NovelToon NovelToon
Yun Ma Yang Menolak Takdir Novel

Yun Ma Yang Menolak Takdir Novel

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Identitas Tersembunyi / Kelahiran kembali menjadi kuat / Bepergian untuk menjadi kaya / Mengubah Takdir
Popularitas:10.7k
Nilai: 5
Nama Author: inda

Yun Ma, seorang gadis modern yang sedang menikmati cuti dari pekerjaannya yang melelahkan, tak pernah menyangka kematiannya di dasar sebuah sumur tua justru membawanya ke dunia lain. Saat membuka mata, ia terbangun sebagai Yun Mailan, putri sah Menteri Pendidikan Kekaisaran tokoh utama wanita dalam sebuah novel tragis yang pernah ia baca dan benci.

Dalam cerita asli, Yun Mailan dibenci ayahnya, dimanfaatkan kakaknya, dikhianati tunangannya, difitnah tanpa pembelaan, lalu mati sendirian dalam kehinaan. Mengetahui seluruh alur nasib tersebut, Yun Ma menolak menerima takdir.

Pada malam kebangkitannya, ia melarikan diri dari kediaman keluarga Yun dan membakar masa lalu yang penuh kepalsuan. Bersama pelayan setia bernama Ayin, Yun Mailan memulai hidup baru dari nol.

Berbekal pengetahuan masa depan, tekad kuat untuk bertahan hidup, dan sebuah liontin peninggalan ibunya yang menyimpan kekuatan tersembunyi, Yun Mailan bersumpah untuk bangkit. Suatu hari, ia akan kembali bukan sebagai korban

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 17

Malam turun perlahan di Kota Qinghe.

Namun kali ini, malam tidak datang sendirian.

Ia membawa jejak.

Xuan menyadarinya bahkan sebelum bayangan itu benar-benar menampakkan diri.

Langkah kaki yang terlalu ringan untuk seorang pedagang. Napas yang terlalu teratur untuk pengemis. Dan cara udara di sekitarnya sedikit menekan seperti orang-orang yang terbiasa berdiri di hadapan kekuasaan.

Ia berdiri di halaman belakang toko obat Feng Ling, memandangi langit yang mulai kehilangan warna jingganya.

Hui sedang mengoceh di dalam, entah menceritakan tentang danau abadi lagi atau tentang bagaimana ia akhirnya bisa mengeluh dengan kata-kata yang lengkap. Ayin berusaha keras menanggapi, sementara Yun Ma Xuan tahu sedang berpura-pura mendengarkan sambil menahan pusing.

Ye berdiri di ambang pintu.

Bayangannya memanjang.

“Kau mencium mereka?” tanya Ye pelan.

Xuan mengangguk. “Sudah lama.”

Ia melangkah ke sudut halaman.

Tiga bayangan muncul dari balik atap dan tembok, mendarat tanpa suara. Pakaian mereka gelap, sederhana, namun sulaman halus di manset lengan memperlihatkan asal-usul yang tidak mungkin disalahartikan.

Lambang Istana.

Mereka berlutut serempak.

“Yang Mulia.”

Suara itu membuat sesuatu di dada Xuan mengeras.

Sudah lama ia tidak mendengar panggilan itu.

“Terlalu keras,” katanya datar. “Aku bukan siapa-siapa di sini.”

Salah satu dari mereka pria dengan bekas luka tipis di pipi kiri mengangkat kepala. “Bagi kami, tidak pernah ada yang lain.”

Xuan menatapnya lama ia mengenali wajah itu. “Lin Que,” katanya pelan. “Kau masih hidup.”

“Kami semua masih hidup,” jawab Lin Que. “Karena kami menunggu.”

Di dalam toko, Yun Ma tiba-tiba menoleh.

Ada tarikan halus di kesadarannya.

Bukan bahaya.

Panggilan lama yang bangkit.

Ia bangkit dan melangkah ke halaman.

Ayin hendak mengikutinya, namun Hui lebih dulu melompat turun. “Oh! Orang-orang berbau besi dan sumpah! Ini serius!”

Yun Ma berhenti di ambang pintu.

Ia melihat mereka.

Tiga orang berlutut.

Dan Xuan berdiri di hadapan mereka, punggungnya lurus, wajahnya dingin bukan dingin yang tenang, melainkan dingin yang menahan sesuatu agar tidak pecah.

“Apa yang terjadi?” tanya Yun Ma.

Tiga orang itu serentak menunduk lebih dalam.

“Salam hormat kepada Penyelamat Yang Mulia,” kata Lin Que.

Yun Ma mengernyit. “Bangun. Dan jangan berlebihan.”

Mereka ragu.

Xuan mengangkat tangan. “Bangun.”

Baru mereka berdiri.

Lin Que menarik napas panjang. “Yang Mulia, dunia mulai terganggu. Bukan oleh kerajaan kecil. Bukan oleh iblis liar. Melainkan oleh musuh tersembunyi yang selama ini bersembunyi di balik bayang-bayang.”

Xuan menatapnya tanpa ekspresi. “Kau datang jauh hanya untuk mengulang gosip istana?”

“Tidak,” jawab Lin Que. “Kami datang untuk mengakui kesalahan.”

Hening.

