NovelToon NovelToon
Menikah Karena Wasiat Kakek

Menikah Karena Wasiat Kakek

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sarah Mai

Wasiat dua kakek yang bersahabat sejak lama menetapkan Adam dan Hawa sebagai pasangan di masa depan. Namun ketika waktu itu tiba, Adam justru menolak perjodohan tersebut. Ia merasa belum siap dan memilih fokus pada hidup serta pekerjaannya di Australia. Demi menghindari perjodohan itu, Adam mendorong adiknya Harun untuk menggantikan posisinya menikahi Hawa. Keputusan itu ternyata menjadi titik awal munculnya berbagai masalah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Adam kritis

“MAS ADAM!”

“TUAN!!” Jerit histeris Hawa, Pak Arga, dan Bik Atun menggema bersamaan begitu kaki mereka melangkah masuk ke ruang tamu.

Pemandangan mengerikan menyambut mereka tanpa ampun.

Adam sudah tersungkur di lantai, tubuhnya terkulai tak berdaya. Wajahnya pucat pasi, napasnya tersengal berat menahan rasa sakit yang luar biasa. Sebilah pisau berlumuran darah tergeletak tak jauh dari tubuhnya, sementara darah segar terus merembes, membasahi lantai hingga membentuk genangan yang membuat siapa pun gemetar melihatnya.

“Argh…!” Erangan perih keluar dari bibir Adam.

Tangannya bergetar menekan perutnya yang tertusuk, sementara pelipisnya juga tak berhenti mengalirkan darah, menetes perlahan menyusuri pipi hingga ke lantai.

Di saat yang sama, Harun sudah menghilang. Suara deru mobilnya terdengar memekakkan telinga, melaju kencang menembus gelapnya malam, meninggalkan luka, darah, dan kehancuran di belakangnya tanpa sedikit pun menoleh.

“Ya Allah…” lirih Bik Atun sambil menangis terisak, tubuhnya gemetar hebat.

Pak Arga segera tersadar. Dengan tangan bergetar, ia mengeluarkan ponsel dan langsung menghubungi ambulans, suaranya terdengar panik saat menyebutkan alamat dan kondisi Adam yang kritis.

Tanpa menunggu lebih lama, mereka bersama-sama memapah Adam ke sofa. Tubuh Adam terasa berat dan lemas, darah terus merembes meski sudah ditekan seadanya.

Hawa berlari menuju dapur dengan napas terengah. Tangannya gemetar hebat saat mengambil kotak P3K, namun langkahnya tetap cepat. Ia kembali dan berlutut di hadapan Adam, menekan luka di perut itu sekuat tenaga, berusaha menghentikan aliran darah yang tak kunjung berhenti.

Air matanya jatuh satu per satu, membasahi tangan dan kain kasa.

“Kenapa… kenapa jadi seperti ini…” isaknya pecah. Suaranya bergetar, dadanya terasa sesak oleh rasa bersalah dan ketakutan yang menghantam bertubi-tubi.

Adam membuka mata setengah sadar. Pandangannya kabur, namun sosok Hawa masih bisa ia tangkap samar-samar.

“Hawa… a-aku… minta… maaf…” ucapnya terbata-bata, nyaris tak terdengar, seperti bisikan terakhir yang dipaksakan keluar dari bibirnya.

Hawa menggeleng cepat sambil terus menekan luka itu. Meski hatinya remuk, ia tetap bertahan. Sebagai perawat, instingnya bekerja. Ia tahu apa yang harus dilakukan di tengah situasi darurat seperti ini, meski emosinya hampir runtuh.

“Argh…!”

Adam kembali mengerang kesakitan, tubuhnya menegang menahan rasa nyeri yang tak tertahankan.

Ambulans tak kunjung datang. Waktu terasa berjalan begitu lambat, sementara kondisi Adam kian mengkhawatirkan. Tanpa menunggu lebih lama, mereka memutuskan membawanya sendiri ke rumah sakit terdekat.

Malam itu terasa panjang dan mencekik. Setelah mendapatkan penanganan awal, Adam masih belum juga stabil. Tak seorang pun bisa tidur. Hawa, Pak Arga, dan Bik Atun terjaga sepanjang malam, mata mereka tak lepas dari tubuh Adam yang terbaring lemah.

Menjelang subuh, dengan tekad bulat, Hawa mengambil keputusan.

