Arumi gadis yang sebelumnya sangat bahagia dengan keluarga kecilnya harus menelan pil pahit yang mana ia harus kehilangan suaminya.
Di tambah lagi dia harus menikah dengan pria yang membuat suaminya tiada karena hamil dengan pria itu
Akan kah pernikahan mereka bertahan lama, dan bagaimana kehidupan Arumi setelah menikah dengan kenan Dirgantara
happy reading 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Nawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps 17
Dua hari kemudian Arumi sudah diperbolehkan pulang, Nina membereskan barang-barang Arumi dan bayinya.
Anita ikut mengantarkan Arumi dengan membawa bayi sang sahabat. Kenan membantu Arumi untuk menaiki kursi roda walaupun Arumi menolak tapi suaminya tidak menyerah ia tetap menggendong Arumi dan mendudukkannya dengan perlahan di kursi roda.
Singkat nya mereka sudah berada di mobil, sepanjang perjalanan tidak ada suara hanya bayi mereka yang sesekali merengek minta susu pada Arumi sedangkan Kenan fokus menyetir.
Tibalah mereka di kediaman keluarga Dirgantara yang mana seluruh keluarga menyambut mereka dengan sangat antusias, tetapi Arumi menyambut mereka dengan wajah datarnya sambil menggendong bayi mungil nan cantik Arumi berjalan dengan sangat pelan ia tidak ingin memakai kursi roda.
Tiara yang sudah tidak sabar itu pun menghampiri menantunya dan meminta izin menggendong putrinya lalu dengan senang hati Arumi memberikannya.
"Ayo aku bantu ke dalam, kak," ajak Riana, Arumi mengangguk kan kepalanya dan Kenan mengikuti nya dari belakang.
Sesekali Arumi berhenti dan meringis kesakitan mungkin ia tidak kuat berjalan. Langsung saja tanpa aba-aba Kenan menggendong Arumi. Dirinya sangat terkejut tapi kali ini ia diam karena merasa tidak enak dengan keluarga Kenan.
Perlahan ia merebahkan Arumi di atas ranjang sambil menatap Kenan dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Nanti saja mengajak aku berdebat, saat ini aku ingin damai sehari saja dengan mu, Arumi. Padahal saat kau mau melahirkan aku pikir kau memanggilku dengan sebutan 'Mas' sudah bisa memaafkan ku tapi ... ya sudahlah," ujar Kenan.
Kenan melangkah pergi tapi Arumi justru memanggil nya,"Ada apa?" tanya Kenan tanpa berbalik.
"Tidak jadi," jawab Arumi.
Kenan pun melanjutkan langkahnya menuju keluar dan langsung menutup pintu kamar,"Dasar ga peka aku itu lapar bukannya ngajak berdebat. Kalau di mansion aku bisa ambil sendiri karena ga ada orang lain selain Nina tapi di sini mana berani malu juga sama mertua," oceh Arumi sangat kesal.
Di balik pintu Kenan tersenyum ia belum pergi sengaja ingin tau apa yang diinginkan Arumi karena Kenan tau betul jika ia sudah memanggil pasti ada sesuatu yang Arumi inginkan.
Kenan memang baru setahun menikah tapi ia sudah tau dari dulu Arumi itu sebenarnya gadis pemalu jadi tidak heran jika ia tidak bisa leluasa mengambil apapun di rumah mertua nya itu.
Itulah mengapa ia tidak ingin tinggal di kediaman Dirgantara dan memilih kembali ke mansion tapi mengingat ia belum bisa mengurus bayi apalagi tidak pernah ada orang tua yang mendampingi hanya ibu panti yang ia tau sebagai orang tuanya jadi Arumi menurut saja.
***
Sudah dua hari Helen tidak pulang ke rumah membuat kedua orang tuanya panik. Mereka mencoba menghubungi semua teman yang mereka kenal, tetapi satu pun tidak ada yang tau di mana keberadaan Helen.
"Apa kita Lapor polisi saja pah sudah dua hari Helen tidak pulang," saran Jeni yang sudah begitu khawatir dengan putrinya.
"Aku setuju, sekarang kita ke kantor polisi," Danu bersiap menuju mobilnya ia meraih kunci di meja dekat tv. Akan tetapi, saat ia baru saja memegang handle pintu mobil sebuah sepeda motor menghampiri rumahnya.
Terlihat dua orang pria berseragam coklat turun dari motor nya lalu menghampiri Jeni dan Danu.
"Selamat malam, apa benar ini kediaman Helen Nugraha?" tanya salah satu polisi.
Dengan bingung keduanya menganggukkan kepalanya mengiyakan. Kemudian polisi tersebut memberikan sebuah amplop yang berisikan sepucuk surat dan langsung saja Danu membuka isi amplop itu dan langsung membacanya.
"Apa?! Surat penangkapan atas nama Helen? Apa maksudnya ini pak?" pekik Danu yang tiba-tiba tangannya gemetar tidak percaya.
"Memang putri kami salah apa pak hingga mendapatkan surat penangkapan seperti ini?" tanya Jeni lagi.
Polisi itu memerintah kan anak buahnya untuk memberikan sebuah bukti kuat berupa vidio pada Jeni dan Danu betapa syok mereka melihat putrinya dengan tidak berprikemanusiaan menganiaya seorang wanita hamil dan mendorong nya sangat kejam.
