Michelle Valen seorang seniman muda terkenal yang meninggal karena penghianatan sahabat dan tunangannya, ia berpindah jiwa kedalam tubuh Anita Lewis.
Diberikan kesempatan hidup kedua ditubuh orang lain, ia memulai pembalasan dendam dan merebut kembali identitas dirinya yang telah direbut oleh mereka.
Pernikahan dadakan dengan Dion Leach sang CEO gila yang terkena racun aneh, menjadikannya batu loncatan demi bertahan hidup, keduanya sama-sama saling memanfaatkan dan menguntungkan.
Mau tau kelanjutan dan keseruan ceritanya?
Silahkan mampir guys....
Happy reading, semoga cukup menghibur...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratu Darah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Bab 24 Siapkan Penembak Jitu!
Mata Selene memerah, air matanya menetes perlahan. Ia menyilangkan lengannya di dada, berusaha menutupi tubuhnya yang basah kuyup sambil berkata dengan nada tersinggung,
“Aku tidak seperti yang kamu pikirkan! Pikiranmu saja yang kotor. Kenapa kamu menuduhku begitu?”
Nenek yang baru keluar dari kamar langsung berhenti di tempat ketika melihat Selene berdiri di tangga dengan pakaian basah yang menempel di tubuhnya. Wajah Nenek sontak mengeras, nadanya berubah tajam.
“Selene, apa-apaan ini?” serunya dengan nada murka.
Selene mendongak, suaranya lembut tapi penuh keluhan,“Nenek, aku jatuh ke kolam waktu mau memanggil Anita tadi. Tapi dia malah membiarkanku dan justru memarahiku… Nenek, aku....”
“Cukup!” potong Nenek dengan nada tinggi. “Kenapa kamu berdiri di sini dalam keadaan seperti itu? Tidak bisakah kau ambil handuk dan kembali ke kamar? Apa kamu tidak malu dilihat orang?!”
Selene terdiam, wajahnya memucat. “Nenek, aku…”
“Pergi ke lantai empat sekarang juga!” bentak Nenek tanpa memberi kesempatan. “Berlutut di depan abu kakekmu dan tidak boleh keluar kamar, pikirkan kelakuanmu!”
Mendengar itu, Selene langsung menunduk. Ia tahu, kalau Nenek sudah bicara seperti itu, tak ada gunanya membantah. Dengan mata berkaca-kaca, ia berlari menaiki tangga, suaranya tersengal karena tangis.
Nenek berdiri di bawah, wajahnya masih merah padam karena marah. “Kakakmu baru saja mulai berubah jadi lebih baik, dan kamu sudah membuatku malu lagi! Jangan bangun sebelum tiga jam!”
Ia menggeleng pelan, kecewa dan lelah. “Dasar gadis yang tidak tahu berterima kasih,” gumamnya lirih.
---
Di dalam mobil.
Anita duduk bersandar di kursi penumpang, menatap Dion Leach yang sedang menyetir dengan ekspresi tenang tapi tajam. Ia mencondongkan tubuh sedikit, suaranya pelan tapi sinis.
“Kau tidak merasakan apa-apa saat melihat Selene tadi?”
Ia masih terbayang tubuh Selene yang basah kuyup, pakaian putihnya menempel ketat, memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan jelas. Bahkan perempuan pun mungkin akan salah tingkah melihatnya.
Namun Dion hanya menjawab tanpa menoleh, suaranya datar,“Bagiku, dia tak lebih dari daging busuk. Apa yang perlu kulihat?”
Tatapannya tetap lurus ke depan, sama sekali tidak teralihkan. Di sisi lain, tangannya sempat menyentuh tangan kecil Anita, seolah mengingatkan bahwa hanya perempuan di sampingnya inilah yang penting.
Anita mengangkat alis pelan. “Oh, begitu.”
Dion melirik sekilas ke arahnya lalu kembali fokus ke jalan. “Kalau kau tidak suka, aku bisa membuat ‘daging busuk’ itu lenyap selamanya.”
Anita menatapnya, sedikit tertegun. Ia tahu Dion tidak bercanda , pria itu benar-benar sanggup melakukannya.
“Tidak perlu sekejam itu,” katanya akhirnya, lembut tapi tegas.