“Kita pindahkan ke rumah sakit besar. Fasilitasnya lebih lengkap,” ucapnya dengan suara tegas meski matanya sembab.

Adam segera dibawa ke rumah sakit rujukan. Begitu tiba, suasana semakin menegangkan.

“Pasien dalam kondisi kritis! Segera menuju ICU!” seru dokter dengan nada tegas.

Hawa membeku sesaat.

Ketakutan menyergap dadanya, air matanya kembali mengalir tanpa bisa ia cegah. Namun kakinya tetap melangkah. Dengan hati yang lembut dan penuh konflik, ia ikut berpacu mendorong brankar Adam menuju ruang ICU.

Meski ia membenci sikap Adam, meski luka batinnya belum sembuh, Hawa tak pernah tega melihatnya seperti ini.

Di ambang pintu ICU, sebelum pintu itu tertutup, pandangan Adam yang samar menangkap sosok Hawa yang menangis. Bibirnya sedikit bergerak, seolah ingin mengatakan sesuatu lagi.

Namun detik berikutnya, gelap.

Adam kembali tak sadarkan diri, meninggalkan Hawa dengan ketakutan dan penyesalan yang menggantung di udara dingin ruang ICU.

Di ruang ICU, suasana berubah mencekam, penuh ketegangan, lampu-lampu putih menyilaukan, bunyi alat medis bersahut-sahutan, sementara para dokter dan perawat bergerak cepat tanpa jeda.

Tubuh Adam terbaring kaku, pucat, dengan darah yang masih mengalir dari luka di perutnya. Alat perangsang napas dipasang, selang-selang oksigen disambungkan dengan sigap.

Pimpinan dokter memberi aba-aba tegas, suaranya menggema di ruangan steril itu.

“Siap…

Satu!

Dua!

Go!”

Tubuh Adam sedikit terangkat saat alat bekerja. Semua mata tertuju pada monitor jantung yang terus berbunyi nyaring.

“Jantungnya masih stabil, Dok!” seru salah satu dokter, suaranya terdengar lega namun tetap waspada.

Tanpa menunggu lama, tim medis langsung melakukan tindakan lanjutan. Luka sobek di bagian perut Adam dijahit dengan cepat dan hati-hati. Setiap detik terasa seperti pertaruhan antara hidup dan mati.

Di luar ruang ICU, Hawa terduduk lemas. Tangisnya pecah tanpa bisa ditahan. Lututnya melemah hingga ia terjongkok di lantai dingin rumah sakit, kedua tangannya menutup wajah.

Pikirannya kacau. Ketakutan terbesar menyergap: bagaimana jika Adam tak bisa diselamatkan?

Namun di sisi lain, hatinya juga remuk mengingat perlakuan Harun padanya pengkhianatan yang terasa menyesakkan, datang di saat semua ini terjadi.

“Non…” suara lembut Bik Atun memanggil sambil memeluk Hawa dari samping.

Dengan pelukan hangat, Atun membantu Hawa berdiri lalu membawanya duduk di kursi ruang tunggu.

“Yang kuat ya, Non. Sabar… kita doakan Tuan Adam selamat dan sehat,” ucap Atun lirih, matanya ikut berkaca-kaca.

Tak lama kemudian Arga datang membawa nampan berisi makanan.

“Non, makan dulu ya,” ujarnya hati-hati. “Ayo kita ke ruang makan.”

Atun menggandeng tangan Hawa, membawanya mengikuti langkah Arga menuju ruang khusus makan.

“Kita makan dulu, Non. Nona tidur sebentar, Biar kami yang jagain di sini,” bujuk Atun lagi. Hawa belum ada tidur sejak peristiwa itu terjadi.

“Hawa enggak selera makan, Bik… Pak.”

“Sedikit saja, Non. Demi tenaga,” desak Atun lembut.

"Tadi Nyonya Rani sudah telepon, katanya sebentar lagi akan datang ke rumah sakit.”

Hawa menggeleng pelan.

Dengan berat hati, Hawa menyentuh makanan itu. Hanya beberapa suap yang berhasil masuk, jauh berbeda dengan Atun dan Arga yang makan dengan lahap karena kelelahan sejak tadi malam.

“Syukurlah, akhirnya Hawa makan sedikit,” ujar Atun lega.

Tiba-tiba Hawa bertanya dengan suara lirih, matanya menatap kosong.