“Kami membiarkan kebohongan tumbuh,” lanjutnya. “Kami membiarkan seseorang mengambinghitamkan Kerajaan Kegelapan atas setiap kekacauan. Kami membiarkan Yang Mulia… dikurung.”

Yun Ma menajamkan pandangannya, ia ingat rantai yang menyerap kekuatan.

Ruang gelap tanpa waktu.

Dan seorang pria yang berdiri di hadapannya kini pernah dikunci oleh dunia yang takut pada kebenaran.

“Siapa,” tanya Yun Ma pelan, “yang sebenarnya bermain di balik semua ini?”

Lin Que menunduk. “Dewan Bayangan.”

Nama itu jatuh berat.

Bahkan Hui terdiam.

Ye berkata pelan, “Mereka belum mati.”

“Tidak,” jawab Lin Que. “Mereka hanya menunggu Yang Mulia disingkirkan.”

Xuan tertawa kecil.

Tidak ada humor di sana.

“Dan sekarang mereka gagal,” katanya. “Karena aku di sini.”

Lin Que mengangkat kepala. “Justru karena itu kami datang. Pasukan lama telah bangkit. Mereka mencarimu. Dunia mencarimu. Dan jika Yang Mulia tidak kembali memimpin, kebenaran akan terus dikubur.”

“Tidak,” jawab Xuan tanpa ragu. “Aku tidak kembali ke istana.”

Yun Ma menoleh cepat.

Lin Que terdiam. “Yang Mulia....”

“Aku sudah pernah kembali,” potong Xuan. “Dan dibalas dengan rantai.”

Sunyi menekan halaman kecil itu.

Ayin menutup mulutnya, menahan napas.

Hui menatap Yun Ma, lalu Xuan. “Dia marah,” bisiknya keras.

Yun Ma melangkah maju.

“Xuan,” katanya lembut.

Ia tidak memanggil gelar.

Hanya nama.

Xuan menoleh.

Tatapan mereka bertemu.

“Aku tidak memintamu kembali untuk mereka,” lanjut Yun Ma. “Aku memintamu kembali untuk kebenaran.”

Xuan terdiam.

“Jika kau tidak meluruskan kekacauan ini,” Yun Ma menambahkan, “maka dunia akan terus salah memilih musuh. Dan darah akan terus jatuh… sia-sia.”

Ye menimpali pelan, “Benang takdirmu tidak berhenti di sini.”

Hui mengangguk cepat. “Iya! Benangnya ketarik kencang banget! Sampai aku pusing!”

Xuan menghela napas panjang.

Ia menatap tangan kanannya.

Bekas rantai itu tidak terlihat.

Namun ia masih merasakannya.

“Apa jaminannya,” tanyanya akhirnya, “bahwa aku tidak akan dikurung lagi?”

Yun Ma menatapnya tanpa ragu. “Aku.”

Satu kata.

Namun dunia seolah menahan napas.

“Aku akan memastikan kau bisa membuktikan kebenaran,” lanjut Yun Ma. “Dan jika dunia masih menutup mata… maka dunia yang harus berubah.”

Lin Que berlutut lagi. “Yang Mulia, izinkan kami mengawal.”

Xuan menutup mata.

Dalam gelap itu, ia melihat bayangan pasukan lama.

Bangkit.

Bergerak.

Mencarinya.

Ia membuka mata.

“Baik,” katanya pelan. “Aku kembali.”

Napas Yun Ma sedikit lega.

Namun Ye menatap langit.

“Perjalanan ini tidak akan singkat,” katanya.

“Dan tidak akan tenang,” tambah Hui.

Xuan menoleh pada Yun Ma. “Kau tidak perlu ikut.”

Yun Ma tersenyum tipis. “Aku tahu.”

Namun ia tidak mengatakan bahwa benang takdir mereka sudah terikat terlalu dalam untuk berpisah begitu saja.

Di kejauhan, bayangan bergerak.

Dewan Bayangan tersenyum.

“Datanglah,” bisik mereka. “Tunjukkan kebenaranmu.”

Karena permainan ini…

baru saja memasuki babak berikutnya.

Bersambung.

1
Shai'er
💪💪💪💪💪💪💪
Shai'er
👍👍👍👍👍
Shai'er
🙄🙄🙄🙄🙄
Shai'er
💪💪💪💪💪
Cindy
lanjut kak
Shai'er
👍👍👍👍👍👍
Shai'er
😱😱😱😱
Shai'er
💪💪💪💪💪
Shai'er
🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️
Shai'er
🤧🤧🤧🤧🤧
sahabat pena
bener ternyata mantan ya? mantan yg menyesal dan mengejar masa depan
sahabat pena
siapa itu? apa mantan tunangan nya ya
Naviah
lanjut thor
Shai'er
puyeng 😵‍💫😵‍💫😵‍💫😵‍💫
Shai'er
lha...... kenapa baru sekarang lu ngomong tentang keadilan 😏😏😏
Shai'er
hayoo loh😏😏😏
Shai'er
Ayin💪💪💪
Cindy
lanjut kak
Naviah
ini perang narasi kah 🤔 dan siapa itu Dewan bayangan
Naviah
semangat Ayin bertahan lah🙌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!