Dion tidak membalas. Diamnya justru terasa seperti bentuk penghormatan pada keputusan Anita. Ia mempercayakan semuanya padanya.
Mobil terus melaju dalam keheningan. Malam begitu sunyi hingga suara mesin pun terdengar berat. Ketika mereka hampir tiba di rumah keluarga Leach, Anita tiba-tiba memperhatikan sosok seseorang berdiri di depan gerbang.
Dion juga melihatnya. Sosok itu keluar dari bayangan, melangkah ke tengah jalan sambil melambaikan tangan panik. Ia berteriak agar mobil berhenti.
Tatapan Dion seketika berubah dingin. Ia menginjak pedal gas sebentar, lalu menekan rem mendadak.
Mobil berhenti keras tepat di depan pria itu. Meski tidak menabraknya, pria itu terjatuh karena terkejut setengah mati.
Dion menoleh pada Anita dengan tatapan menusuk. “Apakah ini yang kau maksud dengan ‘menyingkirkan mereka semua’?”
Anita menelan ludah. Wajahnya sedikit tegang ketika ia mengenali sosok itu. Pria yang tergeletak di depan mobil adalah Wawan , pria yang dulu begitu dimanjakan oleh Anita yang asli sebelum meninggal.
Anita membuka sabuk pengamannya perlahan. “Aku akan menyelesaikannya,” katanya tenang, meski nadanya terdengar menahan emosi.
Dion tidak bergerak. Ia hanya duduk di kursinya, menatap dengan sorot mata dingin dan tajam. Setiap gerakan Anita diikuti oleh pandangannya yang penuh pengendalian diri dan kemarahan yang samar.
Anita berjalan ke depan mobil. Wawan masih duduk di tanah, tubuhnya gemetar hebat, wajahnya pucat pasi.
“Apa yang kau lakukan di sini, Wawan?” tanya Anita tajam. “Bukankah aku sudah bilang, kita tidak akan pernah punya hubungan lagi?”
Wawan menatapnya dengan mata memohon, tapi tubuhnya terus mundur ke belakang, seolah takut mobil itu akan melaju lagi.
“Anita, aku… aku tidak bisa melepaskanmu,” katanya terbata, suaranya bergetar ketakutan.
Anita mendongak perlahan, dan tatapannya bertemu dengan mata Dion yang memantul dari balik kaca depan mobil. Tatapan itu dingin seperti pisau baja.
Tangan Dion sudah menempel di kemudi, jari-jarinya menekan gas perlahan.
Anita menahan napas. Ia tahu, satu tekanan kecil lagi dari Dion, dan Wawan bisa saja tewas di tempat.
Udara di sekeliling mereka seolah membeku.
Dan sebelum Anita sempat berkata apa-apa, mobil itu sedikit melaju ke depan cukup untuk membuat tanah di bawah kaki Wawan bergetar.
Pria itu langsung menjerit ketakutan, tubuhnya gemetar hebat.
Dan di detik itu juga, Anita sadar... Dion benar-benar siap melakukan apa pun demi melindunginya , bahkan jika harus menginjak nyawa orang lain.
Merasa situasi mulai berbahaya, Anita melangkah cepat dan berdiri di depan Wawan. Suaranya tegas namun dingin, “Kita sudah tidak punya hubungan apa pun, dan aku pastikan tidak akan ada hubungan di masa depan.”
Dari belakangnya, ia bisa merasakan aura mengancam dari Dion Leach yang begitu kuat hingga membuat bulu kuduknya berdiri. Tanpa menoleh, ia memperingatkan Wawan dengan nada datar, “Kalau kau terus menggangguku, aku pastikan kau menyesal pernah lahir ke dunia ini.”
Tatapan Wawan kosong, suaranya pelan tapi terdengar tulus, “Kamu benar-benar nggak ingat apa-apa, ya?”
Anita mendesah pelan, menahan kesabaran yang semakin menipis karena aura Dion yang makin mencekik. “Cepat katakan, apa yang kau maksud.”
Wawan sempat menatapnya dengan ragu, lalu tiba-tiba menunduk, nyaris hendak memeluk kakinya. Tapi karena tatapan tajam Anita, ia buru-buru mundur dan berucap cepat, “Kita kan sudah sepakat... aku kasih kamu seratus ribu dolar per bulan, supaya aku bisa jadi pengikutmu. Kenapa kamu tiba-tiba ingin mengakhirinya?”