“Apa mereka sering bertengkar?” tanya Hawa.

Atun dan Arga saling pandang sejenak.

“Pernah cekcok sih, Non,” jawab Atun polos.

“Tapi enggak pernah separah ini.”

Dari kejauhan, tampak sebuah mobil berhenti mendadak. Rani turun dengan tergesa-gesa. Langkahnya cepat, sesekali berlari kecil menyusuri lorong rumah sakit menuju ruang ICU.

“Hawa!” panggilnya cemas.

“Bunda!” Hawa langsung bangkit.

“Mas Adam kritis…belum ada kabar” isak Hawa pecah saat ia memeluk Rani erat-erat.

Rani menahan napas, lalu memeluk Hawa dengan penuh kasih.

“Kalian pulang saja. Bersihkan rumah, dan jangan beritahu peristiwa ini kepada siapapun,” perintah Rani kepada Atun dan Arga.

“Baik, Nyonya,” jawab keduanya patuh sebelum pergi.

Rani mengusap rambut Hawa perlahan.

“Tenanglah, Hawa. Jangan menangis seperti ini. Kita harus kuat untuk Adam.”

Dengan langkah lemah, keduanya duduk berdampingan di ruang tunggu ICU. Mata mereka tak lepas dari pintu tertutup itu, menunggu satu kabar yang akan menentukan segalanya, antara harapan dan kehilangan.

1
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ fjR ¢ᖱ'D⃤ ̐🍻
pasrahkan saja jalan yang akan di lalui pada yang memberi hidup.
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ fjR ¢ᖱ'D⃤ ̐🍻
dalam hati Adam berharap juga kan bisa menikah dengan Hawa setelah badai itu pergi
🍁𝑴𝒂𝒎 2𝑹ᵇᵃˢᵉ🍁
klo jodohnya kamu Adam mau lari kemanapun pasti ketemu Hawa
🍁𝑴𝒂𝒎 2𝑹ᵇᵃˢᵉ🍁
janda tapi perawan dong
𝐙⃝🦜🅰🆈🅰𒈒⃟ʟʙᴄ
kalo suka bilang suka jangan pura2 ga ada rasa malah bilang belum mau menikah udah jelas dulu kamu yang maksa hawa untuk menggantikan malam pertama bersama Harun karna cemburu,jangn jadi laki2 muna deh🙄
¢ᖱ'D⃤ ̐𝖆𝖓𝖎𝖊ՇɧeeՐՏ🍻
jangan sampai Hawa semakin ilfil sama kamu dam,,kalau memang suka jangan menyangkalnya
¢ᖱ'D⃤ ̐𝖆𝖓𝖎𝖊ՇɧeeՐՏ🍻
betul hawa
υɐnſɐnH🎐ᵇᵃˢᵉ𝐙⃝🦜
kira² yang akan jatuh cinta duluan siapa ya.. Adam atau Hawa 😳
¢ᖱ'D⃤ ̐𝖆𝖓𝖎𝖊ՇɧeeՐՏ🍻: kurasa Adam kak 🤭
total 1 replies
υɐnſɐnH🎐ᵇᵃˢᵉ𝐙⃝🦜
sebentar lagi Adam mau belah duren 🤣🤣🤣
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ fjR ¢ᖱ'D⃤ ̐🍻
sebenernya kasihan Hawa dam Adam. karena perjanjian kedua kakek mereka.mereka yang jadi korban dan menanggung akibatnya
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ fjR ¢ᖱ'D⃤ ̐🍻
jadi sekarang yang kena teror gantian bapaknya Hawa
Paradina
seru kak, lanjut 😍
Qothrun Nada
setelah nikah jangan harap ada jatah,stok rasa sabar mu seluas samudra Adam 😀
Qothrun Nada
hooh orang pintarnya pak penghulu 😀
Qothrun Nada
andai bapaknya Hawa bisa seperti pak Joko, pasti ibunya Adam bisa menyeret Adam untuk tetap menikahi Hawa dulu
Qothrun Nada
😅😅😅
Qothrun Nada
jangan nyalahin Hawa dong, kasihan dia
Qothrun Nada
marah seperti kakek Sulaiman
Qothrun Nada
kapok, makanya jadi bapak itu yg tegas, kalau dulu dia menolak tentu Hawa gk nikah sama Harun karena gk ada walinya
Qothrun Nada
heem jadi adam 2
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!