"Siapa wanita yang ada di dalam vidio itu pah?" Danu tidak menjawab ia terus saja memperhatikan wanita hamil yang ia rasa ia sangat mengenalnya. Wajah Arumi terlihat tidak jelas karena Danu dan Jeni hanya melihat separuh dari vidio tersebut saat Helen mendorong Arumi.
"Dia adalah nyonya Dirgantara istri dari Tuan Kenan," terang Polisi tersebut.
Kedua orang tua paruh baya itu saling menatap ia menatap, mereka tidak mengerti apa yang ada dalam pikiran Helen hingga melakukan kecerobohan seperti itu. Mereka tau jika Helen kecewa, sakit hati dengan Kenan, tetapi mereka tidak habis pikir putrinya bisa senekat itu menganiaya Arumi.
"Bisa kami bertemu dengannya?" tanya polisi itu.
"Sudah dua hari Helen tidak pulang pak, justru kami baru ingin pergi ke kantor polisi untuk melaporkan putri kami yang hilang," terang Jeni.
"Maaf sebelumnya bukan kami tidak percaya tapi kami akan tetap menggeledah rumah anda Tuan," pinta polisi hanya untuk memastikan jika Helen benar tidak ada di rumah.
Danu mempersilahkan kedua polisi itu masuk karena memang mereka tidak menyembunyikan Helen di dalam. Setelah lima menit kedua polisi itu pun kembali. Kini mereka berada di ruang tamu.
"Baiklah kami percaya jika Nona Helen memang tidak ada di rumah, jika ia kembali tolong sampaikan surat itu untuk memenuhi panggilan polisi," tegas Polisi itu.
"Baik pak saya mengerti," jawab Danu.
Akhirnya kedua polisi itu pun pamit, tubuh Danu mendadak lemas begitu sulit menerima kenyataan jika harus putri satu-satunya mereka harus mendekam di penjara.
"Bagaimana ini, pah Helen apa yang kau lakukan mengapa kau bertindak sek ceroboh ini!" seru Jeni seraya menangis.
Danu memeluk erat sang istri ia pasti syok dan khawatir pada putri kesayangannya,"Tenang mah, biar papa yanga akan mengurusnya bila perlu papa akan memohon pada keluarga Dirgantara agar mereka mau mencabut tuntutannya dan Helen harus meminta maaf pada istrinya Kenan," ujar Danu.
***
"Bagaimana apakah sudah ada kabar tentang Helen?" tanya Kenan pada Jimmy.
"Polisi sudah ke rumah nya tapi Helen tidak ada, kata orang tuanya Helen sudah dua hari tidak pulang," jelas Jimmy.
Kini keluarga Dirgantara sedang berada di ruang kerja tepatnya di rumah kediaman Arsyad. Mereka sedang mendiskusikan apa yang harus dilakukan pada Helen yang hampir merenggut nyawa menantu dan penerus keluarga itu.
"Kira-kira ke mana dia ya," tanya Tiara.
"Nanti aku akan ke rumah Danu mungkin saja ia menyembunyikan putrinya karena sudah tau kalau keluarga kita pasti akan melaporkan nya," ujar Arsyad.
Tok
Tok
"Masuk," jawab Kenan.
"Tuan, di bawah ada pak Danu dan istrinya meminta bertemu dengan Tuan Kenan," ucap Tina.
Mereka semua terkejut dan saling menatap lali Kenan menyuruh Tina pergi dan langsung melangkah pergi keluar. Jimmy buru-buru mengikuti Kenan karena takut sahabatnya itu akan marah pada kedua orang tua Helen.
"Kenan tenangkan dirimu jangan utamakan emosi. Ingat kita tidak tau apakah mereka menyembunyikan Helen atau tidak," cegah Jimmy menghentikan langkah Kenan.
"Jimmy benar, nak. Kita akan tanya mereka baik-baik dulu," sambung Tiara.
Kenan mengangguk kan kepalanya ia menarik napas dalam lalu mengeluarkan napas dengan perlahan guna meredam emosinya lalu mereka melanjutkan langkahnya menghampiri kedua orang tua Helen.
Danu dan Jeni berdiri menyambut kedatangan mereka dan ingin menghampiri. Akan tetapi, Kenan mempersilahkan mereka duduk.
"Langsung saja mau apa kalian datang kesini?" tanya Arsyad.
"Tentunya kami ingin minta maaf atas apa yang sudah terjadi, kami tidak tau dengan apa yang dilakukan Helen pada istri Kenan dan juga dia sudah dua hari tidak pulang," terang Danu.
Mereka saling berdebat membuat kebisingan yang terdengar sampai ke dalam kamar Arumi yang kini sedang menyusui putrinya.
"Ada apa sih kok berisik banget di luar," gumam Arumi ia pun melepaskan nutrisinya pada sang putri lalu menggendongnya keluar kamar karena penasaran dengan suara gaduh di luar.
Perlahan Arumi berjalan menghampiri sumber suara yang berasal dari ruang tamu, semakin dekat ia melihat keluarganya sedang berdebat dengan dua pasangan suami istri.
Langkah Arumi tidak berhenti ia terus saja berjalan hingga kini ia sudah sangat dekat mereka tidak ada yang memperhatikan kedatangan Arumi hingga wanita itu terkejut melihat sosok yang sangat ia kenal.
"Papah," panggil Arumi membuat suasana menjadi hening seketika menatap balik Arumi yang mengejutkan semua orang.
"Arumi," lirih Danu.
*
*
Bersambung.