Anita terdiam sesaat. “Kau membayarku seratus ribu dolar untuk jadi pengikutmu?” katanya datar, seolah tak percaya.
Bukankah selama ini Wawan hanyalah… pria pelipur lara bagi Anita yang dulu?
Wawan mengangguk cepat. “Iya, itu perjanjian kita.”
Anita menutup matanya sejenak, lalu mengusap pelipis. “Aku sempat jatuh ke sungai dan mungkin kepalaku kena sesuatu. Sekarang aku sering kehilangan ingatan. Kalau nanti aku ingat lagi, aku akan bicara padamu. Sekarang... pulanglah dulu.”
Wawan gelisah, apalagi ketika ia melihat mobil Dion berhenti tak jauh dari mereka. Ia buru-buru berdiri, siap kabur.
Namun sebelum benar-benar lari, ia menoleh dan berbisik cepat, “Anita... kalau kamu mau kabur, aku bisa bantu kamu keluar dari negara ini.”
Tatapan dingin dari mobil itu membuat Wawan gemetar. Ia langsung berbalik dan berlari secepat mungkin tanpa menoleh lagi.
Anita menatap mobil Dion yang diam di tempat. Karena cahaya dari lampu depan, ia hanya bisa melihat siluetnya di balik kaca yang tampak tak jelas, tapi auranya terasa begitu dingin dan mematikan.
Aura itu... seperti mengancam siapa pun yang berani mendekat.
Dion juga menatap balik ke arahnya. Ia melihat bagaimana wanita itu tadi berdiri di depan Wawan, seolah melindunginya.
Hanya sekejap, tapi cukup membuat amarahnya mendidih.
Anita akhirnya kembali ke mobil. Begitu pintu tertutup, suhu di dalam mobil seolah jatuh ke titik beku. Ia bahkan menggigil tanpa sadar.
Dion tidak berkata apa pun, hanya sekilas menatapnya. Mobil kemudian melaju menembus gerbang besi besar menuju halaman rumah.
Dari kursinya, Anita bisa merasakan betapa tegang dan gelap suasana di sekitarnya. Ada badai yang sedang ditahan di dalam diri pria itu.
Begitu mobil berhenti, Philip muncul, tampak tergesa. “Tuan muda, tuan muda...”
Begitu melihat wajah Dion yang memerah dengan mata berkilat aneh, Philip langsung terdiam, lalu cepat menyingkir ke samping, tak berani menatap lebih lama.
Dion berjalan tanpa sepatah kata pun, menaiki tangga menuju lantai atas.
Di ruang tamu, Tuan Drake Leach tua yang sedang menonton TV menoleh. Begitu melihat cucunya, detak jantungnya seketika naik. Dion tampak muram, tenang di permukaan, tapi berbahaya di dalam.
“Philip...” gumamnya pelan tapi panik. Ia tahu tanda-tanda itu. “Cepat panggil Jaccob dan beberapa pengawal. Kali ini siapkan penembak jitu juga!”
Philip kaget, tapi langsung mengangguk dan bergegas menjalankan perintah.
Anita yang mendengar itu terkejut. “Kakek, apa maksudnya... sampai harus memanggil penembak jitu?” tanyanya bingung.
Tuan Leach tua menatapnya dengan sorot penuh kekhawatiran. “Jaccob Harding itu dokter pribadi Dion. Para pengawal disiapkan untuk mengendalikan dia kalau kehilangan kendali. Kalau mereka gagal, penembak jitu akan menembakkan obat penenang ke tubuhnya.”
“Jadi... senjata itu berisi obat penenang?” Anita bertanya pelan, mulai paham.
Tuan tua itu mengangguk. “Ya. Hanya itu satu-satunya cara untuk menenangkannya.”
Anita terdiam, matanya menatap ke arah tangga, perasaan tak enak menyelusup di dadanya.
Tiba-tiba.....
DOR!
Suara keras terdengar dari lantai atas. Anita refleks menatap ke atas, jantungnya berdegup kencang.
---
Bersambung.....