi tubuhnya sudah terkunci.

Hazel menatapnya dengan wajah datar. “Jangan aneh-aneh kamu pagi-pagi begini.”

Maira cemberut. Bibirnya maju beberapa senti.

“Kalau Anda nolak terus, kapan saya buntingnya, coba?”

"Tuntutan istri pertama anda itu lebih menyeramkan dari latihan militer!" tambahnya.

Hazel mendengus.

“Saya sudah bilang, saya belum siap.”

“Aneh!” gumam Maira kesal.

“Baru kali ini kucing dikasih ikan asin malah nggak mau.”

“Apa?” Hazel menoleh.

“Gak ada apa-apa,” jawab Maira cepat, pura-pura manis.

Hazel mengambil handuk.

 “Saya mau mandi dulu. Saya harap setelah saya keluar, kamu sudah ganti pakaian yang sopan.” Ia melangkah menuju kamar mandi dan menutup pintu.

Maira menatap langit-langit kamar sambil menghela napas panjang.

 “Susah amat meluluhkan dia,” gumamnya sambil menggeleng.

“Baru kali ini ada pria yang nggak terpesona sama kemontokan dan keseksian Maira Anastasia.”

Namun, di balik rasa kesalnya, senyum tipis justru muncul. Tekadnya semakin kuat. Karena ternyata… Hazel bukan sekadar suaminya,tetapi dia adalah tantangan.

**

Maira sudah berganti pakaian yang sedikit lebih sopan. Rambutnya ia ikat asal, wajahnya masih polos tanpa riasan. Kini ia duduk di meja makan, menopang dagu dengan tangan, menatap kosong ke arah dapur.

Pagi ini, meja makan itu benar-benar kosong. Tak ada roti, tak ada minuman hangat, bahkan mie instan pun tak terlihat. Perut Maira kembali berbunyi pelan, mengingatkannya bahwa sejak semalam ia memang belum memasukkan apa pun ke dalam perutnya.

Tak lama kemudian, Hazel keluar dari kamar. Penampilannya sudah rapi dengan kemeja bersih, celana bahan, jam tangan melingkar di pergelangan. Jelas sekali dia siap berangkat kerja. Hazel melangkah ke ruang makan hanya untuk mengambil segelas air minum.

Namun langkahnya terhenti ketika menyadari tatapan Maira yang lurus menancap ke arahnya.

“Kamu ngapain natap saya kayak gitu?” tanya Hazel heran.

“Saya lapar,” jawab Maira cepat, memasang wajah paling menyedihkan yang bisa ia buat.

“Dari semalam nggak makan.”

Ekspresi Hazel berubah. Tatapannya melunak seketika. Ia baru ingat, sejak kemarin perempuan itu memang hampir tak menyentuh makanan apa pun.

Hazel menghela napas singkat.

“Ya sudah. Kamu ikut saya. Kita cari sarapan dulu,” katanya akhirnya.

“Tapi nanti saya nggak antar kamu balik. Kamu pulang pakai taksi saja.”

Maira langsung mengangguk cepat, matanya berbinar.

“Iya!”

Ia berdiri dan segera mengenakan sandal.

Hazel menatapnya dari atas ke bawah.

“Kamu cuma mau berpakaian kayak gitu?” tanyanya heran.

Maira masih mengenakan piyama tidurnya, meski memang masih tergolong sopan.

“Pak Hazel,” Maira berkacak pinggang,

“Anda sering banget komen soal pakaian saya. Padahal saya nyaman apa adanya. Kayak gini juga nggak masalah, kok. Kalau nanti Anda malu,” ia tersenyum santai, “bilang aja ke orang-orang kalau saya pembantu Anda. Beres, kan?”

Hazel terdiam sesaat, lalu mendengus pasrah.

“Terserah kamu lah.”

Ia melangkah duluan keluar rumah. Di belakangnya, Maira mengikuti dengan langkah ringan dan senyum puas.

Hazel membawa Maira ke tempat sarapan langganannya. Warung itu sederhana, tapi bersih dan tertata. Meja-meja kayu berjejer rapi, pengunjungnya sudah cukup ramai meski pagi masih muda.

“Eh, Pak Hazel,” sapa si ibu penjual dengan senyum ramah. Jelas terlihat kalau Hazel bukan pelanggan baru di sana.

“Mau sarapan apa, Pak?” tanyanya lagi.

Hazel menoleh ke belakang.

“Maira, kamu mau sarapan apa?”

“Sama aja kayak Anda,” jawab Maira santai.

“Dua porsi bubur ayam, ya, Buk,” ucap Hazel.

“Baik, Pak,” jawab si ibu cekatan.

Mereka lalu duduk menunggu pesanan. Tak lama kemudian, bubur ayam hangat dihidangkan. Si ibu warung masih tersenyum, tapi lirikan matanya berkali-kali jatuh ke arah Maira, jelas penuh tanda tanya.

Maira menangkap tatapan itu.

“Buk,” katanya sambil tersenyum manis, “jangan salah paham. Saya cuma sepupu jauhnya.

“Eh—l..maaf, Mbak, maaf,” ucap si ibu buru-buru, terlihat canggung, lalu segera berlalu.

Maira menunduk, mengaduk buburnya pelan. Ada rasa kesal yang tak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.

Setelah sarapan selesai dan Hazel membayar, mereka keluar dari warung. Maira sudah berdiri di luar ketika Hazel menyusul.

“Kamu bisa pulang sendiri, kan?” tanya Hazel.

Maira mengangguk pelan. “Hmm.”

“Taksinya sudah saya pesankan. Tunggu sebentar, sebentar lagi datang,” kata Hazel.

Maira hanya mengangguk lagi.

Namun, sebelum suasana benar-benar tenang..

“Dasar anak nggak tahu diuntung!”

Suara itu datang tiba-tiba.

BRUK!

Sarah muncul entah dari mana dan langsung menampar pipi Maira dengan keras.

Maira terkejut, tubuhnya hampir terhuyung. Hazel membelalak kaget. Para pengunjung warung yang masih berada di dalam pun sontak keluar, menatap dengan wajah terkejut dan penuh rasa ingin tahu.

Pagi yang tadinya biasa saja, mendadak berubah ricuh.

1
Qhaqha
Jangan lupa bintang dan ulasannya ya... 😊😊🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!